SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 025


__ADS_3

Di bawah gedung tempat Jack bekerja. Seorang wanita cantik berpenampilan rapi. Wanita itu mengenakan setelan jas berwarna abu-abu dan celana panjang, dan kalung emas yang menghiasi lehernya.


Rambut panjang sedikit pirang yang dikuncir, serta bola mata coklat. Dia adalah Jane, kekasih Jack.


Jane berada di sebuah kedai kopi. Dia beristirahat sejenak setelah bertemu dengan para kliennya.


Karena kedai kopi itu berada tak jauh dari kantor Jack, Jane pun berniat untuk mampir ke kantor Jack.


Jane mengirim pesan kepada Jack, mengabari bahwa Jane akan mampir ke kantornya sejenak.


Akan tetapi, sepertinya Jack sedang sibuk dan tak sempat membaca pesan dari Jane.


Jane pun memutuskan untuk langsung menaiki gedung, kantor Jack berada. Jane masuk ke dalam gedung, lalu menaiki lift untuk pergi ke lantai 4, tepat ruang Jack berada.


Sesampainya Jane di lantai 4, Mike pun langsung menyambut Jane saat itu.


“Jane! Astaga!” ucap Mike berada di dekat pintu. “Lama tak bertemu, Kak,” sapa balik Jane sambil tersenyum dan bersalaman dengan Mike yang beranjak berdiri.


“Astaga, kau terlihat lebih cantik,” Mike memuji. “Hentikan itu.” Jane menepuk pundak Mike.


“Kemarilah Jane!” Mike mengajak Jane dan memperkenalkannya kepada para karyawan. “Perkenalkan semuanya! Ini adalah pacar Jack yang pernah kuceritakan kepada kalian waktu itu,”


“Halo semuanya! Aku Jane.” Jane membungkuk memperkenalkan dirinya.


Jack sangat dibuat terkejut saat melihat Jane yang sudah berada di kantornya. Dia beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri Jane di tempat Mike.


“Lihatlah, Kim. Bukankah dia sangat cantik?” tanya Mike pada Kim.


“Tentu. Semua wanita saat berusia sepertinya sangatlah cantik,” jawab Kim tak mau kalah cantik.


“Ayolah, Pak CEO. Kim pun juga cantik. Kau tak boleh membandingkannya,” sahut Nick yang juga melihat Jane.


“Tidak. Aku merasa bahwa dia lebih cantik dariku,” ucap Jane tersenyum dan menunjuk Kim.

__ADS_1


“Wah, benar juga. Kim adalah mantan aktris teater. Hahahaha. Sudahlah. Abaikan saja. Teruskan pekerjaan kalian.”


Jack menatap Jane dan tersenyum kepadanya. Dia sangat terkejut dan senang melihat Jane mendatanginya ke kantor. Sudah beberapa hari Jack tak bertemu dengan Jane selama ia berpindah ke New York.


“Kemarilah, Jane, Jack. Aku akan membuatkanmu kopi.” Mike mengajak Jane dan Jack untuk mengobrol di ruangan pribadinya yang berada di dekat pintu masuk.


“Tak perlu, Kak. Aku harus segera pergi dari sini, lagipula, aku hanya ingin melihat wajahnya,” ucap Jane menatap Jack. “Aku belum bertemu dengannya saat dia tiba di New York.


“Wah! Sungguh?” tanya Mike. “Ya. Aku hanya mampir kemari saat bertemu dengan klien di kedai kopi seberang,” jawab Jane.


“Kau tak boleh terlalu keras padanya, Kak.” ucap Jane melihat Jack. “Aku akan membunuhmu, jika terjadi apa-apa dengannya. Hahahahaha,” ucap Jane tertawa.


“Astaga… Kenapa kau berpikir seperti itu?” ucap Mike. “Hei, beritahu dia Jack. Aku sangat menyayanginya seperti adikku sendiri.”


“Benar, Jane. Dia sangat baik padaku,” lanjut Jack. “Ya. Itu benar,” ucap Mike tegas. “Astaga. Aku tidak percaya denganmu, Kak,” sahut Jane tersenyum.


“Baiklah. Sepertinya aku harus pergi sekarang juga,” Jane bersiap pergi. Menggandeng tangan Jack “Kau yakin? Apa kau tak ingin meminum kopi dulu disini?” ucap Mike yang masih melarang Jane pergi.


