SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 045


__ADS_3

Dia kembali bersama Rocky, yang sudah menancapkan sebuah alat bedah dokter kepada leher Roy.


Alat bedah dokter itu menembus leher sisi kiri Roy dan sisi kanannya. Darah mengucur deras dari kedua sisi leher Roy.


Si Autis dan Si Mesum pun sangat takut melihat kejadian itu. Beberapa saat kemudian, “Mati… matilah kau,” ucap Roy yang kemudian tersungkur mati.


Rocky berjongkok dan mencabut alat bedah dokter itu dari leher Roy dan berkata, “Bersikap tenang adalah aturan di SALOKA RESIDENT. Dia sudah lama tinggal disini, tapi masih tak paham.”


Rocky menyibakkan rambut gondrongnya, menatap Si Mesum dan Si Autis yang ketakutan melihat saudaranya dibunuh.


“Aku sangat menyukai pekerjaan ini. Aku tak peduli, siapapun yang mencoba mengganggu mangsaku, tidak akan pernah kumaafkan. Kalian mengerti?”


Si Mesum mengangguk-angguk dan segera menyeret mayat Roy untuk membereskannya.


Tidak dengan Si Autis yang masih berdiri dan ketakutan melihat saudaranya dibunuh di depan matanya.


“Apa kau juga ingin menyusul saudara kembarmu?” tanya Rocky pada Si Autis.


“Tidak… Aku tidak mungkin…. Aku sangat menyukai pekerjaan ini,” jawab Si Autis terbata-bata.


“Ya, baguslah. Apa kau masih bisa mengikuti perintahku dengan baik?” Rocky  tersenyum dan menodongkan alat bedah dokter yang tajam itu kepada Si Autis.


“Tentu saja.” Si Autis mengangguk. “Aku sangat senang melakukan ini semua.” Dalam hati Si Autis masih tak terima dengan, apa yang dilakukan Rocky pada saudaranya.


Akan tetapi, dia tak berani mengatakan yang sejujurnya. Rocky pun tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Si Autis.


Beberapa saat kemudian, Eli datang masuk ke dalam kamar itu. Dia lebih terkejut lagi melihat Roy yang sudah terkapar tak bernyawa.


“Apakah Roy sudah pergi ke surga lebih dulu?” tanya Eli tak tega melihat Roy. “Baiklah. Lebih cepat lebih baik.”


Rocky hanya tersenyum dan tak menjawab apapun.


***


Pagi hari pun tiba. Hari itu adalah hari minggu. Semua karyawan dan pekerja lainnya masih mendapatkan jatah liburnya, termasuk Jack.


Lagi-lagi dia bangun dari tidurnya dan mengeluh, bahwa dia terus mengalami mimpi buruk setiap hari. Dia duduk di atas kasurnya dan menggerak-gerakkan tubuhnya

__ADS_1


“Sepertinya aku sudah mulai gila. Aku terus bermimpi buruk setiap hari.” Jack menggaruk-garuk kepala. “Aku tidak bisa begini. Pokoknya aku harus pindah.”


45 menit berlalu. Jack sudah mandi dan berganti pakaian. Saat dia keluar dari kamarnya, penghuni kamar depannya, kamar 307, keluar dari kamar dan menyapanya.


“Hei, tunggu sebentar.” Pemuda itu kembali masuk ke dalam kamarnya.


Beberapa saat kemudian, dia keluar dengan alat cas yang telah dipinjam olehnya semalam.


“Ini. Terimakasih atas bantuanmu semalam. Terimakasih untuk alat casnya.” Pemuda itu memberikan pengecas kepada Jack.


“Oh, tentu.” Jack mengambil casnya kembali. Dia kembali ke kamarnya untuk meletakkan cas.


“Satu hal lagi, disini kau harus memelankan suaramu saat berbicara,” ucap Jack membuka pintu kamarnya.


“Oh, ya. Astaga, maafkan aku.” “Tidak. Kau tak perlu meminta maaf padaku. Hanya saja, penghuni disini agak aneh, jadi, kau tak boleh membuat suara keras,” ucap Jack pada pemuda seumurannya itu.


“Wah, begitukah? Tampaknya kau sudah lama tinggal disini.”


“Tidak juga. Aku belum lama tinggal disini.” Jack masuk ke kamarnya dan meletakkan alat casnya di atas meja.


“Oh, belum lama rupanya. Bagaimana suasana di tempat ini? Suasana di tempat tinggalku sebelumnya kurang bagus, maka itu aku pindah kemari.”


