SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 053


__ADS_3

Bocah itu ketakutan karena melihat Jack yang sudah dipenuhi amarahnya.


Jack berdiri dan memukuli bocah ketiga, yang menyerangnya pertama kali dengan balok.


Jack menginjak perut dan dada bocah itu, lalu menendang kepalanya dengan keras.


Masih tak puas dengannya, Jack duduk diatas perut bocah itu. Menahannya agar tak bergerak, lalu memukulnya berulang kali.


Jack benar-benar hilang arah dan tak terkontrol. Dia tak memperhatikan kondisi bocah itu yang sudah benar tak karuan.


Tulang hidung yang patah, begitupun dengan beberapa gigi yang sudah lepas dari gusi bocah itu, Jack tak memperdulikannya. Dia tetap memukuli bocah itu berulang kali. Bocah itu hanya terbatuk-batuk dan kesakitan.


Bocah kedua yang dipukul Jack menggunakan batu itu pun mulai ketakutan dan berusaha untuk menghentikannya.


“Pak! Hentikan itu. Jika kau terus memukulinya, dia akan mati. Cukup, Pak. Jangan bunuh dia!”


Rekan bocah itu menangis. Dia hanya bisa berteriak dan memohon agar Jack tak terus memukulnya.


Dia tak bisa berdiri karena Jack telah memukul kedua tulang kering pria itu dengan keras.


Begitupun dengan Jack yang tak memperdulikan omongan bocah kedua. Dia tetap memukul bocah yang menyerangnya menggunakan balok itu sampai dia puas.


Setelah bocah itu tak sadarkan diri, Jack pun menghentikannya. Jack berdiri dan berjalan dengan sempoyongan, kembali ke motornya.


Jack terduduk karena kondisinya yang juga buruk, setelah dikeroyok oleh kedua bocah itu.


Pelipis dan bibir Jack berdarah. Begitupun dengan kedua tangannya yang berlumur darah, karena terus memukul bocah itu tanpa henti.


Tubuh Jack lemas, dan terduduk bersandar di motornya.


Jack tersenyum kecil. Dia sangat puas dan lega, telah menumpahkan semua amarah serta kekesalannya pada bocah itu. Dan sungguh malang nasib bocah yang menerimanya.


Nafas Jack masih tak karuan, dia bernafas dengan terengal-engal karena kejadian itu.


Saat matanya akan tertutup, datanglah Rocky yang menghampirinya di tempat itu.


Ternyata Rocky selalu mengikuti Jack, kemanapun dia pergi. Rocky melihat dirinya ada di dalam diri Jack dan memiliki satu kesamaan, adrenalin yang tinggi dan keinginan untuk membunuh.


“Bagaimana, apa kau menyukainya? Aku yakin kau pasti menyukainya.” Rocky tersenyum melihat Jack.

__ADS_1


Jack mengangkat sedikit kepalanya dan melihat Rocky yang sudah berdiri tepat di depannya.


Jack ingin berdiri dan menghabisi Rocky, tapi dia sudah tak mempunyai tenaga sedikitpun. Hanya diam dan bersandar di motor dengan tubuh lemas penuh darah.


“Apa kau baik-baik saja? Astaga, kau berdarah. Jangan berusaha bicara. Lihatlah, kau terluka parah. Jangan khawatir, kini ada aku.”


***


Di klinik DERMASTER, klinik milik Rocky. Terlihat Jack yang sedang berbaring diatas ranjang pasien dengan tubuh yang terikat di ranjang, tempat ruang periksa Rocky.


Rocky telah membawa Jack ke kliniknya, saat melihat Jack yang sudah tak sadarkan diri, setelah memukuli tiga orang bocah SMA.


Rocky juga menahan mulut Jack dengan alat dokter, sembari dia mengobati luka di dalam mulutnya.


Rocky menjahit beberapa luka Jack di pelipis dahi dan di dalam mulutnya di ruangannya sendiri.


Beberapa saat kemudian, Jack tersadar dan sangat terkejut melihat dia sudah berada di dalam ruang periksa, dengan tubuh yang terikat dan Rocky yang sedang mengobati lukanya.


Jack tak bisa bergerak dan berkata-kata karena mulutnya ditahan dengan alat dokter itu.


“Kau sudah sadar? Kalau aku belum selesai menjahit, kau tak perlu bergerak. Jika kau terus bergerak, lidahmu akan terpotong nantinya,” ucap Rocky melihat Jack meronta-ronta menggerakkan tubuhnya.


