
Di depan SALOKA RESIDENT, terlihat Rose yang sedang berada di tempat itu. Saat itu dia sedang berlibur dari tugasnya. Dia menggunakan pakaian santai seperti anak muda lainnya.
Sepatu kets putih serta jaket bisbol dengan rambut yang tergerai, membuatnya terlihat sangat cantik.
Dia menyandar di mobilnya, lalu menyapa Eli saat melihatnya di depan gedung.
“Bibi!” Rose berjalan ke arah Eli. “Siapa kau?” tanya Eli yang tak ingat.
“Aku yang saat itu kemari. Apa kau tak mengingatnya?” “Oh, kau polisi cantik yang kemarin?” ucap Eli tersenyum. “Ya, itu aku,” jawab Rose.
“Astaga. Kau terlihat lebih muda saat tak mengenakan seragam polisi,” ucap Eli. “Jangan begitu, Bibi. Kau juga terlihat sangat cantik,” puji balik Rose.
“Apa kau mau pergi ke suatu tempat?” tanya Rose. “Aku mau menjadi relawan untuk lansia yang tinggal sendirian,” jawab Eli. “Astaga. Kau melakukan pekerjaan yang sangat mulia,” sahut Rose.
Mereka berdua pun tertawa bersama.
“Tampaknya, kau sudah sering melakukannya,” ucap Rose. “Apa maksudmu?” tanya Eli bingung.
“Tidak. Maksudku, kurasa kau sudah sering melakukan pekerjaan mulia itu,” jelas Rose. “Astaga. Begitu rupanya,” Eli tertawa.
“Kenapa kau ada disini? Apa kau ingin menemuiku?” tanya Eli. “Ada yang ingin kutanyakan padamu, Bibi.” Rose membuka tasnya mencari sesuatu.
“Apa kau mengenal orang ini?” Rose menunjukkan foto orang hilang yang berada di sekitar SALOKA RESIDENT.
“Oh, orang ini. Dia adalah salah satu penghuni kamar di gedung ini sebelumnya. Namanya Sem. Dia adalah warga asing yang berasal dari Indonesia,” jawab Eli melihat foto itu.
“Bukankah kau tahu, jika dia menghilang?” tanya Rose. “Tentu saja. Bahkan aku yang melaporkan kejadian ini,” jawab Eli dengan heboh.
“Ada apa? Apa kau sudah menemukannya?” tanya Eli. “Belum. Aku dan Timku masih sedang mencarinya,” Rose memasukkan foto itu kembali ke dalam tasnya.
“Astaga, belum ketemu rupanya. Aku sangat sedih mendengar ini,” ucap Eli dengan memelas.
“Sebenarnya aku tak ingin mengatakan ini padamu, tapi para polisi harus bekerja lebih keras lagi. Aku harap kau bersama timmu segera bertindak dan menyelesaikan masalah ini,” lanjut Eli berusaha menutupi kejadian sebenarnya.
“Tentu saja, Bibi. Aku akan bekerja dan melakukan penyelidikan lebih lanjut lagi untuk masalah ini,” ucap Rose tersenyum.
__ADS_1
“Baguslah. Kau harus berpatroli setiap malam untuk menjaga keamanan di sekitar sini. Banyak anak muda bahkan orang tua sekalipun yang kencin dan membuang sampah sembarangan disini. Astaga. Itu membuatku kesal.”
“Hei, Anak Muda!” Eli melihat dan memanggil Jack yang ternyata menguping sedari tadi, mendengar percakapan Rose dan Eli. Jack menguping di tangga dari balik tembok gedung.
“Apa yang kau lakukan? Kau tak berangkat kerja?” lanjut Eli.
Jack memalingkan wajahnya dan bingung mencari jawaban.
“Ya, tentu. Aku… Aku sedang mengirimi pesan kepada atasanku. Memberitahunya bahwa aku sedikit telah,” ucap Jack yang terbata-bata.
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi. Permisi,” Jack berjalan cepat menuju motornya, lalu segera pergi meninggalkan gedung.
Rose hanya diam dan melihat Jack pergi menggunakan motornya.
‘Astaga, anak itu.” “Aku juga akan pergi dulu. Sampai jumpa, Polisi Cantik.” Eli tersenyum pada Rose, lalu pergi meninggalkan gedung.
