SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 041


__ADS_3

Selang beberapa menit, setelah Jack masuk ke dalam kamarnya, Eli mengetuk pintu kamar Jack.


*TOK TOK TOK!!!!


“Pemuda Tampan, buka pintunya, Nak! Anak Muda, apa kau mendengarku? Apa kau sudah tidur?”


Jack sangat kesal, tapi dia tetap berdiri dan membukakan pintu kamarnya.


“Kenapa?” tanya Jack pada Eli yang berdiri di depan pintu kamarnya. “Syukurlah kau belum tidur. Apa kondisimu baik-baik saja?” tanya Eli basa-basi.


“Aku tak apa, Nyonya. Ada apa?” “Minumlah ini sebelum kau tidur.” Eli memberikan minuman botol penambah stamina kepada Jack.


“Astaga. Tak perlu. Aku tak membutuhkan itu.” “Astaga, kau harus meminum ini. Ini sangat bagus untuk stamina dan dapat menenangkan pikiranmu.”


Eli memaksa Jack untuk menerima minuman darinya. Begitupun dengan Jack yang langsung menerimanya. Jack belum juga menyadari bahwa Eli telah memasukkan obat ke dalam minumannya tempo hari.


“Minumlah. Habiskan itu, biar aku yang membuang botolnya.” Jack pun meminum semuanya, lalu memberikan botolnya kembali kepada Eli.


“Apa pacarmu sudah pulang?” tanya Eli. “Ya, dia baru saja pulang. Petugas kepolisian lah yang mengantarnya.” “Baiklah, kau harus segera beristirahat.”


Saat Eli akan pergi, Jack memanggilanya.


“Omong-omong, Nyonya. Disini, di gedung ini hanya ada para pria. Lain kali aku minta tolong padamu untuk tak membawa pacarku masuk begitu saja.”


“Astaga. Kenapa kau terus seperti ini? Kalau kau terus begini, aku merasa sangat sedih. Sampai kapan kau akan terus seperti ini?”


“Kenapa? Apa aku salah?” ucap Jack.


“Kau tak boleh terus-terusan berburuk sangka, Nak. Tak ada orang di gedung ini yang akan berbuat hal aneh pada pacarmu. Aku bisa menjamin itu.”


“Baiklah, Nyonya. Selamat malam. Aku akan ingin segera beristirahat.” “Wah, kali ini aku kecewa padamu, Anak Muda.” “Baiklah. Maafkan aku, selamat malam.”


Jack pun menutup pintu kamarnya kembali, setelah Eli keluar.


30 menit berlalu, Jack telah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya bersiap untuk melanjutkan menulis novelnya kembali.


Saat akan duduk, tiba-tiba Jack kembali merasakan pusing. Matanya melihat dunia seakan berputar.

__ADS_1


“Apa lagi ini? Kenapa aku sangat pusing? Apa Nyonya Eli memasukkan obat ke dalam minumanku? Benar-benar gila, jika dia melakukan itu padaku.”


“Benar apa yang dikatakan oleh Jane, aku harus keluar secepatnya dari tempat ini. Tidak seharusnya aku hidup seperti terus menerus. Aku bisa gila jika terus seperti ini.”


“Astaga. sadarlah, Jack! Kau tak boleh tidur sebelum memastikan, bahwa Jane sudah benar-benar kembali.”


Karena pengaruh obat terlalu kuat, Jack pun akhirnya ambruk, terjatuh di atas kasurnya.


Di lorong kamar, terlihat Eli sedang berada di depan kamar Rocky. Eli berdiri dan melihat Rocky yang sedang membaca buku di dalam kamar dengan pintu kamarnya yang terbuka.


“Bagaimana dengan penghuni kamar 313 itu?” tanya Eli.


Rocky diam menghiraukan Eli dan tetap fokus dengan buku yang dibacanya.


“Apa kau tahu? Disini mulai banyak lalat liar. Bukankah ini sudah saatnya kau bertindak untuk menyelesaikannya?”


“Bibi, Eli. Apa kau tak tahu, apa yang bisa kulakukan? Apa kau masih meragukan kemampuanku?”


“Hahahaha. Tentu saja aku tahu. Astaga. Aku lah orang yang membesarkanmu semenjak kau kecil. Mana mungkin aku tak tahu itu.”


Rocky meletakkan buku bacaannya. Dia berdiri dan menghampiri Eli yang berdiri di depan kamarnya.


Rocky mengelus pundak Eli dan berkata, “Tenang saja, Bibi. Kali ini aku sangat yakin. Kau tak perlu khawatir dan tunggu sebentar lagi.” Rocky berjalan pergi meninggalkan Eli yang masih berdiri di depan kamarnya.