“Baiklah. Kurasa sudah cukup. Selesai.” Rocky melepas alat dokter yang menahan mulut Jack, lalu menegakkan ranjang, agar Jack dalam posisi duduk dengan tubuh yang masih terikat.


Saat tersadar dia langsung ngos-ngosan dan langsung berpikir, jika Rocky akan melakukan hal gila padanya.


“Kenapa kau melakukan ini padaku? Siapa kau sebenarnya?” tanya Jack menatap Rocky.


Rocky tersenyum dan balik bertanya, “Menurutmu, siapa aku sebenarnya?” Rocky berdiri, melepass sarung tangan dan meletakkan beberapa peralatan ke tempatnya kembali.


“Apakah aku seorang dokter yang tinggal di SALOKA RESIDENT, atau, seorang pembunuh berantai seperti di novel kriminal yang sedang kau tulis?” Rocky tersenyum.


“Apapun itu, aku tidak peduli. Aku bisa menjadi apapun yang kau inginkan dari keduanya.”


“Sial! Apa kau senang bisa mempermainkanku?” tanya Jack yang masih tak mengerti.


Rocky tersenyum dan, “Aku berjanji, aku akan membuatmu menjadi istimewa sepertiku.”


***

__ADS_1


Di SALOKA RESIDENT, terlihat Rocky yang mengantar Jack dengan mobil miliknya.


Setelah mobil itu terparkir, mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan menuju gedung.


Akan tetapi, Jack belum melangkah sama sekali dan tetap berdiri di sebelah mobil Rocky.


“Sedang apa kau disana?” tanya Rocky melihat Jack yang belum beranjak satu langkahpun.


“Aku tidak tahu yang akan kau lakukan disini. Aku juga tidak peduli dan tak akan pernah sedikitpun aku memperdulikannya. Besok aku akan pindah dan tak akan pernah kembali,” ucap Jack ketakutan.


“Aku juga akan membayar uang damai, sewa dan denda, jika perlu, jadi, kumohon padamu, tolong tinggalkan aku sendiri. Aku hanya ingin hidup tenang. Aku bersungguh-sungguh.”


Rocky berbalik dan berjalan mendekati Jack. “Jakun ini disebut uvula.” Rocky memegang Jakun Jack yang membuat Jack semakin ketakutan.


“Otot-otot kecil dan uvula berada di dalam leher. Aku sangat suka melihat bagian ini.” Rocky menurunkan tangannya dari jakun Jack.


“Untuk kedepannya, kau tak boleh menyembunyikan apapun dariku. Kau mengerti?”


Kata-kata yang diucapkan Rocky terdengar sangat mengintimidasi dan membuat Jack tak bisa berkata-kata lagi.


Dari sebelumnya Jack yang sangat berani dan tak takut padanya, kini Jack menjadi sedikit ketakutan, saat mendengar beberapa patah kata darinya.


“Tunggu apa lagi, cepatlah kembali. Masuklah dahulu. Aku akan merokok dulu dan masuk setelahnya.” Rocky pergi dan Jack pun mulai berjalan dengan perlahan kembali ke gedung.


“Seharusnya, aku sudah berlari sekarang. Astaga,” gumam Jack dalam hati.


“Jack!” sapa Yohan.


Saat itu Yohan sedang menuruni anak tangga untuk membuang sampahnya dan melihat Jack yang sedang berjalan lesu. Yohan pun berjalan menghampiri Jack.


“Jack, saat aku melewati depan pintu lantai basement itu tadi sore, aku mencium bau aneh dari sana. Setelah kupikir-pikir, ternyata itu bau darah, jadi, kenapa bisa ada darah disana?”


Yohan langsung menerocos dan sangat bersemangat bercerita, tentang hal aneh yang terjadi di dalam gedung.


Jack hanya diam tak menghiraukan Yohan dan terus melangkah menaiki anak tangga.


“Jack? Ada apa dengan wajahmu?” “AKu terjatuh,” jawab Jack singkat. “Terjatuh? Bagaimana ceritanya? Kenapa kau bisa sampai terjatuh?”


Jack hanya diam dan menggeleng. Hal itu membuat Yohan berpikir bahwa Jack sedang tidak baik-baik saja saat itu.

__ADS_1


__ADS_2