Sandiwara

Sandiwara
Ep.20 - Sebuah Tamparan Halus


__ADS_3

“Mbak Edel, seperti biasa. Ini.”


Edelweis tersenyum senang saat Adinda menghampirinya. Bukan karena Adinda sebabnya, namun sesuatu yang dibawa perempuan itu, yaitu brownies.


Edelweis membuka kotak bekal itu, dia semakin melebarkan senyumnya. Dia mendongak menatap Adinda, dia mengambil dompetnya dan mengeluarkan sejumlah lembar uang berwarna merah. Dia menyodorkan nya pada Adinda.


“Nih, bayaran nya.”


Adinda menggeleng, dia menolak. “Gak mau ah, mbak. Gak usah.”


“Lo tuh, ya. Kenapa juga gak pernah mau kalau gue bayar sih? Kurang bayaran gue atau gimana?” Edelweis menarik kembali uang dari dompetnya dan menyerahkannya pada Adinda. “Nih, ambil! Gue gak mau punya hutang apapun sama orang.”


Adinda menghela napas kasar, dia mengerucutkan bibirnya kesal. “Mbak Edel, ini tuh bukan masalah uangnya. Aku tahu kok, kalau mbak Edel bisa bayar berapapun, bahkan mungkin satu brownies itu bisa mbak bayar sebesar gaji aku sebulan. Tapi, ini bukan tentang uang mbak.”


Edelweis terdiam, dia menatap lekat Adinda.


“Yaudah mbak, aku permisi dulu, ya. Aku masih ada kerjaan.”


Adinda pun berlalu begitu saja meninggalkan Edelweis yang terdiam bingung menatap kepergian perempuan itu. Sinta yang sejak tadi ada pun hanya diam, dia menggeleng heran melihat kelakuan rekan kerjanya yang merupakan atasannya ini.


“Sin!”


Sinta mendongak seketika, dia menaikkan kedua alisnya dan tersenyum lebar. “Iya, mbak?” tanya Sinta.


“Gue salah, ya? Maksud omongan Adinda apa sih?”


Sinta tersenyum kikuk, dia menggeleng pelan. “Eng-enggak, mbak Edel gak salah.” jawab Sinta, tak mungkin dia menjawab jujur. Bisa tamat riwayatnya.


“Kok dia ngomongnya gitu sih sama gue?”


“Gak tahu, mbak.”


“Masa lo gak tahu sih? Lo kan temannya, masa iya gak tahu.”


“Ya, tapi kan mbak—”


“Udah, udah, gak usah jawab deh! Males gue dengarnya!”


Sinta hanya bisa menghela napas kasar, dia merendahkan posisi duduknya dan memasang wajah kesal saat wajahnya terhalang layar laptop.


Edelweis menyebalkan, aslinya.


***


Edelweis mengerutkan kening bingung melihat amplop yang ada di hadapannya. Jonathan menyodorkan amplop tersebut padanya.


Jonathan yang duduk di kursinya tak langsung menjelaskan. “Lo buka aja sendiri.”


Edelweis membuka amplop tersebut, kerutan di kening nya semakin terlihat saat yang dia temukan justru sebuah cek kosong. “Apa sih, Jo maksudnya?” tanya Edelweis bingung.


“Itu cek kosong, lo boleh isi berapa pun nominal yang lo mau.”


“Terus?”


Jonathan menaikan sebelah alisnya, dia menatap Edelweis. “Gue gak mau punya hutang sama lo dalam bentuk apapun. Dan, gue rasa jumlah nominal yang nantinya tertulis di cek itu bisa bayar tenaga lo yang terbuang sia-sia malam itu.”


Oke, Edelweis tahu maksudnya apa.


“Jadi, maksud lo apa yang udah gue lakuin itu harganya bisa ternilai? Gitu?”


Jonathan mengendikkan bahunya. “Ya.”


Edelweis tersenyum sinis, dia menggeleng heran dengan pikirkan Jonathan. “Gue, lebih menghargai ucapan terimakasih lo kemarin daripada cek yang lo kasih hari ini.” Edelweis melempar cek tersebut. “Gue gak butuh!”


