SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 047


__ADS_3

Di SALOKA RESIDENT. Terlihat Eli yang berada di dapur. Dia duduk dan sedang memberikan bumbu pada daging yang telah dibersihkannya.


Sesekali Eli mencicipi daging itu dengan jarinya. “Sepertinya ini cukup, bumbunya sudah meresap.” Eli memasukkan beberapa potongan daging ke dalam sebuah kotak bekal.


Setelah memasukkan beberapa potongan daging, Eli membawa kotak itu dan pergi dari dapur.


Eli berjalan melewati lorong sambil bernyanyi-nyanyi sendirinya. Saat berada di lantai utama, Eli melihat keadaan luar gedung.


Dirasa sudah aman baginya, Eli pergi ke sebuah pintu tersenyembunyi yang ada di balik tangga lantai utama.


Pintu itu menuju ke sebuah basement yang dimiliki gedung itu. Di dalam basement, terdapat lagi sebuah pintu ruangan yang terkunci dengan gembok.


Setelah melepaskan gembok, Eli pun masuk ke dalam ruangan di dalam basement.


Ruang di dalam basement itu cukup gelap. Terdapat satu sel persis seperti sel penjara.


Di dalam sel itu, ternyata Wick lah yang berada di sana.


Wick dalam kondisi yang babak belur dan terikat di lantai, dengan mulut yang disumpal.


Semua gigi Wick sudah tiada, karena Rocky telah mengambil semua giginya. Begitupun dengan beberapa jari tangan Wick yang sudah tiada, dan mungkin Si Kembar lah yang melakukan itu.


Sudah satu minggu penuh, Wick dikurung di basement, tanpa makan dan minum sekalipun. Sel tempatnya berada terpisah dengan ruangan tempat Elsa disekap.


Saat Eli masuk, dia dalam kondisi sadar, tapi tak bisa melakukan apapun saat itu.


Eli melepas kain yang menyumpal mulut Wick, dan memberikan sekotak nasi berisi daging itu di dekat kepala Wick.


“Ini, makanlah dulu. Aku membawa daging sapi dengan kualitas premium. Kau pasti sudah sangat lapar. Hahahahaha.” Eli tertawa terbahak-bahak di dalam basement.


***


Di lain tempat, Yohan mengajak Jack dan mentraktirnya di sebuah kedai makanan dan bir.


Mereka berdua duduk di satu meja untuk segera menyantap makan siang.

__ADS_1


“Jack, kau ingin makan apa?” “Bukankah disini sangat mahal?” Jack melihat-lihat menu dan sekitar tempat itu.


“Tidak. Kau tak perlu memikirkan itu. Aku akan mentraktirmu hari ini. Aku sudah lama berlangganan di sini, dan harganya cukup terjangkau, tak semahal yang kau pikirkan.” Yohan menggelengkan kepala.


“Kau mau burger, atau steak?” “Burger saja.”


“Bibi, aku pesan 1 burger jumbo dan satu steak ayam!” Yohan memanggil Bibi penjaga kedai bar itu.


“Baiklah, pesanan mu akan segera kubuat,” sahut Bibi.


“Apa kau ingin minum alkohol, Jack?” “Tidak, aku ingin soda saja.” “Soda? Bagaimana kalau dicampur?” tanya Yohan. “Tidak, aku ingin soda saja,” jawab Jack menggeleng.


Yohan pun berdiri dan mengambil satu botol soda untuk Jack dan satu botol whiskey untuknya. Menuangkan minumannya ke dalam gelas masing-masing, lalu mereka pun bersulang.


“Omong-omong, ada masalah apa semalam, Jack? Semalam aku terkejut begitu melihat wajahmu. Kau terlihat sangat suram.” “Hmm. Benarkah?” tanya balik Jack.


“Begini… Aku melihat keinginan untuk membunuh saat melihat tatapan matamu semalam,” ucap Yohan yang berkata jujur.


Jack menghela nafas, menegak soda, lalu, “Sebenarnya, sejak aku tinggal di SALOKA RESIDENT, aku sudah merasa sangat berat. Ini genap satu minggu aku tinggal disana.”


Pesanan makanan pun telah datang. Jack dan Yohan mulai mengobrol sambil menikmati makanan yang ada.


“Setelah mendengar lirik dari lagu ciptaanmu tadi, aku merasa lagu itu sangat mirip denganku. Apa kau berasal dari luar kota?” “Ya,” jawab Yohan.


