SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 055


__ADS_3

Hari itu juga, Rose pergi ke Badan Forensik Nasional, dengan membawa jarum suntik yang berhasil ditemukannya di SALOKA RESIDENT.


Dia sangat curiga dengan jarum suntik itu, karena dia menemukannya di selokan di dekat gedung.


Sebelum itu, Rose mengecek CCTV yang dimiliki oleh TOSERBA dekat gedung, dan melihat mobil John, salah satu detektif yang menghilang, terparkir di dekat selokan itu, sebelum dia menghilang.


Tanpa sepengetahuan atasannya, Rose pergi ke Badan Forensik Nasional untuk memeriksa DNA dari jarum suntik itu.


Rose langsung mendatangi bibinya yang bekerja di sana, dan meminta tolong untuk melihat DNA dan sidik jari yang ada di jarum suntik itu.


Beberapa saat kemudian, bibi Rose telah berhasil mengidentifikasi dan menganalisa jarum suntik itu.


Mereka berdua duduk di dalam ruangan dan membicarakan hal itu dengan lanjut.


“Tak ada sidik jari yang kutemukan di jarum suntik ini. Sepertinya dia memakai sarung tangan. Namun, aku berhasil menemukan DNA yang ada di dalam sana.” Bibi Rose memberikan jarum suntik itu kembali kepada Rose.


“DNA?” tanya Rose. “Ya, DNA. Menurutku, itu bukan milik Detektif John. Duduklah, Rose.” “Ya, baiklah.” Rose pun duduk bersama Bibinya untuk menerima penjelasan lebih lanjut.


“Belum sepenuhnya aku yakin dengan ini, tapi, obat yang berada di dalam alat suntik itu adalah obat bius lokal bernama CODELINE.”


Rose mengambil buku catatan dan mulai menulis penjelasan dari bibinya.


“Kebanyakan obat itu digunakan oleh beberapa dokter yang berada di kota bahkan di negara ini. Dibandingkan dengan obat bius lain, obat ini lebih cepat bekerja.”


“Rose, apa kau tak takut, jika atasanmu mengetahui ini? Jika atasanmu tahu, kau akan mendapatkan hukuman disiplin.” “Aku tahu, Bibi,” jawab Rose. “Kenapa kau melakukan ini, Rose?”


“Bibi! Apa kau akan mempercayai semua ucapanku, jika aku menceritakannya padamu?” “Katakan saja dulu, Rose. Aku akan mendengarkannya.”


Rose menghela nafas dan mulai bercerita.


“Jadi, awalnya adalah anak anjing. Dua hari sekali, pasti ada kucing yang mati. Saat itu aku merasa, itu mirip dengan awal kasus pembunuhan tiga bulan lalu.”


“Selanjutnya, seorang pekerja asing telah menghilang, di tempat yang sama, SALOKA RESIDENT.”


“Aku bertemu dan berkenalan dengan seseorang yang tinggal di gedung itu. Dia sangat curiga sama sepertiku sekarang. Dia juga mengatakan bahwa Detektif John pernah bertemu dengannya.”


“Penghuni itu juga mengatakan, bahwa Detektif John sedang mencari kenalannya yang juga menghilang saat tinggal disana. Akan tetapi, Detektif John menghilang secara tiba-tiba setelah itu.”

__ADS_1


“Ada satu lagi yang menghilang, totalnya bertambah dua orang yang hilang.”


“Kalau begitu, apa kau mencurigai orang yang membunuh anak anjing itu?” tanya Bibi Rose.


“Awalnya aku juga berpikir begitu, tapi, semakin aku menyelidiki SALOKA RESIDENT, aku menemukan banyak hal aneh yang terjadi.


“Pemilik gedung itu dulunya mengelola panti asuhan. Setelah bencana kebakaran melanda habis pantinya, dia mengambil asuransi, lalu menghilang tanpa kabar saat itu.”


“Tiga orang yang tinggal di panti asuhan itu, mereka sekarang tinggal bersama di SALOKA RESIDENT.”


“Bersama? Wah, itu memang aneh,” ucap Bibi Rose. “Ya, tentu saja. Itu sangat aneh. Maka itu aku menyelidikinya secara diam-diam.”


“Kalau begitu, kau merasa ini bukanlah perbuatan dari satu orang.” “Ya, tepat seperti itu, Bibi.”