“Udahlah, Del. Gak usah munafik. Lo gak mau terima cek dari gue karena lo mau gue merasa berhutang budi sama lo kan.” Jonathan berdecak. “Ayolah, gue gak mau hidup dengan hutang budi sama lo.”


Jonathan beranjak, mengambil kembali cek tersebut dan meletakkan nya di tangan Edelweis. “Bawa dan tulis nominalnya, itu artinya gue gak berhutang apapun.”


Edelweis menatap tajam Jonathan, dia meremas cek di tangannya. “Lo pikir, segala sesuatu nya itu tentang uang?” Edelweis tersenyum sinis, dia berucap tajam. “Jo, ada jasa yang gak bisa lo beli dengan uang. Mau sebesar apapun uang yang lo kasih, belum tentu bisa balas budi itu. Gue tahu, uang lo banyak, lo bisa beli ini itu dengan duit lo itu. Sayangnya, enggak dengan gue. Lo gak bisa pakai duit lo itu buat beli kebaikan yang udah gue kasih. Gue gak butuh duit lo!”


“Yakin?”


Edelweis mengerutkan kening dalam.

__ADS_1


“Oh, kalau begitu berarti gue gak perlu berbalas budi, iya?”


“Gue gak minta lo balas budi kok. Gue ngelakuin itu karena gue punya hati nurani. Gue ikhlas.”


“Apa iya? Yakin, nantinya lo gak akan nuntut apapun dari gue dengan alih-alih lo udah pernah nolongin gue malam itu?”


Edelweis berdecak, dia memutar jengah bola matanya. “Jo, apaan sih lo? Lo tuh, ya. Ih!” Edelweis gemas kesal dengan sikap Jonathan padanya. “Bisa gak sih, otak lo tuh positif tentang gue. Jangan apa-apa negatif mulu, gue buat baik pun, tetap aja salah di mata. Aneh!”


“Apa perlu gue perjelas kalau gue lebih menghargai ucapan terimakasih lo kemarin, daripada cek yang lo tawarin itu.” kesal Edelweis. “Ngerti lo?”


Jonathan mengangguk-angguk, “Oh, gitu ya. Oke, sekarang lo ngerti dong.”


“Maksudnya?”


“Pakai lah otak lo, pikirin apa maksud dari ucapan gue ini. Seperti yang lo bilang, uang bukan segalanya.”


Edelweis masih tak mengerti dengan maksud ucapan Jonathan, pria itu terlalu bertele-tele tanpa mau menjelaskan maksudnya.


Jonathan berdehem, dia kembali fokus pada laptopnya. “Oke, Edel. Silahkan kamu keluar, saya udah selesai.” ucap Jonathan formal, dia kembali bersikap seperti atasan Edelweis.


***


Segala sesuatunya tak harus melulu tentang uang.


Ada jasa yang gak bisa dibayar dengan uang.


Edelweis masih memikirkan apa maksud ucapan Jonathan padanya. Di benaknya belum ada satupun jawaban atau maksud yang mengarah pada ucapan Jonathan. Namun, saat matanya melihat Adinda sesuatu melintas di otaknya.


“Ah... Itu ternyata maksudnya.” Edelweis mendengus, “Masa iya gue dibandingin sama Adinda sih? Gak banget. Lagian, beda perkara kali.” Edelweis berdecak.


Mencoba untuk tak peduli, namun Edelweis jadi kepikiran sendiri. Masalahnya, dia sudah tahu maksudnya apa. Jadi, untuk berpura-pura itu sulit sekali rasanya.


“Eh, Sin!”


Sinta yang kebetulan melintas di depannya seketika berhenti, ditangannya ada beberapa berkas yang entah apa Edelweis sendiri tak tahu.


“Iya, mbak?”


“Mbak?”


“Lo ada janji gak hari ini?”


Sinta tersentak kaget, “Maksudnya, mbak?”


