
Sore menjelang petang pun tiba. Semua karyawan di kantor Mike sedang makan dan minum bir bersama di sebuah resto asia kecil.
Semua orang bersenda gurau dan melakukan cheers satu sama lain, terkecuali dengan Jack.
Dia duduk di sebelah Kim dan hanya melamun sambil menikmati beberapa cemilan dan bir kaleng.
Setengah jam berlalu. Mereka telah menghabiskan semua makanan yang ada, lalu pergi dari restoran itu.
“Terima kasih semuanya! Terima kasih atas kerja keras kalian!” ucap Mike di luar restoran.
“Tentu, Pak!” sahut Nick
“Ya, sama-sama, Pak. Sering-seringlah mentraktir kami seperti ini. Hahahahah,” ucap Kim.
“Sejak kau masuk kemari, kau sudah bekerja sangat keras, Jack. Kau cukup hebat.” Nick memegang pundak Jack yang berjalan paling belakang dari karyawan lainnya.
“Terimakasih, Pak.” Jack tersenyum dan mengangguk pada Nick,
“Kau harus memperhatikan Jack dengan baik. Dia sudah berusaha sekuat tenaganya untuk itu, benar bukan, Pak Winson?” lanjut Nick.
“Ya, itu benar. Dia sangat hebat,” sahut Mike yang sudah sedikit mabuk.
“Apa kalian ingin ronde kedua? Jika kalian ingin, kita hanya perlu memutar dan melewati gang itu. Itu adalah tempat yang batal kita datangi saat itu. Mungkin akan ada banyak orang disana,” ucap Kim.
Sepertinya Kim masih ingin meminum bir. Dia terlihat sangat kuat dari yang lainnya dan terus mengajak karyawan lain untuk ronde kedua.
Seorang wanita tua penjual bunga menghampiri mereka yang sedang berjalan melewati trotoar.
“Belilah bunga ini, Tuan.” Wanita penjual bunga itu menawarkan bunga mawar pada Winson yang berjalan di tepi jalan. “Aku tak mau!” ucap Winson ketus. Winson berjalan cepat ke depan agar wanita itu tak memaksanya.
“Astaga. Anggap saja kau membeli ini untuk membantu orang yang sedang kesulitan,” ucap wanita tua penjual bunga.
“Tolong aku, Anak Muda.” Wanita penjual bunga itu meminta Jack yang berjalan paling belakang untuk membeli setangkai bunga mawarnya.
__ADS_1
“Berapa harganya, Bibi?” tanya Jack. “50 dollar, Nak,” jawab Si Penjual bunga. “50 dollar?” Jack mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa uang.”
“Apa kau ingin memberikannya kepada pacarmu, Jack?” tanya Kim yang juga berhenti. Melihat Jack membeli bunga milik nenek tua itu.
“Tidak juga. Aku hanya teringat pada Bibi ku yang berada di Chicago. Dia adalah orang yang merawatku sejak kecil, dan juga seorang pedagang kaki lima, seperti nenek ini,” jawab Jack.
“Ini, Nek.” Jack memberikan 50 dollar itu kepada nenek Si Penjual bunga. “Terima kasih banyak, Nak. Semoga tuhan memberkatimu.” Nenek itu kemudian berjalan pergi.
“Lihatlah, Jack benar-benar sangat baik,” gumam Kim pada Mike. “Wah, kau benar. Dia anak yang baik,” sahut Nick. Mereka pun melanjutkan langkahnya saat Jack sudah mendapatkan setangkai mawar itu.
“Hmmm. Seharusnya aku juga membeli satu untuk ibuku,” ucap Kim setelah melihat penjual bunga sudah pergi jauh dari tempatnya.
“Kau tak perlu merasa kasihan, Kim. Mungkin saja nenek tua itu naik dengan mobilnya saat ia pergi dari sini,” celetuk Mike. “Astaga. Kau tak boleh seperti itu, Pak,” sahut Nick.
“Kak, ini untukmu. Kau bisa mengambilnya jika kau mau.” Jack memberikan setangkai bunga mawar itu kepada Kim, karena mendengar Kim ingin membelikannya untuk ibunya.
Kim berhenti dari langkahnya dan menerima setangkai bunga mawar dari Jack. “Apa kau yakin? Kau memberikannya padaku, Jack?” tanya Kim. “Ya, tentu. Bukankah kau ingin memberikannya kepada ibumu?” ucap Jack meneruskan langkahnya.
