
“Satu orang berbicara dengan gagap sambil tertawa, satu lagi seakan menatap dan memakiku dengan alasan yang tak jelas.”
“Begitupun dengan kamarku. Aku tak tahu siapa yang masuk ke dalam kamarku, tapi tampaknya ada seseorang yang telah masuk ke dalam.”
“Tak ada orang normal yang tinggal di tempat itu. Kau harus mengabaikan mereka, Sayang. Kau akan lelah sendiri jika merespon tiap keanehan yang mereka perbuat.”
“Satu hal lagi, melihatmu di kantor tadi, kurasa kau harus bersikap lebih tegas. Apa kau mengerti? Saat ini, bersikap dan berkata baik bukanlah sebuah pujian, melainkan sebuah makian.”
Jane menasehati Jack dengan kata-katanya.
“Baiklah, Jane. Aku mengerti.”
“Maafkan aku, Sayang. Sepertinya aku terlalu berlebihan memarahimu.”
“Tak apa, Jane. Kau benar. Mungkin aku hanya terlalu sensitif dan tak menyadari hal itu.”
“Baiklah. Kau bisa kembali bergabung dengan teman-temanmu. Aku yakin mereka sudah menunggumu.” “Kau tak marah, bukan?” tanya Jane.
“Tentu tidak. Kenapa aku harus marah?”
“Hmm. Yasudah. Aku akan mengabarimu begitu aku kembali ke tempat tinggalku. Dada, Sayang!”
Sambungan telepon pun berakhir.
Jack menaiki tangga gedung, kembali ke kamarnya.
Di ruang resepsionis, Eli memanggilnya dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam ruangannya.
“Kau baru pulang, Jack?” Eli mengeluarkan kepalanya dari kaca jendela resepsionis.
“Ya,” jawab Jack singkat melanjutkan langkahnya.
“Tunggu, Jack. Masuklah kemari sebentar! Masuklah!” “Ada apa?” tanya Jack penasaran.
Jack berdiri di depan pintu ruangan Eli. Di dalam ruangannya, Eli mengaduk teh hangat di dalam gelas.
“Kemarilah, Anak Muda. Masuklah!” Eli memaksa Jack agar ia masuk ke dalam ruangannya. “Astaga, keringatmu banyak sekali,” Jack menghindar saat Eli akan menyeka keringat di dahinya.
“Kau harus segera mandi. Ini, minumlah. Aku membuatkannya untukmu, agar kau merasa lebih segar.” Eli memberikan segelas teh hangat kepada Jack.
“Kenapa kau memanggilku?” tanya Jack. “Itu. Ada hal yang ingin kutanyakan padamu, Jack. Minumlah dahulu.”
Jack menyeruput sedikit teh hangat itu. “Enak bukan?” tanya Eli. “Kenapa kau memanggilku, Nyonya? Ada masalah apa?”
“Tadi pagi, kulihat kau bersama polisi wanita itu. Aku melihat kalian berdua mengobrol di depan mesin ATM.”
Eli ternyata melihat Jack mengobrol bersama Rose di pinggir jalan. Sepertinya Eli khawatir, jika Jack membicarakan sesuatu yang mengganjal pada Rose.
__ADS_1
“Ya, kenapa memang?” Jack kembali meneguk teh hangat itu.
“Apa yang kalian bicarakan? Kalian tidak membicarakan tentang hal buruk, bukan?” tanya Eli penasaran.
“Berita buruk? Apa maksudmu, Nyonya?”
“Bukan apa-apa.” Eli tersenyum. “Seperti yang kau tahu, beberapa orang tiba-tiba keluar dari sini. Aku juga harus bertahan untuk hidup, Jack. Jika tersebar rumor aneh, maka bisnisku akan terancam.”
“Oh,” Jack mengangguk.
“Kau mengerti maksudku, bukan?”
“Ya, tentu. Aku mengerti maksudmu. Kalau begitu, aku permisi dulu.”
“Silahkan, Nak. Apa kau sudah menghabiskannya? Berikan gelas itu padaku.”
Eli mengambil gelas teh yang masih sisa sedikit. “Kau harus cepat mandi dan berganti pakaian. Astaga. Anak Muda pintar,” ucap Eli melihat Jack pergi.
Setelah Jack masuk ke dalam kamarnya, Rocky datang dan masuk ke dalam ruangan Eli.
Rock masih mengenakan seragam dokternya. Berdiri menatap Eli di samping pintu ruang resepsionis.
