SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 046


__ADS_3

“Bukan begitu. Hanya saja kau terlihat aneh. Kau mengenakan pakaian lengan panjang saat musim panas. Apa mungkin kau takut menjadi hitam?” Yohan tersenyum menerka.


“Tidak. Itu karena aku memiliki luka di lengan.” “Oh, begitukah?” ucap Yohan.


“Mungkin kita dapat meminum bir, bersama para penghuni gedung ini, jika kalian mau.”


“Wah, apa kalian juga sering melakukannya di gedung?” tanya Yohan penasaran. “Tentu saja. Hanya ada beberapa sedikit orang di tempat ini. Semuanya seumuran, jadi, akan terasa lebih nyaman.”


“Wah, ide bagus. Aku setuju dengan itu.” Yohan tersenyum.


“Kalau begitu, aku permisi,” Rocky pun pergi meninggalkan Jack dan Yohan.


“Silahkan. Semoga harimu menyenangkan,” ucap Yohan melihat Rocky pergi menaiki tangga.


“Wah. Orang itu sangat tampan.” Yohan masih melihat Rocky berjalan pergi. “Begitupun denganmu, Jack. Kau juga tampan. Semua penghuni disini sepertinya tampan. Astaga. Aku sangat iri.”


Beberapa langkah Yohan berjalan, Jack masih berdiri dan melihat Rocky dari kejauhan.


“Jack!” Yohan memanggil karena Jack belum beranjak dari tempatnya. “Jack! Kenapa kau masih disana?”


Jack ling-lung dan melanjutkan langkahnya. “Jika kau tak ada janji temu hari ini, maukah kau melihat pertunjukanku?”


“Baiklah. Daripada aku berada di tempat ini. Lebih baik aku ikut dengannya,” gumam Jack dalam hati.


“Tentu, aku akan melihat pertunjukanmu. Ayo kita pergi.”


Yohan pun sangat senang dengan itu.


“Jangan menertawakanku, jika penampilanku buruk, Jack. Hahaha.” “Tentu tidak. Kenapa aku harus menertawakanmu.”


“Omong-omong, dimana lokasi pertunjukannya?” tanya Jack.


“Ikuti saja aku.”


***


Di sebuah taman pinggiran kota. Taman itu tak sepi dan juga tak cukup ramai.


Beberapa pasangan muda yang sedang berkencan, orang tua yang membawa anak-anaknya bermain di tempat bermain, membuat taman itu tampak lebih hidup lagi.


Yohan dan Jack berada di tengah-tengah taman. Yohan mulai menyalakan sound portable nya, lalu menyambungkan ke gitar.


“Disini, Jack. Aku akan melakukannya disini.”

__ADS_1


Jack mengangguk melihat sekitarnya.


“Lagu pertama yang akan kubawakan adalah, lagunya Justin Bieber, dan jika masih ada waktu, aku akan membawakan laguku sendiri yang telah kubuat.”


“Tampaknya baru pertama kalinya aku melihat seorang tampil di taman. Biasanya, aku melihat kebanyakan orang melakukannya di dalam kafe atau restoran,” ucap Jack heran.


“Aku sudah bosan tampil di kafe ataupun restoran. Aku hanya ingin mencari suasana baru agar aku tak merasa gugup. Aku tidak sehebat yang kau pikir, Jack. Kau cukup duduk dan dengarkan saja dengan santai. Hahahaha.”


“Duduklah di sana, Jack. Kau dapat melihatku dengan santai disana.” Yohan menunjuk bangku taman yang kosong dan menyuruh Jack untuk melihatnya dari bangku itu.


Jack tersenyum, lalu menuju bangku kosong itu.


Setelah Jack duduk, Yohan tersenyum padanya, lalu mulai bernyanyi.


Semua orang yang berada di taman mulai berdatangan, saat Yohan mulai bernyanyi.


Beberapa orang ikut bernyanyi dan beberapa lainnya menikmati suara Yohan yang sangat bagus untuk seorang musisi jalanan.


Setelah selesai, semua orang bertepuk tangan dan memberikan beberapa lembar uang, sebagai tips untuk Yohan.


Mereka semua merasa sangat terhibur dan senang mendengar suara Yohan yang merdu.


***


Klinik dokter itu bernama DEMASTER, dengan Rocky yang menjadi dokternya di tempat itu.


