
“Ya, aku baik-baik saja. Setelah itu, dia bertanya padaku apa yang kulihat darinya, aku hanya membuat sedikit alasan, lalu pergi ke atap gedung. Wajahnya sungguh aneh, apa perlu aku mengunggahnya ke internet?”
“Sial! Kenapa kau masih bisa santai. Dia bisa berbuat apapun untuk mencelakaimu, bukankah sudah kubilang padamu? Apa dia mengikutimu ke atap gedung?”
“Tidak, aku sedang sendiri disini.”
“Baiklah. Aku dalam perjalan pulang. Sampai bertemu disana.”
“Cepatlah pulang, Jack. Aku jadi sedikit takut setelah mendengar perkataanmu tadi.”
Sambungan telepon pun terputus.
“Sial! Dasar, Mesum Gila. Bajingan! Apa yang dia inginkan dari kamarku? Apa aku perlu memberinya pelajaran.” Jack terus mengumpat dengan terus mengebut mengemudi motornya.
***
Di depan SALOKA RESIDENT, Jack datang dan langsung turun dari motornya.
Saat dia berlari untuk menaiki tangga, tak sengaja Si Autis yang juga turun tangga menyenggol Jack. Si Autis cekikikan dan sedikit menundukkan kepalanya.
“Astaga. Berhati-hatilah lain kali,” ucap Jack yang kemudian menaiki tangga.
“Kau lah yang seharusnya memperhatikan jalanmu,” balas Si Autis sepertinya mulai kesal dengan Jack. Kali ini dia menunjukkan rasa kesalnya pada Jack saat itu.
Sepertinya dia sangat kesal pada Jack, karena saudara kembarnya meninggal karena ingin membunuh Jack.
Jack berhenti dan berbalik menatap Si Autis. “Apa katamu?”
“Hei, Penghuni Kamar 313!” Si Autis berjalan mendekati tangga tempat Jack berdiri. “Ini semua terjadi karena ulahmu,” lanjut Si Autis menggaruk-garuk tangannya.
“Sialan!” Jack tak memperdulikan Si Autis dan menghiraukannya begitu saja. Beberapa langkah Jack menaiki tangga, Si Autis kembali memanggilnya.
“Hei, aku sedang berbicara padamu. Kenapa kau pergi begitu saja?”
__ADS_1
“Apa lagi?” tanya Jack kesal.
“Apa sekarang… Kau mulai mengabaikanku?” ucap Si Autis seakan menantang Jack.
Jack menuruni tangga dan berdiri tepat di depan Si Autis.
“Lantas, apa kau tak suka? Apa yang akan kau lakukan jika aku memang mengabaikanmu? Kalau kau bicara, bicaralah yang jelas. Kau seperti orang idiot yang terus mengatakan hal aneh, tapi kau ingin aku mendengarmu?”
Jack sangat kesal dan memaki Si Autis. Dia mengepalkan tangannya dan akan memukul Si Autis saat itu juga.
“Xixixixixixi. Aku hanya bercanda. Kenapa kau begitu serius?”
Si Autis malah cekikikan. Entah dia takut kepada Jack atau takut jika Rocky akan membunuhnya sama seperti membunuh saudara kembarnya, jika dia mengganggu Jack.
Jack hanya mengabaikan Si Autis, lalu segera pergi ke atap untuk menemui Yohan.
Di atap gedung, dia langsung disapa oleh Yohan yang telah menunggunya di pagar pembatas.
“Jack, kau datang?” Jack mengangguk dan berjalan mendekatinya.
“Ya, seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.” Yohan tersenyum dan memutar-mutar badannya. Menunjukkan jika dirinya baik-baik saja.
“Astaga. Kau tak boleh macam-macam dan bertindak sesukamu, saat kau disini. Itu dapat membahayakanmu.” “Baiklah. Omong-omong, Jack.” Yohan mengeluarkan sebuah dompet dari kantongnya.
“Saat aku kembali ke kamar tadi, aku menemukan hal menarik.” Yohan menunjukkan isi dompet itu kepada Jack. “Aku yakin bahwa orang ini adalah penghuni kamarku sebelumnya.”
Dompet itu ternyata milik Wick yang tertinggal di kamar. Di dalam dompetnya masih ada beberapa kartu identitas penting lainnya, dan beberapa lembar uang pecahan dolar.
“Tunggu sebentar!” Jack mengambil dompet itu dari tangan Yohan dan melihatnya dari dekat. “Wah, kau benar. Ini milik preman yang kuceritakan itu.” Jack mengembalikan dompet pada Yohan.