Edelweis memutar malas bola matanya, “Lo pulang kerja nanti, ada acara gak? Kurang jelas pertanyaan gue?” tanya Edelweis malas.


Sinta menggeleng, “Enggak, mbak. Emangnya ada apa?”


“Datang ke Sam Dera Resto, ya. Gue tunggu lo di sana.”


“Hah? Tapi, mbak—”


“Udah, gue gak mau dengar apapun. Lo cukup datang aja, gak usah banyak tanya! Ngerti?”


“Tapi kan, mbak—”


“Sekalian deh, ajak temen lo itu. Biar gak keliatan norak sendirian.” Edelweis menunjuk Adinda dengan dagu juga lirikan matanya.


“Mbak—”


Tanpa menunggu jawaban apapun, Edelweis pergi begitu saja meninggalkan Sinta yang masih dibuat terkejut dan bingung dengan ucapan Edelweis.


***


“Seriusan? Kamu gak ngelindur kan tadi?”


Sinta berdecak, “Serius, Din. Mbak Edel sendiri yang ngomong sama aku. Masa iya aku bohong.”


Adinda mengerucutkan bibirnya, masih dibuat bingung dan penasaran dengan ucapan Sinta. “Tapi, buat apa mbak Edel ajak kita ke resto itu? Mana—lihat deh, Sin. Ini tuh resto mahal. Yakin banget, kalau kita makan disini pasti setengah gaji kita abis.”


“Bukan setengah lagi, Din. Hampir semua gaji kita abis. Soalnya, aku pernah kesini waktu ikut meeting sama pak Jo.”


“Tuh kan...” Adinda mendesah pelan mendengar ucapan Sinta, tak bisa dibayangkan jika uang gajinya habis percuma karena makanan.

__ADS_1


“Gimana dong, Din jadinya?”


“Ya, gimana lagi? Kalau mbak Edel yang udah perintah. Apa kita bisa nolak? Enggak, kan?”


“Iya sih.”


Dan, seperti ucapan mereka. Jika Edelweis sudah memerintah, maka tidak boleh ada penolakan. Akhirnya, mereka sampai di resto yang dimaksud Edelweis sebelumnya. Ternyata, sudah ada satu ruangan yang diresepasi oleh Edelweis pun begitu juga dengan makanan yang langsung disajikan saat mereka datang.


“Sin? Serius nih?”


“Heeh.”


“Gila. Aku gak pernah loh berpikir bakal pergi ke resto kayak gini. Sayang banget uangku harus habis sama makanan yang porsinya dikit banget ini.”


“Jangankan kamu, Din. Aku juga gitu. Bersyukur banget aku kalau meeting diajak makan sama Pak Jo di tempat kayak gini, kan kalau bukan karena kerjaan aku juga gak mau tiba-tiba datang ke tempat kayak gini.”


Adinda mengangguk-angguk.


“Eh, tapi kok mbak Edel nya gak ada, ya? Apa jangan-jangan dia ngerjain kita lagi.”


“Ah, gak mungkin sih kalau itu. Masa iya dia ngerjain kita. Kan kamu sendiri yang bilang kalau mbak Edel langsung yang ngomong gitu sama kamu.”


“Iya juga sih. Tapi, kok belum datang juga?” Sinta menatap kearah pintu, berharap Edelweis datang. Tepat saat itu juga pintu terbuka, menampilkan Edelweis dengan wajah angkuhnya seperti biasa.


“Akhirnya, Mbak Edel datang juga.”


Edelweis mengerutkan keningnya bingung mendengar kalimat penyambutan saat dia datang, dia duduk di tempat kosong, dihadapkan Adinda juga Sinta.


“Maksudnya?”


“Ya, kita pikir mbak Edel gak datang dan cuma ngerjain kita doang. Soalnya lama juga datang.”


“Apaan sih kalian, ya, gak mungkin lah. Lagian, gue datang telat juga karena ada urusan yang jauh lebih penting daripada harus nemuin kalian disini.”


