
“Halo, Jane. Kekasihmu sedang mabuk berat.” “Astaga. Dimana dia sekarang. Aku akan segera kesana, kalau begitu,” ucap Jane sangat khawatir.
“Tak perlu, Jane. Aku sudah memesankan taksi untuknya. Dia akan pulang dengan selamat. Kau tak perlu khawatir.”
“Baiklah. Terimakasih banyak, Kak.”
“Apa kita bisa bertemu sebentar, Jane? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu,” ucap Mike.
“Malam ini? Kau dimana, Kak?” tanya Jane penasaran.
“Aku akan menuju ke tempatmu sekarang juga.”
“Hmm. Maafkan aku, Kak. Sepertinya aku tidak bisa. Tampaknya aku akan menemui Jack sekarang juga, aku sangat khawatir padanya.” Jane pun memutuskan sambungan teleponnya.
Mike terlihat sangat tak senang, karena Jane tak mau bertemu dengannya. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh Mike pada Jane malam itu.
***
Mobil taksi yang membawa Jack pun sampai ke tempat yang telah dituju, tapi Si Sopir tak mengetahui tepatnya, dimana tempat tinggal Jack.
Si Sopir taksi pun memutuskan untuk membawa Jack ke kantor polisi terdekat dan meminta tolong kepada petugas polisi yang ada.
Di depan kantor polisi terdekat, Si Sopir menghentikan mobilnya dan merangkul Jack untuk keluar.
Saat itu Jack benar-benar sudah tak sadarkan diri, membuat Si Sopir sangat kerepotan dengan itu.
Sangat bertepatan dengan itu, ternyata kantor polisi itu adalah kantor tempat dimana Rose bertugas.
Rose yang melihat Si Sopir merangkul Jack langsung menyuruh Si Sopir untuk membawa Jack masuk ke dalam kantor, dan membaringkan tubuhnya di bangku kantor polisi.
“Apa yang terjadi, Pak?” tanya Rose pada Si Sopir.
Si Sopir ngos-ngosan karena merangkul Jack. “Alamat yang diberikan temannya salah, jadi, aku bertanya langsung padanya, tapi dia sangat teler dan melantur sendiri.”
“Dia juga menyebut nama seorang wanita, sepertinya wanita itu adalah pacarnya. Bahkan dia berusaha keluar dan melompat dari mobil, karena tak mau pulang, saat teman-temannya membantunya masuk ke dalam mobilku.”
__ADS_1
“Astaga, aku sangat capek, dan akhirnya membawanya kesini. Mungkin ini sudah berada di dekat tempat tinggalnya.”
“Wah, begitukah? Terimakasih banyak, Pak. Aku mengenal orang ini. Mungkin aku yang akan mengantarnya kembali. Sekali lagi, terimakasih banyak, Pak,” ucap Rose.
“Baiklah, ini tasnya.” Si Sopir memberikan tas Jack kepada Rose. “Aku akan langsung pergi, ini jam sibukku untuk menarik pelanggan. Permisi.”
“Tentu, Pak. Hati-hati di jalan,” ucap Rose.
“Ya, tolong antarkan dia, Bu Polisi.” Si Sopir pun keluar dari kantor polisi dan segera pergi dengan mobil taksinya.
Di dalam kantor polisi, ponsel Jack terus berbunyi. Sepertinya itu panggilan dari Jane yang mungkin berada di SALOKA RESIDENT untuk bertemu dengannya.
Karena rekan Rose kebisingan dengan itu, dia menyuruh Rose untuk segera membangunkan Jack.
“Jack! Bangunlah! Jack, sadarlah!” Rose menggerak-gerakkan tubuh Jack yang terbaring lemas di atas bangku.
Perlahan Jack membuka matanya dan bangun dari bangku. Dia celingukan seperti orang ling-lung.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Rose melihat Jack yang mulai sadar.
“SALOKA RESIDENT, apa yang sebenarnya terjadi disana?” tanya Rose yang mendengar cerita dari sopir taksi, bahwa Jack tak ingin kembali ke tempat tinggalnya.
“Aku… Sebenarnya aku sangat takut. Aku benar-benar… merasa ketakutan begitu aku berada di tempat itu. Semua penghuni gedung itu aneh,” ucap Jack terbata-bata.
Rose terdiam dan memikirkan sesuatu.
“Periksalah ponselmu, Jack. Aku mendengarnya berdering berulang kali.”
Jack pun memeriksa ponselnya di dalam saku. Benar saja, dia mendapat 13 panggilan tak terjawab dari Jane.
*TINGG!!!
Notif pesan whatsapp pun masuk dari Jane.
“Dimana kau, Sayang? Aku sudah berada di depan SALOKA RESIDENT. Aku akan naik untuk bertemu denganmu.” Isi pesan whatsapp dari Jane.
__ADS_1
“Jane. Tidak!” gumam Jack yang ketakutan jika terjadi sesuatu pada Jane.
Tangan Jack bergetar kencang, takut hal buruk akan datang pada Jane.
***
Di SALOKA RESIDENT, Jane sudah berada di depan gedung dan melihat sekitar gedung itu.
Jane mengenakan baju formal yang rapi, karena dia langsung pergi ke SALOKA RESIDENT setelah ia selesai bekerja.
Saat Jane akan menaiki tangga,
“Ada keperluan apa, Nona?” Rocky datang dari belakang Jane dan bertanya padanya. “Siapa kau?” tanya Jane dengan polosnya.
“Jangan salah paham dulu, aku adalah salah satu penghuni gedung ini.” “Oh, begitu,” Jane mengangguk.
“Sedang apa kau disini? Apa kau sedang mencari seseorang?” “Aku datang kemari untuk menemui pacarku,” jawab Jane.
“Wah, kau pasti pacar Jack, bukan?” tebak Rocky. “Ya. Bagaimana kau tahu?” tanya Jane.
“Dialah yang bercerita padaku. Aku sangat akrab dengannya. Astaga. Kau memang cantik, seperti yang dikatakan olehnya. Sepertinya Jack sangat memperdulikanmu.”
“Hhh. Apa Jack berbicara begitu padamu?” tanya Jane pada Rocky.
Jane masih tak percaya bahwa Jack akan bercerita banyak hal kepada orang yang baru dikenalnya. Jane sangat paham sifat Jack.
“Bagaimana dengan Jack? Apa yang dia bilang padamu tentang semua penghuni disini?”
Jane hanya diam dan teringat perkataan Jack, bahwa semua penghuni di gedung itu aneh dan gila.
Jane tersenyum dan berkata, “Dia bilang semua penghuni yang tinggal disini sangatlah baik dan rukun.”
“Orang-orang baik?” Rocky tersenyum sinis. “Kalau begitu, silahkan naik. kamar untuk pria berada di lantai dua gedung ini.”
“Ya, baiklah. Terimakasih,” Jane pun segera menaiki anak tangga menuju ke lantai dua.
__ADS_1