
Jam makan siang pun tiba, saatnya semua orang pergi untuk makan bersama, dengan Mike yang selalu mentraktirnya.
“Wah… Apa kalian tahu, saat ini bos kalian sedang lapar?” ucap Mike yang keluar dari ruangannya dan mengajak karyawannya untuk makan siang.
“Apa kau mau makan steak?” tanya Nick bersiap-siap. “Ya, itu terdengar enak,” jawab Mike. “Astaga. Kenapa kau terus makan steak setiap harinya? Apa kau tak bosan?” sahut Kim.
“Kau ingin makan apa, Jack?” tanya Mike. “Aku tak ikut makan. Aku tak begitu lapar saat ini,” jawab Jack. “Sungguh? Hmm. Baiklah kalau begitu.”
“Dan kau, Winson, kau ingin makan apa?” “Mungkin Babi Panggang,” jawab Winson. “Astaga. Selain itu. Selalu saja kau makan babi,” ucap Mike. “Apa saja, Pak. Aku sudah sangat lapar.”
“Baiklah, mari kita langsung ke restoran biasanya.”
Semua orang pun pergi untuk menyantap makan siang, terkecuali Jack. Dia masih berada di dalam kantor dan menatap layar monitornya.
Dia sedang tak ingin berbicara dan berinteraksi dengan Mike, karena masih teringat, saat kemarin dia melihat Mike dan Jane keluar bersama.
*KRIIING!!!!
Lagi-lagi Jack mendapat telepon dari Yohan. “ya, halo?”
“Halo, Jack. Aku baru saja minum dari dapur, dan aku bertemu orang mesum itu yang terus menatapku saat aku di dapur. Hahahaha. Dia sangat aneh.” Yohan tertawa.
“Hhhhh. Kau pikir itu lelucon? Astaga.”
“Bukan begitu, Jack. Aku hanya berpikir dia benar-benar gila.”
“Dia memang gila. Kau harus berhati-hati disana, Yohan.”
“Hmm. Baiklah. Sudah dulu ya, sepertinya kau sangat sibuk. Sampai bertemu nanti. Bye!”
Sambungan telepon pun terputus.
Sore hari pun tiba. Tepat pukul 5 sore, semua orang bergegas untuk segera pulang, tapi tidak dengan Jack.
Mike keluar dari kantornya, memulangkan semua karyawannya.
“Terimakasih semuanya. Terimakasih atas kerja keras kalian hari ini.” Mike menggerak-gerakkan pinggul dan tubuhnya.
“Astaga, terimakasih semuanya. Aku akan pulang dulu,” ucap Nick yang sudah berjalan keluar dari kantor.
“Apa kau tidak pulang, Jack?” tanya Mike.
Jack hanya diam dan masih menatap layar monitor.
__ADS_1
“Apa karena hari ini kau datang terlambat, dan kau ingin berlama disini? Tak apa, Jack. Kau bisa segera pulang,” sahut Kim.
Jack hanya diam dan sedikit mengangguk.
Setelah semua karyawan pergi dari kantor, Jack berdiri dari kursinya, lalu menuju ke meja Winson.
*PRAKKK!!!
Jack mengambil keyboard milik Winson dan membantingnya ke lantai. Tak cukup sampai disitu, Jack menginjak-injak keyboard itu berrulang kali dengan penuh amarah.
Sepertinya Jack sudah sangat emosi dan tak bisa lagi jika harus menahannya, hingga dia pun bertindak gila dengan merusak keyboard milik Winson.
***
Pukul 10 malam tepatnya, terlihat Jack sedang berada di sebuah warnet. Dia sedang bermain game DOTA 2.
Sepulangnya dari kantor, Jack sengaja tak langsung pulang ke SALOKA RESIDENT.
4 jam dia menghabiskan waktunya di warnet. Dari jam 6 sore hingga jam 10 malam hari itu.
Salah satu bocah SMA yang juga berada di warnet itu sangat ribut dan menyenggol kursi yang ditempati oleh Jack.
Beberapa bocah SMA itu berjumlah 3 orang dan terus membuat keributan yang membuat Jack sangat tak nyaman.
Di dalam perjalanan pulang, Jack kembali di cegat oleh 3 bocah SMA yang berada di warnet tadi.