Eli berdiri dari kursi, keluar dari ruangannya. Melihat kearah kamar Jack dan memastikannya telah masuk ke dalam kamar.
“Bagaimana menurutmu tentang penghuni kamar 313?” tanya Rocky.
Eli ternyata menambahkan obat ke dalam teh yang diberikan kepada Jack. Sepertinya Rocky dan Eli sudah bekerja sama untuk melakukan hal itu padanya.
“Apa kau akan mengerjakan kamar 313 malam ini juga?” tanya Eli.
Rocky hanya diam. Dia melangkah masuk ke dalam ruangan, mendekati Eli.
“Omong-omong, kenapa kau melakukan itu?”
“Apa maksudmu?”
“Itu. Wanita yang kau culik dan kau sekap di lantai basemenat. Kenapa kau melakukannya tanpa seizinku?” tanya Rocky.
Semua kejahatan yang dilakukan di gedung itu harus mendapat persetujuan dari Rocky.
Bahkan Eli sebagai pemilik gedung pun harus meminta izin padanya, saat melakukan tindakan kriminal.
Entah siapa dan darimana asal-usul Rocky, sehingga semua penghuni dan pemilik gedung itu takut padanya.
Eli balik menatap Rocky. Tersenyum dan berkata, “Kenapa? Apa kau juga akan membunuhku jika aku bertindak sesuka hati?”
Rocky balik tersenyum dan menyentuh bahu Eli.
__ADS_1
“Mana mungkin aku membunuhmu. Kau adalah orang yang sangat istimewa.
“Kau harus merasakan jika menjadi aku. Terkurung di tempat ini sangatlah tidak enak. Tanganku sangat gatal jika tak melakukan sesuatu. Hhhh,” ucap Eli.
“Baiklah. Aku percaya padamu, Bibi. Selamat malam!”
Rocky keluar dari ruang resepsionis dan kembali ke kamarnya.
***
Di kamar Jack, kamar 313. Jack sedang berdiri menatap tembok kamarnya dengan melotot.
Sepertinya obat yang telah diberikan Eli, mulai bereaksi pada tubuhnya.
“Astaga. Ini aneh. Kenapa kepalaku sangat sakit saat aku kembali ke SALOKA RESIDENT? Rasanya aku ingin muntah.”
Jack keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur. Dia mengambil sebuah gelas, lalu menuangkan air putih, lalu meminumnya.
Karena dirasa masih tak membuatnya tenang, Jack berjalan mondar-mandir melalui lorong kamar.
Dia berdiri di depan pintu kamar setiap penghuni, lalu memikirkan sesuatu tentang penghuni kamar itu.
Mulai ujung kamar yang ditempat Rocky, hingga ujung kamar lainnya yang dihuni oleh Roy.
Jack terus berjalan bolak-balik. Sekitar sepuluh kali Jack melakukan itu dan terus mengulang-ngulangnya.
Di pikiran Jack, dia teringat pada semua hal yang tak disukainya. Dari perkataan Mike dan Winson di tempat kerjanya, hingga semua penghuni aneh yang tinggal di SALOKA RESIDENT.
Obat yang telah diberi oleh Eli benar-benar bereaksi dan membuat Jack seperti orang ling lung.
Jack berjalan ke ruang resepsionis, dan tak mendapati seorang pun yang berada di tempat itu.
Jack berjalan dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Di kamarnya, Jack tak langsung berbaring atau duduk. Dia kembali berdiri dan melotot menatap temboknya.
Tubuh Jack berputar merasa sangat lemas, pikirannya melayang, matanya melihat sekeliling kamarnya sendiri.
“Apa yang terjadi padaku? Apa aku salah makan hari ini? Kenapa aku merasa sangat lelah sekali? Apa ada yang membuatku kesal hari ini? Apa aku minum obat yang aneh? Kenapa tubuhku menjadi seperti ini?”
*BRUKK!!!
Jack terjatuh dan ambruk ke tempat tidurnya, tak sadarkan diri.
Sebuah lubang kecil yang berada di dinding kamar Jack. Lubanng itu tak cukup besar dan juga tak kecil. Cukup untuk membuat penghuni kamar di seberang Jack dapat melihatnya, Rocky penghuni kamar itu. Kamar 314.
Rocky ternyata telah melihat dan memantau apa yang dilakukan Jack selama dia di dalam kamar.
__ADS_1