
Setelah mengirim pesan itu, Jack langsung memakai helm dan menyalakan motornya.
Beberapa ratus meter setelah Jack pergi dari SALOKA RESIDENT, Jack menghentikan motornya, tepat di seberang kantor polisi. Kantor itu adalah kantor tempat dimana Rose ditugaskan.
Jack melepas helmnya dan melihat sekitar kantor polisi itu. Sepertinya Jack sedang mencari Rose untuk melaporkan sesuatu.
“Jack?” Sapa Rose yang datang dari belakang Jack.
“Astaga.” Jack terkejut dan hampir jatuh dari motornya. Dia melepaskan helmnya, dan turun dari motor.
“Maafkan aku Jack. Aku tak bermaksud membuatmu terkejut,” ucap Rose.
“Tak masalah. Aku memang mudah terkejut saja,” jawab Jack linglung.
“Apa yang kau lakukan disini Jack? Kau sedang sakit?” “Aku?” tanya Jack. “Ya, kau, siapa lagi? Wajahmu terlihat sangat pucat,” ucap Rose.
“Benarkah? Astaga, mungkin karena semalam aku kesulitan tidur.” Jack menyentuh wajahnya dan menggaruk-garuk kepalanya.
Jack membuka tas, lalu mencari sesuatu dari dalam tasnya. “Ini. Sepertinya ini milik penghuni yang sebelumnya tinggal di kamarku.” Jack memberikan buku catatan yang ditemukannya di dalam kamar kepada Rose.
“Oh, ya? Terimakasih, Jack.” Rose menerima buku catatan kecil itu. “Baiklah, aku akan pergi dulu.” Jack menutup tasnya berpamitan.
“Tunggu sebentar, Jack!” Rose menutup buku kecil setelah membuka nya beberapa lembar. “Apa menurutmu ada hal aneh yang terjadi di SALOKA RESIDENT?”
“Hal aneh?” tanya Jack. “Ya, mungkin kau mengalami hal aneh atau merasa ada yang mengganjal?” tanya Rose.
Jack berdiam sejenak dan berpikir dulu untuk mengatakannya.
“Itu.. Di lantai kosong. Lantai yang berada di antara lantai 2 dan 3. Kurasa ada yang janggal disana. Kata pemilik gedung, lantai itu bekas kos wanita yang sudah lama tak terpakai karena kebakaran satu tahun yang lalu.”
“Akan tetapi, aku selalu mendengar suara dari lantai itu. Suara seperti barang terjatuh dan seorang yang memukul-mukul sesuatu.”
Rose menyimak penjelasan dari Jack dengan seksama, karena Rose masih menyelidiki tentang orang yang hilang di gedung itu.
“Akan tetapi…”
__ADS_1
Jack tak melanjutkan perkataannya. Dari jarak 20 meter, Jack melihat Eli yang sedang mengawasinya. Eli bersembunyi di balik tanaman rindang dan Jack mengetahui keberadaannya.
“Tapi?” tanya Rose penasaran. “Tapi aku tak yakin dengan itu. Baiklah, aku akan pergi dulu. Permisi,” ucap Jack yang memakai helm lalu menaiki motor dan pergi meninggalkan Rose, saat melihat Eli yang sedang mengawasinya.
“Ya, baiklah. Hati-hati di jalan, Jack.” Rose pun celingukan. Dia melihat sekitar karena Jack bertindak aneh dan gegabah.
***
Di SALOKA RESIDENT. terlihat Eli yang menaiki tangga gedung. Dia membawa beberapa papan telur ayam yang entah darimana dia mendapatkan itu.
Sebelum masuk ke lorong lantai 2, dia bertemu dengan Rocky yang menuruni tangga.
“Kau membeli telur?” tanya Rocky menuruni tangga. “Ya, Si Kembar sangat menyukai telur ini, padahal belum sampai seminggu, tapi telurku sudah habis.” Eli menatap Rocky.
“Astaga. Ternyata kau penuh kasih sayang dan sangat perhatian kepada para penghuni disini.” Rocky memegang pundak Eli.
“Hahahaha. Darimana kau? Apa yang kau lakukan di atas?”
“Ada kucing yang membuat keributan di lantai itu, jadi, aku memasang perangkap dengan tikus, kucing itu tak berisik.” Peribahasa yang sangat bagus dari Rocky.
