Sandiwara

Sandiwara
Ep.33 - Permintaan Edelweis


__ADS_3

Jonathan melirik jam di pergelangan tangannya, matanya juga tak henti melirik meja Edelweis lewat kaca dari ruangannya. Padahal jelas sekali, pagi tadi Edelweis berangkat lebih dulu, lebih pagi dari biasanya. Namun, keberadaan perempuan itu belum terlihat olehnya. Baru kali ini dia merasa cemas akan keadaan perempuan itu.


Hingga telpon yang berdering menyadarkan lamunannya, dia mengangkat panggilan dari Sinta itu.


“Halo, pak. Saya mau mengingatkanku kalau 10 menit bapak ada meeting dengan perusahaan Pak Barudin Sukma.”


Jonathan mengangguk, “Oke, thank you. Tolong kamu sebutin, Sin schedule saya selanjutnya.”


“Pagi ini bapak ada meeting dengan Pak Barudin Sukma. Menjelang siang, bapak ada jadwal lunch bersama bu Bintan untuk membahas proyek terbaru kita. Untuk hari ini bapak hanya memiliki 2 pertemuan.”


“Oke, thank you.”


“Baik, pak. Ada lagi pak yang bisa saya bantu?”


Jonathan menggeleng, “Enggak. Kamu bisa persiapin buat meeting pagi ini.”


“Baik, pak kalau begitu saya tutup telpon nya.”


“Tunggu, Sin!”


“Iya, pak?”


“Edel kemana, ya? Kok dia belum ada di mejanya? Saya belum lihat dia pagi ini.”


Hening untuk beberapa saat ketika Jonathan melontarkan pertanyaan itu pada Sinta. “Sin?” panggil Jonathan kembali.


“Maaf, pak. Saya kurang tahu, mbak Edel gak kabarin apapun sama saya.”


Jonathan menghela napas pelan, “Yaudah, makasih.”


Jonathan mematikan panggilan. Dia bersandar pada kursinya, memandang meja Edelweis dari ruangannya. Aneh. Baru kali ini dia merasa begitu cemas dengan keadaan perempuan itu. Padahal sebelumnya dia tak pernah merasa demikian. Apa karena dia tahu jika sekarang Edelweis tengah mengandung, anaknya?


***


Mata itu mengerjap-ngerjap, membuka kelopak matanya perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Hal pertama yang dilihat adalah atap putih dan aroma obat-obatan yang tercium sangat menyengat. Tahu jika dirinya berada di rumah sakit, membuat Edelweis bergegas bangun. Dia trauma dengan rumah sakit, tempat ini selalu mengingatkan nya pada kedua orangtuanya yang berlumuran darah akibat kecelakaan itu.


“Hei, hei, tenang-tenang. Kamu baru sadar.”


Edelweis menatap bingung dan cemas pria yang ada di sampingnya, pria itu memegang kedua bahu Edelweis. Dengan cepat Edelweis menepis tangan pria itu.


“Siapa lo?” kesal Edelweis. “Berani-berani nya lo pegang gue.”


Pria itu tak menjawab, justru tersenyum tipis melihat tingkah Edelweis. Melihat itu membuat Edelweis semakin kesal, dia pun bergegas turun dari ranjang, melepas asal infus di tangannya.


“Aduh ibu, mau kemana? Ini lagi infus nya kenapa di lepas, bu.”


Edelweis mendengus kesal, “Ibu! Ibu! Gue masih muda, ya!”


“Iya, maaf mbak. Tapi, ini infus nya kenapa di lepas begini? Lihatkan, tangan mbak jadi berdarah.” ucap suster sambil mencoba meraih tangan Edelweis yang punggung tangannya berdarah.


“Udah sih, gakpapa. Udah, udah, gue mau pergi.”


“Tapi, mbak— Ya, ampun... Mbak! Dokter ini gimana?”


Dokter David, pria yang tadi menemukan Edelweis pingsan di pemakaman saat dirinya tengah berziarah ke makam adiknya. Dia juga yang ditatap tajam oleh Edelweis saat membantu perempuan itu yang terlihat histeris dan terburu-buru pergi.

__ADS_1


David, dia mengangkat tubuh Edelweis dan membaringkan kembali perempuan itu diatas ranjang. Dia meminta suster untuk memasangkan kembali infus yang sempat Edelweis lepas secara paksa itu.


David terdiam, dia tersenyum tipis menatap wajah tenang perempuan itu. “Ila.” gumam David tipis saat kenangan dulu kembali terulang di benaknya.


***


“Jadi, lo yang nolongin gue yang pingsan di pemakaman itu?” tanya Edelweis, dia melirik sinis pria yang saat ini duduk disampingnya. Tepat saat Edelweis sadar kembali, dia mencoba untuk kabur lagi. Namun kembali ditahan.


