
“Saya gak punya riwayat lambung sebelumnya. Tapi, kenapa, ya dok akhir-akhir ini saya sering mual, muntah tanpa sebab. Bahkan, cium aroma parfum saya sendiri aja, saya mual dok.”
Bukannya langsung menjawab, dokter perempuan yang ada di hadapan Jonathan justru tersenyum lebar. “Maaf bapak sebelumnya. Apa bapak sudah menikah?” tanya dokter tersenyum, ada senyuman yang membuat Jonathan bingung.
“Apa hubungannya, ya dok mual dengan status saya?”
“Begini bapak. Memang benar, setelah diperiksa bapak tidak ada gejala apapun yang berkaitan dengan sakit lambung, ditambah mendengar ciri-ciri yang bapak sebutkan sebelumnya membuat saya jadi berpikir ke arah lain. Ada beberapa ibu hamil yang belum merasakan efek saat kehamilan, namun justru suami mereka yang merasakan gejala yang seharusnya ibu hamil itu rasakan, hal itu disebut sebagai kehamilan simpatik.”
Jonathan langsung mematung mendengar penjelasan dokter tersebut, dia teringat Edelweis.
“Jadi, ada kemungkinan jika bapak sudah menikah dan istri bapak sedang hamil, hal tersebut bisa saja terjadi pada bapak.”
Jonathan teringat penjelasan dokter tentang kemungkinan sebab dia mual dan muntah, masih belum yakin dan percaya hal itu akan terjadi. Satu kali berhubungan badan tak membuat Jonathan berpikir akan langsung menghasilkan sebuah janin. Lagipula, dia merasa dirinya tak keluar di dalam, tapi di luar.
Jonathan sampai di apartemen, dia masuk dan menemukan Edelweis yang tengah menikmati makan malam. Ditatapnya lekat Edelweis yang langsung menyadari kehadirannya.
“Jo, tumben pulang cepat. Lo udah makan malam? Kebetulan gue beli makanan kebanyakan nih, lo bantuin gue makan, ya. Duduk, duduk sini.”
Edelweis menggeser tubuhnya agar Jonathan bisa duduk di sampingnya. Karena insiden di kantor tadi, Edelweis rasa Jonathan bisa sedikit berbaik padanya. Karena itu pula dia menawari pria itu.
Edelweis mengerutkan kening bingung melihat diamnya Jonathan, dia mendongak sambil tersenyum kikuk. “Lo kenapa, Jo?” tanya Edelweis, dia tak merasa melakukan kesalahan atau ulah kali ini. Tapi, tatapan Jonathan berkata lain.
“Jawab jujur, Del. Lo hamil?”
Pegangan tangan Edelweis di sendok terlepas seketika. Diam dan hening seketika saat Jonathan melontarkan pertanyaan itu.
Edelweis tak menatap Jonathan, dia tersenyum kecut. “Kenapa, emangnya?” tanya Edelweis, dia tak mengiyakan ataupun menyangkal kehamilannya.
“Jawab, Del!”
“Ya, kenapa? Kasih gue alasan supaya gue bisa jawab pertanyaan lo itu.”
“Seharusnya apa yang kita lakuin hari itu, gak menghasilkan apapun. Seharusnya begitu. Jadi, gak mungkin kalau apa yang terjadi sama gue sekarang adalah efek dari kehamilan lo.”
“Kenapa lo bisa berpikir gitu? Gimana kalau ternyata gue emang benar hamil?” tanya Edelweis, dia ingin tahu tanggapan apa yang akan diberikan.
“Gak mungkin lah, Del. Gue ngeluarin nya di luar, bukan didalam.”
“Kan mungkin aja, Jo kalau ternyata gue hamil. Dan, lo kok bisa-bisanya yakin banget gak ngeluarin di dalam.”
Jonathan memicingkan matanya, “Jadi, benar lo hamil?”
Kembali, seketika Edelweis terdiam mendengar dugaan Jonathan. Dia tak berani mengiyakan ataupun membantah tuduhan Jonathan.
“Del, jawab gue!”
“Iya.”
Jawaban Edelweis itu sukses membuat Jonathan mengerang kesal, “Lo kenapa gak bilang sama gue sih, Del! Kenapa coba lo diam aja!” kesal Jonathan, dia mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Jonathan mengulum bibirnya, dia mengusap kasar wajahnya sambil menghela napas kasar. Dia mendekat pada Edelweis, duduk disamping perempuan itu yang masih juga diam. “Yang lo kandung anak gue kan?”
Sontak saja, pertanyaan Jonathan itu membuat Edelweis menatap tajam pria itu. “Maksud lo?” tanya Edelweis tak habis pikir. “Lo pikir gue hamil anak orang lain, gitu! Gila, lo!”
“Ya, terus lo kenapa gak kasih tahu gue, Del!”
