SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 022


__ADS_3

“Hei, kalian!” Rocky berjalan menghampiri Si Kembar, sementara Jack masih bersembunyi di balik pagar pembatas. Di dekat pohon yang besar.


“Selamat malam!” Si Autis menyapa.


“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Rocky.


“Xixixixi. Bu Eli menyuruh kami untuk membuang sampah,” ucap Si Autis cekikikan.


“Kami belum membayar uang sewa kos, jadi, kami membantu beberapa pekerjaannya,” sahut Roy menjelaskan.


“Astaga. Kupikir kalian sedang membuat mayat seseorang. Bukankah kau berpikir begitu?” Rocky menoleh ke arah Jack yang masih bersembunyi.


“Ya?” Jack terkejut, lalu keluar dan menghampiri Rocky bersama Si Kembar di seberang jalan.


“Kenapa kalian membuang sampah disini?” tanya Rocky.


Mereka berdua terdiam sejenak dan berusaha mencari jawaban yang tepat.


“Itu.. Itu karena tong sampah yang berada di dekat gedung sudah penuh, lantas kami harus membuangnya di bagian belakang gedung,” ucap Rooy gugup.


Kini Jack telah berdiri di belakang Rocky dan melihat karung yang sedang tergeletak di tanah.


“Omong-omong, tanda hitam itu….” ucap Rocky menunjuk sebuah noda hitam di karung. “Apa itu? Apakah itu darah yang mengering?”


Rocky berkata dengan tenang sehingga Jack pun tak dapat untuk mencurigainya.


Begitupun dengan Si Kembar yang hanya menuruti perintah Rocky karena sangat takut padanya.


“Sepertinya itu air busuk yang keluar dari sampah makanan. Xixixixi. Air kotornya mungkin tumpah,” jelas Si Autis dengan cekikikan.


“Astaga. Apa kalian tak bisa memisahkan sampah kering dan sampah basah? Itu sangat menjijikkan, benar bukan?” Rocky menoleh Jack yang berdiri di sebelahnya.


“Oh. Itu.. Ya. Itu sangat menjijikkan,” ucap Jack.


“Aku akan berbicara pada Bu Eli, jadi, kau bisa….”


“Bukalah! Bolehkah aku membuka karung itu?” ucap Jack memotong perkataan Rocky. “Aku hanya ingin memastikan isinya, apa benar sampah atau bukan. Bagaimana?” lanjut Jack.


“Kau benar. Bisakah kita melihat isinya? Cepat buka! Kalau kau tak membukanya, aku akan melaporkan hal ini ke polisi,” ucap Rocky santai, dan terdengar sangat meyakinkan.


Si Kembar hanya tersenyum dan tak merasa panik sama sekali, karena mereka sudah berkomplotan satu sama lain, dan mengetahui bahwa Rocky hanyalah bersandiwara.


Roy memberikan sebuah cutter kepada Jack, lalu menyuruhnya untuk membuka karung itu sendiri.


“Kalau kau penasaran, silahkan lihat sendiri. Ini. Kau bisa membukanya.”

__ADS_1


Tanpa ragu, Jack mengambil cutter lalu membuka karung besar itu.


“ASTAGA!!!” Jack terkejut. Dia melompat mundur ke belakang. Nafas Jack tersengal-sengal. Dia cukup syok melihat isi karung itu.


Beberapa bangkai hewan seperti anjing, kucing, dan tikus berada di dalam karung itu yang membuat Jack merasa jijik melihatnya.


Si Autis tertawa terbahak-bahak melihat Jack yang sangat terkejut.


Rocky jongkok dan melihat isi yang ada di dalam karung itu.


“Kenapa kalian ingin membuang bangkai hewan disini? Kalian tak boleh melakukan ini. Cepat buang ini sejauh mungkin,” ucap Rocky pada Si Kembar.


“Apa kau baik-baik saja?” Rocky berjalan mendekati Jack di belakang.


“Astaga, aku akan pergi dahulu,” ucap Jack yang masih syok karena jijik saat melihat itu. Dia berjalan pergi kembali ke gedung kos.


“Tunggu aku!” Rocky pun akhirnya berjalan menyusul Jack.


“Selamat malam, semoga tidurmu nyenyak. Xixixixixi,” ucap Si Autis pada Rocky dan Jack.


Rocky dan Jack pun berjalan bersebelahan. Kembali ke gedung kos.


Rocky menatap Jack yang masih sangat jijik dengan kejadian itu, lalu berkata,


“Kau pasti terkejut. Benar bukan?”


Di dalam hatinya, Jack berpikir, kenapa Rocky bisa setenang dan sama sekali tak merasa jijik saat melihat bangkai itu.