Ketiga bocah itu menggunakan motor masing-masing dan menghalangi motor Jack yang akan melintas.
Mereka mengetahui bahwa Jack lah yang melapor kepada penjaga warnet agar menyuruhnya untuk pulang.
Maka itu, mereka berniat untuk mengeroyok Jack di jalanan yang cukup sepi.
Jack sudah beberapa kali menghindari dan melewati jalan yang masih ada, tapi kini Jack sudah tak bisa lagi menghindari, karena jalanan yang dilewatinya buntu.
Ketiga bocah SMA itu turun dari motornya dan berjalan mendekati Jack yang juga turun dari motor.
Ketiga bocah itu memiliki badan yang hampir menyamai Jack, dan salah satunya memiliki fisik yang lebih tinggi dari Jack.
“Sial! Padahal kami sudah langganan di tempat itu, tapi kenapa kau membuat masalah? Kau seharusnya bermain dengan tenang dan tak mengganggu kami,” ucap bocah pertama pada Jack.
“Gara-gara kau, kami jadi tidak mempunyai tempat untuk bersinggah. Kau harus bertanggung jawab, Pak,” sahut bocah kedua berjalan mendekati Jack.
“Astaga. Apa yang kalian inginkan?” tanya Jack dengan sabar dan masih menahan emosinya.
__ADS_1
“Hmmm. Apa kau ingin bermain dengan kami? Mari kita bermain bersama, Pak,” ucap bocah pertama tersenyum sinis pada Jack.
“Ini sudah larut, sebaiknya kalian segera pulang. Orang tua kalian pasti sudah menunggu.” “Sial! Kami tidak punya rumah. Bagaimana kalau kita ke rumahmu saja?”
“Nah, itu benar. Mari kita pergi ke rumahmu.” bocah kedua menyenggol Jack dengan bahunya.
“Hei, hentikan itu! Jangan melakukan hal buruk seperti ini!” Jack mulai berbicara dengan nada tinggi. Dia masih terlihat belum emosi sama sekali, saat menghadapi ketiga bocah SMA itu.
Ketiga anak SMA itu tertawa melihat Jack membentaknya.
“Hal buruk? Apa itu? Apa kau takut? Kau tak perlu takut, Pak. Kami merasa bersalah jika kau takut.”
“Ah, itu benar. Kenapa kau takut? Bersikaplah sesuai umurmu saat ini!” sahut bocah kedua.
Ketiga bocah itu masih tertawa dan mengepung Jack di jalanan yang sepi itu.
“Astaga. Bagaimana jika kita pukuli saja?” ucap bocah ketiga yang kemudian pergi mengambil sesuatu.
Seluruh tubuh Jack mulai bergetar seketika. Dia sudah tak tahan lagi untuk meredam emosinya.
“Jangan tersenyum seperti itu!” ucap Jack menatap kedua bocah dengan serius.
“Hahahaha. Lantas, bagaimana kami harus tersenyum? Bagaimana caranya?”
Kedua bocah itu masih tertawa dan memojokkan Jack.
“Kubilang padamu, jangan tertawa seperti itu. Kalian masih tak mengerti?” tegas Jack.
“Hmm, baiklah. Kalau begitu, mari kita tertawa dengan cara lain saja. Hahahahaha.”
Kedua bocah itu masih tertawa dan mengabaikan peringatan Jack.
Bocah ketiga kembali dengan membawa balok di tangannya. Tepat sebelum balok itu mengenai Jack, Jack sudah menghindar dan melayangkan pukulan telak ke rahang yang membuat bocah itu terjatuh.
Kedua bocah SMA yang masih berdiri pun langsung menyerang Jack bersama-sama.
Jack terjatuh dan kedua anak SMA itu memukuli Jack, dengan Jack yang hanya bisa sedikit bertahan.
Sebuah batu berukuran sedang terletak disebelah Jack yang sedang dikeroyok.
Saat ada kesempatan, Jack menggunakan batu itu dan memukul kepala salah satu bocah dengan keras.
Mengucur darah dari pelipis bocah itu. Melihat kedua temannya telah terkapar, bocah pertama segera lari meninggalkan kedua temannya itu.
__ADS_1