“Gimana bisa gue kasih tahu lo. Sedangkan hubungan kita aja kayak gini. Lo sama gue, kita gak pernah ada kata akur sedikitpun. Dan, saat gue coba baikan sama lo, justru lo menghindar, lo gak peduli gue sama sekali.” kesal Edelweis. “Gimana bisa gue kasih tahu lo soal kehamilan ini!”
Untuk beberapa saat, diam menyelimuti mereka. Mungkin mereka sedang memikirkan kenyataan tentang hubungan mereka selama ini. Apa yang Edelweis ucapkan, benar adanya.
“Lagipula, kalau lo berpikir lo gak siap dengan semua ini. Gue pun sama, Jo. Gue juga belum siap sama kenyataan ini. Kenyataan dimana ternyata gue hamil,” Edelweis menoleh pada Jonathan, “Anak lo.”
Jonathan menggeleng-geleng, berita kehamilan Edelweis ini benar-benar meruntuhkan dunianya. Semua rencana yang dia susun untuk kedepannya, terutama hubungannya dengan Edelweis yang seharusnya berakhir untuk waktu yang tak lama, terasa sirna seketika saat mendengar kabar kehamilan itu.
“Gue emang gak mengharapkan anak ini, Jo. Tapi, gue masih punya hati nurani untuk gak melenyapkan dia.” ucap Edelweis yang berhasil membuat Jonathan menatapnya.
“Lo pikir, gue tega melenyapkan janin yang gak berdosa itu, gitu?” tanya Jonathan, dia juga punya hati nurani untuk tidak melenyapkan anaknya sendiri.
“Terus, kita gimana Jo? Gimana hubungan kita setelah lo tahu kalau gue hamil, anak lo.”
***
Dikamarnya, Jonathan menatap hasil USG yang berikan Edelweis padanya. Ditatap nya dengan lekat benda tersebut. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia ketahui yang menjadi penyebab dia mual muntah akhir-akhir ini.
Kehamilan, kehamilan Edelweis lah yang jadi penyebabnya.
“Apa iya, anak yang Edelweis kandung anak gue?”
Memang benar adanya, Edelweis yang dimata Jonathan seperti perempuan murahan, ternyata mampu menjaga diri juga kehormatannya. Jonathan yang melakukan pertama kalinya menjadi bukti utama.
Jonathan segera membuka artikel, membaca beberapa artikel mengenai ibu hamil dan kemungkinan yang bisa saja terjadi pada dirinya selaku suami dari seorang perempuan yang tengah mengandung itu.
Jonathan mendengus kesal, dia langsung menekan tombol home kala semua artikel membenarkan apa yang tengah dia rasakan. Seharusnya, dia tak perlu repot-repot mencarinya. Toh, seorang dokter secara langsung sudah menjelaskan padanya tentang kondisinya saat ini.
“Gimana ini? Gue harus ngapain?”
Jonathan tak tahu harus melakukan apa disaat keadaan tak sesuai dengan seharusnya. Kehamilan Edelweis benar-benar mengancam.
Sedangkan, Edelweis yang berada di kamarnya terdiam beberapa saat. Dia menatap pantulan dirinya di cermin, tangannya terulur menyentuh perut ratanya dimana ada janin yang tumbuh di sana.
“Kamu tahu kan, bahkan ayah kamu aja kaget dengan kehadiran kamu. Bahkan, sempat gak mengakui kamu. Entah sebenarnya dia percaya kamu anaknya atau enggak, yang jelas dia emang ayah kamu.”
“Sejujurnya, aku juga gak mengharapkan kamu ada diantara kami. Anak, bukan tujuan aku dalam pernikahan.” Edelweis terdiam, entah bagaimana perasaan anaknya kela kala tahu jika orang tua nya yak pernah mengharapkan kehadirannya sejak awal. “Tapi, aku berharap. Semoga dengan adanya kamu, bisa mendekatkan kami. Bisa membuat aku sama ayah kamu bersama, selamanya. Mungkin dengan itu, kehadiran kamu akan aku terima.”
Terdengar jahat memang apa yang diucapkan Edelweis, namun memang itu harapannya. Semoga dengan hadirnya anak diantara pernikahannya dengan Jonathan, hubungan sesungguhnya akan benar-benar tercipta.
***
Edelweis menatap Jonathan yang juga sama menatapnya saat mereka baru saja keluar dari kamar masing-masing. Tatapan Jonathan tertuju pada perut Edelweis yang masih terlihat rata.
__ADS_1
“Kemeja lo, nanti aja ya gue balikin nya. Masih kotor.” ucap Edelweis, memecah keheningan diantara mereka.
Jonathan mengangguk.
Edelweis mengangguk-angguk, dia menarik tipis kedua sudut bibirnya. “Jo, soal kehamilan gue... Lo jangan dulu kasih tahu Mama Papa, ya. Gue belum siap.”