“Kalau kita gak penting, mbak Edel ngapain ajak kita kesini?” tanya Adinda.


Edelweis menatap lekat Adinda, dia memicingkan matanya. “Lo ngambek sama gue ceritanya?” sindir Edelweis, sejak awal Adinda SKSD padanya, baru kali dia mendengar nada jutek yang dilontarkan perempuan itu.


Adinda menggeleng, “Enggak. Kenapa harus ngambek?”


“Lo ngomong nya gitu.”


“Loh, aku kan cuma tanya doang. Lagian, aneh aja gitu mbak Edel kita makan disini. Padahal kita tahu, ya, Sin. Mbak Edel tuh jijik kalau harus satu meja sama kita.” Adinda masih ingat bagaimana tak sukanya Edelweis saat dirinya juga Sinta meminta ikut bergabung di meja untuk makan siang waktu itu.


“Apaan sih lo. Gue gak kayak gitu, ya. Lebay banget bahasanya.”


“Ya, terus maksud Mbak Edel ajak kita kesini apa?” tanya Adinda, dia masih menuntut jawaban.


“Ya, mau ajalah. Suka-suka gue. Lagian, lo ribet banget sih, tinggal makan doang juga. Tenang, gue yang bayar. Jarang-jarang kan lo makan ditempat kayak gini.”


“Mbak Edel tuh kenapa sih? Suka banget merendahkan orang?”


Sinta membelalakan matanya mendengar pertanyaan Adinda, dia tak menyangka temannya ini akan seberani ini mengungkapkannya pertanyaan yang sudah dia tahan sejak lama. Pun, begitu dengan Edelweis yang tak menyangka jika Adinda yang super duper ramah tamah, si paling SKSD padanya bisa bertanya demikian.


“Mbak, kalau mbak mau di hargain sama orang dalam artian tulus. Mbak juga haruslah menghargai orang balik. Jangan mentang-mentang mbak punya segalanya, mbak diatas, mbak bisa merendahkan kita yang ada dibawah ini.” Adinda menatap serius Edelweis, ada tatapan prihatin dimatanya. “Mbak, kita juga punya harga diri. Kita juga mau mbak di hargai.”


Adinda beranjak, menyampirkan tasnya. “Makasih, ya mbak untuk undangannya. Saya permisi.” ucap Adinda formal kemudian berlalu pergi.


Sinta yang melihat Adinda pergi dengan cepat merapikan barangnya, dia pun beranjak. “Maaf, ya mbak Edel. Aku juga permisi dulu. Makasih sebelumnya, ya, mbak. Permisi.”


Edelweis yang mendapat perlakuan demikian langsung terdiam seketika, baru kali ini dia tertampar oleh fakta.


Lain halnya dengan Edelweis yang termenung seketika. Sinta segera mengejar langkah Adinda, akhirnya dia bisa menyamai langkah perempuan itu. Mereka masuk ke sebuah lift.


“Gila, kamu keren banget tadi. Gak nyangka, bakal bilang begitu saja mbak Edel.”


Adinda menghela napas kasar, dia langsung menarik tangan Sinta dan meletakkannya di dada. “Gila, Sin. Aku hampir jantungan coba cuma karena ngomong kayak tadi.” ucap Adinda, wajahnya menunjukkan apa yang dia ucapkan.


Sinta bisa merasakan detakan jantung Adinda yang begitu kencang, dia terkekeh. “Tapi kamu keren tahu. Aku gak nyangka loh.”


Adinda menggeleng-geleng, "Duh, aku gak mau lagi ah bilang kayak tadi. Shock jantung ku! Ya ampun, Mbak Edel... Maafin aku, ya. Gak lagi deh aku lancang kayak tadi. Tapi, mau gimana lagi, demi kebaikan mbak.” Sinta mengangguk, mengiyakan. “Semoga aja, ya Sin besok mbak Edel baik-baik aja. Dia gak marah-marah sama aku di kantor apalagi minta pak bos pecat aku.”


“Iya, semoga aja, ya.”

__ADS_1


__ADS_2