
Elsa menghindari tangan Eli karena sangat ketakutan dengan, apa yang akan dilakukan Eli padanya.
Elsa sampai ngompol, kencing di celananya, karena benar-benar takut saat itu. Beberapa bagian roknya pun basah dan ia tetap tak bisa melakukan apapun.
“Hahahaha. Apa yang kau takutkan hingga mengompol begini?” Eli tertawa terbahak-bahak. “Tuhan yang sangat kau percayai pasti akan menyelamatmu. Kau tak perlu takut. Berdoalah. Bukan begitu?” lanjutnya.
Elsa hanya diam tak mengatakan sepatah katapun.
“Apa kau sudah mengingatku? Apa kau ingat, apa yang dulu telah kau lakukan padaku?”
Elsa masih diam tak menjawab. Dia benar-benar dalam kondisi terpojok saat itu.
“Aku Eli. Teman satu kamarmu yang sering kau hina dan kau aniaya, karena aku banyak makan. Apa kau lupa? Hahahahaha.”
“Berikan itu padaku!”
Eli meminta pisau daging kepada Si Mesum.
Nafas Elsa semakin tak karuan dan seluruh tubuhnya dipenuhi dengan keringat dingin.
“Hhhh. Tampaknya kau sudah ingat. Bahkan aku langsung mengingatmu saat aku bertemu denganmu di jalan. Bukankah kehidupan ini sangat menarik?”
Elsa berteriak dan menjerit sekencang-kencangnya saat Eli mengangkat pisau daging itu dan mengayunkan pisau itu di atas kepala Elsa.
“Hahahahahaha.” Eli tertawa gembira melihat Elsa yang ketakutan. Dia mengembalikan pisau daging itu kepada Si Mesum dan, “Aku sangat sibuk dengan pekerjaanku. Kau bisa bermain-main dengannya.”
“Baiklah. Sampai jumpa temanku,” Eli berbisik tepat di telinga Elsa.
Eli tersenyum sinis pada Elsa, lalu pergi keluar kamar meninggalkan Elsa bersama Si Mesum.
***
Di tempat kerja Jack, terlihat Jack yang sedang berada di atap gedung. Dia mencoba menghubungi Rose melalui ponselnya, untuk memberitahu nomor detektif yang ditemuinya di gedung kos.
“Halo? Siapa ini?” tanya Rose dari telepon.
“Ini aku. Orang yang tadi pagi bertemu denganmu di SALOKA RESIDENT.”
“Oh, rupanya kau Jack. Apa kabar? Apa kau sudah mendapatkan nomor detektif itu?”
“Aku sudah mengirimkan foto kartu namanya ke nomor Whatsapp mu.”
“Oh, begitukah? Terimakasih kasih banyak, Jack.”
Rose sangat senang mendapatkan informasi dari Jack. Dia sangat curiga dengan apa yang telah terjadi di SALOKA RESIDENT. Mulai dari beberapa orang menghilang, serta Si Kembar yang dijumpainya.
“Silahkan dicek. Aku harus kembali bekerja, sampai disini….”
“Tunggu sebentar, Jack!” Rose memotong pembicaraan. “Ada apa?” tanya Jack.
__ADS_1
“Jika aku membutuhkan bantuan, bolehkah aku menghubungimu kapan saja?”
“Ya, tentu. Kau bisa melakukan itu. Baiklah, cukup sampai disini dulu, aku harus segera kembali bekerja.”
“Oke. Terimakasih banyak, Jack. Aku sangat menghargaimu.”
“Sama-sama, Detektif.”
Jack pun mematikan sambungan teleponnya.
“Detektif? Ada masalah apa kau?” tanya Mike yang saat itu menyusul Jack ke atap gedung.
“Tidak! Bukan apa-apa, hanya masalah kecil,” jawab Jack memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.
“Wah, kenapa kau tak berkata jujur? Kau menelpon seorang detektif, mana mungkin itu masalah kecil. Katakan saja, Jack! Mungkin aku bisa membantumu.”
“Aku bersungguh-sungguh. Aku tak mempunyai masalah apapun. Baiklah, mari kembali ke kantor,” ucap Jack mengajak Mike kembali ke kantor.
“Apa kau masih marah padaku?” tanya Mike menatap Jack. “Aku tahu kau masih marah hanya dengan mendengar dari nada bicaramu, Jack.”
Jack pun kembali kesal karena Mike terus mengomelinya. Dia memalingkan wajahnya dan menyeka hidung. Menunjukkan sikap yang tak suka.
“Tampaknya kau masih menganggap ini sebuah klub. Namun, inilah hidup yang sesungguhnya. Aku adalah bos yang memberimu gaji, dan kau adalah karyawan yang menerimanya. Tidak bisakah kau mengendalikan emosimu?”
