SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 032


__ADS_3

Rocky hanya mengangguk dan berkata, “Hmm. Baiklah, aku paham sekarang. Setelah mendengar ceritamu, mungkin aku juga akan bereaksi sepertimu.”


“Omong-omong, Jack.” Rocky menatap Jack yang berdiri di sampingnya. “Apa kau benar-benar ingin membunuhnya, tadi?” “Apa?” Jack terkejut dengan pertanyaan Rocky. “Benar bukan?” lanjut Rocky.


Tangan Rocky menyangga tubuhnya di pagar dan terus menatap Jack. “Orang yang selalu membuka pintu kamar dan menonton video porno, sampah masyarakat itu masuk ke dalam kamarmu.”


Sepertinya Rocky benar-benar dapat melihat perilaku dan emosional seseorang, karena perkataannya yang hampir, bahwa Jack sangat ingin memukuli Si Mesum.


“Kau merasa sangat merinding saat membayangkan dia menyentuh barang-barangmu dengan tangan kotornya.” Rocky kembali menebak dan memperagakan Si Mesum menyentuh barang Jack.


Jack hanya diam dan berpikir keras, atas apa yang dikatakan Rocky kepadanya. Dia tak bisa berkata apapun saat itu.


“Kau merasa tidak cocok disini, bukan? Kau berkata dalam hatimu, ‘Aku berbeda dengan mereka.’”


“Namun, sebenarnya kau sangat khawatir. Bagaimana jika kau menjadi seperti mereka? Atau, apakah kau akan menjadi seperti mereka jika tinggal di tempat ini?”


Jack semakin tak bisa berkata-kata mendengar semua perkataan Rocky yang seolah-olah dapat membaca apa yang ada di pikiran Jack.


*KRING!!!!


Ponsel Jack berdering. Jack mengambil ponselnya dari dalam saku dan melihat, siapa yang menelponnya.


Rocky kembali berdiri tegak dan berkata, “Jangan khawatir, Jack. Kau berbeda dari mereka. Itu karena kau bisa melakukan apapun dan kapanpun jika kau membulatkan tekad dan bersungguh-sungguh.”


“Maafkan aku. Jika kau sudah selesai, aku akan pergi untuk mengangkat telepon ini,” Jack mendapat alasan untuk pergi karena mendapatkan telepon.


“Ya, baiklah,” ucap Rocky yang melihat Jack pergi dari atap.


Jack berjalan menuju tangga dan akan kembali ke kamarnya.


“Halo, Tante! Ada apa? Aku sudah mau tidur.”


Ternyata itu panggilan dari Tante Jack. Jack sudah lama dirawat oleh Tantenya sendiri sejak ia menjadi yatim piatu dari umur 15 tahun.


“Astaga. Apa kau punya uang, Jack?” tanya tante Jack dari telepon. “Uang? Untuk apa?” tanya balik Jack.


“Anakku sedang sakit kejang, dan aku belum mendapatkan gaji bulananku. Dia baru masuk UGD, tapi biaya rumah sakitnya sangatlah mahal.”


“Apa penyakitnya parah?” tanya Jack. “Tidak juga. Dia hanya terjatuh dan sedikit tergores, lalu syok sehingga dia kejang-kejang.”

__ADS_1


“Astaga.” Jack kembali menghela nafas panjang. “Perlu berapa banyak, Tante?” “Mungkin sekitar 200 atau 300 dolar,” jawab tante Jack. “Katakan saja dengan jelas, Tante! Berapa itu?” ucap Jack kesal.


“Sudahlah. Aku akan mengirimnya lewat m-banking ke rekeningmu. Aku sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Sudah dulu ya, Tante.”


“Baiklah, Jack. Terimakasih banyak. Tante minta maaf jika telah mengganggu waktu tidurmu.”


Jack pun mematikan sambungan teleponnya.


Jack menghentikan langkahnya di anak tangga. Dia membuka saldo rekening dari M-bankingnya.


Saldonya rekening Jack tersisa 2.500 dollar. Dia berniat mengirim hanya 200 dollar saja. Akan tetapi, ia berpikir, bahwa tantenya adalah orang yang mengurus Jack sejak kecil.


Dia mengurus Jack semenjak orangtuanya meninggal dan menjadi yatim piatu. Jack merasa sangat berhutang budi padanya.


Jack pun memutuskan untuk mengirim 500 dollar kepada tantenya itu. Transaksi pun berhasil dilakukan.


