
Rocky juga melihat Jack yang terjatuh ke tempat tidurnya, karena obat yang telah diberi Eli. Dia tersenyum sinis melihat hal itu.
Rocky pun juga sengaja tak langsung mencelakai Jack. Dia melihat bahwa Jack bukanlah pria yang lemah, walau Jack tampak seperti orang normal dari luar.
Saat pertama bertemu dengannya, Rocky dapat menilai bahwa Jack memiliki emosi dan adrenalin yang cukup tinggi. Rocky merasa Jack memiliki kesamaan pada dirinya.
Mempunyai keinginan untuk membunuh seseorang. Perbedaannya, Jack masih dapat menahan itu, tapi tidak dengan Rocky yang tak segan untuk membunuh siapapun.
*KLOTAK!!!
Ponsel Jack terjatuh dari saku celananya. Membuat Jack terbangun setelah beberapa menit tak sadarkan diri.
Dengan mata yang masih berat karena efek obat, Jack berusaha duduk dan beranjak dari tempat tidurnya.
Jack melihat ponsel dan melihat jam yang menunjukkan pukul 10 malam.
“Astaga. Kenapa kepalaku sangat pusing? Sadarlah, Jack!”
Jack memegangi kepalanya yang masih pusing, dan menggerak-gerakkannya. Dia belum sadar bahwa teh yang diberikan Eli adalah penyebabnya menjadi seperti itu.
Jack menepuk-nepuk kepalanya sendiri dan beranjak untuk duduk di kursi untuk memeriksa kondisi laptopnya.
Kali ini Jack benar-benar yakin, bahwa seseorang telah masuk ke dalam kamarnya.
Sebelum berangkat ke kantornya tadi pagi, Jack sudah meletakkan beberapa tanda dan debu di sekitar laptopnya.
Beberapa debu dan tanda yang diletakkannya di laptop telah menghilang saat ia membuka laptopnya.
“Kena kau, Bangsat! Aku yakin bahwa seseorang telah masuk ke dalam kamarku.”
Jack beranjak dari kamarnya, lalu pergi ke ruang resepsionis.
“Nyonya Eli!” Jack memanggil Eli dari lorong.
“Tampaknya ada orang yang telah masuk ke dalam kamarku,” ucap Jack sesampainya di ruang resepsionis.
Jack membungkuk bertanya pada Eli dari luar jendela ruang.
“Astaga. Apa yang kau bicarakan, Jack. Kau sudah mengenal semua penghuni yang berada disini, bukan?”
“Kali ini aku benar-benar yakin, ada orang yang telah masuk ke dalam kamarku. Aku sudah memastikannya dengan memberi sebuah tanda di laptop ku.” Jack menepuk-nepuk bangku di depannya.
“Memangnya siapa yang ingin masuk ke kamarmu, Jack?” tanya Eli menatap Jack. “Entahlah, aku tak tahu. Maka itu aku ingin melapor padamu kemari.”
__ADS_1
Jack menoleh, melihat cctv di dinding lorong bagian atas dan menunjuknya. CCTV itu mengarah ke lorong kamar kos yang ada di lantai itu.
“Itu! Kamera CCTV itu bekerja, kan? Jika itu bekerja, aku yakin pelakunya akan terlihat. Aku ingin melihat rekaman CCTV itu,” ucap Jack menggebu-gebu.
“Astaga. Kupikir kau adalah pria yang sangat tenang, ternyata kau sangat tidak sabaran dan pemarah.” Eli tersenyum.
“Cepatlah, Nyonya! Perlihatkan padaku! Bagaimana melihat rekaman itu?”
“Hahahaha. Masuklah kemari, ada disebelah sini.” Eli menunjuk komputer lawas yang berada di dalam ruangannya. “Astaga. Kau sangat menyusahkan.”
Jack pun segera masuk dan melihat Eli yang mulai menyalakan komputernya.
Jack pun duduk di samping Eli, melihat Eli menyalakan komputer tua itu.
“Wah, ternyata masih bisa. Padahal sudah beberapa tahun aku tidak menyalakan ini,” ucap Eli melihat komputer yang dapat menyala.
“Ini. Kau bisa memakai ini untuk melihat rekaman itu sendiri.” Eli memberikan mouse kepada Jack. Menyuruhnya untuk mengecek rekaman CCTV.
“Kau tidak meninggalkan kamar dalam pintu terbuka. kan?”
“Tentu tidak! Aku sudah memastikannya pintunya terkunci sebelum aku berangkat kerja,” ucap Jack terus memantau layar komputer.
“Aku bahkan….”
