SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 044


__ADS_3

“Hentikan itu, Sayang. Tolonglah. Cukup!” ucap Jane dengan nada tinggi. “Kenapa kau berbuat hingga seperti ini? Maksudku, bukan hanya kau yang tinggal di sana.”


“Di masyarakat, ada begitu banyak orang yang aneh, tapi kenapa hanya kau yang sangat sensitif.”


Jane langsung kesal saat beberapa saat bertemu dengan Jack. Satu sisi dia menganggap Jack yang terlalu sensitif, satu sisi lain, Jane tak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di SALOKA RESIDENT.


“Apa sekarang kau juga berpikir bahwa aku seorang pengecut yang aneh?” ucap Jack yang juga kesal.


“Apa maksudmu? Aku tak pernah berkata seperti itu. Kau sendiri yang berkata. Kau sungguh keterlaluan.”


“Keterlaluan? Apanya yang keterlaluan, Jane? Tidak bisakah kau mendengarkan ceritaku begitu saja? Tolonglah, Jane.” Jack memberi penjelasan.


“Baiklah, terserah kau saja. Aku akan pergi dahulu. Aku sangat lelah. Aku ingin berkencan denganmu, tapi kau malah seperti ini.” Jane pun melangkah pergi meninggalkan Jack di taman itu.


“Pergilah, Jane! Aku tahu kau mendengar apa yang ingin kau dengar saja.”


Jane membalikkan badannya, “Selamat berlibur!” lalu meneruskan langkahnya kembali.


Kisah dua muda mudi yang tak saling mengerti satu sama lain.


***


Di malam harinya, Jack mengemudi motornya dengan mengebut. Dia membawa motornya dengan kecepatan 100 km/jam.


Dia terbawa oleh emosi dan semua masalah yang dihadapinya saat hari libur yang menyedihkan itu.


Motor yang dikendarainya melaju kencang dan menyalip semua kendaraan yang melintas di jalan raya.


Sampailah tiba dia di SALOKA RESIDENT. Setelah memarkirkan motornya, Jack tak langsung masuk ke dalam gedung, dia pergi ke TOSERBA untuk membeli sesuatu.


Wajah Jack dipenuhi dengan amarah dan tak ada senyuman pun di raut wajahnya.


Di dalam TOSERBA, Jack menuju ke tempat perkakas, lalu memilih beberapa senjata tajam seperti pisau, golok, celurit dan lainnya.


Jack mengambil pisau dapur yang masih tersegel, lalu pergi ke kasir untuk membayarnya. Entah apa yang ingin dilakukan Jack dengan pisau itu.


Saat Si Paman ramah yang menjaga kasir bertanya, Jack tak menjawab atau mengatakan sepatah katapun. Membayar dengan uang pas, lalu segera pergi dari TOSERBA.


Saat Jack sudah berada di lorong gedung, sejenak Jack berdiri dan menatap lorong yang sangat sepi di malam itu. Dia membuka segel pisau yang telah dibeli, lalu menyimpan pisau kecil itu di saku celananya.


Perlahan dia berjalan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


“Ini aneh. Hari ini kenapa begitu sepi? Sepertinya ada yang tidak beres,” gumam Jack.


Setibanya di dalam kamar, Jack meletakkan pisaunya di laci, mengganti pakaiannya dengan kaos, lalu bersiap untuk melanjutkan novelnya yang sedang ditulis.


Pisau kecil yang dibelinya itu mungkin hanya untuk berjaga-jaga saat itu. Kali ini Jack tak akan segan untuk melukai siapapun yang mengganggunya dari semua penghuni gedung.


Tak lama setelah Jack mengetik,


*TOK TOK TOK!!!! Seseorang mengetuk pintu kamar Jack.


“Siapa itu?” tanya Jack.


“Maaf sebelumnya jika mengganggu waktumu. Aku penghuni baru di kamar seberang, kamar 307, tepat di seberang kamarmu. Bolehkah aku meminjam pengecas handphone mu?” ucap pria yang mengetuk pintu.


“Penghuni baru?” gumam Jack yang tak mengetahui bahwa ada penghuni baru di gedungnya.


“Permisi, apa kau mendengarku?” *TOK TOK!


Jack berdiri dan membuka sedikit pintunya. Dia melihat seorang pria yang seumuran dengannya sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


“Halo, permisi!” Pria itu menunduk saat melihat Jack dari balik pintu. “Ada keperluan apa?” tanya Jack.