“Lantas, kau hidup dengan ibu tunggal?” “Ya,” Yohan mengangguk. “Nah, itu dia. Aku juga sama sepertimu, tapi ibuku sudah meninggal sejak lama, sehingga bibiku lah yang merawatku saat aku kecil.”


“Astaga. Turut berduka mendengarnya, Jack. Aku tak menyangka… Sial!” Yohan menumpahkan gelas whiskeynya ke meja. Dia mengambil selembar tisu dan membersihkannya.


“Akan tetapi, kau tidak tampak seperti itu. Kupikir kau tidak punya kekhawatiran,” ucap Yohan.


“Maka itu, kita harus segera keluar dari tempat itu,” jelas Jack. “Apa maksudmu?” tanya Yohan semakin penasaran.


Jack pun mulai menceritakan semua kejadian aneh, mulai dari hari pertamanya tinggal di SALOKA RESIDENT.


Dari kejadian Wick yang menghilang setelah bertengkar dengan penghuni lainnya, hingga kejadian baru-baru ini.

__ADS_1


Jack juga bercerita bahwa, dia merasa seseorang telah masuk ke dalam kamarnya, walau dia sudah mengunci pintu kamarnya, dan juga tentang lantai basement dan kamar pemuja setan yang selalu mengeluarkan suara.


“Astaga. Apa mungkin mereka bersekongkol? Apa mungkin juga mereka melakukan perdagangan organ tubuh manusia? Mungkinkah mereka mendirikan sekte sesat?”


“Entahlah. Karena itu juga aku merasa sangat curiga. Namun, apakah mungkin itu terjadi di SALOKA RESIDENT? Tampaknya tidak sampai seperti itu,” ucap Jack berpikir positif.


Jack merasa sangat senang, akhirnya dia dapat bertemu dengan seseorang yang menurutnya normal, dan tak seperti penghuni gedung lainnya.


Saat berbicara dengan Yohan, Jack pun merasakan kenyamanan yang tak ia temui semenjak ia berada di New York.


“Karena kau ada disini, setidaknya itu membuatku lebih merasa nyaman.” Jack melahap sisa burger yang masih tersisa, dan langsung menghabiskannya.


“Sebelum itu, ada siapa disana?” tanya Yohan masih penasaran. “Preman tua yang kuceritakan tadi, sebelumnya dia berada di kamarmu.” “Oh, ya?” Yohan bersemangat.


“Paman itu juga heboh dan terus bilang ada orang yang telah masuk ke dalam kamarnya, sama seperti yang kualami. Dia pun langsung pergi, entah menghilang setelah kejadian itu.”


“Lalu hari berikutnya, ada juga orang yang pergi dari sana.” Jack mengambil segelas air putih dari kran, lalu meminumnya. Sesekali dia juga menuangkan whiskey milik Yohan ke dalam gelasnya.


“Omong-omong, Jack. Aku sangat menyukai film bergenre kriminal. Setelah mendengar ceritamu, aku yakin ada sesuatu yang tidak beres. Jika kita gali tentang mereka, aku yakin akan muncul lebih banyak hal.”


“Astaga. Apa yang perlu digali? Mengingat semua penghuni disana saja aku sudah malas. Mereka hanya orang gila tak berguna. Kita tak perlu memprovokasi mereka dengan menggalinya.”


“Satu hal lagi. Sebenarnya, aku sangat tertarik dengan lantai bbasemen, juga kamar tempat mereka melakukan ritual penyembah seran itu. Kau terus bilang, bahwa ada orang yang masuk ke dalam sana.”


“Akan tetapi, tidak ada yang tinggal di lantai itu, seperti yang kita tahu. Lantas, siapa dia? Kenapa dia masuk ke lantai basement itu?”


Yohan pun mulai mabuk karena terlalu banyak minum whiskey. Dia terus bertanya karena sangat penasaran.


“Entahlah. Namun, aku yakin ada klise di lantai itu. Mungkin ada sesuatu yang disembunyikan atau di sanalah mereka menyimpan semua kejahatannya.”


“Ya, setuju. Kau benar, Jack.” Yohan mengangguk.


“Pemilik gedung berkata, tidak ada yang tinggal di sana, tapi aku terus mendengar suara aneh dari lantai itu. Suara orang memukul-mukul dan benda jatuh lainnya.”


“Hmmm. Sepertinya aku harus menyelidikinya sendiri,” ucap Yohan mulai melantur karena mabuk.

__ADS_1


__ADS_2