Sandiwara

Sandiwara
Ep. 10 - Setelah Menikah


__ADS_3

Seharusnya pernikahan menjadi sesuatu yang memberikan memori terindah dalam setiap hidup seorang insan juga pasangan. Namun, kenapa satu hal yang seharusnya menjadi hal membahagiakan, justru menjadi sesuatu yang menakutkan.


Senyuman, sikap hangat yang selama ini Edelweis harapkan dari sosok Jonathan selama ini, kenapa sekarang justru menyeramkan dia rasakan? Seakan dia tahu, jika semua ini hanyalah sandiwara semata. Jika bisa memilih, maka Edelweis akan memilih Jonathan yang selalu berkata pedas padanya. Bukan, Jonathan sekarang yang langsung mengiyakan saja apa yang dia ucapkan.


“Jo,”


Jonathan yang duduk di samping Edelweis menoleh pada perempuan itu. Mereka kini tengah menikmati makan malam setelah selesai melaksanakan acara akad nikah sekaligus resepsi yang hanya dihadiri beberapa orang saja. Tamu undangan yang hadir hanya orang-orang terdekat saja; rekan bisnis juga sanak-saudara yang tak terlalu banyak. Pernikahan mereka benar-benar tertutup, private tanpa ada satu media pun yang tahu, meskipun keluarga Jonathan sendiri mempunyai media. Pernikahan private itu sendiri Edelweis yang minta, meskipun sebenarnya pernikahan ini terjadi untuk membersihkan nama mereka dari berita miring yang berseliweran mengenai mereka yang tak punya hubungan namun sudah tinggal satu atap. Namun, entah kenapa, melihat perubahan sikap Jonathan membuat Edelweis takut sendiri sehingga membuatnya memaksa untuk tetap merahasiakan pernikahan ini dari media.


“Kenapa?”


“Abis ini, kita langsung pulang ke rumah atau—”


“Lo pengennya apa?”


“Gue capek, maunya istirahat. Perjalanan dari sini ke rumah juga makan waktu, jadi gue pengennya kita nginep di sini.”


“Oke, gampang, bisa diatur.”


“Lo, gakpapa kan kalau kita nginep disini?”


“Enggak.”


Edelweis mengangguk, dia melanjutkan makannya kembali tanpa obrolan apapun yang ada diantara mereka, hanya ada keheningan menemani. Hingga malam pun semakin larut, Edelweis sudah selesai membersihkan dirinya.


Edelweis keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang melekat ditubuhnya, rambutnya masih setengah basah. Dia berdiri di ambang pintu, menatap Jonathan yang berada di balkon kamar hotel memunggunginya.


Edelweis melangkah mendekat, dia berdiri di pintu penghubung antara balkon juga kamar. “Jo,” panggil Edelweis.


Jonathan berdehem, dia memutar tubuhnya dan menemukan Edelweis. Untuk beberapa saat, dia terdiam menatap Edelweis. “Kenapa?” tanya Jonathan.


“Lo mau bersih-bersih kan? Yaudah, sana! Gue udah selesai kok.”


Jonathan mengangguk. “Ok.” ucap Jonathan, dia melenggang melewati Edelweis begitu saja. Namun, ada sedikit desiran di tubuhnya saat menghirup aroma rambut Edelweis yang tak sengaja menyapa wajahnya.


Edelweis menatap kepergian Jonathan. Dia menatap pantulan dirinya dicermin, wajahnya yang tanpa polesan makeup sedikitpun masih terlihat cantik, rambutnya yang terurai begitu saja pun terlihat indah. Apakah Jonathan tak pernah jatuh hati padanya? Tanya Edelweis berulang pada dirinya sendiri.


Sejujurnya, Edelweis pernah jatuh hati pada sosok Jonathan. Namun, rasa itu tak bertumbuh lama, hanya sekilas. Itupun saat pertemuan pertama mereka dulu, dimana saat itu orangtua Edelweis masih ada. Namun, semenjak tinggal bersama, sikap Jonathan jauh berbeda. Pria itu selalu saja menatapnya sinis dan tak suka. Hilang sudah perasaan kagum Edelweis dulu pada pria itu. Tapi, entah kenapa dia merasa bahwa perasaan itu akan tumbuh kembali. Benarkah?


“Malam ini ngapain, ya?”


Edelweis bukan perempuan polos, dia tahu apa yang mungkin saja dilakukan oleh sepasang suami-istri di malam pertama mereka setelah resmi. Apakah hal itu juga akan terjadi pada dirinya juga Jonathan? Mengingat pernikahan ini terjadi karena perjodohan yang dilakukan orang tua.


Edelweis menggeleng cepat, dia mengenyahkan segala pikiran nakal yang merajalela di benaknya.


“Gila, gila, gak mungkin Del. Udah deh lo mending pakai baju dan tidur, istirahat. Lo ini capek, Del. Come on!”