Jack masih diam dan memalingkan wajahnya dari Mike. Dia merengut karena menahan agar emosinya tak meledak.
“Astaga, Kak. Apa yang kau lakukan?” Jack mengeluh.
“Kak?”
“Bukan, maksudku Pak CEO.”
“Aku tidak sedang bercanda, Jack. Kau mendengarku? Tersenyumlah!” Mike berbicara dengan nada tinggi dan menatap Jack kesal.
Tangan Jack bergetar. Dia sangat ingin mencekik Mike di atap itu, karena terus membuatnya merasa kesal, tapi dia berhasil memendam amarahnya itu.
Jack menunduk, lalu menatap Mike dengan sedikit senyuman di wajahnya.
“Nah, begitu. Kau harus menjaga sikapmu!”
“Ya,” jawab Jack singkat, menganggukkan kepalanya.
Mike masih menatap Jack, lalu pergi meninggalkannya.
***
Pukul lima sore, semua karyawan Mike pun bergegas untuk pulang, setelah bekerja sekian lama.
Mereka membereskan barang-barangnya dan akan segera pulang. Terkecuali dengan Jack yang masih duduk santai menatap layar komputernya.
__ADS_1
“Kau tidak pulang, Jack?” tanya Kim. Melihat Jack dari tempat duduknya.
“Aku? Aku ingin…”
“Kenapa kau tak pulang? Aku lihat pacarmu sangat cantik. Pergilah berkencan dengannya,” sahut Nick.
“Kami sudah berjanji akan keluar di akhir pekan ini, Pak. Mungkin aku akan pulang sebentar lagi, setelah menyelesaikan semua pekerjaanku,” ucap Jack.
“Apa kau ingin terlihat rajin? Orang akan berpikir kau mengerjakan semuanya sendirian,” ucap Winson ketus.
Jack hanya mengabaikan Winson dan kembali menatap layar komputernya.
Kim berdiri dari tempat duduknya, lalu menghampiri Winson. Dia memegang pundak Winson dan berkata,
“Astaga. Lagi-lagi kau melakukannya. Kau harus berbicara lebih manis kepadanya, Winson.” “Ya, baiklah,” ucap Winson tersipu malu.
Winson sangat senang Kim memegang pundaknya dan berkata seperti itu. Dia sangat senang dan tersipu malu, karena selama ini Winson hanya menyukai Kim secara diam-diam seperti pengecut.
“Baiklah, mari kita pulang. Apa kau minum denganku, Kim?” Mike keluar dari ruangannya dan mengajak Kim untuk minum.
“Tidak.” Kim menggelengkan kepalanya. “Hari ini aku ada janji dengan teman-temanku. Dadah, aku pergi dulu,” Kim melambaikan tangan dan pergi ke luar ruangan.
“Astaga. Sepertinya aku juga tidak bisa. Aku ada janji dengan keluargaku untuk makan diluar. Sampai ketemu besok, Pak CEO.”
Nick pamit pergi sebelum Mike mengajaknya untuk minum bersama.
“Ya, kau benar. Malam adalah waktu bersama keluarga,” ucap Mike yang kembali ke ruangannya dan bersiap untuk pulang. Begitupun dengan Winson yang juga pergi meninggalkan ruangan.
Kini tinggal hanya Jack sendirian di kantor itu. Jack berdiri dan meregangkan otot-otot tubuhnya, lalu kembali duduk.
Dia mengambil catatan keuangannya di sebuah buku catatan. Melihat, menghitung semua jumlah uang masuk dan uang keluar untuk biaya hidupnya.
“Sekeras apapun aku berhemat dan hidup dengan minimalis, aku hanya bisa menyisihkan 500 dolar per bulan.” Jack menghela nafas panjang. “Astaga. Bagaimana aku akan pindah tempat tinggal kalau seperti ini?”
***
Malam harinya di SALOKA RESIDENT, terlihat Jack yang baru datang dan memarkirkan motornya di tempat biasanya dia parkir.
Jack berjalan dengan lesu. Dia duduk di tangga gedung, lalu menelpon Jane, bercerita, lelahnya hari ini.
“Halo, Sayang!” Jane mengangkat panggilan. “Apa hari ini kau berlembur lagi?”
“Ya, aku hari ini lembur. Bagaimana denganmu?”
“Aku sedang makan-makan bersama para karyawan lain. Bosku sedang ingin bersenang-senang dan mengajak semua karyawannya.” “Oh, begitu rupanya,” ucap Jack lesu.
“Ada apa denganmu? Suaramu terdengar tidak seperti biasanya. Apa kau ada masalah? Ceritakan saja padaku, jika kau ada masalah.”
“Ini tentang kos yang sedang kutinggali, SALOKA RESIDENT. Semua orang disini sangatlah aneh,” Jack terus mengeluh tentang tempat tinggalnya pada Jane.
__ADS_1