
Di toilet restoran, Jack berada di kloset duduk dan membuang muntahannya ke dalam kloset.
Saat Jack membasuh tangan dan mulut, tiba-tiba Winson datang dan langsung melabraknya. Mengomelinya di toilet itu.
“Saat aku melihat orang sepertimu, aku langsung mengetahui,” ucap Winson dari belakang Jack.
Jack masih membiarkannya dan membasuh tangan dan mulutnya.
“Saat aku berada di kampung halamanku, aku mempunyai teman yang sama persis sepertimu. Di luar dia terlihat seakan normal dan biasa, tapi dibelakang dia membicarakan hal buruk tentang orang lain”
Jack berdiri tegak menatap dirinya dari cermin wastafel.
“Meski kau ahli menarik simpati orang lain dengan wajah tampanmu, tapi itu tak berlaku untukku.”
Winson terus ngedumel yang membuat Jack sangat emosi. Jack membalikkan badan. Menatap Winson dengan tajam.
“Hei, Babi Hutan! Apa kau bisa diam? Apa maksudmu berkata seperti itu?” ucap Jack.
Tanpa menjawab pertanyaan Jack, Winson pergi meninggalkan di toilet. Entah apa maksud Winson melakukan itu pada Jack.
Mungkin dia takut, dan mungkin juga dia memancing amarah Jack padanya.
Jack menghela nafas panjang, lalu kembali menghadap cermin. Jack menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya ke wastafel yang ada, lalu,
*BRAK BRAK BRAK!!!!!
“Haruskah kubunuh bajingan itu? Ha?”
Jack memukul wastafel dengan kedua tangannya dan menatap dirinya sendiri di kaca.
Matanya memerah dan menggertakkan giginya sendiri. Adrenalinnya memuncak dan sangat ingin menghabisi Winson, karena membuatnya emosi.
Selain mempunyai emosi yang setipis tisu, Jack juga memiliki adrenalin yang sangat tinggi. Dia tak segan-segan untuk melukai orang dan bahkan membunuhnya, jika orang itu membuat Jack emosi.
Jack menghela nafas panjang, menenangkan dirinya, lalu kembali ke meja makan, bergabung dengan teman-temannya.
“Apa kau baik-baik saja, Jack?” tanya Mike melihat Jack yang kembali dari toilet.
“Ya, tentu. Aku hanya merasa sedikit mual, karena makan ramen yang sangat pedas semalam.”
__ADS_1
“Astaga, Jack. Kau tak boleh sering-sering makan mie instan. Aku sangat sedih melihatmu tinggal di SALOKA RESIDENT. Aku tak ingin melihatmu sakit disana. Apa kau ingin keluar mencari udara segar?”
Jack kembali menatap Mike, lalu memalingkan wajahnya kembali. Jack sangat tak menyukai saat Mike harus berbicara tentang tempat tinggalnya itu.
Hal itu membuat Jack merasa kesal karena ia harus mengingat semua penghuninya yang sangat aneh.
“Seperti katamu sendiri. Ventilasi di sana sangatlah buruk. Tak ada jendela dan matahari pun tak dapat masuk ke dalam. Begitu udara dari luar masuk, dia tak akan pernah bisa keluar lagi.”
Mike terus menerocos tanpa mengetahui bahwa Jack sangat kesal mendengar hal itu.
Mereka menikmati makanan yang masih tersisa, sesekali dengan bercanda satu sama lain.
Setelah menghabiskan semua makanan, mereka memesan es krim untuk makanan penutup, lalu pergi kembali ke kantor.
Jika melihat sekilas, mereka seperti seperti sebuah pertemanan kecil atau keluarga yang sangat bahagia, daripada hanya sebatas rekan kerja dan CEO.
Mereka berjalan kaki bersama untuk kembali ke kantor yang tak jauh dari restoran itu.
Di tengah-tengah perjalanan, Mike menyuruh para karyawannya untuk kembali ke kantor, agar ia mengobrol dengan Jack secara empat mata.
“Kalian boleh pergi dulu, aku ingin berbicara dengan Jack,” ucap Mike yang terus menikmati es krimnya.
“Wah, apa-apaan ini? Apa persaudaraan?” celetuk Kim yang berjalan pergi meninggalkan Mike.
Jack dan Mike mengobrol di pinggir jalan yang cukup sepi, berjarak 50 meter dari gedung kantornya.