“Tentu, Bibi. Hati-hati di jalan,” ucap Rose.
***
Perempatan itu sangat ramai dipenuhi dengan orang-orang yang sedang beraktivitas di pagi yang sangat cerah itu.
Sebuah mobil sedan berwarna putih melintas dan berhenti tepat di sebelah motor Jack yang terparkir.
Ternyata pengendara mobil itu adalah Rose. Rose mengikuti Jack dari gedung kos hingga berhenti saat melihat Jack yang juga berhenti di persimpangan itu.
Rose turun dari mobilnya, menghampiri Jack yang baru keluar dari mesin uang (ATM).
“Permisi, bukankah tadi kita bertemu di SALOKA RESIDENT?” ucap Rose. “Ya,” jawab Jack menganggukkan kepalanya.
“Bisakah kita mengobrol sebentar?” ucap Rose. “Tapi aku harus berangkat bekerja,” ucap Jack melihat jam tangannya.
“Sebentar saja, kumohon,” ucap Rose menyatukan kedua tangannya. Memohon dengan sungguh.
“Baiklah,” ucap Jack yang akhirnya mau berbicara dengan Rose.
__ADS_1
Mereka berdua berdiri di trotoar pinggir jalan yang sepi dan mulai mengobrol.
“Aku akan langsung ke intinya saja. Sudah berapa lama kau tinggal di SALOKA RESIDENT?” tanya Rose. “Aku adalah penghuni baru di tempat itu. Mungkin sekitar 4-5 hari,” jelas Jack.
“Hmm, begitukah?” Rose mengangguk. “Tadi, aku tak sengaja mendengar percakapanmu bersama pemilik gedung. Apa benar ada orang asing yang menghilang di gedung itu?” tanya Jack yang sangat penasaran.
Jack sangat penasaran dan kepo, karena ia mendengar pernyataan yang berbeda dari Eli saat ia menguping di tangga.
“Ya, kau benar. Akan tetapi, semua penghuni disana tampak sangat tenang seolah tak terjadi apapun,” jelas Rose.
“Apa ada laporan orang hilang lagi setelah atau selain itu?” tanya Jack. “Lainnya? Apa ada orang lain yang menghilang di tempat itu?” tanya balik Rose, menatap Jack.
“Ya, kurasa begitu. Ada seorang pria dewasa yang kutemui dan aku tak melihatnya akhir-akhir ini. Nyonya Eli berkata, bahwa dia akan pindah dari gedung itu, tapi anehnya itu secara tiba-tiba dan sangat mendadak.”
“Menurutku, pria dewasa itu bukan orang yang seperti itu. Menghilang secara tiba-toba. Bahkan, aku pernah makan mie instan dan mengobrol beberapa kali dengannya.”
Rose menatap serius, mendengarkan informasi yang diberikan oleh Jack.
“Selain itu, belum lama ini ada seorang detektif pria yang juga mencari keberadaan pria dewasa yang menghilang itu. Aku yakin detektif itu adalah kenalan dari pria yang menghilang di SALOKA RESIDENT.”
“Aku bertemu dengan detektif itu tepat di depan gedung, bertanya padaku, dan memberikan kartu namanya.”
“Detektif?” tanya Rose terkejut. “Ya. Seorang detektif,” jawab Jack. “Apa kau bisa memberikan nomor teleponnya kepadaku?” ucap Rose.
“Wah! Aku pun tak yakin mengingat nomor itu. Kartu namanya tertinggal di kantorku. Sesampainya aku di kantor, aku akan langsung mengirimkannya padamu.”
“Kalau begitu, ini untukmu.” Rose mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya pada Jack. “Disini tertulis nomor teleponku. Kau bisa langsung menghubungiku lewat nomor ini.”
“Aku akan sangat menghargainya, kalau kau mau menghubungiku.”
Jack mengangguk, menerima kartu nama Rose.
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi dulu. Sepertinya aku sudah terlambat. Permisi,” ucap Jack.
“Tentu. Hati-hati di jalan,” ucap Rose melihat Jack menaiki motornya dan pergi dari persimpangan itu.
__ADS_1