“Astaga. Aku sungguh, Kak. Aku datang kemari hanya untuk melihat wajahnya,” ucap Jane tersenyum pada Jack. “Aku juga masih karyawan dan bosku cukup galak,” lanjut Jane.


“Astaga. Sepertinya aku akan dipecat. Aku akan pergi dulu, Kak,” Jane melambaikan tangannya pada Mike. Berpamitan.


“Tunggu sebentar,” Jack menahan tangan Jane. “Mike, apa boleh aku mengantar Jane keluar?” Jack berbisik pada Mike meminta izin.


“Kau tak perlu meminta izin Jack. Kau harus mengantarkannya hingga ia mendapatkan taksi untuk pergi,” ucap Mike mendorong Jack untuk segera mengantar Jane.


“Baiklah. Aku akan mengantarnya dulu,” ucap Jack menggandeng tangan Jane dan pergi meninggalkan ruangan.


“Astaga. Dasar anak muda. Rasanya aku ingin kembali muda seperti mereka” ucap Mike yang kembali ke ruangan kecilnya.


Di bawah gedung, Jack pun mengantar Jane hingga keluar dan berjalan di pinggir trotoar untuk mencari taksi.


Mereka berjalan berduaan seperti anak muda lainnya yang sedang di mabuk asmara. Mereka bergandengan tangan dan berbincang bincang santai.

__ADS_1


“Maafkan aku, Jane. Aku tak sempat membaca pesanmu tadi. Saat aku membacanya, kau sudah berada di ruanganku.” “Tak apa. Aku juga ingin melihat-lihat tempat kerjamu yang baru.”


Jack mengambil sesuatu dari kantong celananya. “Ini. Aku ingin memberikanmu ini.” Jack memberikan sebuah gantungan boneka kecil kepada Jane.


“Apa ini? Gantungan boneka?” tanya Jane yang melihat gantungan kunci yang lucu itu. “Aku mendapatkannya saat aku ke tempat servis laptop, di depan gedung itu ada undian berhadiah.”


“Lalu, aku mencoba melempar sebuah anak panah dan mendapatkan hadiah itu. Sebenarnya, hadiah itu adalah hadiah untuk pemenang yang mendapatkan skor paling rendah,” ucap Jack tersenyum.


Begitupun dengan Jane yang tersenyum menatap Jack.


“Namun, aku memberikannya padamu, karena sepertinya itu lebih cocok untukmu. “Astaga. Baiklah. Apa kau mengantarku kemari hanya untuk memberikan ini?” tanya Jane. “Ya. Kurasa begitu,” jawab Jack.


“Ini sangat lucu. Sepertinya aku akan memasangkan gantungan ini ke tasku. Terima kasih, Sayang.” “Tentu.” jawab Jack tersenyum senang.


“Omong-omong, apa orang yang duduk di pojok tadi adalah seniormu?” tanya Jane. “Ya, dia orang yang kuceritakan padamu, Jane.”


“Astaga. Orang itu tampak aneh. Dia menatapku dengan tatapan sinis,” ucap Jane. “Bukankah sudah kubilang padamu, bahwa dia sangat aneh.”


“Hmm. Dia tak menyapa atau memberi salam, hanya menatapku, lalu kembali menatap layar komputernya,” lanjut Jane kesal.


“Apakah kita jadi untuk keluar di akhir pekan ini?” tanya Jane. “Tentu saja. Sudah lama kita tak berkencan,” jawab Jack.


“Itu dia! Taksi!” Jack memanggil dan menghentikan sebuah mobil taksi yang sedang melintas.


Saat taksi berhenti, Jack membuka pintu mobil taksi untuk Jane. “Masuklah!” “Astaga. Kau tak perlu melakukan itu disini,” ucap Jane yang kemudian masuk ke dalam mobil.


“Hubungi aku setelah kau sampai. Hati-hati di jalan!” Jack melambaikan tangan dan melihat Jane dari luar jendela. Mobil taksi pun pergi meninggalkan Jack.


Jack tersenyum, lalu kembali menuju kantornya.


Setibanya Jack di kantor, Mike menyapanya dari dalam ruangan di dekat pintu masuk ruangan.


“Jack, bukankah Jane sangat seksi menurutmu?” ucap Mike lirih. “Apa?” ucap Jack dengan melotot.

__ADS_1


“Kau seharusnya bersyukur Jack. Jane sepertinya sangat menyukaimu,” lanjut Mike. “Kak!” Jack melangkah masuk ke dalam ruangan Mike.


__ADS_2