SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 023


__ADS_3

Di lorong gedung, sebelum Jack membuka pintu kamar, dia melihat kamar Si Mesum yang kali ini tertutup.


“Syukurlah. Sepertinya Si Mesum itu menurut pada Nyonya Eli,” gumam Jack dalam hati.


Setelah dirasa tak ada yang aneh, Jack berniat untuk menulis dan melanjutkan beberapa kata untuk novelnya.


Di tengah kesibukannya menulis, Jack teringat pada Rocky yang menatapnya dengan ekpresi wajah yang aneh.


“Astaga. Ekspresi macam apa yang dia berikan? Apa dia Joker? Tatapan dan ekspresinya sangat mirip dengan itu. Ah, sudahlah. Kenapa aku harus memperdulikan itu.”


Jack kembali melanjutkan tulisannya.


***


Di sebuah jalanan yang sangat gelap. Si Kembar mengendarai mobil pick up yang melintasi jalanan itu. Sepertinya mereka berdua akan kembali ke SALOKA RESIDENT, setelah membuang bangkai hewan.


Dari belakang mobil Si Kembar, suara sirine mobil polisi terdengar. Mobil polisi itu mengejar mobil pick up milik Si Kembar, lalu berhenti menutup jalan.


Ternyata Rose lah yang mengendarai mobil polisi itu. Saat itu, Rose juga sedang melintas di jalan yang sama, lalu melihat lampu mobil yang dikendarai Si Kembar sangatlah redup.


Rose keluar dari mobil, lalu menghampiri mobil Si Kembar yang berada di belakangnya.


Sebelum malam tiba, sejak pagi Rose sedang menyelidiki tentang kasus menghilangnya orang di sekitar SALOKA RESIDENT.


Rose juga mendatangi keluarga korban, bertemu dengan istri korban. Istri korban memberikan Rose beberapa barang yang bisa dijadikan bukti untuk kasus itu.


Sebelum itu, setelah Si Autis keluar dari kantor polisi, Rose mendatangi keluarga Si Kembar yang masih ada. Dia juga mendapatkan beberapa barang yang sekiranya berhubungan dengan kasus yang sedang ia selidiki.


Kejadian itu sangat bertepatan, dan kini dia sedang menghentikan sebuah mobil yang dikendarai oleh Si Kembar.


*TOK TOK!!!


“Buka jendelanya!” ucap Rose.


Jendela mobil pun terbuka, Rose terkejut saat melihat bahwa Si Autis lah yang sedang mengendarai mobil itu.


“Xixixixi. Polisi Cantik. Selamat malam!” ucap Si Autis cekikikan.


“Ada masalah apa?” ucap Roy yang duduk di kursi belakang mobil.


“Lihatlah! Lampu mobilmu sangat redup. Itu sangat membahayakan kalian, jika kalian bepergian di malam hari, jadi, kau harus memperbaikinya besok,” ucap Rose mengetuk-ngetuk lampu mobil bagian depan.


“Maafkan aku. Sepertinya ada yang merusaknya, sangat menyebalkan,” sahut Si Autis.


“Kalau begitu….” Perkataan Rose terpotong saat melihat sesuatu.


Rose melihat sebuah jam tangan yang sedang digunakan oleh Roy di tangan kanannya. Dia pun teringat pada foto yang ditunjukkan oleh istri korban.


Di foto itu, korban menggunakan jam dengan merk dan warna yang sama seperti yang digunakan oleh Roy saat itu.

__ADS_1


Hal itu membuat Rose semakin curiga, walau belum sepenuhnya terbukti, bahwa jam itu milik korban.


Roy pun menatap jam tangan lalu kembali menatap Rose, saat sadar Rose sedang melihat jam yang sedang dipakainya.


“Apa kalian bisa membuka bagasi mobil ini untukku?” ucap Rose karena curiga.


“Untuk apa? Kenapa kau ingin melihatnya?” tanya Roy ketus.


“Tidak. Aku hanya ingin sekedar memeriksanya. Mohon kerjasamanya dari kalian,” tegas Rose menatap Si Kembar.


Akhirnya, Roy turun dan membuka bagasi mobilnya. Begitupun Rose yang langsung berjalan ke belakang mobil.


“Silahkan!” ucap Roy membuka bagasi.


Rose mengeluarkan senter. Menyalakannya untuk menerangi isi bagasi itu. Dia melihat beberapa cairan yang membekas di dalam bagasi.


“Itu kuah dari sampah makanan,” Roy menjelaskan.


Saat Rose sedang memeriksa, Roy melihat ke depan. Mobil polisi yang sedang menutup jalan. Entah apa yang sedang dilihat oleh Roy.


“Sangat berbahaya jika kau bepergian dengan lampu seperti ini, Pak. Aku harap kau cepat memperbaikinya besok,” ucap Rose karena tak menemukan hal yang mencurigakann.


