
Bukannya menolong Mike yang sedang tak sadarkan diri, Wil malah mengikuti, kemana perginya Rocky.
Wil mengendap-endap dan turun dari gedung perusahaan. Di bawah gedung, Will langsung menyalakan mobilnya dan mengikuti Rocky sampai gedung SALOKA RESIDENT.
Wil menghentikan mobilnya dari seberang gedung. Dia melihat dan menunggu Rocky yang akan masuk ke dalam gedung itu.
Setelah memastikan Rocky masuk, Wil menelpon seorang rekannya yang bekerja di kantor pusat.
Wil mengatakan dia mempunyai berita eksklusif yang didapatkannya hari ini.
“DOR!”
“Woah! Apa-apaan ini?”
Si Autis datang dan melihat Wil dari jendela mobilnya yang terbuka. Dia membawa pistol mainan dan membuat Wil terkejut.
“Xixixixi. Apa kau seorang reporter? Sepertinya ada hal menarik disini.” Si Autis cekikikan.
“Tidak. Tidak. Kebetulan aku sedang lewat saja disini.” Wil langsung menutup jendela mobilnya.
“Tunggu!” Si Autis menahan kaca jendela mobil Wil agar tak menutup. “Apa lagi? Ada apa?” tanya Wil.
“Sungguh? Jika kau pergi sekarang, kau akan kehilangan berita eksklusif. Xixixixixi.” “Apa maksudmu?” Wil kesal.
“Ini tentang pembunuh berantai.” “Hah? Pembunuh berantai?” Wil terkejut mendengar ucapan Si Autis.
“Xixixixi. Aku bisa membantumu mendapatkan berita itu.” “Apa yang kau inginkan dariku sebagai balasannya? Kau ingin uang?”
“Tidak. Aku tidak butuh uang. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada seseorang,” ucap Si Autis. Sepertinya dia berniat untuk membongkar semua yang dilakukan oleh Rocky di gedung itu.
“Tadi.. Apa maksudmu, orang yang berambut gondrong tadi? Orang yang baru saja masuk ke gedung SALOKA RESIDENT?”
“Ya, itu dia. Xixixixixixi.” Si Autis cekikikan. “Apa kau memiliki bukti?” “Tentu. Aku akan memberikannya padamu, asal kau membelikanku ponsel baru. Bagaimana? Mau atau tidak?”
Wil diam dan masih memikirkan sesuatu.
“Cepat pilih! Kau mau atau tidak?” ucap Si Autis.
“Baiklah! Aku akan membelikanmu 2 ponsel sekaligus, jadi, mana buktinya?”
__ADS_1
“Temui aku di alamat ini besok. Aku akan membawakan buktinya, dan aku akan mengambil ponselku darimu.” Si Autis memberikan Wil sobekan kertas bertuliskan alamat yang tertera.
***
Di lantai kosong SALOKA RESIDENT, terlihat Yohan yang sedang berada di dalamnya.
Yohan tak bisa menghubungi Jack dan sudah menelponnya berkali-kali, dia pun akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam lantai kosong itu.
Yohan mulai menelusuri lorong dan melihat kamar yang terbuka satu persatu.
Saat Yohan sedang berada di dalam salah satu kamar, terdengar suara pintu lantai yang terbuka.
Yohan terkejut dan bersembunyi di lorong itu. Saat mengintipnya, dia melihat Si Autis dan Si Mesum yang sedang membawa sebuah kotak berukuran besar.
Mereka berdua mengangkat kotak yang seukuran peti mati itu bersama-sama dan membawanya ke dalam ruangan lain.
Saat mereka sudah masuk, perlahan Yohan mengendap-endap keluar dari kamarnya untuk melihat apa yang sedang kedua orang itu.
*TEK TEK TEK!!!!
“Yohan!”
Yohan berbalik dan sangat ketakutan melihat Rocky.
“Kau harus cepat keluar dari sini! Dan ini lah waktunya.”
Rocky berlari ke arah Yohan, lalu memukul kepala Yohan menggunakan bagian kapak yang tumpul.
*BUKK!!!!
***
Kembali pada Jack yang sedang di hotel dan baru saja terbangun dari tidurnya.
Jack terkejut saat melihat Jane yang sudah tak ada disampingnya.
“Jane! Dimana kau!” Jack memanggil Jane.
Dari arah pintu kamar mandi, Jack melihat Rocky yang berdiri dan tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Jack terkejut. Dia langsung mengambil sebuah pisau dari dalam tasnya, lalu mendorong Rocky hingga dinding kamar.
“Mati kau, Brengsek!” Jack menodongkan pisau itu ke leher Rocky.
“Sayang!”
Ternyata Jack sedang berhalusinasi. Dia sedang mendorong dan menahan Jack ke tembok, menodongkan pisau pada Jane.
“Hah!” Jack tersadar dan langsung menjatuhkan pisaunya, saat melihat bahwa itu bukan Rocky, melainkan Jane. Tangannya bergetar dan tak habis pikir dengan apa yang telah dia lakukan pada Jane.
Begitupun dengan Jane. Dia sangat syok saat Jack tiba-tiba menodongnya dengan pisau, saat dia keluar dari kamar mandi.
Jane mengambil tas dan semua barangnya di kamar itu, lalu pergi dan berlari keluar kamar sekencang-kencangnya.
Di luar hotel, Jane langsung berlari dan mendekati mobil taksi yang sedang berhenti di pinggir trotoar.
“Jane!!!!” Dari lobi hotel, Jack memanggil dan mengejar Jane yang sudah berada di jalan.
“Jane! Tunggu, Jane! Jane!!! Jack pun berhasil mengejar Jane sebelum Jane masuk ke dalam taksi. Dia memegang tangan Jane dan menahannya agar tak pergi.
“Tunggu, Jane. Dengarkan aku dulu!”
“Lepaskan!” Jane menangis tersedu-sedu karena syok dan berusaha melepaskan tangan Jack darinya.
“Maaf! Maafkan aku! Aku sungguh minta maaf. Kita bicara sebentar, Jane. Sebentar saja! Aku akan menjelaskan semuanya padamu.”
Jack masih berusaha memegang erat tangan Jane, agar dia tak membuka pintu taksi yang sedang berhenti di pinggir jalan itu.
Jack terus memohon agar Jane ingin mendengarkan penjelasannya, bahwa dia sedang berhalusinasi dan sangat merasa bersalah dengan hal itu.
“Lepaskan! Bicara apa? Tentang SALOKA RESIDENT itu lagi?” Jane melepas tangan Jack yang memegangnya.
“Meski aku merasa kau semakin aneh, aku hanya berpikir mungkin kau sulit beradaptasi di New York. Aku hanya bisa bersabar dan menunggu, tapi apa ini? Apa yang baru saja kau lakukan padaku? Apa-apaan ini?”
Jane berteriak histeris dan menangis terisak-isak di pinggir jalan itu.
“Jane! Lihat aku, Jane. Tenanglah! Tatap aku sebentar saja!” Jack memegang pundak Jane untuk menenangkannya.
“Tidak!” Jane menjauhkan tangan Jack darinya. “Sepertinya, kita butuh waktu untuk menyendiri dulu. Minggir!” dengan cepat, Jane masuk ke dalam mobil taksi dan mengunci pintunya dari dalam.
__ADS_1
Mobil taksi pun mulai berjalan meninggalkan Jack.