“Ayahku adalah seorang dokter hewan, jadi, aku sudah terbiasa melihat bangkai seperti itu. Bahkan aku pernah mendapati bangkai yang lebih busuk dari itu,” ucap Rocky.


“Astaga! Apa-apaan ini? Apa dia cenayang? Sepertinya dia berhasil membaca pikiranku,” gumam Jack dalam hati.


“Bagaimana dengan kencanmu? Tampaknya, hari ini kau membatalkan janji temu dengan pacarmu.”


“Ya, begitulah. Aku dan dia sangat sibuk hari ini.”


“Bagaimana kalau kita minum bir bersama? Aku sangat kesepian di kamar saat aku pulang bekerja. Apa kau tak merasa kesepian?”


Jack hanya mengangguk tanda setuju dengan ajakan Rocky untuk meminum bir bersama.


Sesampainya mereka di kos, Rocky mengajak Jack menuju ke meja makan di dapur.


“Duduklah! Tunggu sebentar.” Rocky mengambilkan beberapa kaleng bir dan sebuah daging di kulkas.


Rocky kembali duduk di meja dan memberikan satu botol bir pada Jack. Dia juga membuka toples datar yang berisi daging. Menawarkannya pada Jack. Entah apa daging yang sedang ia tawarkan itu.

__ADS_1


“Coba ini, menurutku rasanya sangat enak.”


Jack hanya diam, melihat dan berpikir, daging apa yang sedang ditawarkan oleh Rocky. Jack membuka kaleng bir, lalu menegak bir itu beberapa kali tegukan.


“Ini masakan buatan, Bu Eli, kau harus mencobanya,” lanjut Rocky.


Di dalam hatinya, Jack masih merasa trauma dan jijik pada bangkai yang baru saja ia lihat, tapi ia tetap mengambil pisau dan garpu, lalu mencoba beberapa potong daging itu.


“Apa-apaan ini? Rasanya sangat aneh. Apa karena aku baru melihat bangkai hewan tadi? Sial!” gumam Jack dalam hati dengan raut wajah yang merengut.


“Astaga. Kau sepertinya tak menyukai daging ini. Apa lidahmu menolaknya?” tanya Rocky. “Ya, sepertinya begitu,” jawab Jack.


“Apa kau mau daging yang lain? Aku akan mengambilkannya untukmu. Di kulkas masih banyak daging dan beberapa bagian lain yang ada.”


“Tidak, tak perlu.” Jack menggelengkan kepala dan mengangkat botol birnya. “Ini sudah sangat larut. Sebaiknya kita menghabiskan bir ini, lalu beristirahat,” lanjut Jack.


Jack kembali meneguk bir, sementara Rocky mengambil sebuah garpu dan mencicipi daging itu.


“Hmm. Seleramu sangat aneh, padahal ini daging yang sangat bagus dan berkualitas tinggi,” ucap Rocky sambil menikmati daging itu.


Suasana hening seketika saat Jack mulai merasakan hal aneh pada Rocky. Dia menatap Rocky dan mulai merasa ada sesuatu yang mengganjal.


“Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau takut, jika ini adalah daging manusia?” ucap Rocky yang membuat Jack lebih terkejut dan tak bisa berkata apapun.


Jack berdiri dari tempat duduknya dan,


“Sepertinya aku sudah selesai. Aku akan masuk kamar dan beristirahat, karena aku harus bekerja besok pagi. Permisi.”


“Baiklah. Selamat tidur, Anak Muda,” ucap Rocky menganggukkan kepalanya.


“Tentu, kau juga.” Jack mengambil tasnya dan segera pergi dari dapur.


Setelah Jack dari dapur, Eli datang dan duduk bersama Rocky. Tanpa banyak bicara, Eli mulai mencicipi daging buatannya itu sendiri.


Sebenarnya, Eli sudah berada di balik dinding dan melihat Jack mencicipi daging itu bersama Rocky.


“Padahal daging ini sangat enak, kenapa dia tidak menyukainya?” ucap  Rocky melihat daging itu


“Astaga. Sepertinya dia terlalu sensitif. Hhh. Bagiku ini sangat lezat,” lanjut Eli ketus dan terus menikmati potongan daging itu satu persatu.


Pembicaraan mereka sangat asyik dan terlihat sangat akrab. Mereka lebih terlihat seperti anak dan ibu, daripada hanya sebatas penghuni dan pemilik kos.


“Apa aku perlu menambahkan bumbu lagi?” tanya Eli pada Rocky.


Rocky menggeleng dan berkata, “Tidak perlu. Kalau kau menambahkan bumbu, rasa daging aslinya akan hilang.”

__ADS_1


“Hahahaha. Kau benar,” ucap Eli tersenyum.


__ADS_2