“Astaga. Tak apa, mungkin aku hanya bisa memberinya sedikit untuk membalas budi,” gumam Jack.


***


Di dalam kamar Jack, terlihat dia yang sudah bersih, setelah mandi membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


“Dia terlihat seperti orang yang sangat ramah, tapi ternyata dia cukup menyebalkan. Dari caranya tersenyum, berbicara seperti cenayang, dan menatapku seperti itu. Astaga. Aku sangat kesal hari ini.”


Jack mematikan lampu kamarnya, menggantinya dengan lampu tidur, lalu merebahkan dirinya di atas kasur.


Sungguh hari-hari yang membosankan bagi Jack. Dia hanya pergi ke kantor, kembali ke kosnya, lalu menulis melanjutkan novelnya. Seperti itu terus kehidupan yang ia jalani.


Baru beberapa menit Jack terlelap, dia kembali bermimpi yang buruk. Di dalam mimpinya, Jack melihat dirinya sendiri sedang memukuli Si Mesum dengan membabi buta.


Si Mesum babak belur dengan kondisi wajah yang tak membentuk seperti wajah lagi. Tulang hidungnya patah, giginya rontok, serta mata dan jidat yang membenjol.


Jack juga melihat semua penghuni di tempat tinggalnya melihatnya memukuli Si Mesum.


Begitupun dari semua orang yang pernah membuatnya kesal. Mulai dari Winson, Mike di tempat kerjanya, hingga semua penghuni SALOKA RESIDENT.


Semua perkataan orang-orang itu masuk ke dalam mimpi buruk Jack.


***

__ADS_1


TING!!!!!


Tepat pukul 06.30 pagi, alarm ponsel Jack berbunyi dengan keras. Membuat Jack langsung terbangun dari tidurnya.


Begitupun dengan semua orang penghuni di gedung itu. Mungkin saja mereka akan terbangun karena mendengar alarm Jack yang berbunyi.


Jack duduk di atas kasur dengan mata yang masih berat karena mengantuk. Dia menggerakkan tubuh dan tangannya.


“Astaga. Kenapa aku bermimpi buruk lagi? Sejak tinggal disini, aku sering mengalami mimpi buruk.”


Jack beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas untuk mandi.


Sesampainya di kamar mandi, Jack masuk ke dalam kamar mandi paling ujung dan mengguyur seluruh tubuhnya, setelah melepas semua pakaiannya.


Saat Jack sedang menggosok tubuhnya dengan sabun, Si Autis datang dengan cekikikan ke toilet dan melihat Jack yang berada di tempat itu.


Jack menatap Si Autis, “Apa mungkin dia yang masuk ke dalam kamarku?” batin Jack terus menatap Si Autis.


“Kenapa kau terus menatapku seperti itu? Aku jadi malu,” ucap Autis yang masuk ke dalam kamar mandi di sebelah Jack.


“Diamlah, Idiot! Apa kau tak bisa diam?” gumam Jack dan mengabaikan Si Autis.


30 menit Jack selesai mandi dan mengganti pakaiannya dan siap untuk bekerja.


Kini Jack berada di tempat parkirnya, lalu mencoba menelpon Jane untuk menceritakan kejadian semalam yang dialaminya. Jack hanya mempunyai dan mempercayai Jane untuk tempatnya bercerita dan berkeluh kesah.


“Halo, Sayang!”


“Halo, Jane. Apa kau sudah berada di tempat kerja? Semalam ada orang yang masuk ke dalam kamarku. Bahkan rekaman CCTV pun menunjukkan….”


“Sayang! Jika tak terlalu penting, bisakah kita bicara nanti? Aku sedang berada di kantor dan rapat bersama atasanku. Mari kita bicara lagi nanti,” ucap Jane yang sepertinya juga memiliki banyak urusan di kantornya.


Jane pun memutuskan sambungan telepon. Jack merasa sedikit kecewa dengan jawaban Jane.


Akan tetapi, Jack dapat memaklumi bahwa Jane mungkin juga mempunyai urusan yang lebih penting di kantornya, daripada cerita yang disampaikannya.


Jack masih kepikiran dengan Jane yang sepertinya memiliki banyak masalah di kantornya. Ia pun mengirimi pesan pada Jane via Whatsapp.


“Apa kau baik-baik saja, Jane? Apa ada masalah?”

__ADS_1


__ADS_2