
“Kurasa itu lebih baik, Jack,” ucap Rocky sebelum Jack menuruni tangga. “Apa maksudmu?” Jack menoleh pada Rocky.
Rocky berjalan mendekatinya dan, “Daripada hidup dengan menahan emosi, ucapkanlah apa yang ingin kau ucapkan dan bertindaklah sesuai keinginanmu. Itu lebih manusiawi menurutku.”
Jack terdiam dan melihat Rocky, berpikir kenapa Rocky dapat membaca pikirannya.
“Aku akan turun dulu. Turunlah saat kau merasa lebih tenang.” Rocky menepuk pundak Jack, lalu pergi menuruni tangga.
Jack terdiam seperti orang ling-lung dan memikirkan apa yang telah terjadi sebenarnya.
*TINGG!!! Ponsel Jack berbunyi. Notif pesan whatsapp dari Jane masuk. Dia membuka ponselnya di saku, lalu membaca pesan itu.
“Sayang, muncul berita buruk kemarin dari kantor setelah aku pulang dan melihat tayangan TV, bagaimana kalau kita bertemu nanti sore atau malam saja.”
“Tentu, Jane. Selesaikanlah semua pekerjaanmu dahulu. Sampai bertemu nanti malam.”
Setelah membalas pesan Jane, Jack turun dan pergi ke ruang Eli untuk melihat rekaman CCTV.
Di ruangan Eli, Jack memanggil Eli dan masuk ke ruangannya.
“Nyonya, Eli!” “Ya, masuklah, Nak,” sahut Eli dari dalam ruangannya.
“Bolehkah aku melihat rekaman CCTV?” “Astaga. Kau ingin melihatnya lagi?” tanya Eli.
“Bukan begitu. Itu karena penghuni kamar 314 berkata bahwa aku membuat onar semalam. Aku hanya ingin memastikannya. Tadi malam aku benar-benar tak mengingat apapun,” jelas Jack.
“Wah, kau yakin ingin melihatnya?” tanya Eli. “Ya, tentu.”
“Kalau begitu, kemarilah.”
Jack duduk disebelah Eli dan melihat layar monitor yang merekam kejadian di lorong semalaman.
Jack melihat dirinya sendiri sedang mabuk dan berteriak-teriak di lorong. Dia juga berdiri di depan kamar Si Mesum dan mengajaknya untuk berduel.
Dan saat Si Autis keluar dari kamarnya, Jack berlari menuju kamar Autis, lalu berteriak, menyuruh Si Autis untuk keluar, karena Si Autis langsung kembali masuk ke dalam kamarnya, saat melihat Jack berlari ke arahnya.
Jack juga melihat Eli dan Rocky yang berusaha untuk menenangkannya saat itu. Dia juga menunjuk-nunjuk Rocky saat berusaha memisahkanya, dan seperti berkata sesuatu.
__ADS_1
Akan tetapi, Jack tak bisa mengingat atau mendengar dari layar monitor, apa yang dia katakan, karena kamera CCTV tak bisa merekam suara secara langsung.
Jack menggaruk-garuk kepalanya dan semakin ling-lung, karena tak menyadari apa yang telah ia perbuat semalaman.
“Apa-apaan ini? Astaga. Kenapa aku melakukan itu?” ucap Jack kebingungan.
“Hahahaha. Apa kau baik-baik saja?” tanya Eli yang tertawa. “Astaga. Hal itu sudah biasa. Seorang pria yang mabuk bisa berbuat lebih gila dari itu.”
“Tunggu… Nyonya Eli. Aku… Bisakah aku mengambil separuh uang sewanya? Tiba-tiba saja ada urusan mendadak yang membuatku harus pindah dari sini.”
Jack memutuskan untuk pindah dan mengambill uang sewanya yang sudah dibayar satu bulan penuh.
“Wah, tiba-tiba saja? Kenapa kau ingin pindah?” tanya Eli. “Aku ingin pindah di dekat kantor, disini jaraknya cukup jauh dari kantorku,” jelas Jack.
“Ah, sudahlah. Aku sangat pusing.” Jack menggaruk-garuk kepalanya. “Aku permisi dulu.” Jack pun pergi dari ruang Eli.
***
Sore hari pun tiba. Di dalam kamarnya, Jack sudah berdandan rapi dan bersiap untuk bertemu dengan Jane.
