
Di pagi harinya di akhir pekan.
*BRAKKK!!!
“ARGGHHH!!!!”
Kaki Jack menendang sebuah meja yang berada di dekatnya. Lagi-lagi dia mengalami mimpi buruk yang membuatnya terkejut dan membuat kakinya menendang meja.
Jack terbangun dari tidurnya dan terus memegangi kakinya yang kesakitan. Dia masih berguling-guling di atas kasur dan mengerang kesakitan.
“Sial! Aku bisa gila, jika terus bermimpi aneh setiap harinya.”
Jack melihat jam di ponselnya, dan waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Masih sangat pagi dan Jack sudah terbangun lebih awal. Dia bisa menggunakan waktunya itu untuk bersantai dahulu.
Jack pun pergi ke dapur dan mengambil air putih di kulkas, lalu menuangkan air putih dingin itu ke dalam gelas.
Setelah menghabiskan 2 gelas air, Jack melihat Si Mesum yang juga datang ke dapur dan menatapnya dari pintu masuk dapur.
“Astaga, kenapa lagi Si Mesum idiot ini? Apa aku perlu menghajarnya?” gumam Jack dalam hati.
“Hei, apa ada yang perlu kau sampaikan?” tanya Jack pada Si Mesum.
Si Mesum hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaan Jack. Dia masih berdiri dan menatap Jack dengan sinis. Hal itu membuat Jack semakin kesal lagi.
“Kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya Jack lagi.
Si Mesum masih diam dan malah membuang angin.
“Sial! Dasar mesum menjijikkan,” ucap Jack yang akan pergi dari dapur.
“Hei!” Akhirnya Si Mesum berbicara. “Katakan saja jika kau ingin aku membunuhmu, maka aku akan lakukan itu sekarang juga.” Si Mesum menantang Jack.
Saat Si Mesum akan pergi,
“Dasar, Bajingan!”
*PYAAR!!! Jack membanting gelas kaca ke dinding tepat di samping Si Mesum yang akan pergi. Jack berjalan mendekati Si Mesum dan menutup jalannya agar tak kembali.
__ADS_1
“Bunuh aku! Kau bilang ingin membunuhku, cepat bunuh aku, Bajingan! Ayo, lakukan itu! Kau pikir aku takut?”
Si Mesum hanya tertawa dan mengepalkan tangannya. Dia tak mungkin akan berani melukai Jack karena dia tak membawa senjata apapun, ditambah dengan tubuhnya yang sangat kurus, tak sebanding dengan Jack.
“Ayo! Lakukan itu! Apa kau banci? Hhhh. Bahkan aku akan memakan jantungmu, sebelum kau dapat menyentuhku,” Jack terus menggebu-gebu di pagi itu.
“Hahahahahaha.” Si Mesum hanya tertawa, lalu pergi meninggalkan Jack.
“Hei! Dasar gila!” Jack menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya kembali. Dia mengurungkan niatnya untuk mengejar Si Mesum, karena hanya akan menambah masalah.
Si Autis keluar dari kamarnya, saat Jack masih terbawa oleh emosinya. Kamar Si Autis dekat dengan dapur dan melihat Jack sambil cekikikan dan menggaruk punggungnya menggunakan ujung hanger.
“Xixixixix. Ada apa ini? Sepertinya ada hal menarik disini.”
“Apa maumu? Tutup mulutmu, dasar Idiot. Kenapa kau terus tertawa?” ucap Jack kesal.
Si Autis berhenti dari menggaruk punggung dan berkata, “Kenapa… Baru saja.. Barusan kau menyebutku idiot?” Si Autis berteriak dan akan menyerang Jack dengan hanger.
Jack sudah memasang kuda-kuda bersiap untuk menghindar dan memberi Si Autis pukulan balik.
“Apa lagi ini? Kau mau apalagi? Kalian berdua ingin melawanku? Hhh. Baiklah, maju!” Kali ini Jack sudah emosi dan tak bisa tinggal diam begitu saja. Dia sudah sangat geram dengan semua penghuni di gedung itu.
“Ada apa ini?” Rocky datang dari lorong berjalan menuju dapur. Dia mengambil sebotol air putih miliknya dari kulkas, lalu meminumnya.
Si Kembar hanya terdiam dan tak berani melakukan apapun saat melihat Rocky. Roy sangat berharap Rocky akan membantunya untuk segera menyelesaikan Jack disana, tapi tak sesuai harapan Roy.