“Jangankan lo. Gue aja belum siap tahu fakta ini.” Edelweis mengangguk paham. “Berarti, kehamilan lo cuma kita yang tahu kan?” tanya Jonathan yang justru mendapat gelengan dari Edelweis.
“Siapa lagi yang tahu?”
“Sinta sama Adinda, mereka yang bawa gue pas gue pingsan hari itu. Mereka juga yang dengar langsung dari dokter tentang kehamilan gue.” jelas Edelweis.
Jonathan terkejut mendengarnya. “Berarti mereka tahu dong tentang pernikahan kita?”
“Enggak, lo tenang aja. Mereka gak tahu. Mereka tahunya gue hamil karena ‘kecelakaan’, udah itu aja.”
Bersyukur, rasanya Jonathan mampu bernapas lega mendengarnya. Dia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. “Emang dia hadir karena kecelakaan sebenarnya. Andai aja malam itu—”
“Gak usah lo ingetin, Jo. Gue tahu kok. Jadi, lo gak perlu memperjelas nya. Justru dengan lo ngomong gitu, sama aja dengan lo buka luka lama gue.” ucap Edelweis, dia menyampirkan tasnya.
“Lagian, gue juga gak berharap banyak sama lo dengan adanya anak ini. Karena gue yakin, lo gak akan peduli sama ini semua.” bohong, nyatanya Edelweis berharap hubungan mereka membaik dengan adanya anak ini.
Edelweis mengangguk paham, “Yaudah, Jo. Gue berangkat duluan, ya. Lo juga, berangkat ke kantor, ya. Jangan mampir kemana dulu atau minta reschedule meeting tiba-tiba. Soalnya pagi ini kita ada meeting sama relasi penting.” ucap Edelweis mengingatkan, dia pun melenggang pergi meninggalkan Jonathan yang masih diam di tempatnya.
Edelweis diam di lift dengan bibir mengerucutkan kesal, dia tersenyum miris. “Padahal gue berharap, saat lo tahu kehamilan gue ini. Lo bisa lebih care sama gue, lo tawarin tumpangan bareng ke kantor. Tapi, ternyata enggak. Gue terlalu berharap ternyata.” Edelweis menghela napas kasar.
***
Edelweis tak langsung pergi ke kantor, dia singgah terlebih dahulu di sebuah toko bunga. Dua buket bunga berukuran sedang dibelinya disana dan taksi yang ditumpanginya berhenti di sebuah pemakaman yang amat sangat bersih dan tertata rapi. Sebuah pemakaman di tengah kota yang dikelola dengan biaya pengelolaan yang cukup besar. Rerumputan hijau dengan batu nisan diatasnya menjadi penyekat setiap makam nya.
Setelah membayar biaya taksi, Edelweis turun dan berjalan ke arah pemakaman dimana kedua orangtuanya dimakamkan di sana.
Wajah angkuh yang selalu terlihat, kini terganti dengan wajah pilu dibarengi dengan air mata yang sudah menggenang dipelupuk matanya saat kakinya semakin dekat dengan nisan kedua orangtuanya.
“Morning Mi, Pi.”
Edelweis berjongkok diantara dua nisan, dimana disana tertulis nama kedua orangtuanya juga tanggal dimana keduanya meninggal secara bersamaan.
Belum apa-apa, Edelweis sudah menangis saja saat tangannya meletakkan buket bunga diatas nisan keduanya.
“Maafin, Edel, ya. Edel jarang kesini, jarang nengokin Mami sama Papi. Tapi, percaya, Edel gak pernah lepas buat do'ain kalian. Setiap salat, Edel pasti berdo'a untuk kalian.”
“Edel yakin, Mami sama Papi udah tahu lebih dulu dengan apa yang terjadi sama Edel sekarang. Gimana kehidupan yang lagi Edel jalanin ini. Kalian juga pasti tahu kalau sekarang Edel lagi hamil.”
Bibir Edelweis bergetar, dia sekuat tenaga untuk tak meneteskan kembali air matanya. Namun, dia terlalu lemah. Dia tak bisa.
“Edel bingung, Mi, Pi. Apa yang harus Edel lakuin sekarang? Apa lagi dengan keadaan Edel yang mengandung sekarang.”
Edelweis tak bisa berkata apa-apa lagi, hanya menangis yang bisa dia lakukan. Dia menumpahkan kesedihan yang selama ini dia pendam dihadapan semua orang. Kesedihan yang tak pernah terlintas dibenak orang-orang akan dirinya. Wajah angkuh dan sombong itu hilang, digantikan dengan wajah pilu penuh pengasihan.
__ADS_1
Hingga tanpa sadar, Edelweis jatuh pingsan dalam tangisnya. Dan, seorang lelaki datang menghampiri Edelweis, mengangkat perempuan hamil yang tengah pingsan itu untuk dibawa ke klinik terdekat.