Seolah tahu ada ketakutan dimata Edelweis, pria yang baru saja berkenalan dengan Edelweis yang bernama David itu langsung menyarankan Edelweis untuk menenangkan diri di taman rumah sakit yang begitu asri sambil menunggu keadaan perempuan itu benar-benar pulih.


“Iya, saya yang tolong kamu. Kebetulan, saya juga ada di tempat yang sama, gak jauh dari tempat kamu.”


Edelweis berohria, “Oke.”


David terkekeh mendengar balasan demikian, dia tersenyum pada Edelweis yang justru menatap nya sinis. “Kamu gak ada niatan bilang terimakasih gitu?” tanya David, dia menaikan sebelah alisnya.


Edelweis mengerutkan kening kesal, “Dih. Oh, iya, lo dokter ternyata. Kira-kira gue bisa pulang kapan? Gue gak mau, ya lama-lama disini. Gak betah gue!”


“Tenang dulu, tunggu sampai infus kamu ini habis, baru kamu boleh pulang. Gak kasihan apa kamu sama diri kamu, kalau paksa buat pulang. Ingat loh, kamu gak sendiri sekarang, ada seseorang juga yang harus kamu jaga.”


Edelweis terdiam seketika, dia terlalu acuh dengan janinnya selama ini. Mungkin karena kehadiran janin itu yang tak diharapkan, maka Edelweis bersikap demikian.


“Oh... Jadi, lo tahu gue hamil.”


“Saya kan dokter, La.”


Edelweis menoleh, terkejut dan bingung. “La?”


“Maksud Saya, Edel. Nama kamu Edelweis Nequila kan?”


David membulatkan matanya, dia menghela napas kasar. “Ya, ampun... Kamu terlalu banyak menduga-duga sepertinya. Kamu kan pingsan di tempat umum, otomatis saya harus mencari identitas kamu.” David mengangguk-angguk, “Bagusnya kamu bawa identitas itu, jadi gak terlalu sulit untuk tahu siapa kamu.”


Edelweis memutar bola matanya, “Oh, gitu. Tapi, gue gak izinin lo panggil gue dengan panggilan La, La itu ya. Gak boleh! Ngerti!?” tukas Edelweis, dia menatap tajam dan sinis David.


“Kenapa?”


“Kepo banget sih lo, dok. Lagian, lo ngapain sih masih disini? Udah sana, pergi. Kerja lo! Dokter kok nongkrong-nongkrong doang kerjanya.”


David beranjak dari duduknya, “Tenang aja lah. Lagian, jam tugas saya juga belum dimulai sebenarnya. Demi kamu aja, saya langsung turun tangan.”


“Dih, apaan banget.


***


“Darimana lo? Seharian gak ada di kantor?”


Edelweis tak salah mendengar bukan saat dia mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jonathan padanya. Dia mendongak, menatap pria itu dengan senyuman yang sulit sekali dia tahan.


Jonathan duduk di hadapan Edelweis, dia mengambil gelas dan menuangkan air kedalamnya. “Lo jangan salah paham dulu. Gue gak bermaksud apapun kok. Gue cuma gak suka aja sama orang yang seenaknya, ninggalin tanggung jawab gitu aja. Gak profesional.”


Edelweis justru semakin tersenyum, dia menggeleng acuh. “Terserah, gue gak peduli. Intinya, lo cemas juga kan karena gue gak ada di kantor?” Edelweis terkekeh, dia menyingkirkan susu ibu hamil yang tengah di buatnya. Dia melipat tangan di atas meja. “Kenapa lo gak telpon gue aja? Tanyain gue dimana, gitu. Biar lo gak usah cemas. Apa lo gak punya nomor gue? Perasaan, gue udah save nomor gue di handphone lo deh.”


Benar, bukan. Edelweis langsung percaya diri sekali. Karena itu pula, Jonathan sebenarnya enggan melontarkan pertanyaan itu. Tapi, mulutnya tak kuasa menahan, akhirnya pertanyaan itupun keluar.


“Gue kan udah bilang, jangan salah paham. Lagian, gue tuh gak peduli sebenarnya lo kemana, cuma kalau lo gak ada kabar dan terjadi sesuatu sama lo, gue juga yang akan disalahin. Mama sama Papa, pasti salahi gue kalau lo kenapa-napa.”

__ADS_1


Edelweis tersenyum tipis. “Oh... Iya deh, padahal gue berharap lo emang beneran khawatir sama gue.”


