
“Kenapa kau mengikutinya? Biarkan dia pergi sendiri,” ucap Kim.
Diantara semua orang, Kim adalah orang yang paling kuat, saat minum alkohol. Dia bahkan masih terlihat sangat segar dan sama sekali tak terlihat mabuk atau teler, meski banyak alkohol yang telah diminumnya.
Kini tinggal hanya Jack, Kim, dan Winson yang masih berada di meja bar itu.
“Apa kau baik-baik saja, Jack?” Kim menggerak-gerakkan tubuh Jack yang sudah lemas dan kepalanya yang sudah berada di atas meja.
“Ya, tentu. Aku baik-baik saja,” jawab Jack dengan mata yang terpejam dan kepala diatas meja.
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi ke kasir untuk membayar dulu, biar CEO yang nanti menggantikan uangku.” Kim mengambil tasnya dan beranjak dari tempat duduknya.
“Jangan lupa bawa bungamu, Kak,” ucap Jack setengah sadar. “Tentu. Aku akan membawa ini.” Kim membawa bunga yang diletakkannya di dinding bar, lalu pergi ke kasir.
Kini tinggal Jack dan Winson saja yang duduk di meja bar itu.
“Astaga, sepertinya aku harus segera pulang.” Jack mengangkat kepalanya dan melihat Winson yang duduk di depannya.
“Ternyata kau, Pak Winson.” Jack menggaruk-garuk kepalanya dan mengucek-ucek kedua matanya.
Dia terlihat masih sangat teler dan tak karuan, dia juga tak mungkin menyapa Winson, jika ia masih sadar dan tak terpengaruh dengan alkohol.
“Hei, Pak Winson! Aku hanya akan mengatakan satu hal padamu kali ini.”
Winson hanya diam dari tempat duduknya dan melihat Jack yang mengangkat tangannya dan menunjuknya.
“Mulai sekarang… Berhentilah menatap bokong Nona Kim saat kau ada di kantor, atau saat kau berada dimanapun itu. Apa kau orang mesum? Kau tak ingin disebut mesum, bukan?”
Jack benar-benar melantur dan membicarakan semua hal yang ada di dalam pikirannya tanpa ia sadari.
*BRAKKK!!!
“Sial! Beraninya kau bilang begitu, Anak Magang. Apa kau pernah melihatku melakukan itu?”
Winson berdiri dan menggebrak meja. Membuat semua orang yang berada di bar itu melihatnya. Winson marah dan menggebu-gebu karena Jack mengetahui perbuatannya.
“Astaga. Kenapa kau masih tak mengaku? Apa aku perlu melakukan hal ini ke polisi, dan berkata bahwa kau adalah seorang penguntit? Itu sudah masuk pelecehan seksual, kau tak tahu?”
“Coba saja!” Winson mengangkat kedua tangannya dan mengepalkan, tapi dia hanya geram dan tak berani melakukan apapun pada Jack yang masih teler.
“Hei, kalian! Kenapa kalian ini? Cepatlah keluar! Pak Winson! Jack! Keluarlah, CEO kita sedang berkelahi di luar sana.” Kim datang dengan nafas yang terengal-engal memberitahu kabar itu pada Winson dan Jack.
__ADS_1
“Kita lanjut nanti, Anak Magang. Sialan!” Winson pun pergi dengan Kim pergi untuk melerai Mike yang sedang terkena masalah.
***
Di luar ruangan, diluar toilet bar tepatnya. Mike sedang beradu mulut dengan salah satu pelanggan pria yang juga sedang mabuk.
Mike tak sengaja menyenggol dan menumpahkan minuman hingga mengenai kemeja pria itu, dan pria itu pun meminta Mike untuk mengganti rugi.
Nick berada di tengah-tengah mereka dan memisahkan dua pria dewasa itu yang sedang mabuk, begitupun dengan Kim dan Winson yang baru datang, mereka langsung berusaha memisahkannya.
Saat mereka sedang sibuk memisahkan Mike dan pria itu yang terus beradu mulut,
*BRAAK!!!!!
Jack datang dan berjalan sempoyongan. Dia membanting tempat sampah yang ada di dekatnya dan melemparnya ke tempat keributan.
Seketika semua orang terdiam dan melihat Jack yang berjalan mendekat dengan keadaan setengah sadar.