Mike menghabiskan sisa es krimnya dan menunggu Jack yang masih berjalan di belakang.
“Apa kau baik-baik saja, Jack? Kau sedang tak enak badan? Kau perlu izin untuk pulang?” ucap Mike memperdulikan kondisi Jack. “Tidak perlu. Aku hanya sedikit mual.” jawab Jack.
“Astaga. Kau masih sangat muda, tapi kau sangat lemah. Apa yang kau makan di kosmu, SALOKA RESIDENT? Kau tak boleh terlalu sering mengkonsumsi makanan instan. Itu tak baik untuk kesehatanmu.”
“Kak! Berhentilah membicarakan tempat tinggalku, SALOKA RESIDENT di depan orang lain,” ucap Jack dengan sungguh-sungguh.
“Sial! Kenapa es krim ini menetes terus?” Mike mengusap tangannya dengan sapu tangan. “Kenapa begitu, Jack? Apa kau malu?”
“Bukan begitu. Hanya saja…”
“Hei, dengarkan aku, Jack. Orang yang baru mulai bekerja, biasanya memulai dengan tempat tinggal yang buruk dulu. Setelah itu…”
__ADS_1
“Tolonglah, Kak. Jangan di depan banyak orang, saat kau berbicara tentang SALOKA RESIDENT,” Jack mengulangi perkataannya karena ia sangat membenci hal itu.
“Mungkin kau belum pernah merasakan atau mungkin tak akan pernah tinggal di tempat itu sama sekali,” lanjut Jack dengan nada sedikit kesal.
“Apa?” Mike menghela nafas. “Kenapa nada bicaramu seperti itu?” Mike pun akhirnya kesal dengan Jack yang terlalu sensitif.
“Astaga, sial! Ini sangat menjijikkan. Aku tak bisa lagi memakan nya.” Mike membuang Es krim di tangannya yang sudah mulai mencair.
“Maafkan aku, Kak. Sepertinya aku kurang sehat,” ucap Jack yang melihat Mike mulai kesal padanya.
“Dengarkan aku, Jack! Sebaiknya kau harus memisahkan urusan pribadimu dan urusan kerja. Saat di kantor, aku adalah bos dan kau adalah karyawanku.”
“Kau harus menjaga sikapmu. Apa kau pernah melihat pegawai yang berkata ketus kepada bosnya?”
“Bukan begitu, Kak.”
“Bukankah sudah kubilang padamu? Jangan terus memanggilku, Kak, saat kau berada di kantor,” tegas Mike yang kesal karena melihat Jack yang terlalu sensitif.
Seperti itulah mereka semenjak dahulu. Dua orang sahabat yang selalu berdebat dan belum memahami satu sama lain
“Itulah sebabnya kau tak bisa mengontrol emosimu, Jack.” Mike menghela nafas panjang. “Astaga, ini sangat menyebalkan.” Mike pun pergi meninggalkan Jack.
***
Di SALOKA RESIDENT, ruangan bawah tanah basement tepatnya.
Eli bersama Si Mesum sedang menyekap seorang wanita yang seumuran dengan Eli.
Wanita itu adalah salah satu teman Eli yang berada dalam panti asuhan yang sama saat mereka masih kecil.
Eli sengaja mengajaknya ke SALOKA RESIDENT untuk mengobrol sejenak, tapi Eli memberinya obat tidur dan menyekapnya di lantai 2, lantai gedung yang kosong. Wanita itu bernama Elsa.
Eli memiliki dendam pribadi kepadanya yang telah ia simpan sejak ia kecil, lalu menggunakan semua penghuni kosnya untuk membalaskan dendam pribadinya.
Seluruh tubuh Elsa diikat di papan dengan keadaan berdiri dan lakban besar yang mengikat semua badannya, dari ujung kaki hingga dada.
Eli berdiri tersenyum di depan Elsa, sedangkan Si Mesum duduk di atas bangku kecil di samping Elsa.
Si Mesum membawa sebuah pisau daging berukuran jumbo dan sedang mengasahnya di sebuah papan asah.
__ADS_1
Jantung Elsa berdetak kencang saat terbangun dan melihat kondisinya sudah seperti itu. Dia mengeluarkan banyak keringat karena ngos-ngosan.
“Astaga. Apa kau sedang berolahraga? Lihatlah, kau mengeluarkan banyak keringat,” ucap Eli tersenyum dan menyeka keringat di dahi Elsa.