“Hhhh. Aku tidak khawatir. Jika kau gagal, aku hanya perlu membunuh semuanya. Apa yang perlu dikhawatirkan? Hahahahaha,” gumam Eli sendirian.


***


Di kediaman Jane, mobil polisi baru sampai dan langsung pergi setelah mengantar Jane hingga tempat tinggalnya.


Saat Jane akan masuk ke dalam,


“Jane!” Mike ternyata datang ke tempat tinggal Jane, padahal Jane sudah berkata bahwa dia tak ingin bertemu dengannya malam itu. Mike berjalan mendekati Jane.


“Kenapa kau disini, Kak? Ada apa?” tanya Jane berbalik badan.


“Aku tidak bisa menghubungimu tadi, jadi, aku merasa sangat khawatir.” Perkataan Mike itu menunjukkan bahwa Mike sepertinya menyimpan rasa pada Jane, tapi Jane tak menyadari hal itu.

__ADS_1


“Aku? Kenapa aku?” tanya Jane dengan polosnya. “Maksudku, kalian berdua. Dimana Jack? Kupikir dia akan tinggal bersamamu,” ucap Mike.


“Oh, aku baru saja pulang dari tempat tinggalnya. Dia sudah kembali dengan selamat. Tampaknya, dia seperti kesulitan beradaptasi di New York.”


“Astaga. Aku juga merasa begitu. Dia mengajak orang berkelahi setiap saat.” Lagi-lagi Mike menjelekkan Jack dari ucapannya.


“Apa? Berkelahi?” tanya Jane kaget. “Di bar tadi, dia juga hampir membuat masalah. Aku sangat menderita karena berusaha menghentikannya.”


“Syukurlah, Kak. Kau bisa menghentikannya,” ucap Jane lega. Dia tak tahu bahwa Mike melebih-lebihkan ucapannya tentang Jack.


“Untuk sementara ini, aku mohon padamu untuk membantunya. Aku sangat khawatir padanya.”


Mike menghela nafas panjang, dia tahu bahwa Jane benar-benar peduli pada Jack. Mike berpikir dan mencari ucapan lain untuk membuat Jane kesal pada Jack.


“Saat di kantor, dia juga sering mencari masalah dengan seniornya,” ucap Mike. “Dengan orang gemuk itu?” tanya Jane. “Ya, itu dia.” Mike mengangguk. “Astaga. Ada apa dengannya?” kesal Jane.


“Aku merasa tidak enak padamu, seharusnya aku tak mengajaknya bekerja di tempatku.”


“Kau tak boleh berkata seperti itu, Kak. Kita tunggu saja. Aku yakin semuanya akan membaik,” ucap Jane optimis.


“Apa rencanamu besok?” tanya Mike. “Besok aku ada janji dengan Jack untuk berkencan. Aku juga ingin berbicara dengannya,” jawab Jane.


“Bagaimana dengan hari minggu?” Mike mencari hari. Dia ingin mengajak Jane untuk bertemu diam-diam tanpa sepengetahuan Jack.


“Minggu aku belum ada janji.” Jane menggelengkan kepalanya. “Baguslah kalau begitu. Akhir pekan ini aku ingin berbicara denganmu,” ucap Mike. “Soal apa?” tanya Jane.


“Keadaan Jack sudah serius, jika dibiarkan, itu akan menjadi masalah besar,” jawab Mike menggunakan Jack untuk alasannya bertemu dan mengobrol berdua dengan Jane.


“Baiklah. Aku akan memberitahu dia dulu,” ucap Jane yang sangat menghargai Jack sebagai pacarnya.


“Tak perlu, Jane. Kita bisa bicara berdua saja,” ucap Mike tak ingin Jack tahu. “Berdua?” tanya Jane, kenapa Mike tak ingin Jack tahu. “Dia akan marah jika mengetahui kita bertemu, Jane,” kata Mike.


“Baiklah. Sampai jumpa hari minggu. Aku akan menghubungimu nanti, Kak.” Jane bersiap untuk masuk ke dalam tempat tinggalnya.


“Astaga. Aku sangat menderita karena Jack.” Lagi-lagi Mike mengeluh mencari perhatian pada Jane yang polos.


“Ya, tentu. Pulanglah, Kak. Aku sangat lelah dan ingin cepat beristirahat. Permisi.” Jane pun pergi meninggalkan Mike di depan gedung tempat tinggalnya.

__ADS_1


__ADS_2