SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 034


__ADS_3

“Wah!! Ini sangat enak. Untuk selanjutnya, kau harus membuatkanku kopi, jika aku kemari,” ucap Will setelah mencoba es kopi susu buatan Jack.


Jack hanya menghiraukannya dan mengembalikan papan makanan ke tempatnya.


“Benar. Kudengar dari CEO, kau sedang menulis sesuatu. Apa yang sedang kau tulis?” “Aku menulis novel,” jawab Jack berjalan kembali ke kursinya.


“Novel? Ahh. Ternyata pegawai magang ini adalah seorang seniman. Tak heran jika kopi buatanmu bak karya seni.”


Wil mencicipi camilan potongan buah mangga dan kembali menikmati es kopi susu.


“Apa genre dari novelmu?” “Novel Kriminal,” jawab Jack. “Kriminal? Wah, itu tema yang sangat bagus. Kalau kau perlu rujukan, kau bisa bertanya padaku,” ucap Wil dengan sok. “Ya,” jawab Jack singkat.


“Omong-omong, apa kau tinggal di SALOKA RESIDENT?” “Ya,” jawab Jack singkat.


“Kalau begitu, kau pasti menemukan banyak karakter unik di tempat itu. Mungkin saja seorang pembunuh berantai tinggal di sana, tidak ada yang tahu bukan?”


Wil membaca koran. Menikmati es kopi susu dan camilan buah sambil menerocos. Mengatakan segala sesuatu yang sangat tak masuk akal, tapi sangat memungkinkan.


“Aku yakin pelajar yang hidup di SALOKA RESIDENT sangatlah sulit. Begitupun dengan orang yang terlalu stres, kemungkinan besar mereka akan melakukan tindakan kriminal.”


“Bagaimana jika ternyata ada seseorang yang tewas disana. Itu sangat mengerikan.”


Jack hanya diam dan mulai berpikir tentang semua yang dikatakan oleh Wil, walau Wil hanya asal berucap, dan tak mengetahui apa yang telah terjadi.


“Apa maksudmu?” tanya Jack menoleh kepada Wil. “Suara nafas pun bahkan terdengar dari kamar sebelah. Tak mungkin itu terjadi,” lanjut Jack berusaha untuk berpikir positif.


“Hmmm. Begitukah?” tanya Wil. “Satu hal lagi yang harus kau tahu, di SALOKA RESIDENT tidak ada seorang pelajar,” ucap Jack.


“Namun, aku yakin bahwa semua penghuni disana adalah orang yang hidupnya cukup sulit, secara ekonomi atau lainnya.”


“Oh, aku baru ingat. Coba lihat kasus pembunuhan di kedai kopi beberapa waktu lalu. Katanya itu dipicu oleh ledakan perasaan interior.” Wil menunjuk Jack dan berbicara dengan heboh.


“Selama aku jadi reporter, aku sering bertemu dengan orang seperti itu. Saat kau melihat mereka, mereka tampak normal layaknya orang biasa, tapi mereka seperti menahan sesuatu di pikiran dan perasaan mereka.”

__ADS_1


“Wajah mereka sangat suram dan sangat tertekan, tapi mereka hanya diam dan menahan semuanya.”Bagaimana menurutmu? Kira-kira dimana orang seperti itu akan bersembunyi?”


“Tidak! Mereka tersenyum,” ucap Jack spontan. “Apa maksudmu?” tanya Wil tak memahami ucapan Jack.


“Sepertinya mereka tidak suram ataupun tertekan, tapi mereka menikmatinya,” lanjut Jack, membuat Wil terdiam dan berpikir untuk memahami perkataan Jack.


“Selamat pagi!!!!” Nick masuk dan menyapa. Dia datang bersama Kim dan Winson secara bersamaan, tapi tak terlihat Mike yang datang saat itu.


“Astaga. Kenapa kalian baru datang jam segini?” ucap Wil yang berdiri dan menyambut kedatangan para karyawan.


“Kau datang? Seharusnya kau menelpon dahulu sebelum kemari,” ucap Kim berdiri di depan Wil.


“Dimana Pak CEO?” tanya Wil mencari Mike. “Pak CEO? Apa dia tidak ada di dalam?” Kim melihat ke ruangan kecil Mike.


“Wah, dia sudah seperti selebritas, benar-benar sulit untuk menemuinya. Beberapa kali aku datang kemari dan tak kunjung bertemu dengannya,” ucap Wil sedikit kesal karena dia tak bisa bertemu dengan Mike.


“Baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi dulu.” Wil melangkah meninggalkan ruangan.


“Apa kau tak mau menunggu?” tanya Kim basa-basi. “Tidak perlu. Sampaikan saja pada CEO, jika aku datang kemari,” jawab Wil.


Wil memuji Jack dan pergi meninggalkan ruangan.


“Baiklah. Hati-hati di jalan,” ucap Kim yang kemudian duduk di tempat kerjanya.


Di tempat Winson, dia membuka laci dan melihat salah satu barangnya yang telah menghilang, potong kuku. Dia pun langsung bertanya pada Jack saat itu juga.


“Hei, Anak Magang!”


Jack menoleh ke samping tanpa bertanya balik. Hanya menatap balik Winson.


“Apa kau yang mengambil gunting kuku di laciku?” “Ya,” jawab Jack singkat. “Kenapa? Pak Wil, dialah orang yang menyuruhku untuk mengambilnya. Ada pertanyaan lagi? Kalau tidak aku akan kembali bekerja.”


Karena tak ingin melanjutkan masalah, Jack pun kembali menatap layar monitornya.

__ADS_1


***


Di sebuah restoran kecil, terlihat begitu ramai pengunjung. Mereka semua terdiri para karyawan kantor yang sedang bertemu dengan klien dan beberapa pasangan muda-mudi yang sedang di mabuk asmara.


Restoran sedang, tak kecil dan tak besar pula. Menggunakan adat klasik dengan beberapa hiasan batu yang diukir dengan indah, membuat restoran itu terlihat lebih estetik.


Di pojok restoran itu, Mike bertemu dengan Jane. Beberapa makanan ringan dan segelas es kopi telah dipesan Mike.


Hal itu cukup untuk membuat Jack sangat marah, jika dia tahu bahwa Mike bertemu dengan kekasihnya tanpa sepengetahuannya, meski mereka hanya sekedar mengobrol bersama.


“Astaga. Restoran ini lumayan ramai. Apa aku harus memulai untuk berbisnis seperti ini?” ucap Mike basa-basi.


“Omong-omong, bagaimana dengan Jack, Kak?” tanya Jane. “Astaga. Kita baru bertemu dan kau langsung bertanya tentang Jack. Sepertinya kau sudah tergila-gila padanya,” ucap Mike ketus.


“Bukan begitu. Aku hanya merasa, semenjak dia tiba di New York, dia menjadi sangat aneh,” ucap Jane yang tak tahu, apa yang telah dialami oleh Jack sebenarnya.


“Wah, kau benar. Ternyata bukan hanya aku yang merasa seperti begitu,” seru Mike. “Setiap kali aku membicarakan SALOKA RESIDENT,  dia menjadi sangat sensitif dan serius.”


“Kenapa begitu? Apa yang telah terjadi sebenarnya di tempat itu?” tanya Jane. “Entahlah. Sepertinya tak ada yang terjadi. Mungkin dia tak ingin terlihat menyedihkan, karena tinggal di tempat itu,” jawab Mike.


“Astaga. Ucapanmu keterlaluan, Kak. Dia tak mungkin seperti itu. Aku sudah sangat mengenalnya lebih dalam.” Jane menatap Mike.


“Karena itu, aku meminta tolong padamu. Tolong perhatikan dia saat dia di kantor.”


“Dengarkan aku, Jane. Tidak ada bos sebaik dan se loyal aku, di dunia ini. Aku bahkan selalu mentraktir semua karyawanku saat makan siang, setiap harinya.” Mike menyombongkan.


“Sungguh?” tanya Jane tak percaya. “Kudengar, dia banyak dipersulit dengan salah satu atasannya. Bilang padanya agar bersikap baik pada Jack. Aku tak tega melihatnya mengeluh terus-menerus.”


Jane menghela nafas sesekali meminum pesanannya.


“Sebenarnya, aku juga sangat stress gara-gara atasanku. Dia terus membuatku pusing dan selalu mencari celah untuk membuatku terkena masalah.”


“Baiklah, Jane. Kau tak perlu mengomel padaku. Kenapa? Apa atasanmu memang begitu menyebalkan?”

__ADS_1


Jane hanya diam dan mengetuk-ngetuk gelas dengan sedotan alumunium, tanpa melihat Mike yang bertanya padanya. Dia terlihat sangat tertekan dengan atasannya di kantor.


__ADS_2