Edelweis segera bergegas menuju kopernya, membukanya untuk memilih pakaian yang akan dikenakan tidur malam ini. Namun, alangkah terkejutnya saat dirinya justru menemukan beberapa pakaian yang tak senonoh.

__ADS_1


Oke, Edelweis memang suka memakai pakaian kurang bahan. Tapi, apa yang ada di kopernya kali ini benar-benar tak masuk akal. Edelweis masih punya otak untuk tak memakai pakaian seperti ini dihadapan pria, meskipun pria itu suaminya kini. Tapi, beda ceritanya kalau Jonathan dan Edelweis saling cinta, mungkin Edelweis akan dengan senang hati memakai pakaian seperti ini. Sedangkan, nyatanya?


“Ih, gila! Ini mah bukan kurang bahan lagi, tapi gak modal bahan!”


Edelweis ternganga saat dia menarik satu pakaian, ah kain sih lebih tepatnya. Benar-benar hanya utasan tali yang berguna untuk menutupi beberapa hal sensitif saja di bagian tubuh.


“Gila, gila! Terus gue pakai apa ini?”


Edelweis mengobarak-abrik kopernya, berharap ada satu saja pakaian yang layak dikenakan. Tapi, tak ada. Semuanya tak layak.


“Ogah banget gue pakai ginian didepan, Jo. No, no, no... Pasti ini kerjaan tante Em! Ih, ada-ada aja sih. Udah tahu anaknya itu gak suka sama gue, berharap apa sih tante Em? Tck.”


Edelweis beranjak, “Handphone gue dimana sih?” kesal Edelweis, dia mencari kesana-kemari ponselnya, namun tak kunjung dia temukan.


“Gue harus gimana sekarang?” Edelweis menjatuhkan bokongnya di ranjang, mendesah frustasi.


Hingga pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Jonathan yang keluar dengan bathrobe yang dikenakannya. Edelweis membelalakan matanya, dia menelan kasar ludahnya sendiri saat Jonathan menatapnya cukup lama dengan tatapan yang entah apa artinya.


“Gue capek, Del.”


Edelweis mengerutkan keningnya mendengar ucapan Jonathan. “Gue juga capek kok, emangnya lo doang.”


Jonathan melewati Edelweis, dia menuju kopernya dan mengambil pakaiannya. “Terus lo ngapain belum ganti baju juga?” tanya Jonathan, dia terkejut saat membuka koper tak juga ditemukan satu pakaian pun. “Loh, ini pakaian gue kemana?” Jonathan bertanya pada Edelweis.


Edelweis bingung, dia menghampiri Jonathan dan alangkah terkejutnya dia saat melihat koper Jonathan yang kosong. Dia mendongak menatap pria itu, “Pasti ini kerjaan tante Emm, pakaian gue aja gak ada. Makanya, gue belum juga ganti baju.”


Jonathan menghela napas kasar, seharusnya dia memikirkan kemungkinan ini. Sudah pasti Mamanya akan melakukan ini semua, harusnya dia tahu itu.


“Gak usah kayak yang pernah susah deh, lo. Tinggal minta orang buat beli baju kita, beres kan?”


“Iya, juga. Tapi, masalahnya handphone gue dimana. Gue gak lihat handphone dari tadi. Handphone lo ada kan?”


Jonathan mengangguk, “Biar gue yang minta anak buah gue buat beli baju kita.”


Edelweis mengangguk-angguk, “Iya. Tapi, gue pengen baju gue tuh yang warnanya gak norak, yang adem kalau dipake dan satu lagi harus yang branded, ya. Gue gak mau anak buah lo beli sembarangan dan bikin gue gatel-gatel karena bajunya murahan.”


“Oke.” Jonathan melenggang melewati Edelweis untuk mengambil ponselnya diatas nakas.


Edelweis ternganga, dia mencebikkan bibirnya. “Nyebelin.” kesal Edelweis melihat respon Jonathan yang seperti ini.


Edelweis menghentakkan kakinya, dia segera menghampiri pria itu. “Jo, lo tuh kenapa sih? Bikin gue kesal terus!”


Jonathan memincingkan matanya, dia menggeleng heran. “Bikin lo kesal? Gue bahkan gak pernah protes apa mau lo, semua mau lo, gue iyain. Apanya yang bikin nyebelin?”


“Ya, itu! Lo yang langsung mengiyakan aja, itu buat gue kesal! Lo kenapa gak protes aja sih?”


Jonathan menghela napas gusar, dia tersenyum miring. “Lo pengen gue protes kayak biasanya?” Edelweis diam. “Tapi, apa lo bisa jamin kalau gue lakuin itu lo gak akan ngancurin hidup gue, hidup orang-orang disekitar gue?” tanya Jonathan.

__ADS_1


Edelweis mengerutkan keningnya bingung mendengar pertanyaan Jonathan. “Maksud lo apa sih, Jo? Tunggu, gue klarifikasi satu hal sama lo.”