“Saat aku akan meletakkan sound portable ku di bawah ranjang, aku menemukan dompet ini di pojok, lalu mengambilnya. Saat itu juga aku langsung memiliki firasat yang kuat.” Yohan mendekat pada Jack.
“Maksudku, jika dia benar-benar pulang kampung, kenapa dia meninggalkan dompetnya yang berisi kartu-kartu penting, serta beberapa lembar uang tunai? Aku yakin ada yang mengganjal dari hal ini,” ucap Yohan serius.
__ADS_1
“Pokoknya, kau tak boleh menggunakan uang itu, Yohan.” “Kenapa?” “Mungkin saja dia akan kembali dan mencarinya,” jawab Jack. “Astaga. Kurasa tak mungkin dia akan mencarinya,” ucap Yohan ngeyel.
“Tak hanya itu, ada Detektif yang juga terus datang untuk mencari orang ini. Biarkan saja itu, Yohan.” “Detektif? Wah, bukankah kita harus melaporkan ini ke polisi?” Yohan mengangkat dompet dan sangat bersemat.
“Sial! Berhentilah bertingkah, Yohan. Kau tak boleh ikut campur urusan orang lain. Aku mohon padamu.”
Yohan hanya mengangguk paham saat Jack menegurnya, karena dia terus bertingkah.
“Astaga. Aku tak bisa begini terus.” Jack menghela nafas panjang. “Setelah gajian bulan ini, aku akan langsung pindah dari tempat ini.” “Kau akan pindah, Jack?” tanya Yohan. “Ya, secepat mungkin.”
“Astaga. Padahal aku ingin berusaha dan menunggu agar depositku terkumpul dan mengambil KPR, tapi keadaannya berbeda.” Jack kembali pusing memikirkan hal itu.
“Jack, kalau kau pindah dari sini, bukankah kau akan sangat terbebani dengan biaya sewa?” tanya Yohan.
“Meski berat, aku harus hidup dengan layak dan yang penting lagi, aku tak memikirkan hal aneh, yang membuat mentalku menjadi buruk.” Jack menatap Yohan.
“Bayangkan saja, bisakah kau hidup dengan orang yang membawa sebuah pisau di depan kamarmu?” “Hmmm. Kau benar, Jack.” Yohan menunduk. “Apa kau mau ikut pindah denganku?”
“Aku tidak bisa, Jack. Aku tidak berpenghasilan bulanan dan tak memiliki pekerjaan tetap sepertimu,” ucap Yohan lesu.
“Astaga, jangan berkata begitu. Aku juga bukan pegawai tetap, aku masih pegawai magang di tempat kerjaku. Walau gajiku saat magang masih sedikit, aku sepertinya akan tetap pindah.”
Mereka berdua meratapi nasib yang sama. Berdiri berdampingan, menatap langit dan berkeluh kesah.
“Kalau tidak karena mereka, aku pasti akan berusaha bertahan di tempat ini. Mendiang ibuku pernah bilang, bahwa manusia adalah makhluk paling berbahaya, dan tempat ini pun benar-benar membuktikan itu.”
Yohan hanya diam dan terus melihat langit dengan bintang-bintang yang menghiasinya dan terus mendengarkan keluh kesah Jack.
“Omong-omong, apakah kau pernah berpikir, kenapa hanya ada orang-orang aneh dan gila di tempat ini? Aku yakin tidak mungkin mereka dikumpulkan secara sengaja.”
“Apa kau tahu, siapa yang paling aneh dan gila diantara mereka?” “Siapa itu?” tanya Yohan penasaran. “Dia. Orang yang tadi pagi kita temui di jalanan menurun.” Jack menggebu-gebu bercerita.
“Si Lengan Panjang itu? Pria kurus bertubuh jangkung?” “Ya, benar. Itu dia. Pria jangkung dengan wajah sedikit pucat. Dia memanggil menyapa kita dan sok akrab sembari tersenyum licik,” ucap Jack.
__ADS_1
“Apa kau tidak merasakan hal itu, Yohan?” “Wah, kukira itu tatapan dramatis. Hahahaha.” Yohan tertawa.
“Astaga, sial! Aku sebenarnya tak ingin mengatakan hal ini. Mereka seharusnya mati dalam kecelakaan saja. Karena orang-orang gila itu tak berkontribusi dalam masyarakat. Mereka hanya…..”