SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 054


__ADS_3

Yohan hanya berjalan di belakang Jack yang menuju ke kamarnya.


Di depan kamarnya, Jack berhenti sejenak dan melihat dari lorong utama hingga ujung lorong, lalu membuka pintu kamarnya dengan kunci.


“Jack, jika kau tak keberatan, apa kau ingin meminum bir bersamaku?” Yohan berusaha untuk mengajak Jack berbicara. “Tidak. Aku sangat lelah. Aku ingin tidur saja malam ini.


“Baiklah, kalau begitu. Selamat tidur, Jack.” Yohan mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


“HAH!!! Apa itu? Itu… Bangkai kucing,” ucap Jack terkejut saat pintu kamarnya terbuka.


Jack ketakutan dan akan menangis saat melihat bangkai di dalam kamarnya. Dia menunjuk-nunjuk sesuatu dalam kamarnya.


“Kenapa Jack?’ Yohan keluar dari kamarnya dan menghampiri Jack. Yohan menyalakan lampu kamar Jack, lalu masuk ke dalam.


“Astaga. Dimana bangkainya, Jack? Ini hanya kaos kakimu saja,” ucap Yohan mengambil kaos kaki yang berada di atas meja Jack.


Jack masih syok dan terlihat ingin menangis seperti anak kecil.


“Mungkin kau terlalu lelah, Jack. Sebaiknya kau cepat beristirahat.” Yohan menuntun Jack masuk ke dalam kamar, lalu menutupnya kembali.


Di dalam kamarnya, Jack terduduk di atas kasur dan menutup kedua telinganya. Dia mengingat kembali semua perkataan orang disekitarnya yang terdengar mengerikan baginya.


Hidup Jack benar-benar berubah semenjak itu.


***


Keesokan harinya di kantor, terlihat Jack yang sudah berada di kantor pagi-pagi.


Jack masih mengenakan pakaian yang sama seperti yang digunakannya kemarin, dan dengan bekas luka jahit di pelipis yang masih terlihat jelas.


Dia tidak mandi ataupun mengganti pakaiannya saat itu. Jack hanya duduk melamun, menatap layar monitor yang belum dinyalakan.


Beberapa saat kemudian, Winson datang ke kantor. Dia sangat terkejut saat melihat keyboardnya yang sudah hancur dan tergeletak di lantai.


“Apa-apaan ini? Siapa… Kau yang melakukan ini bukan?” Winson menghampiri Jack.

__ADS_1


Jack hanya diam dan tak menggubris Winson sedikitpun.


“Hei, aku bertanya padamu. Apa kau mendengarkanku?”


“Sial!! *BRAKKK!!! Winson menendang kursi yang sedang diduduki oleh Jack, karena Jack tak menggubrisnya sama sekali.


“Bekerja dengan orang-orang bodoh benar-benar sangatlah sulit,” ucap Winson yang kembali menata keyboard miliknya.


“Sial! Hari ini aku sangat banyak pekerjaan, tapi dia malah merusak semuanya. Apa yang harus kulakukan sekarang? Banyak materi yang harus kuselesaikan. Astaga.” Winson kesal dan mencari sesuatu dari dalam tasnya.


Mata Jack tertuju pada gelas kaca yang berada di atas meja, tempat gelas kopi berada.


Jack berdiri dan mengambil gelas kaca itu, lalu, tanpa rasa kasihan sedikitpun, Jack memukul kepala Winson dengan gelas kaca itu.


*PYAAARR!!!!


“AAARGH!!!!”


Seketika gelas itu pecah dan Winson tersungkur dan berteriak kesakitan. Darah mengucur dari atas kepalanya.


Dia sudah bukan seperti Jack lagi, melainkan seorang monster psikopat yang sangat senang melihat orang lain kesakitan.


Jack terus membabi-buta dan memukul ujung kepala hingga ujung kaki Winson dengan keyboardnya sendiri.


“Jack! Berhenti!” ucap Nick yang saat itu datang dengan Mike.


Mike dan Nick yang baru datang pun berusaha untuk menghentikan Jack.


“Dasar, Brengsek! Apa kau sudah gila?” Mike langsung meninju wajah Jack karena dia masih berusaha untuk memukul Winson yang sudah tak berdaya.


Jack tersungkur dan hanya diam saja. Mike mengajak Jack pergi ke ruangannya, dan menyuruh Nick untuk mengantar Winson ke klinik terdekat


***


Di ruangan Mike, Jack sedang berbicara empat mata dengan Mike. Mike bertanya, kenapa Jack melakukan hal gila seperti tadi.

__ADS_1


“Tadinya, aku sudah berpikir bahwa itu bukan kau, tapi orang lain. Astaga, Jack.”


Jack hanya diam dan menunduk.


“Dokter yang menangani Winson baru saja menelpon. Dia berkata, bahwa Winson akan baik-baik saja, karena lukanya tak cukup parah. Akan tetapi, dia harus dirawat beberapa pekan untuk itu.”


“Aku akan menjenguknya dan membujuknya agar tak menuntutmu di pengadilan. Entah dia ingin berdamai atau tidak. Kau memukulnya berkali-kali dengan membabi-buta.”


“Kenapa kau melakukan itu, Jack? Kenapa kau menjadi seperti ini? Aku sudah tak melihat dirimu yang sebenarnya.”


“Siapa itu? Siapa sebenarnya diriku?” tanya Jack menatap Mike.


“Ah, sudahlah. Lupakan saja. Omong-omong, ada apa dengan wajahmu? Tampaknya itu luka yang baru kau dapat.”


“Aku jatuh dari tangga,” jawab Jack ketus.


“Dasar, Berandal. Aku tahu pasti, itu bukan luka karena jatuh. Kenapa kau belakangan ini? Kudengar, kau juga sedang bertengkar dengan Jane.”


Mata Jack melotot dan menatap Mike saat dia menyebut nama Jane di depannya.


“Hei, sorot mata apa itu?” tanya Mike melihat Jack yang terus menatapnya dengan serius.


“Biar kutanya satu hal padamu.” Jack duduk dengan tegak dan mengepalkan tangannya di atas meja. “Kenapa kau menemui Jane?”


“Astaga. Apa maksudmu, Jack?” Mike masih berpura-pura.


“Kau pikir aku tidak tahu? Apa kau bodoh? Jika kau tidak ingin mati, jangan pernah macam-macam denganku! Kau mengerti?”


Mike hanya diam  dan ketakutan melihat Jack yang mengancamnya itu. Dan berpikir, kenapa Jack bisa mengetahuinya, jika dia keluar bersama Jane.


*BRAKKKK!!!!


Jack menggebrak meja di ruangan Mike, lalu pergi dari kantornya.


“Aku mulai kehilangan kendali. Kira-kira apa yang membuatku menjadi seperti ini? Penghuni SALOKA RESIDENT? Rekan kantor? Atau, memang inilah diriku yang sebenarnya?” gumam Jack pergi meninggalkan kantor.

__ADS_1


“Sekarang aku bahkan tidak tahu, seperti apa diriku sebenarnya.”


__ADS_2