“Lo tuh sebenarnya punya masalah apa sama gue? Lo selalu bilang kalau gue ngancurin hidup lo, gue ini lah, gue itulah. Kita punya masalah sebelumnya apa gimana? Gue gak merasa punya masalah sama lo, tapi lo bersikap seakan-akan gue ini yang paling salah disini.”


Jonathan tertawakan miris, dia memutar bola matanya. “Gak usah munafik, Del. Kita emang gak dekat, tapi gue gak bego-bego banget buat bisa ngenalin sifat orang.”


“Maksudnya?”


“Lo pikir aja sendiri. Dan, satu lagi yang mau gue ingetin sama lo. Kita menikah, bukan berarti lo bisa seenaknya juga sama gue. Pernikahan ini cuma status, gak berarti apapun buat gue. Dan, gue benar-benar mohon sama lo untuk gak manfaatin ini semua untuk puasin kemauan lo. Oke.”


Setelahnya, Jonathan pergi meninggalkan Edelweis yang masih diam termenung tak mengerti dengan maksud dari ucapan pria itu.


***


“Jadi, Papa udah menyiapkan rumah untuk kalian.”


Edelweis tersenyum senang, “Oh, ya? Kok Om—maksud aku, Papa gak kasih tahu aku sebelumnya?” tanya Edelweis, dia sangat antusias saat tahu jika mertuanya sudah menyiapkan rumah untuknya juga Jonathan. Oh, iya dia sudah mulai membiasakan untuk memanggil mertuanya sebagai Mama, Papa bukan lagi Om, tante seperti sebelumnya.


“Kan surprise namanya. Lagian nih, ya. Mama yakin, kamu suka sama rumah yang udah kami siapin ini. Pokoknya rumah impian kamu sekali.” tukas Emmeline, dia tersenyum sumringah.


Edelweis semakin melebarkan senyumnya, namun saat matanya menatap Jonathan yang hanya diam justru membuat senyumnya luntur. Melihat perubahan raut wajah Edelweis membuat kedua orang tua itu saling tatap dan tahu apa alasannya lewat tatapan yang ditunjukkan Edelweis.


“Jo,”


Jonathan tersentak, dia menghentikan suapannya dan menaikkan kedua alisnya bertanya.


“Papa udah siapin rumah untuk kalian,” jelas Angga kembali.


Jonathan mengangguk-angguk. “Iya.”


“Jo... Kok gitu sih tanggapannya?”


“Ya, aku harus gimana? Aku tolak, apa bisa? Enggak juga kan?”


“Ya, tapi gak dengan diam aja juga. Seengaknya kamu menghargai Papa kamu yang udah siapin rumah untuk kalian.”


Jonathan menghela napas kasar, “Iya, makasih. Tapi, aku gak minta juga kan?” tukas Jonathan, dia menyuapkan kembali makanan acuh.


Edelweis yang melihat Jonathan yang berubah, hanya bisa diam kini dibuatnya. Dia seketika menatap Angga yang langsung tertawa keras entah karena apa. Semuanya menatap bingung Angga yang masih belum menghentikan tawanya.


“Harusnya kamu tuh bersyukur, punya orangtua yang bisa kasih kamu segalanya. Kamu gak perlu susah payah untuk melakukan ini itu, kamu tinggal minta, diam dan menikmati semuanya.”


Jonathan terkekeh mendengar ucapan Papa nya itu. “Iya dan karena itu pula, aku harus jadi boneka yang bisa dikendalikan kapanpun, semaunya. Kalau aku tolak, aku juga yang kena resikonya. Bukan begitu, Pa?” tanya Jonathan, tersenyum sinis dan menatap Angga yang tahu kemana maksud ucapan Jonathan ini.


Angga menaikkan dagunya angkuh, “Memangnya kamu mau tinggal dimana setelah menikah? Gak mungkin juga kan kalau tinggal disini? Meskipun sebenarnya gakpapa, toh ini rumah juga akan jadi rumah kamu. Tapi, sebagai orangtua yang baik, Papa dengan inisiatif menyiapkan rumah untuk kalian siapa tahu kalian ingin hidup mandiri gitu. Toh, rumahnya juga gak kalah besar dari rumah ini.”


“Papa tanya, apa kita mau mandiri atau enggak? Ya, kalau begitu seharusnya Papa gak usah menyiapkan itu semua, apalagi berlebihan kayak gitu. Lagipula, belum ada rumah pun aku bisa ajak Edel ke apartemen.”

__ADS_1


Salah, Jonathan merutuki dirinya sendiri yang asal saja menjawab. Sudah pasti Edelweis tak mau ikut bersamanya tinggal di apartemen, pasti perempuan itu memilih hidup disini atau rumah yang sudah ditawarkan orangtuanya. Mana mau perempuan angkuh itu tinggal di apartemen yang bahkan luasnya hanya seperempat rumah ini.


“Iya, Pa. Aku sama Jo, mau tinggal di apartemen aja.”


__ADS_2