
*TING!!!
Pesan SMS masuk ke ponsel Jack. Pesan itu berasal dari nomor yang tak dikenal.
“Bagaimana? Apa dia tak ingin menolongmu? Apa kau tak ingin membunuh seniormu yang baru saja menabrakmu dari belakang?”
Begitulah isi pesan teks SMS dari nomor yang tak dikenal.
Jack sangat terkejut dan melihat semua orang yang berjalan di sekitar gang itu. Dia terlihat bingung dan mencari tahu, siapa pengirimnya.
“Apa itu?” Jack melihat Rocky dan bayangannya dari kaca jendela dari balik toko dan gang yang lebih sempit. Sesaat kemudian, Jack sudah tak lagi melihat Rocky dari balik gang.
Jack pun berlari masuk ke dalam gang sempit, tempat dimana dia melihat Rocky berada.
Di gang sempit, terdapat banyak gang persimpangan lagi yang membuat Jack semakin bingung, kemana ia akan mencari.
Jack masuk ke perempatan gang pertama dan terus mencari keberadaan Rocky.
“Jika benar-benar dia, apa yang harus kukatakan padanya saat ini? Haruskah aku melapor ke polisi?” gumam Jack masih terus berusaha mencari.
“Tidak. Kenapa aku melaporkan. Aku belum mempunyai bukti apapun untuk melaporkannya, toh dia juga tak melakukan apapun, lantas apa yang akan kulaporkan.”
“Aku sangat yakin bahwa itu pasti dia.”
Sebuah gudang kecil berlubang berada di sebelah Jack. Jack mengintip dari luar gudang itu dan melihat apa isi gudang kecil itu.
*BRUKK!!!
“Astaga. Apa yang kau lakukan?” ucap Jack terkejut.
Seorang pria seumuran Jack sedang mabuk. Dia berjalan melewati gang sempit itu dan menabrak Jack yang sedang mengintip gedung.
“Maafkan aku, kawan. Mataku sudah sangat berat,” ucap pria mabuk itu, lalu pergi meninggalkan Jack.
Nafas Jack terengal-engal karena ia sangat terkejut. Dia menarik nafas sedalam-dalamnya dan mengatur nafasnya kembali.
Karena tak kunjung menemukan Rocky, akhirnya Jack pun pergi menyusul semua karyawan yang sudah berada di sebuah bar dan kedai makanan ringan.
__ADS_1
***
Sebuah bar kecil yang berada di persimpangan jalan. Bar itu sangat bagus dengan lampu kuning redup dan beberapa pelayan cantik dan tampan yang mengantarkan pesanan kepada para pelanggan.
Mike, Nick, Kim dan Jack, mereka semua duduk di kursi luar ruangan, agar dapat melihat kendaraan yang berlalu lalang dan melihat pejalan kaki yang berada di persimpangan jalan itu.
Mike mulai melantur dan bercerita membanggakan dirinya di depan para karyawannya. Sedangkan Jack hanya duduk diam dan melihat ponselnya sejak ia datang.
“Kalian tahu, aku sangatlah populer dulu. Semasa aku di kampus, semuanya heboh karenaku.”
“Astaga. Lagi-lagi kau membual. Kau terlalu banyak membual,” sahut Kim menuangkan whiskey ke dalam gelasnya.
“Wah, apa kau tak percaya, Kim? Aku tidak sedang membual. Para wanita… Sudahlah. Kau bisa tanyakan itu pada Jack. Dia adalah saksinya.” Mike menunjuk Jack.
“Ya, aku mengerti. Kami kuliah di kampus yang sama, walau kami berbeda fakultas,” sahut Nick.
“Astaga. Lagi-lagi kau mengganggunya,” ucap Kim menatap Jack. “Dia sedang tak ingin diganggu. Kenapa kau selalu mengganggunya, padahal dia sangat baik hati.”
“Aku bahkan pernah berkencan dengan salah satu model yang ada di kampusku.”
“Katakan, Jack. Benar atau tidak?” Mike kembali menunjuk Jack dengan heboh.
Jack hanya tersenyum dan mengangguk melihat Mike yang terus membual itu.
“Sungguh? Dia mengencani wanita itu Jack?” tanya Kim.
