
“Jack!!!”
Yohan memanggil Jack dengan keras saat dia sedang bercerita dan menyumpahkan semua penghuni di gedung itu. Yohan melihat Rocky yang berjalan dari belakang Jack, mendekatinya.
“Kenapa? Apa?” tanya Jack bingung. “Lihat itu!” ucap Yohan lirih melihat ke belakang Jack.
Jack pun menoleh ke belakang dan mendapati Rocky yang sedang berjalan kearahnya.
“Lihat itu! Betapa menyenangkannya saat kau mengeluarkan semua isi hati dan pikiranmu, benar bukan?” ucap Rocky yang terus mendekati Jack.
Jack hanya bisa terdiam dan memalingkan mukanya sambil melangkah mundur mepet pada pembatas pagar atap. Dia sangat malu, karena sepertinya Rocky mendengar Jack telah membicarakannya.
“Jika ada orang yang ingin kau benci, maka bencilah. Jika ada orang yang ingin kau maki, makilah sepuasmu. Jika ada orang yang ingin kau bunuh, bunuhlah.” Rocky memperagakan seolah dia akan menusuk Jack.
“Itulah keberanian yang sesungguhnya.” Rocky tersenyum sinis pada Jack.
Jack hanya diam dan terus memalingkan wajahnya dari Rocky. Dia terus berusaha menjauh, tapi dia sudah berada tepat di pinggir pagar pembatas atap.
“Hahahaha. Hati-hati, Jack. Kau bisa terjatuh.” Rocky menepuk-nepuk bahu Jack, lalu pergi dari atap gedung.
“Sial!” umpat Jack kesal. “Dia pasti mendengar semuanya.” “Ya, tampaknya begitu Jack,” sahut Yohan.
“Astaga.” Jack masih dipenuhi rasa kesal dan malu pada Rocky.
“Dia terlihat tampan dan sangat baik, tapi ada beberapa hal yang membuatku merinding,” ucap Yohan.
“Benar, kan? Sudah kubilang jika dia aneh. Ah, sudahlah. Jangan membahas orang itu lagi.”
“Omong-omong, apa kau sudah mandi?” “Belum, kenapa?” Yohan mencium bau pakaiannya, dia berpikir bahwa Jack mencium bau tak sedap darinya.
“Jika belum, mari kita mandi dan beristirahat. Belakangan ini aku sangat gelisah, bahkan saat aku membuka mata setelah keramas. “Baiklah, lalu beristirahat.”
***
Tiga puluh menit berlalu. Jack dan Yohan telah selesai mandi, lalu Yohan pergi ke kamarnya lebih dulu.
__ADS_1
Saat Jack akan kembali ke kamarnya, dari ujung lorong pintu keluar kamar mandi, Jack melihat Si Mesum yang lagi-lagi membawa pisau dan berusaha membuka pintu kamarnya.
Kali ini dia tak emosi. Jack malah bersembunyi di balik dinding ujung lorong. “Sial! Si Mesum itu membawa pisau lagi. Apa yang dia inginkan dari kamarku?”
“Wah, aku harus memotretnya dahulu, lalu mengirimkannya ke kantor polisi. Itu lebih baik daripada aku harus menghajarnya disini,” gumam Jack dalam hati.
Jack mengeluarkan ponselnya, lalu berusaha mengambil gambar dari tempatnya.
“Jack! Sedang apa kau disitu?” Tiba-tiba Eli datang dari arah dapur dan mengacaukan semuanya. Jack hampir terkejut dan ponselnya hampir terjatuh. “Astaga, apa yang kau lakukan?” Eli berjalan mendekati Jack.
Saat Jack melihat ke arah kamarnya, Si Mesum sudah tak lagi berada di depan kamarnya. Jack sangat kesal dengan itu.
“Telur ini. Aku tidak bermaksud memakannya sendiri. Telur ini sudah matang sempurna, apa kau mau?” Eli menawarkan telur yang sedang dibawanya.
“Kenapa? Apa yang kau lihat?” tanya Eli melihat Jack yang kesal.
“Nyonya Eli! Astaga, kau mengacaukan semuanya.” Jack membentak Eli karena sangat kesal dengannya.
“Ada apa, Jack?” tanya Yohan yang baru keluar dari kamarnya. “Hei, Yohan.” Jack berjalan mendekati Yohan.
“Sial! Ini sudah keterlaluan. Si Mesum itu tadi membawa pisau dan berdiri di depan kamarku. Aku melihatnya dengan jelas dia berusaha membuka pintu kamarku.” “Benarkah?” tanya Yohan.