“Jika aku tidak menyelidiki dan menghentikannya, mungkin akan ada lagi orang yang mati.”


“Sepertinya, kau tidak bisa menghentikannya, Rose. Bagaimana jika kau serahkan saja dengan Detektif yang lebih berpengalaman?”


Rose menggeleng dan, “Tidak ada waktu lagi, Bibi. Sebelum semuanya terlambat, aku harus menghentikannya.”


***


Dia hanya berdiri dan melamun, setelah seharian menghabiskan waktunya di luar.


Saat itu juga, Mike datang ke SALOKA RESIDENT dengan mobil SUV miliknya.


Mike turun dari mobil dan berjalan ke arah Jack yang sedang berdiri dan melamun.


“Jack! Kenapa kau baru pulang jam segini, padahal kau sudah pergi dari kantor sejak pagi.”


“Bagaimana kau tahu tempat ini?” tanya Jack ketus. “Tentu saja aku bertanya pada, Jane,” jawab Mike santai.


Jack kembali kesal mendengar jawaban dari Mike itu. Seolah dia tak merasa bersalah sedikitpun.


“Baiklah, mari kita minum. Kita harus bereskan kesalahpahaman ini, Jack.”


“Salah paham apa? Kau bertemu pacarku tanpa sepengetahuanku? Kau sebut itu salah paham?” Jack menatap Mike dengan tajam.

__ADS_1


“Astaga. Buka begitu, Jack. Jane sangat mengkhawatirkanmu, aku hanya memintanya untuk tidak perlu khawatir.  Kau akan terluka lagi jika mengetahuinya, jadi, Jane memintaku untuk merahasiakannya.”


Mike terus beralasan padahal dia sendiri yang tak ingin mengajak Jack saat itu.


“Astaga, kenapa kau hanya memikirkan diri sendiri. Kau sangat egois, Jack.”


Jack semakin emosi dan terus menatap Mike dengan tatapan mengerikannya itu.


“Sudahlah, Jack. Ikuti aku. Mari kita cari bar di dekat sini.”


AKhirnya Jack pun mengikuti Mike dan menuju ke bar yang ada di dekat gedung SALOK RESIDENT.


Sesampainya di bar kecil itu, Mike memesan beberapa bir dan alkohol serta beberapa hidangan makanan lainnya, lalu duduk di meja dengan Jack merasa tak nyaman sejak awal.


Mereka berdua pun menunggu makanan sembari menikmati bir dan alkohol, dengan Mike yang masih berusaha mengajaknya berbicara.


“Jack! Ada denganmu belakangan ini? Tiba-tiba mengajak berkelahi dan merusak keyboard milik Winson. Kenapa kau melakukan itu, Jack? Katakan saja padaku, Jack. Apa masalahnya?”


Mike menuangkan alkohol ke dalam gelas Jack dan menasehatinya dengan pelan.


“Kau akan sering bertemu dengan orang seperti Winson di masyarakat nanti. Begitupun di kantor, kau tidak bisa bertemu dengan orang yang hanya kau sukai saja.”


Jack tetap diam dan memalingkan wajahnya.


“Aku tahu kau mendapat banyak kesulitan saat kau di New York. Kau tak bisa hidup dengan terus memperdulikan tiap hal kecil. Kau akan menyerah begitu saja karena disinggung orang bodoh itu? Biarkan saja, Jack.”


“Kau tak perlu memikirkannya terlalu dalam. Kau pasti sudah punya tujuan, saat kau datang ke New York. Kau harus fokus dengan tujuanmu.”


“Astaga. Aku mengatakan hal ini karena aku menganggapmu seperti saudara kandungku sendiri.”


“Nah, itu dia. Kemarilah, Jane.” Mike ternyata mengajak Jane datang ke tempat itu.


Jack terkejut dan melihat Jane yang berjalan masuk ke dalam bar.


“Aku memanggilnya kemari karena sepertinya kau salah paham.” “Kemarilah. Duduklah disamping, Jack,” ucap Mike pada Jane.


“Jane?” Jack menyapa Jane yang berjalan dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


“Ada apa, Sayang? Katanya kau berkelahi dengan orang kantor,” ucap Jane khawatir dan melihat kondisi Jack, memegangi kepala dan bahu Jack.


Jack hanya diam dan menundukkan kepalanya.


__ADS_2