“Ini tentang anak muda penghuni kamar 313 itu. Aku melihat dia sering bertemu dengan polisi wanita. Tadi pagi sepertinya dia memberikan sesuatu kepada polisi itu.” Eli menceritakan apa yang dia lihat baru saja.
“Apa kau tahu, apa yang dia berikan?” Rocky menyibakkan rambutnya yang lebat. Memikirkan apa yang diberikan Jack kepada polisi wanita.
“Tentu saja tidak. Aku berada cukup jauh, jadi, tak bisa melihatnya dengan jelas.” Eli tersenyum. “Bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Kalau bukan anak muda itu, apa aku perlu membereskan polisi wanita itu?”
“Tidak perlu, biar aku saja yang mengurus. Lagipula, aku sepertinya mengenal polisi wanita itu. Dia adalah salah satu pasien yang selalu berobat denganku.”
“Sungguh?” Eli tak menyangka bahwa Rocky sudah bertindak sangat jauh dengan melakukan itu semua, agar tak ada satupun orang yang mencurigainya. “Bagaimana jika hal buruk terjadi kepadamu?” lanjut Eli.
“Bibi Eli! Apa kau tidak mempercayaiku?” Rocky melangkah mendekati Eli.
“Hahahahaha. Astaga. Tentu saja aku percaya padamu. Baiklah. Lakukan saja semaumu. Aku hanya perlu menonton dan menikmatinya.”
Eli tertawa sambil menepuk bahu Rocky, lalu pergi masuk ke lorong.
__ADS_1
***
Di kantor Jack, terlihat Jack yang hanya berada di kantornya sendirian. Semua pegawai tetap sedang melaksanakan rapat bersama para CEO dan Direktur perusahaan.
Jack menatap layar dan fokus mengerjakan sesuatu.
“Halo semuanya!!!” Reporter Wil berteriak menyapa semua orang, tapi dia hanya melihat Jack yang berada di ruangan itu. “Apa-apaan ini? Anak Magang, kenapa kau sendirian?”
“Pagi ini, semua pegawai tetap sedang melaksanakan rapat bersama para CEO dan Direktur,” jawab Jack yang berdiri dan menyambut Wil.
“Astaga. Mereka sangat bermalas-malasan. Aku yakin tempat ini akan tutup satu tahun lagi.” Wil menuju meja tengah, lalu duduk di atas kursi. Dia membaca beberapa koran yang ada di atas meja itu.
Jack pun kembali duduk dan menatap layar monitornya.
“Oh, apa kau memiliki gunting kuku? Sepertinya kantor ini memiliki inventaris yang banyak. Bisakah kau mengambilkan gunting kuku untukku?” Wil dengan mudahnya menyuruh Jack.
“Apa?” tanya Jack yang tak suka disuruh-suruh. “Itu!” Wil menunjuk meja Winson. “Ada gunting kuku di laci Winson. Ambilkan itu untukku.”
Karena tak ingin memperpanjang masalah, Jack pun berdiri dan mengambilkan gunting kuku di laci meja Winson.
Saat membuka laci meja Winson dan mengambil gunting kuku, lagi-lagi Jack melihat foto Kim yang berada di laci mejanya.
“Astaga. Apa ini? Dia benar-benar seorang penguntit, tak jauh berbeda dengan Si Mesum,” batin Jack.
Dia menutup kembali laci itu, dan memberikan gunting kuku kepada Wil.
“Astaga. Cuacanya sangat panas. Apa kau punya sesuatu untuk diminum?” Wil menerocos dan malah meminta sesuatu. Itulah mengapa semua pegawai tetap di kantor Mike, termasuk Mike tak suka padanya.
“Apa kau mau minum?” Jack menawarkan bantuan lagi, sebelum ia duduk di kursinya. “Kalau begitu, buatkan aku es kopi susu. Aku ingin melihat kemampuanmu dan merasakan kopi buatanmu,” ucap Wil.
Will tersenyum pada Jack yang sebenarnya membuat Jack kesal melihat senyumannya. Jack hanya diam dan menuju ke dispenser dan kulkas kecil untuk membuatkan minuman.
“Kalau ada camilan, tolong sekalian bawa kemari.” “Ya,” jawab Jack ketus.
10 menit berlalu. Jack telah membawa es kopi susu dan beberapa camilan beberapa potong buah mangga. Jack meletakkan itu di meja, tempat Wil duduk.
__ADS_1