Ternyata Rocky sudah menjadi dokter langganan bagi Rose, setiap kali Rose ingin melakukan medical check up.


Sebelum Rose datang ke tempat itu, dia sudah berkeliling dan mencari tahu semua tentang penghuni SALOKA RESIDENT, terutama dengan Eli, Si Pemilik gedung itu.


Rose menemukan fakta bahwa, sebelum Eli mengelola gedung kos, ia sempat mengelola sebuah panti asuhan.


Panti asuhan itu juga mempunyai nama yang sama dengan nama klinik yang dimiliki Rocky, DEMASTER.


Rose datang ke klinik itu untuk memeriksa lebih lanjut, alih-alihnya untuk melakukan pemeriksaan.


Rose masih berdiri dan menatap klinik itu. Di depannya terpampang tulisan besar di atas banner, KLINIK DEMASTER.


Setibanya Rose di klinik itu, dia langsung disambut oleh seorang petugas resepsionis yang mengatur jadwal.


“Dengan siapa?” tanya si petugas.


“Rose. Aku sudah ada janji dengan dokter Rocky di jam ini,” ucap Rose.

__ADS_1


“Baiklah. Perawatan sebelumnya hampir selesai, silahkan tunggu sebentar.”


Rose pun berjalan ke lobi tempat menunggu, dan melihat-lihat foto yang ada disana.


Banyak foto Rocky yang mendapat sebuah penghargaan dari beberapa yayasan dan klub yang ada di kota itu.


Dan sebuah foto yang memperlihatkan Eli, Si Kembar dan Rocky yang berfoto bersama di depan panti asuhan.


Rose terus memperhatikan foto-foto itu dengan seksama, dan pikirannya yang terus bertanya-tanya.


“Itu adalah foto saat aku memberikan perawatan kepada lansia di sekitar sini,” ucap Rocky yang datang dan melihat Rose sedang memandangi foto-fotonya.


“Hmm, begitu.” Rose membalikkan badannya dan menunduk canggung.


“Aku melakukan itu sebulan sekali, apa kau ingin ikut denganku?” tanya Rocky. “Apa? Tunggu.” Rose kebingungan.


“Omong-omong, Dokter Rocky. Apa kau tahu panti asuhan DEMASTER?”


“Namanya sama dengan klinik ini. Tentu saja aku tahu, aku juga berasal dari panti asuhan itu.”


“Hah?” Rose semakin bingung.


“Maka itu aku memberi nama klinik ini dengan nama DEMASTER. Aku ingin membantu orang lain, seperti yang dilakukan panti asuhan itu.”


“Kalau begitu, apa kau tahu orang ini?” Rose menunjuk Eli yang berada di dalam foto.


“Bibi Eli? Dia dulu kepala panti asuhan tempatku tinggal. Meski sepertinya klise, dia sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Saat ini, dia sedang mengelola…..”


“SALOKA RESIDENT?” ucap Rose. “Wah, rupanya kau tahu. Benar juga, ini adalah wilayahmu saat bertugas. Aku juga tinggal di tempat itu,” sahut Rocky dengan santainya dan tetap tenang.


“Apa? Kenapa kau tinggal tempat seperti itu?” tanya Rose heran. “Itu…Sebenarnya ada apartemen yang akan kutinggali, tapi tiba-tiba tanggal masuknya tertunda.” Rocky menggaruk-garuk kepala dan tersenyum.


Rocky sangat pintar berpura-pura dan memahami lawan bicaranya, sehingga membuat Rose merasa tak begitu curiga padanya, walau masih tetap ada yang mengganjal bagi Rose.


“Astaga, sepertinya aku terlalu banyak berbicara padamu. Sebenarnya aku ingin tinggal disana karena ingin tinggal bersama Bibi Eli. Aku hanya ingin membalas semua kebaikan yang pernah dia berikan padaku.”


“Oh, begitu rupanya. Aku mengerti sekarang,” ucap Rose. “Tampaknya, kau ingin tahu lebih banyak tentangku.”


“Bukan begitu. Hanya saja aku mendapati banyak kebetulan yang telah terjadi. Baiklah. Lupakan saja itu.” Rose menggaruk kepalanya sedikit malu.


“Baiklah. Bisakah aku memeriksamu sekarang?” “Ya, tentu.”


Mereka berdua pun masuk ke dalam ruang periksa.

__ADS_1


__ADS_2