SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 040


__ADS_3

Rose bersama rekannya sedang dalam perjalanan untuk mengantar Jack kembali ke SALOKA RESIDENT.


Jack duduk bangku kedua mobil dan terus merasa gelisah. Dia mencoba menghubungi Jane berkali-kali, tapi tak diangkat olehnya.


“Astaga. Cepat balas pesanku, Jane.”


“Jangan cemas, Jack. Aku yakin dia akan baik-baik saja,” ucap Rose menenangkan.


“Ayolah, Jane. Angkat teleponku!” Jack terus merasa gelisah dan tak tenang saat ia berada di mobil.


“Apa kau bisa menelponnya?” tanya Rose. “Tak bisa. Sepertinya ponselnya mati,” jawab Jack. “Sial! Apa yang terjadi padamu, Jane?” Jack benar-benar tak sabaran dan ingin segera sampai ke SALOKA RESIDENT.


***


Saat mulai menaiki tangga gedung, Jane sedikit merinding dan ketakutan karena gedung itu sangatlah gelap. Tak ada lampu sama sekali yang menerangi anak tangga.


Jane mengeluarkan ponselnya dan menggunakannya sebagai senter. Tak sengaja telapak tangan Jane menyentuh sebuah kotoran bekas permen karet, saat tangannya menyentuh pegangan tangga.


“Astaga. Apa ini? Jorok sekali.” Jane mengelapkan tangannya yang kotor pada dinding.


“Siapa itu? Kenapa wanita datang kesini pada malam hari?” Eli datang dari lantai dua. Dia melihat Jane yang berada di persimpangan tangga. Mengelap tangannya yang terkena kotoran ke dinding gedung.


“Halo, Bibi,” sapa Jane menundukkan kepalanya. “Aku sedang mencari seseorang disini, namanya Jack. Benarkah dia tinggal disini?’


“Oh, Si Pemuda Tampan itu. Aku yakin kau pasti pacarnya,” ucap Eli tersenyum. “Ya, begitulah. Apa dia sudah pulang?” Jane kembali bertanya.


“Astaga. Sepertinya dia belum pulang,” jawab Eli. “Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu, Bibi.”


Saat Jane akan pergi menuruni tangga. “Tunggu!” Eli menahan tangan Jane. “Lihatlah, tanganmu menjadi kotor karena berada di tempat seperti ini. Kemarilah, ikuti aku. Kau harus mencuci tanganmu dahulu.”


“Tidak perlu, Bibi. Aku akan mencucinya di toilet umum.” “Astaga. Cucilah dahulu, Nak. Kau pasti akan memegang tangan pacarmu, nantinya. Kemarilah, anggap saja seperti rumah sendiri.”


Eli menarik tangan Jane, mengajaknya naik ke tangga menuju ruangannya.


***


Beberapa saat kemudian. Jack dan Rose serta rekannya telah datang ke SALOKA RESIDENT. Mobil polisi berhenti tepat di depan gedung dan Jack pun langsung keluar dari mobil dan berlari menaiki tangga.


“JANE!!! JANE!! Dimana kau, Jane! JANE!!!” Di lorong, Jack terus berteriak dengan kencang dan memanggil Jane. Dia membuka kamar kosong satu persatu dan mencarinya.

__ADS_1


“Apa kau sudah menemukannya?” Rose menyusul Jack dari belakang.


Dari ujung lorong, tempat dapur dan meja makan berada, terdengar keramaian dari tempat itu. Jack pun langsung berlari ke ujung lorong itu.


“Jane!” Jack berlari ke ujung lorong dan terus memanggil Jane.


Sesampainya di lorong, Jack melihat, Eli, Si Mesum dan Si Autis yang sedang bermain catur di meja makan.


Sementara Jane duduk di pojok ruangan melihat penghuni itu bermain catur. Jane pun berdiri saat melihat Jack yang datang dengan nafas yang terengal-engal.


“Kenapa kau tak menjawab teleponku? Aku sudah menelponmu lebih dari sepuluh kali,” ucap Jane sedikit kesal karena khawatir.


“Jane!” Jack berjalan mendekati Jane dan memegang tangannya. “Kenapa kau bersama orang-orang ini?” Jack menunjuk Si Mesum dan Si Autis yang sedang memainkan catur, memarahi Jane.


Si Mesum dan Si Autis masih tertawa dan terus bersenda gurau dengan permainan caturnya dan tak memperdulikan apa yang sedang terjadi, terkecuali Eli.


Eli sangat terkejut melihat Jack yang tiba-tiba datang bersama dua petugas kepolisian ke gedungnya.