“Mau keluar sekarang?” tanya Jack. “Ya, tentu,” jawab pemuda itu bersemangat.


“Perkenalkan. Namaku, Yohan.” “Aku, Jack.” Jack dan Yohan pun bersalaman.


Yohan masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah gitar dan alat sound berukuran kecil, dan tas ransel yang ada di pundaknya.


“Tampaknya kau ingin berpergian,” ucap Yohan. “Tidak juga. Aku hanya ingin jalan-jalan. Bagaimana denganmu?” tanya balik Jack.


“Aku ada pertunjukkan.” “Pertunjukkan? Apa kau seorang penyanyi?” tanya Jack.


“Ya, begitulah. Sebenarnya aku lebih suka disebut rapper daripada penyanyi. Hahahaha.”


“Wah, kau luar biasa,” puji Jack.


Jack dan Yohan pun berjalan bersama menuruni tangga gedung.

__ADS_1


“Aku tidak sehebat itu. Bagaimana denganmu?” “Aku bekerja di perusahaan promosi pertunjukkan. Aku juga menulis novel untuk pekerjaan sampinganku.”


“Wah, rupanya kau seorang seniman. Apa kau juga belajar musik di perusahaanmu?” “Tidak. Aku di bidang teater,” jawab Jack. “Setidaknya, kita masih sama-sama dibidang seni,” ucap Yohan.


Sampailah mereka berdua di depan gedung SALOKA RESIDENT.


“Baiklah. Kau ingin pergi ke arah mana?” Jack menunjuk jalan bertanya. “Kesana, bagaimana denganmu?” Yohan menunjuk tangga jalan yang menuju ke bawah.


“Tak masalah kemana saja. Aku ikut saja denganmu,” ucap Jack. “Baiklah.” Yohan menarik sound kecil dan gitarnya dan berjalan ke jalan menurun yang berbentuk tangga.


“Astaga. Hari ini sangatlah panas. Omong-omong, berapa umurmu?” tanya Yohan.  “Aku 26, tahun ini beranjak ke 27,” jawab Jack. “Astaga. Aku 24, tapi kau terlihat sangat lebih muda dariku,” Yohan terkesan.


“Omong-omong, bagaimana kau bisa sampai di tempat ini?” tanya Jack. “Aku hanya melihat di situs pencarian SALOKA RESIDENT di beberapa aplikasi. Ini juga pertama kalinya bagiku tinggal di tempat yang tak ber AC.”


“Bolehkah aku memanggilmu dengan Jack?” “Ya, tentu, kau boleh melakukannya,” jawab Jack.


Jack sangat senang karena dia bisa bertemu dan mengobrol dengan orang normal dari salah satu penghuni gedung.


“Apa ada lagi penghuni gedung yang seumuran dengan kita?” tanya Yohan. “Tidak. Penghuni lainnya berumur 30 awal dan akhir, tapi semuanya aneh dan gila.”


“Orang gila?” tanya Yohan yang sepertinya belum mengetahui apapun. “Ya, seperti itulah kira-kira,” jelas Jack.


“Jack, kalau hari ini kau tak ada janji…”


“Halo semuanya!” sapa Rocky. Dia duduk di balik dinding tangga menyapa Yohan dan Jack yang baru turun dari jalan.


“Halo!” sapa balik Yohan.


Rocky berjalan mendekati Jack dan Yohan. “Kau pasti penghuni baru di SALOKA RESIDENT.”


“Ya, namaku Yohan. Mohon bantuannya. Tampaknya kau juga tinggal di sini.” “Ya. Aku tinggal disini.” Rocky menunjuk gedung.


“Sepertinya kau memiliki kepribadian yang sangat ceria,” ucap Rocky. “Ya, begitulah. Orang lain juga berkata seperti itu,” jawab Yohan tersenyum.


“Hmm. Tampaknya kalian sedang membahas hal menarik.” Rocky menatap Jack. Sepertinya dia sedikit mendengar, apa yang dibicarakan oleh Jack dan Yohan.


“Tidak juga. Kami hanya saling bertemu dan menyapa,” jawab Jack. “Apa kalian ingin berpergian” tanya Rocky. “Aku hanya berjalan-jalan, karena ini hari minggu, dan aku pun masih libur.”

__ADS_1


“Hmmm. Berjalan-jalan. itu ide bagus. Hari ini tak terlalu panas seperti biasanya,” ucap Rocky menatap Yohan dan Jack.


“Apa kau tak kepanasan?” tanya Yohan menunjuk Rocky yang memakai kaos biru dongker lengan panjang. “Apa maksudmu?” tanya Rocky.


__ADS_2