“Bahkan apa?” tanya Eli. “Hanya merasa ada yang tidak bisa kujelaskan,” jawab Jack. “Hahaha. Perasaan apa memangnya.” Eli tertawa.
Sesaat, layar komputer tak menunjukkan rekaman CCTV yang mencurigakan. Hanya terlihat Si Autis yang berjalan mondar-mandir dengan membawa pistol mainannya.
“Kau lihat, kan? Tak ada seorang pun yang berdiri di kamarmu. Kau terlalu berlebihan, Anak Muda. Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”
“Tidak mungkin! Kenapa tak ada apapun disini?” gumam Jack dalam hati.
Jack menghentikan rekaman dan memperlambat, saat layar monitor memperlihatkan Si Mesum.
Si Mesum keluar dari kamarnya dengan membawa sesuatu, dan berdiri di depan kamar Jack.
“Astaga, apa yang dia lakukan?” Eli menatap layar. “Wah, dia bertingkah seperti itu lagi.”
Jack sudah sangat geram melihat kelakuan Si Mesum di depan kamarnya. Hal itu menambah kecurigaan Jack, bahwa Si Mesum lah yang masuk ke dalam kamarnya.
“Itu.. Itu sering terjadi padanya.” Eli mengelak. “Dia suka berjalan sambil tidur, jadi, mungkin dia sedang bermimpi saat itu.”
“Hhh. Apa kau menganggapku bodoh? Apa kau ingin aku mempercayaimu?” gumam Jack dalam hati. Dia terus menatap layar komputer dan melihat video yang diperlambat.
__ADS_1
“Tunggu, apa dia membuka pintu kamarmu?”
Layar komputer pun tiba-tiba blur dan tak dapat menampilkan rekaman lebih lanjut.
“Tunggu, segera percepat. Astaga, kenapa menjadi seperti ini? Kenapa ini mati. Rekamannya sudah hilang,” ucap Eli.
Jack kesal dan mencoba untuk menekan tombol keyboard beberapa kali, hingga memukul meja karena komputer itu sudah benar-benar mati.
“Sabar, Nak. Itu sudah tua dan sudah sangat lama. Tampaknya dia tak membuka pintu kamarmu.” Eli kembali membela Si Mesum. “Astaga, ini sudah tidak berfungsi. Apa ini bisa diperbaiki?”
“Sudah jelas ini perbuatan Si Mesum brengsek itu,” gumam Jack dalam hatinya.
Jack berdiri dan beranjak pergi dari ruang resepsionis.
“Ini Jack…. Hei…” Eli memanggil Jack yang berjalan menuju kamar Si Mesum. “Bersabarlah, Jack. Cuacanya sangat panas, jika kau marah-marah. Astaga, Jack.”
Di depan pintu kamar Si Mesum, menggedor-gedor pintu kamar dan berteriak, agar Si Mesum membuka pintu kamarnya. Menyuruhnya keluar.
*BRAK BRAK BRAK!!!
“Penghuni kamar 310, keluarlah!”
*BRAK BRAK BRAK BRAK!!!!!
“Pak, apa kau dapat mendengarkanku? Keluarlah!” Cepat keluar!!!
*BRAK!!!
Jack berteriak dan terus menggedor pintu kamar Si Mesum. Karena pintu kamarnya tidak juga terbuka, Jack mendobrak pintu kamar Si Mesum hingga terbuka.
Saat pintu terbuka, Jack tak melihat Si Mesum di dalam kamarnya. Hanya ada komputer yang masih memutar video porno dan beberapa sampah makanan instan yang berada di sekitar kamarnya.
“Apa yang kau lakukan? Apa kau gila?” Dari ujung lorong dekat daput, Si Mesum datang dan berjalan mendekat.
Begitupun dengan Eli yang menyusul Jack ke depan kamar Si Mesum.
Jack pun berjalan mendatangi Si Mesum saat melihatnya.
“Hei, apa kau masuk ke dalam kamarku?” tanya Jack pada Si Mesum yang berdiri di depannya. “Aku sudah melihat kamera CCTV, jadi, bicaralah dengan jujur.” Jack menunjuk dan memaki Si Mesum.
Si Mesum menyandarkan tubuhnya ke dinding. Dia malah tersenyum sinis dan menggaruk-garuk perutnya.
“Nyonya, kau juga melihat rekamannya, bukan?” Jack bertanya pada Eli yang datang.
__ADS_1
“Ya. Aku melihat rekamannya, tapi aku tak yakin bahwa dia telah membuka pintu kamarmu,” jawab Eli.