Setelah mengunci pintu kamarnya, Jack pun berjalan melewati lorong. Lagi-lagi Jack melihat Si Mesum yang berada di dalam kamarnya dengan pintu terbuka.
Si Mesum sedang memutar video porno di layar monitornya. Dia duduk menghadap monitor dan memotongi poster dan foto-foto wanita berpakaian bikini, dan bahkan foto wanita tanpa busana.
Entah darimana Si Mesum mendapatkan poster dan foto itu.
“Astaga. Dia benar-benar sampah. Sampah yang sesungguhnya,” gumam Jack dalam hati.
Jack pun melanjutkan langkahnya untuk segera pergi dari gedung itu.
Di bawah gedung, Jack sudah melihat motor rentalnya terparkir di tempat parkir. Dia yakin bahwa Mike lah yang sudah mengirimkan itu ke tempat tinggalnya.
Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Dia berjanji dengan Jane untuk bertemu jam 5 sore. Masih ada 2 jam waktu kosong yang tersisa.
Jack menggunakan 2 jam itu untuk berputar dan mencari kos-kos yang akan menjadi tempat tinggal barunya.
Jack menaiki motornya, lalu pergi ke tempat kos yang pernah didatangi, setibanya dia di New York.
__ADS_1
Akan tetapi, tetap saja. Semua pemilik gedung kos menyuruhnya untuk membayar uang di muka, dan Jack belum memiliki cukup uang untuk itu.
Dia harus memenuhi kebutuhan primernya dahulu, seperti makan dan minum.
Dua jam berlalu, Jack berada di sebuah taman, tempatnya berjanji bertemu dengan Jane.
Jack duduk sendirian di bangku taman dan melamun. Dia terduduk lesu dan bingung memikirkan semua masalah yang sedang dihadapinya.
Di satu sisi Jack sangat ingin pindah ke kos lain, tapi dia juga belum memiliki uang yang cukup untuk menyewa tempat tinggal di kota besar seperti New York.
“Apakah aku perlu meminta gaji di awal pada Mike? Setelah dikurangi semua pengeluaranku, sisanya pun tak sampai seribu dollar. Astaga, aku pusing,” gumam Jack dalam hati.
“Aku tak mungkin menyewa tempat tinggal dengan harga 400 perbulannya.”
Di bangkunya, Jack hanya menunduk dan melamun memikirkan hidupnya yang cukup berat.
Saat Jack mengangkat kepalanya, lagi-lagi dia melihat Rocky yang berdiri dari luar taman dan menatapnya dari kejauhan.
Tanpa mengedipkan mata, Jack berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekat.
Sebuah bus pariwisata melintas di pinggir jalan, menutup Rocky dari pandangan Jack.
Saat bus itu melintas, Jack sudah tak melihat Rocky yang berdiri di tempat itu.
“Wah, aku bisa gila jika terus seperti ini. Kenapa aku harus melihat pria itu lagi? Apa itu dia? Atau hanya aku yang berhalusinasi?” gumam Jack melihat sekeliling tempat Rocky berdiri sebelumnya.
“HAH!!” Jack terkejut karena Jane datang langsung memegang pundaknya, tanpa menyapanya dulu.
“Astaga, ternyata kau, Jane.” Jack menghela nafas. “Kau kenapa? Ada masalah?” tanya Jane.
“Sepertinya aku benar. Itu adalah pria yang tinggal di SALOKA RESIDENT,” ucap Jane kembali melihat ke tempat Rocky berdiri di luar taman. “Pria?” tanya Jane.
“Apa kau tidak bertemu dengannya kemarin? Pria kurus bertubuh jangkung itu. Rambutnya sedikit panjang sampai bahu, dengan kulit putih yang pucat. Dia juga mengenakan baju berlengan panjang setiap harinya.”
“Astaga. Tampaknya pria itu sering menonton film. Atau mungkin kau hanya melihat seorang yang mirip dengannya,” ucap Jane kesal karena Jack mulai heboh dengan cerita yang diulang-ulangi.
“Tunggu, Jane.” Jack kembali melihat sekitar luar taman. “Sebelumnya, dia juga pernah datang ke kantorku saat aku makan malam bersama para karyawan lain. Sepertinya dia mengikuti……”
__ADS_1