“Apa-apaan dia? Kenapa lagi berandal itu?” ucap Mike.
*BRAKKK!!!
“Astaga, Jack. Apa kau baik-baik saja?” ucap Kim ketakutan melihat Jack yang mengamuk setengah sadar.
“Kubilang, bunuh aku! Apa kau tak mendengarkanku?” Jack menatap pria yang disenggol Mike dan berjalan mendekatinya, seakan Jack akan memukuli pria itu.
“Jangan, Jack!”
“Berhenti, Jack!”
“Kau tak perlu begini, Jack. Hentikan itu!”
Semua orang menarik tubuh Jack dan melerai Jack yang hampir melukai pria itu.
“Astaga. Kalian sungguh gila,” ucap pria itu yang kemudian pergi dan tak menyuruh Mike untuk mengganti pakaiannya yang tertumpah oleh alkohol.
***
Di luar bar, semua orang berdiri dan menunggu Jack yang masih teler. Kim membawa tas ransel Jack, sedangkan Jack teler dan tengkurap di atas bangku pinggir jalan.
Tiba-tiba saja Jack muntah dan mengeluarkan muntahannya di dekat pohon pinggir jalan itu. Semua orang dibuat sibuk dan repot karena tingkah Jack.
__ADS_1
“Astaga, menjijikan sekali. Kau bukan anak kecil lagi, Jack. Bukankah kau pernah mengikuti militer? Kenapa kau bertindak bodoh dan menantang orang itu? Kau bisa terlibat masalah jika terus seperti ini,” ucap Mike.
“Benar, bukan? Dari awal aku sudah tahu bahwa dia gila,” sahut Winson yang duduk dari kejauhan.
“Hei, kau tak boleh bilang begitu. Dia masih muda. Sepertinya dia juga tak cukup kuat untuk meminum alkohol dengan kadar tinggi,” ucap Kim.
“Bantu dia, Nick. Aku akan memanggilkan taksi untuknya.”
Nick menghampiri Jack yang sedang tengkurap di bangku, lalu membantunya untuk berdiri.
“Jack, sadarlah! Kau harus pulang. Pak CEO sudah memesankan taksi untukmu.” Karena Jack tak kunjung bangun, Nick pun merangkul Jack dan membawanya ke pinggir jalan.
Di pinggir jalan itu sudah ada mobil taksi yang berhenti. Mike memberitahu alamat Jack pada taksi itu, lalu langsung membayarnya sesuai tarif.
“Naiklah, Jack. Kau harus cepat pulang. Astaga, kau sangat berat,” ucap Nick yang merangkul Jack membawanya masuk ke dalam taksi.
Setelah membayar ongkos taksi, Mike pun membantu Nick untuk memasukkan Jack ke dalam bangku mobil belakang taksi.
Akan tetapi, Jack malah menarik tangan Mike dan berkata, “Motor! Motorku! Bagaimana dengan motorku?”
“Wah, bisa-bisanya kau memikirkan motormu, sementara kau seperti ini. Motormu akan aman berada di tempat parkir gedung. Jika perlu, aku akan mengirimkan motormu ke tempat tinggalmu,” ucap Mike kesal.
“Tunggu, Kak. Sehari ini saja, bolehkah aku….” Jack memegang tangan Mike dengan erat. “Apa yang kau katakan, Jack?” tanya Mike. “Bagaimana, apa aku boleh menginap di tempatmu? Malam ini saja, Kak.”
“Wa, Berandal ini sungguh mabuk berat. Aku yakin kau akan buat keributan saat kau bangun besok pagi. Cepatlah masuk, Jack!”
“Ya, kau harus segera pulang, Jack,” sahut Kim.
Mike dan Nick pun memaksa Jack untuk segera masuk ke dalam taksi, lalu menyuruh sopir taksi untuk mengunci pintu.
Di bangku belakang mobil, Jack langsung tengkurap karena tak kuat untuk duduk.
“Baiklah, tolong antar dia pulang!” ucap Mike pada sopir taksi.
“Baik, Tuan. Permisi.” Mobil taksi itu pun mulai berjalan pergi.
“Baiklah. Kalian boleh pulang dulu,” ucap Mike.
Semua karyawannya pun langsung bergegas pulang saat itu juga.
Mike mengeluarkan ponselnya, lalu menelpon Jane. Memberitahu keadaan Jack yang sangat teler.
__ADS_1