Jonathan membuang muka, dia tak menatap Edelweis. Namun, dia juga tak beranjak pergi dari hadapan perempuan itu. Matanya kini melihat Edelweis yang tengah meneguk susu cokelat.


“Sejak kapan lo minum susu mau tidur?”


Edelweis baru meneguk setengah dari gelas, dia meletakkan gelasnya kembali. “Sejak hari ini. Sejak dokter saranin gue buat minum susu ibu hamil.” jawab Edelweis, dia mengendikkan bahunya.


“Lo dari dokter?”


Edelweis terkekeh, dia tersenyum menatap Jonathan. “Tuh kan, lo tuh kepo sama gue, Jo! Udah deh, Jo lo tuh sebenarnya peduli kan sama gue? Iya, kan? Udah, jujur aja sih! Gakpapa gue mah, sumpah.”


Jonathan berdecak, dia memutar bola matanya malas. “Terserah lo lah, gue gak peduli.” ucap Jonathan, dia sudah bersiap akan pergi. Namun, ucapan Edelweis berhasil mengurungkan niatnya.


“Gue ke pemakaman Mami sama Papi, Jo. Gak tahu kenapa, tiba-tiba gue pingsan di sana.”


Jonathan tak bisa menyembunyikan keterkejutan nya, “Terus, gimana?” tanya Jonathan, kecemasan tersirat jelas diwajahnya.


Edelweis tersenyum tipis, “Untungnya ada orang yang tolongin gue. Dia bawa gue ke rumah sakit, kebetulan dia juga dokter. Orang yang tolong gue tuh dokter. Jadi, gue di rawat sebentar disana.” Edelweis menunjukkan bekas infus ditangannya. “Tuh, lihat. Gue gak bohong, seriusan.”


Jonathan tahu, jika kali ini Edelweis tak berbohong sama sekali.


“Dokter bilang apa sama lo?”


“Gue cuma diingetin buat istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran.”


Jonathan mengerutkan keningnya. “Lo pikirin apa sih, Del? Perasaan lo gak punya beban apapun deh. Kerjaan di kantor juga Sinta yang handle semuanya. Punya beban apa coba lo?” tanya Jonathan bingung, seharusnya Edelweis tak punya beban memang.


“Emangnya lo tahu, Jo pikiran gue isinya apa?”


Jonathan diam.


“Enggak kan? Jadi, lo gak berhak berasumsi kalau gue gak punya pikiran apalagi beban apapun. Setiap orang punya kali, cuma bedanya ada yang ditunjukin, ada yang enggak. Dan, gue bukan tipe orang yang akan nunjukin beban pikiran gue.”


“Lo gak mau tanya, apa yang jadi beban pikiran gue sekarang?”


Seharusnya Jonathan menjawab tidak, namun justru mulutnya berkata lain. “Apa?” tanya Jonathan.


Edelweis tersenyum senang saat Jonathan bertanya, namun menatap perutnya pilu. “Gimana nasib dia, ya, Jo? Kalau dia tahu, ternyata orangtuanya itu punya hubungan yang gak kayak hubungan orang normal diluar sana.”


“Maksud lo?”


“Ya, kita tahu, Jo. Gimana hubungan kita. Udah tinggal bareng pun, gak ada tuh sedikitpun kemistri diantara. Hubungan kita, masih... Aja sama kayak sebelumnya. Gak ada kemajuan sedikitpun.”


“Del, apaan sih lo. Lo bahkan tahu gimana pernikahan kita ini. Lo—”


“Iya, gue tahu.” Edelweis beranjak berdiri. “Gue tahu kita nikah karena dijodohin. Gue tahu, lo gak cinta sama gue tapi sama cewek lain. Lo yang buat perjanjian konyol, yang bahkan gue gak pernah berpikir lo bisa buat kayak begituan. Gue juga tahu kok, lo punya niatan apa kedepannya tentang hubungan kita ini.” Edelweis sudah berdiri di hadapan Jonathan yang masih duduk ditempatnya.


“Tapi, Jo. Apa lo gak mau coba buat buka hati lo? Lo gak mau coba jalin hubungan kita ini sebagaimana suami istri sebenarnya? Apa lo gak mau?” lirih Edelweis, dia menatap lekat Jonathan yang tak bisa berkutik untuk beberapa saat.


“Del, kita—” Jonathan sudah mencoba beranjak berdiri, namun ditahan oleh Edelweis sehingga pria itu masih juga duduk ditempatnya.


“Jangan demi gue karena gue yakin, gak akan mungkin. Coba lo berpikir, demi dia.” Edelweis menarik tangan Jonathan, membawa tangan pria itu ke perut ratanya.


“Demi dia, Jo. Demi anak lo.”

__ADS_1


__ADS_2