Pria muda itu terlihat sangat sopan dan tak seperti penghuni lainnya.


Tangan kiri Jack memegang sedikit pintu yang terbuka, dan tangan kanannya memegang pisau yang disembunyikan di balik badannya.


“Tunggu!” Jack menutup pintunya, mengambil pengecas miliknya.


Karena dirasa pemuda itu tampak normal, Jack meletakkan pisaunya kembali ke dalam laci, dan memberikan alat cas kepada salah satu penghuni kamar yang ingin meminjamnya.


“Terima kasih,” ucap Pemuda itu menunduk pada Jack yang masih membuka sedikit pintu kamarnya.


“Satu lagi, TOSERBA di bawah gang, tepat di sebelah gedung ini menjual pengecas. Kau harus cepat mengembalikan itu karena aku juga membutuhkannya,” ucap Jack.


“Baiklah, terimakasih banyak.” Pemuda itu pun kembali masuk ke dalam kamarnya.


Jack kembali menutup kamar dan melanjutkan kesibukannya.


Dua jam berlalu, dan Jack sudah mendapatkan beribu-ribu kata untuk novelnya. Jack ponsel, dan melihat sudah pukul 11 malam.


Dia masih ingin melanjutkan novelnya, tapi dia sudah sangat lelah, setelah berkeliling mencari kos seharian, ditambah dengan semua masalah yang dihadapinya satu hari penuh.

__ADS_1


Jack pun memutuskan untuk menghentikan kesibukannya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci beberapa pakaian yang kotor dan mandi.


Setibanya di kamar mandi, Jack kembali mendengar suara aneh dari kamar tempat pemuja setan.


Jack meninggalkan semua pakaian kotornya di lantai kamar mandi, lalu kembali ke kamar.


Jack mengambil pisau dapur kecil yang telah dibelinya dan pergi menuju ke kamar tersebut.


Nihil! Tak ada siapapun di kamar, tempat pemuja setan itu. Saat melangkahkan kakinya keluar, Jack kembali mendengar sesuatu.


Kali ini terdengar lebih jelas lagi. Bahwa itu dari basement lantai yang ada di bawah gedung. Dia pun segera pergi ke pintu basement, dan memeriksanya.


Bayangan seorang pria dilihat Jack saat ia mengendap-endap di tangga. Dia mempercepat langkahnya untuk melihat, bayangan siapa itu.


Kini Jack sudah berada tepat di depan pintu lorong lantai basement. Dia mencoba membuka pintu dengan tangan kirinya dan pisau yang terus digenggam di tangan kanan.


“Permisi, apa ada orang? Siapa disana?” Jack berada di dalam lantai basement itu tanpa dia sadari, bahwa Si Kembar dan Si Mesum berada di ruangan itu.


Mungkin saja mereka akan berencana untuk melukai Jack, karena dia datang sendirian.


*KRINGGG!!!!


Ponsel Jack berdering dan menggema di lorong kosong itu. Dia pun akhirnya keluar dari lantai kosong itu untuk menerima panggilan telepon.


***


Di lantai basement, Si Kembar dan Si Mesum sedang berada di dalamnya.


Mereka sedang mengurus mayat Elsa yang masih disimpannya di dalam kamar itu.


Saat itu berlangsung, mereka mendengar suara Jack yang memanggil-manggil dari depan pintu basement.


Roy yang mempunyai dendam kepada Jack pun berniat ingin membunuhnya saat itu juga.


“Hei, Bodoh. Apa yang kau lakukan? Kau ingin membunuhnya? Tadi pagi saja kau terlihat takut padanya,” ucap Si Mesum.


“Aku? Takut? Apa perlu aku tunjukkan?” ucap Roy serius. “Baiklah, tunjukkan padaku,” sahut Si Mesum.


“Sudah! Jangan membuat masalah. Akan berbahaya jika orang itu tahu. Dia akan membunuhmu,” sahut Si Autis.


“Aku akan melakukannya. Ini kesempatan yang bagus untukku. Dia datang sendirian, jadi, aku langsung bisa menghabisinya disini,” ucap Roy yang tak tahu bahwa Jack sudah pergi dari sana karena mendapat telepon.

__ADS_1


Roy pun bergegas pergi dari ruangan itu untuk menghampiri Jack. Beberapa detik setelah Roy keluar dari kamar, Roy sudah kembali masuk ke dalam kamar.


__ADS_2