“Kenapa kau marah padaku? Aku yang seharusnya marah padamu. Kenapa kau tak menjawab teleponku dan kenapa kau baru pulang?” ucap Jane masih kesal.


“Kita keluar dulu dari sini, Jane. Aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti.” Jack menarik tangan Jane mengajaknya keluar gedung.


“Tidak, Bibi. Mungkin ini hanya salah paham,” jawab Rose.


Jane melepaskan tangan Jack yang terus menariknya dan  berkata, “Ada apa denganmu? Kau membuatku takut! Lihatlah!” Jane memperlihatkan tangannya yang memerah karena Jack menariknya terlalu kencang.


Jack mengatur nafasnya dan meredam emosinya saat itu.


“Jane, ikutlah denganku. Mari kita keluar dahulu dari sini.” Jack merangkul Jane dan mengajaknya keluar gedung.


Begitupun dengan Rose dan rekannya yang mengikuti Jack.


Di depan gedung SALOKA RESIDENT, Jack mengajak Jane untuk mengobrol bersama, sementara Rose menunggu dari kejauhan dan rekannya menunggu di dalam mobil.


“Apa kau baik-baik saja, Jane?”


Jane hanya diam dengan muka ketusnya. Dia mungkin kesal karena Jack tak mengangkat teleponnya, dan saat dia bertemu, Jack sudah bertindak gegabah.


“Jane, kenapa kau begitu berani dengan naik ke atas sendirian? Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, bahwa semua orang disini sangat aneh dan berbahaya.”

__ADS_1


“Sayang! Ada apa denganmu?” ucap Jane kesal melihat tingkah laku Jack yang sangat protektif padanya.


“Baiklah, hari ini aku akan mengantarmu kembali. Ayo pulang.” “Tidak! Aku akan pulang sendiri,” ucap Jane.


“Permisi, jika kau tak keberatan, aku bisa mengantarkannya,” sahut Rose menawarkan tumpangan. “Terimakasih banyak, tapi kami bisa pergi sendiri,” bantah Jack yang menarik tangan Jane mengajaknya pulang.


“Lepaskan tanganmu!” bentak Jane kesal. Jane berbalik arah, menuju ke mobil polisi.


“Jane! Kenapa kau…..”


“Satu hal lagi, ada orang-orang yang normal di luar, tapi sebenarnya dia lebih aneh di dalam. Kalau sebatas ini, itu tidak masalah bagiku” Jane menunjuk gedung tempat penghuni tinggal.


“Apa kau tak mempercayaiku, Jane? Itu karena kau tak pernah tinggal disini. Cobalah kau tinggal bersama mereka satu hari saja, maka kau akan melihat keanehan dari setiap orang yang tinggal di gedung ini.”


Rose hanya diam dari kejauhan, melihat dua pasangan muda-mudi yang sedang bertengkar itu.


“Keluar saja dari sini, jika begitu! Kenapa kau masih terus berada disini, jika semua yang kau katakan itu benar?” Jane pun kesal dan membentak Jack.


“Astaga. Maafkan aku, jika aku membentakmu. Mari kita bicara besok. Kali ini aku pulang sendiri bersama petugas kepolisian. Sampai jumpa, Sayang.”


Jane pun masuk ke dalam mobil polisi dan akan diantar oleh Rose dan rekannya.


Rose berjalan mendekati Jack dan berkata, “Kau tak perlu khawatir, aku akan mengantarkannya hingga selamat. Aku juga akan memberitahunya tentang, apa yang kau khawatirkan.”


“Baiklah. Aku minta tolong padamu, Detektif. Terima kasih banyak,” ucap Jack.


Rose menepuk bahu Jack, lalu masuk ke dalam mobil polisi.


Perlahan mobil polisi pun pergi dari SALOKA RESIDENT.


Jack berjalan menaiki tangga dengan lesu. Dia masih syok masih kepikiran dengan Jane, jika terjadi apa-apa padanya.


“Selamat malam, Jack!” sapa Rocky yang turun dari atap gedung. “Malam juga,” sapa balik Jack.


“Kenapa ada polisi sampai datang kemari? Sepertinya ada masalah yang telah terjadi.” “Oh, itu. Bukan apa-apa.” Jack meneruskan langkahnya, masuk ke dalam lorong.


“Besok adalah akhir pekan, apa kau ingin minum bersamaku? Kita bisa berbicara untuk saling mengenal, dan juga membahas tentang novel yang sedang kau buat.”


“Maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa. Aku sudah berjanji dengan pacarku untuk berkencan. Baiklah, aku permisi dulu.”

__ADS_1


Jack pergi masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2