“Tentu. Aku akan segera memperbaikinya.”


Saat Rose akan pegi, Roy bertanya,


“Omong-omong, apa kau sedang berpatroli sendirian? Aku selalu melihat ada dua orang, jika polisi sedang berpatroli,” ucap Roy.


Si Autis pun keluar dari mobilnya dengan membawa pistol mainannya.


“Xixixixixi. Kenapa kau pergi sendirian? Kami saja pergi berdua.”


Tangan Rose mulai memegang pistol dan bersiap untuk mengambilnya. Rose mulai merasakan bahaya akan dihadapinya saat itu.


Perlahan Rose melangkah mundur dan bersiap untuk menembak mereka berdua, jika mereka melakukan hal bodoh.


“Hei, Pistol Gotri!” salah satu teman Rose yang juga seorang polisi keluar dari dalam mobil.


Dia menyapa Si Autis karena melihatnya kemarin saat berada di kantor polisi.


“Baiklah. Kami akan segera pulang. Apa kami boleh pergi?” ucap Roy kembali menutup bagasi.


Dia mengurungkan niatnya untuk berbuat jahat kepada Rose, karena melihat bahwa Rose tak sendirian.


“Baiklah, silahkan.” Rose kembali menurunkan tangannya dari pistol yang dipegang.


“Selamat tinggal, Polisi Cantik. Selamat malam!” Si Autis membungkuk, lalu kembali masuk ke dalam mobil.


“Apa kalian akan pulang ke SALOKA RESIDENT?” tanya Rose pada Roy yang mengunci bagasi mobil.

__ADS_1


“Tentu. Ada apa?” tanya balik Roy.


“Tak apa,” Rose menggelengkan kepalanya. “Baiklah. Hati-hati di jalan.”


Roy hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil.


***


Di SALOKA RESIDENT. Jack masih duduk diatas kursi dan menulis novelnya. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Jack mengangkat tangannya dan meregangkan semua otot tangannya.


“Astaga, ternyata sudah pukul 11.” Jack melihat jam di ponselnya. “Sudah selarut ini. Aku harus segera tidur dan beristirahat,” gumamnya dalam hati.


Jack mematikan lampu utama kamar, menggantinya dengan lampu tidur. Saat akan beranjak ke kasurnya, Jack mendengar suara Si Kembar yang sedang tertawa dan bercanda dengan suara yang keras.


“Astaga. Setelah paman mirip preman itu pergi, mereka berdua jadi bertingkah sesukanya.”


Jack merapikan kasur, lalu merebahkan dirinya. “Sudahlah. Yang jelas, aku senang mendapatkan ide untuk novelku. Meski hanya sedikit, aku harus menulisnya setiap hari.” Jack menghela nafas.


“Apa itu? Apa penghuni sebelumnya yang menempelkannya?” gumam Jack melihat sebuah tempelan bulan dan bintang yang sedikit menyala di atap kamarnya. “Sudahlah. Itu tak terlihat buruk.”


Jack pun mulai memejamkan matanya perlahan.


***


Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Jack sudah sangat rapi dan bersiap untuk berangkat bekerja.


Kali ini dia menggunakan pakaian dengan setelan kasual. Celana Jeans hitam, kaos berwarna putih, dan outer hitam. Membuatnya terlihat seperti aktor korea pada umumnya.


Sebelum meninggalkan kamarnya, lagi-lagi Jack tak lupa untuk memberi tanda pada laptopnya. Kali ini, Jack hanya memberikan tanda pada laptopnya dan tak mengambil gambar dengan itu.


Selesai dengan semuanya, Jack keluar dan tak lupa untuk mengunci kamarnya.


Saat berjalan melewati lorong, langkahnya berhenti di depan kamar Han. Jack teringat pada Han yang sudah lama tak dilihatnya.


“Kemana orang itu pergi? Dia tak terlihat sama sekali akan pergi dari sini,” gumam Jack.


Saat menoleh,


“Astaga! Sial! Apa yang kau lakukan?” Jack sangat terkejut melihat Si Mesum yang sudah berdiri di belakangnya.


Si Mesum berdiri di depan pintu dengan membawa sebuah pisau tajam di tangannya. Dia menepuk-nepukkan pisau itu di kakinya dan menatap Jack dengan sinis.


“Aku akan membunuhmu,” ucap Si Mesum lirih. Dia pun langsung masuk ke dalam kamar dan menutup kamarnya dengan keras.


“Apa katamu? Dasar, Brengsek! Kemari kau!” Emosi Jack memuncak dan sangat ingin menghajar Si Mesum.


Di depan pintu kamar Si Mesum, Jack mengurungkan dirinya saat akan mencoba untuk mendobrak.


“Bersabarlah, Jack. Sabar. Sabar. Sabar. Aku hanya akan menjadi sepertinya, jika kau meladeninya.”

__ADS_1


Jack pun pergi meninggalkan lorong.


__ADS_2