Sandiwara

Sandiwara
Vina?


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul 5:00, tapi ntah siapa yang menggedor-gedor rumah Rara pagi buta seperti ini.


Tok tok tok...


Rara pun tidak ada niat untuk membuka pintu itu namun dikarenakan gedoran itu semakin kuat membuat Rara bangun dari tempat tidurnya.


Ceklek


Rara pun membuka pintu rumahnya, dan sudah terpampang jelas seorang laki-laki yang menggunakan seragam sekolah berdiri dengan senyum yang menampakkan semua giginya.


"Ngapain lo kesini?kagak ada jam dirumah lo?" cicit Rara pelan, karena belum sepenuhnya mengumpulkan kesadarannya.


"Eh cacar udah bangun," titah orang tersebut dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya.


"Cacar,lo kira gue penyakitan!" bentak Rara dengan keadaan masih mengantuk.


"Cacar itu calon pacarrrrrrrr," sahut orang itu, dengan menyebut panjang huruf 'r'


"Ngak usah gitu juga kali neng,liur lo berserakan," ucap Rara.


"Babang Angga yang paling ganteng ini dipanggil 'neng', sungguh terlalu," sahut Angga dengan menirukan gaya Rhoma Irama.


"Bacot ,udah sana lo balik!" usir Rara, sambil menutup pintunya.


"RA KITA BERANGKAT BARENG YA!" teriak Angga.


Angga memang sengaja menjemput Rara semenjak kejadian kemarin ia sudah berjanji pada dirinya sendiri agar lebih cekatan mendekati Rara.


Flashback on


"Mulai sekarang lo jadi pacar gue," ucap Angga.


"Sinting lo,gue gak mau!" tegas Rara yang terlihat terkejut dengan ucapan Angga.


"Itu bukan pertanyaan itu pernyataan," jelas Angga.


"Asal ngeklaim aja lo,Pokoknya gue gak mau!" bentak Rara lalu segera meninggalkan Angga,menuju taxi yang sudah dipesannya.


"Nasib-nasib, padahal pengen niru kayak dicerita *******,alhasil ditolak." Anggapun segera pulang


Flashback off


Angga pun menunggu Rara sekitar satu jam setengah dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 6:30.


"Ra,huy!" teriak Angga.


"Anjay mana nih gebetan gue," cicit Angga bermonolog.


Karena jam sudah menunjukkan pukul 6:30 Rara pun keluar dari rumah dengan setelan seragam sekolah lengkap.


Ceklek


Rara membuka pintu dengan santainya tanpa menghiraukan Angga sama sekali.


Rara pun mulai berjalan, menapakkan kakinya ditangga dan mulai melangkah.


"Woi mau kemana lo,gue udah nunggu lama," tegur Angga setengah berteriak.Namun sama sekali tak dihiraukan oleh Rara.


"Rara ayo ntar terlambat," panggil Angga sembari menaiki motornya.


Rara pun terus berjalan keluar komplek perumahannya,dan diikuti Angga dari belakang.


"Rara," panggil Angga lagi.


"Suara siapa tuh,masak iya ada hantu masih pagi begini," tutur Rara.


"Gila, gue dianggap hantu," protes Angga.

__ADS_1


Angga pun sudah jengah menghadapi Rara,ia pun turun dari motornya dan menghampiri Rara dan...


Cup


Angga mencium pipi Rara secara tiba-tiba,dan membuat Rara melotot seperti ingin mengeluarkan bola matanya.


"NAJIS!" teriak Rara seperti suara toa penjual tahu bulat.


"Yaelah baru pipi udah gitu aja, gimana kalo..." Angga menghentikan ucapannya dan memandangi bibir Rara.


Rara pun bergidik ngeri dengan tatapan Angga yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.


••••


Rara dan Angga kini telah berada disekolah, terlihat banyak para murid menatap iri kepada mereka yang datang bersamaan.


Rara memang sudah pasrah bila ia akan pergi kesekolah bersama Angga,ia takut bila Angga akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya.


Tiba-tiba banyak para murid yang datang bergerombolan kearah mereka seperti sedang mengantri untuk menerima bansos (bantuan sosial).


"Kak Angga minta tanda tangan nya dong," sarkas seorang murid.


"Kak Angga boleh minta foto!" teriak seorang murid lagi.


"Kak Angga minta nomor telepon nya dong," pinta seorang murid lagi dan masih banyak lagi permintaan mereka.


Seorang murid pun menyerahkan buku tebal kepada Angga."Minta tanda tangannya kak," ucap murid itu.


"Gue deluan ngga,lo ladenin aja nih para fans lo." Rara segera meninggalkan Angga bersama para Anggalovers.


Angga pun mulai menanda tangani kertas yang diberikan kepadanya."Emang harus sebanyak ini ya tanda tangannya?" tanya Angga pada murid yang memberikan buku tebal kepadanya.


Murid yang ditanya pun hanya cengengesan tidak jelas.


Kring...kring...


"Udah bel, nanti aja ya tanda tangannya," tutur Angga lalu segera pergi menuju kelas.


"Yahhh."