“Bagaimana, Jack? Apa kau ingin melakukannya sekarang?” tanya Rocky. “Apa maksudmu?” sahut Jack.
“Mengobrol. Tampaknya kau lupa lagi. Bukankah kita sudah bersepakat untuk mengobrol, kemarin?” Rocky berjalan mendekati Jack.
“Astaga. Kenapa masih disini?” ucap Rocky. “Apa kalian masih ada urusan? Bolehkan aku mengobrol dengannya?” tanya Rocky pada Roy.
“Baiklah, sepertinya ini sudah tak menarik lagi. Kita sudahi saja. Tampaknya semuanya hanya sedikit tegang,” jawab Roy. Roy menggaruk-garuk kepalanya dan berpikir, kenapa Rocky tak membantunya.
“Karena kau selalu berbicara aneh seperti itu, orang lain pun bisa jadi salah paham, begitupun dengan penghuni kamar 313 ini,” lanjut Rocky menatap Roy.
“Hhh. Sepertinya kau yang lebih aneh, Pak!” ucap Roy kesal dengan Rocky.
__ADS_1
Perlahan Rocky berjalan membelakangi Jack, mendekati Roy. Rocky menatap Roy dengan tatapan dinginnya. Kini Rocky sudah berdiri tepat di depan Roy, hanya berjarak beberapa cm.
“Kau pikir aku sedang bercanda, karena aku selalu bersikap baik?” ucap Rocky lirih, agar Jack tak mendengarnya. “Bagaimana? Apa kau sudah yakin ingin melawanku?”
Roy sangat kesal dengan itu. Dia sangat ingin melawan Rocky, tapi tak mempunyai keberanian atau kemampuan apapun. Dia pun juga sudah muak menjadi budak Rocky selama ini.
Tubuh Roy bergetar dan menggertakkan giginya, tapi dia tak bisa melakukan apapun.
“Kau… Berhentilah. Jangan cemberut seperti itu. Kalau kau tersenyum, kebahagian akan datang padamu. Kita semua harus tertawa bersama. Cepatlah minta maaf padanya,” ucap Si Autis mendengar ucapan Rocky.
“Maafkan aku. Aku hanya sedikit bosan.” Roy menunduk, lalu pergi dengan kembarannya.
“Baiklah, Jack. mari kita pergi.” Melihat Si Kembar pergi, Rocky pun mengajaknya untuk pergi dari dapur. “Ya, tentu,” jawab Jack.
Mereka berdua pun pergi ke atap gedung untuk berbicara, alih-alih Rocky memisahkan pertikaian yang terjadi.
Di atap gedung, mereka melihat pemandangan dari tempat itu. Hari itu adalah hari libur. Mereka berdua berdiri dan memandangi langit dan matahari yang mulai muncul.
“Wah, sepertinya pagi ini akan sedikit lebih panas dari sebelumnya, bukan begitu?” Rocky menarik nafas panjang, menghirup segarnya udara di pagi itu.
“Apa yang ingin kau katakan?” Jack menatap Rocky. “Bukan apa-apa. Aku hanya ingin memisahkan saja,” jawab Rocky.
Rocky menatap Jack dan bertanya, “Omong-omong, kenapa kalian bertengkar? Kulihat kau sangat emosi tadi.”
“Itu karena dia berkata, bahwa dia ingin membunuhku. Si Mesum tolol itu.” Jack masih kesal dan berusaha untuk mengendalikan emosinya yang menggebu-gebu.
Rocky menganggukkan kepalanya dan, “Dia memang agak aneh. Bibi Eli berkata, dia menjadi seperti itu karena dia gagal saat berbisnis di tiongkok,” jelasnya.
“Namun, sepertinya dia memakimu hari ini, mungkin karena semalam kau mabuk dan mengamuk.”
“Apa?” Jack terkejut. “Kenapa dia berkata bahwa aku mabuk?” gumam Jack dalam hati, menatap Rocky.
“Ah, tampaknya kau tidak ingat. Semalam kau mabuk, lalu berteriak dan memaki di lorong, mengetuk semua pintu dan membuat onar.”
“Hhhh. Aku? Aku berbuat seperti itu?” tanya Jack yang masih tak percaya. “Kalau kau tak percaya, kau bisa memeriksa rekaman CCTV. Semuanya pasti terekam disana.”
Jack masih melotot dan tak percaya. Dia pun bergegas pergi, turun dari atap dan memeriksa CCTV.
__ADS_1