Jack kembali tersenyum dan hanya mengangguk, membuat Mike merasa senang. Dia menuangkan alkohol ke dalam gelasnya, lalu menegaknya sekali tegukan.
“Astaga. Dia sangat populer saat itu. Dia paling populer di kampus. Entah dimana dan bagaimana keberadaannya sekarang.”
“Astaga. Ternyata CEO kita memiliki pesona,” sahut Nick. “Tentu. Aku memiliki pesona dan aura yang sangat baik.”
“Pesona? Pesona apa itu? Seharusnya Jack lah yang memiliki pesona itu, karena dia cukup tampan,” celetuk Kim.
“Bukan begitu, Kim. Kebanyakan wanita lebih menyukai pria yang tampak gagah daripada pria yang tampan,” ucap Nick membela Mike.
“Apanya gagah? CEO kita bahkan tak terlihat gagah sama sekali. Lihatlah, dia selalu slengean,” ucap Kim.
__ADS_1
“Wah, jika ini SMA, aku akan menghukummu Kim.”
Mereka semua pun tertawa terbahak-bahak dan saling mengejek satu sama lain, begitupun dengan Jack.
Jack tampak sudah mulai mabuk dan merasakan kepalanya yang mulai berat. Jack pun akhirnya melantur dan bercerita tentang Mike saat ia berada di kampus.
Jack bercerita tentang Mike yang terus mengejar wanita pilihannya saat di kampus, dan berkata bahwa Mike sudah ditolaknya berkali-kali, tapi Mike tetap ingin mengejarnya. Membuat Mike sangat malu dengan cerita itu.
“Astaga. Dia tak membutuhkanmu. Kenapa kau terus mengejarnya? Apa kau tak merasa lelah, Pak CEO?” Jack mabuk dan melantur. “Cukup Jack. Hentikan itu,” ucap Mike sedikit malu.
“Dia bahkan pernah mengejar wanita itu saat berada di dalam kelas, padahal dia belum memakai sepatu. Astaga, itu gila. Dia sangat gila.” Jack menunjuk Mike.
Kim hanya tertawa terbahak-bahak melihat Jack yang mabuk dan mulai melantur, bercerita apa adanya tentang Mike. Kim sangat gemas melihat Jack yang mabuk itu.
“Hentikan, Jack. Sudah cukup. Kau terlalu banyak minum,” ucap Mike.
Di sela-sela itu, Winson baru datang dari toilet dan bergabung bersama.
“Dia terus bilang padaku bahwa dia akan mentraktirnya daging premium dan akan terus mengejar wanita itu hingga ujung dunia. Wah, menggelikan sekali. Aku tak berbohong.”
“Kau terus mengganggu wanita itu setiap hari, dan kau terus memanggilnya dengan cinderella ku.”
Sifat Jack sangatlah berbeda saat itu, karena dia dalam pengaruh alkohol yang cukup kuat.
Tak biasa bagi Jack tertawa puas dan mengobrol banyak dengan banyak orang. Akibat alkohol, Jack pun terus menerocos dan melantur tanpa henti.
“Sudah, Jack. Apa kau mau, jika gajimu kupotong?”
“Wah, kau sangat tega melakukan itu padaku, Pak,” ucap Jack yang kemudian meletakkan kepalanya ke atas meja bar. Dia benar-benar teler karena kandungan alkohol yang cukup banyak telah diminumnya.
“Hahahahahaha. Kini kau ketahuan telah berbohong.” Kim terus tertawa dan membuli Mike, karena Jack bercerita yang sebenarnya.
“Astaga, berandal satu ini,” ucap Mike.” “Wah, sepertinya anak baru ini benar-benar sangat stress. Lihatlah, dia sudah teler. Apa sebaiknya kita pulang saja?’ ucap Nick pada Mike.
“Tunggu sebentar, aku ingin pergi ke toilet dulu.” Mike beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke toilet. Dia berjalan dengan sempoyongan dan hampir menabrak salah satu pelayan yang sedang bekerja.
“Astaga. Tunggu aku, Pak. Kau tak bisa pergi ke toilet sendirian dengan kondisi seperti itu.” Nick pun menyusul Mike yang berjalan ke toilet dengan sempoyongan.
__ADS_1