••••


Rara pun masuk kedalam kelas dengan santainya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seseorang yang sangat ia kenali,ia pun mengerjapkan matanya berkali-kali tak percaya.Detik berikutnya...


"VINA!" suara Rara bergema keseluruh penjuru kelas, mengundang seluruh perhatian murid dikelas.


Rara pun memeluk Vina dengan sangat eratnya, menumpahkan segala kerinduannya.


"Udah Ra,kangen banget ya sama Vina?" tanya Vina sangat lembut, sambil mengusap rambut Rara.


"Vina sih gak ngasih tau kalo ada masalah," tutur Rara cemberut.


"Vina kan ada masalah jadi belum sempat ngasih tau Rara, maaf ya Rara," cicit Vina.


Ya begitulah Vina dan Rara bila berbicara, menggunakan bahasa yang sangat sopan,mereka sama sekali tidak menggunakan kata'lo-gue'.


"Iya dimaafin kok," balas Rara, lalu melepaskan pelukannya


"Gebetan i'm coming!" ucap seseorang setengah berteriak, yang pasti itu adalah Angga.


"Gebeta..." ucapan Angga pun berhenti karena melihat seseorang yang ada disebelah Rara.


"Vina," beo Angga.


"Kalian udah saling kenal ya?" tanya Rara dengan ekspresi bingung.


"Udah Ra,dulu kita tetanggaan," jawab Vina.

__ADS_1


"Kalian duduk barengan ya? terus gue sama siapa dong gebetan," sarkas Angga dengan nada yang alay.


"Ih,duduk tuh sama si Titi," ucap Rara.


Orang yang disebut pun langsung menoleh,dan tersenyum pada Angga,Titi adalah seorang murid yang sering jadi bahan bullyan


Disekolah, karena badannya yang gendut, dan juga ia sering menggombali para laki-laki.


Angga yang melihat itu pun langsung bergidik ngeri, ia pun segera duduk disamping Randy.


"Huy Adit,si permen gebetan lo?" tanya Randy penasaran.Adit?ya memang bermacam-macam panggilan para sahabat Angga,tapi itu tetap dari nama panjang Angga.


"Siapa permen?Rara? calon gue tuh jangan sembarangan kalo bicara," jawab Angga kesal.


"Yaelah gak bakal juga sahabat lo yang paling ganteng ini nikung lo," balas Randy.Randy memang sahabat Angga dan masih banyak lagi sahabat Angga lainnya.


"Huy, pada ngomong apa nih?" sarkas seseorang yang langsung menimbrung percakapan mereka berdua.


Saat orang itu berbicara Angga dan Randy sontak menutup hidungnya."***** habis ngerokok lo?" tanya Angga.


"Hehehe biasa," jawab orang itu.


"Tobat lo ngerokok,ntar cepat mati Lo," pinta Randy.


"Ala Ren lo aja ngerokok, gue kan udah dewasa gak apalah merokok," jelas orang itu dengan santainya.


"Sok dewasa lo,nama aja masih Unyil, perbaiki dulu akta kelahiran lo, baru ngomong dewasa," pinta Angga, lalu tertawa terbahak-bahak bersama Randy.


"Ini yang gue males, setiap ngomong sama lo berdua pasti ujung-ujungnya ngehujat nama gue," ungkap Unyil.


Unyil adalah sahabat Angga dan sejak kelas 5 SD mereka bertiga selalu bersama-sama.


"Jadi ngomongin apa tadi lo Randy sama putra?" tanya Unyil.Bila Randy memanggil Angga,Adit lain pula dengan Unyil dia memanggil Angga Putra.


"Ja..."


Belum sempat Randy menjelaskan, suara derap langkah memasuki kelas mereka dan yg tak lain itu adalah wali kelas mereka.


"Jadi saya disini selaku wali kelas kalian, dan saya mohon kerjasama nya dalam membenahi kelas ini," jelas buk Neldia.


"Karena saya tidak suka berbasa-basi maka kita langsung saja belajar, untuk pengurus kelas silahkan kalian yang rundingkan." buk Neldia pun memulai pelajaran.


Karena hari ini masa KBM (kegiatan belajar mengajar) sudah aktif


, mereka pun memulai pelajarannya.


Kring...kring...


Tak terasa sudah satu setengah jam mereka belajar akhirnya bel keluar main pun berbunyi.


"Baik semuanya, pelajaran kita lanjut untuk pertemuan selanjutnya," tutur buk Neldia wali kelas sekaligus guru .


Seluruh murid pun ingin keluar kelas, namun sebelum itu terjadi, sudah banyak para adik kelas berkerumunan didepan kelas sambil meneriaki nama 'Angga'.


"****** lo," ledek Rara pada Angga, saat mereka berpapasan didepan pintu.


"Baru jadi gebetan aja udah cemburu, gimana kalo jadi pacar," cicit Angga dan mampu didengar oleh Rara.


"Mimpi!" tegas Rara setengah berteriak.


Sedangkan Vina hanya mendengar perdebatan mereka berdua, tanpa bersuara.


📖📖📖📖


cuma mau kasih tau kalo cerita SANDIWARA ada dalam versi WP


disana udah banyak part nya

__ADS_1


langsung mampir ya ke @lyraaryanti


__ADS_2