Mereka semua terus berjalan melewati gang-gang sempit dan menuju tempat lain untuk ronde kedua.
Di sebuah gang sempit mereka berhenti sejenak dan membicarakan, akan kemana mereka pergi.
“Baiklah. Sepertinya ini masih sangat sore. Bagaimana jika kita pergi ke tempat pekan lalu, tempat yang gagal kita kunjungi. Tempat itu sangat luas dan memiliki banyak varian bir dan alkohol?” ucap Kim.
“Wah, tempat itu terlalu kuno. Lebih baik kita pergi ke bar saja,” sahut Mike. “Nah, itu dia. Mari kita minum di bar saja,” sahut Nick yang kemudian pergi.
“Astaga. Dasar orang tua. Selera kalian sangatlah buruk. Apa bagusnya tempat itu,” ucap Kim yang kesal karena semua orang tak menyetujui tempat rekomendasinya.
“Asal kau tahu, Jack.” Kim mendekati Jack dan Winson yang berjalan di belakang Jack.
“Aku selalu makan di luar bersama orang tua itu. Aku senang karena ada kau yang masih muda dan bergabung bersama kami, setidaknya aku bukan yang paling muda disini.”
Jack hanya mengangguk dan membalas senyuman kecil.
__ADS_1
Dari belakang, Winson kesal melihat Kim sangat perhatian pada Jack. Dia berjalan cepat dan menyenggol bahu Jack. Jack hanya diam dan menghiraukan Winson.
“Kalian boleh dulu, aku akan berbicara dengan Jack,” ucap Mike yang berjalan paling depan.
Setelah semuanya pergi, Mike dan Jack pun berbicara empat mata di gang yang cukup sepi itu.
“Astaga. Kalau tidak ada Kim, pasti kita sudah ke tempat yang lebih bagus. Selera dia sangat aneh. Kita dapat bersenang-senang sesama pria. Bukan begitu, Jack?” ucap Mike.
Jack hanya diam dan menundukkan kepalanya.
Mike mendekati Jack, merangkul dan berkata, “Hei, bagaimana menurutmu tentang Kim, Jack?” “Apa?” tanya Jack kaget.
“Tampaknya dia menyukaimu, aku bisa melihatnya dari mata Kim. Dia begitu senang, saat kau memberinya bunga.”
“Astaga, Kak. Apa maksudmu? Aku sudah punya Jane, dan sepertinya Nona Kim bukan orang seperti itu.”
“Astaga, kau bersikap serius lagi. Aku hanya bercanda Jack. Perbaikilah kebiasaanmu itu. Kau harus membedakan mana bercanda dan mana serius,” ucap Mike kesal.
“Omong-omong, apa yang kau ingin bicarakan denganku? Kenapa kau sampai mengirimiku pesan dari Whatsapp, padahal kau tinggal memanggilku saja,” lanjut Mike.
“Begini, Kak. Apa aku boleh menginap di tempatmu untuk pekan ini saja?” tanya Jack dengan sedikit sungkan. “Banyak hal aneh yang terjadi di SALOKA RESIDENT akhir-akhir ini.”
“Wah, maafkan aku Jack. Sepertinya aku tidak bisa. Aku juga ada pekerjaan di akhir pekan ini. Bukankah kau tahu, sebenarnya aku juga tak menerima tamu sama sekali.”
“Kenapa? Apalagi yang terjadi di tempat itu? Hal aneh apa lagi yang kau alami disana?”
“Semua penghuni disana sangatlah aneh. Aku hanya merasa sangat kesal saat berada dan bertemu semua penghuni disana.”
“Hmmm. Sepertinya kali ini aku tidak bisa membantumu, Jack. Maafkan aku,” ucap Mike. “Begini saja, apa kau ingin tinggal di motel untuk beberapa hari saja? Aku akan memberikan sedikit uang untukmu.”
“Tak perlu, Kak. Itu akan membuatku lebih sungkan lagi. Baiklah, kalau begitu. Aku akan mencoba untuk bersabar lagi,” ucap Jack.
“Baiklah, mari kita pergi. Semua orang mungkin sudah sampai di tempat untuk ronde kedua,” ucap Mike yang pergi meninggalkan Jack.
__ADS_1