“Saat aku berusaha memotretnya, Nyonya Eli datang dan memanggilku, sehingga membuat Si Mesum itu kabur dan aku tak bisa mendapatkan gambarnya.” Jack terus ngedumel di lorong itu.
“Apa yang sedang kau bicarakan, Jack? Hhh. Maksudmu, karena aku kau jadi tak bisa menangkapnya?” ucap Eli.
“Nyonya Eli! Kenapa kau muncul tepat di saat itu? Kalau bukan karenamu, aku mungkin sudah dapat memotretnya untuk bukti. Astaga, seharusnya aku sudah mendapatkan bukti sekarang.”
“Benarkah?” tanya Eli. “Ya,” jawab Jack. “Apa kau yakin?” “Ya.” “Kau dapat menjamin?” “Apa?” Jack bertanya balik dan menatap Eli yang terus bertanya padanya.
“Katakan, apa kau dapat menjaminnya?” Eli berteriak dan menatap Jack dengan serius.
Jack menghela nafasnya dan, “Kau dapat melihat ke kamarnya. Aku yakin dia menyimpan pisau. Kau bisa buktikan disana ada pisau atau tidak.” Jack menunjuk kamar Si Mesum.
Eli berjalan cepat menuju kamar Si Mesum dan menggedor-gedor kamarnya dengan kencang. Begitupun dengan Jack dan Yohan yang mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
*PLASSS!!!!
Eli langsung menampar wajah Si Mesum, begitu dia membuka dan keluar dari kamarnya. Seluruh telur dan makanan yang dibawa Eli pun berjatuhan, saat menampar Si Mesum.
“Apa yang kau lakukan? Apa kau tahu betapa takutnya penghuni disini karena ulahmu? Sewa terlambat, dan kau tempel foto wanita telanjang sebanyak ini.”
“Apa kau tahu betapa tidak nyamannya mereka disini karenamu?” Eli terus memaki dan berteriak kepada Si Mesum.
Karena Eli berteriak cukup kencang, Si Autis pun berjalan keluar dari kamarnya dengan cekikikan dan melihat keributan yang sedang terjadi.
“Kau tersenyum? Beraninya kau tersenyum saat aku berbicara denganmu,” ucap Eli melihat Si Mesum yang malah tersenyum saat dia memarahinya.
“Kau memukulku terlalu keras. Apa ada hal yang mengecewakanmu?” tanya balik Si Mesum.
“Coba geledah kamarnya, aku yakin disana ada pisau,” ucap Jack.
“Hei, kau! Cepat geledah kamarnya!” Eli menyuruh Si Autis untuk menggeledah.
“Xixixixi. Baiklah, aku akan melakukanya.” Si Autis pun masuk ke dalam kamar Si Mesum dan mulai menggeledah.
“Jack, bagaimana kalau ternyata tidak ketemu?” ucap Eli. “Apa maksudmu, Nyonya?” tanya balik Jack.
“Sial! Apa telingamu tersumbat? Bagaimana kalau tidak ada pisau disini?” “Mana mungkin? Aku yakin pasti ada,” ucap Jack sangat yakin.
“Lihatlah! Karena kau seperti ini, semua orang menjadi tak bisa tidur. Apa-apaan kau?” Eli memarahi Jack. “Karena aku?” gumam Jack lirih.
“Bagaimana kalau ini hanya salah paham dan salah duga? Bagaimana kau akan memperbaikinya?”
Jack menarik nafas sedalam-dalamnya, mengatur nafas dan emosinya agar tetap tenang.
“Apa kau benar-benar melihatnya, Jack?” bisik Yohan disebelah Jack. Jack hanya diam dan mengangguk.
Beberapa saat kemudian, Si Autis pun telah selesai menggeledah kamar Si Mesum.
“Aku sudah menggeledah semuanya, tapi aku tak menemukan apapun itu,” ucap Si Autis. “Benar, kan? Jika ada, pasti sudah ketemu,” sahut Eli.
__ADS_1
“Minggir kau, Idiot!” Jack mendorong Si Autis yang berdiri menghalangi pintu, lalu menyerobot masuk ke dalam kamar Si Mesum.
Jack masih tak percaya dan ingin mencarinya sendiri. Tanpa diketahuinya, Si Autis ternyata berbohong. Dia sudah mengambil pisau milik Si Mesum dan menyembunyikannya di balik kaos, saat Jack tak melihat.