
“Kabarin aku terus ya kalau udah di sana.”
Retha tersenyum lebar, dia menepuk-nepuk pelan kedua pipi Jonathan. Sedangkan si empunya hanya diam, menerima apa yang dilakukan Retha padanya.
“Iya, mas Jo. Iya... Udah berapa kali loh kamu bilang itu sama aku.” Retha terkekeh, “Aku pasti kabarin kamu kok, mas. Tenang aja.”
Jonathan menghela napas gusar, kedua tangannya melingkar di pinggang Retha. “Masih pengen ikut kamu sebenarnya.”
“Dan, aku akan marah kalau sampai aku tahu mas Jo ikut pergi.”
“Padahal kan disana aku bisa nyamar, Tha. Gak akan ketahuan pastinya.”
“Dan, aku gak mau ambil resiko apapun, mas. Aku mau, hubungan kita ini tetap backstreet sampai waktunya tiba, kita kasih tahu publik hubungan kita ini.”
Helaan napas kasar Jonathan lakukan, “Aku bisa apa kalau kamu yang minta.”
Retha tersenyum senang mendengarnya, dia menjatuhkan kepalanya didada bidang Jonathan. “Makasih, ya mas kamu udah selalu ngertiin aku. Maafin aku karena aku gak pernah bisa mau menuruti apa mau kamu.” Retha memeluk Jonathan.
“Iya...”
“Kamu marah sama aku?” tanya Retha, dia mendengar nada bicara yang berbeda dari Jonathan.
“Enggak kok, lagian kalaupun aku marah apa kamu bakalan izinin aku buat ikut ke Jepang?” tanya Jonathan yang mendapat gelengan dari Retha. “Yaudah, jadi buat apa marah.”
“Makasih mas Jo...”
“Tapi, aku boleh kan antarin kamu ke bandara? Cuma di mobil doang kok, aku gak akan ikut turun.”
Retha nampak mempertimbangkannya. Hingga akhirnya perempuan itu pun mengangguk, mengiyakan. “Di mobil, ya. Jangan sampai turun.”
“Iya...”
***
“Mbak Edel, sedih banget keliatannya.”
Edelweis mendongak, dia menatap malas Sinta yang menghampiri nya.
“Mbak Edel mau cerita, gak? Siapa tahu aku bisa kasih solusi gitu. Tapi, kalaupun nantinya aku gak kasih solusi apapun, ya, mbak Edel seenggaknya agak plong gitu karena udah cerita.”
Edelweis tak langsung menjawab pertanyaan Sinta, dia hanya menggeleng saja. Di liriknya jam di pergelangan tangannya, namun tak ada tanda-tanda keberadaan Jonathan disini meskipun hari sudah menunjukkan siang.
“Jo kok belum datang-datang, ya Sin?”
“Loh, emangnya mbak Edel gak tahu kalau Pak Jo bilang mau datang siang? Pak Jo bahkan minta rapat pagi ini di undur agak siangan.”
Edelweis mengerutkan kening bingung, “Lah, tadi pagi aja Jo pergi kayak biasanya. Kok izin segala sih?” tanya Edelweis.
Sinta yang mendengar itu terkejut. “Maksudnya mbak? Emangnya, mbak tahu kalau Pak Jo suka berangkat jam berapa dari rumahnya?”
Edelweis langsung terdiam, dia lupa jika pernikahannya dengan Jonathan tak ada yang tahu di kantor, kecuali orang-orang penting saja. Sedangkan, dia baru saja berucap seakan dia tinggal bersama dengan Jonathan, meskipun memang benar adanya.
“Lah, lo lupa kalau gue satu rumah sama Jo? Lo kan tahu berita yang viral itu kan?”
Untung, Edelweis bisa memberikan alasan.
Sinta berohria, dia mengangguk. “Oh, itu. Iya aku tahu kok. Tapi, aku pikir mbak Edel udah gak serumah lagi sama Pak Jo. Soalnya kan aku tahu kediaman Pak Jo. Sedangkan, kemarin aku sama Adinda nganterin mbak ke apartemen. Aku pikir, ya, Pak Jo sama mbak udah gak tinggal bareng gitu.”
Skakmat. Edelweis lupa jika dia pernah mengajak Adinda dan Sinta ke apartemen Jonathan, meskipun hanya sampai didepan gedung nya saja, tidak sampai masuk kedalam nya.
“Ya, kan itu... —Yaelah, emang kenapa sih kalau gue tahu jam berangkat Jo ke kantor? Masalah buat lo?” kesal Edelweis, untuk menyembunyikan kegelisahan nya dia berpura-pura kesal.
“Eh, bukan gitu mbak maksudnya.”
“Lo curiga sama gue atau gimana nih?”
__ADS_1
“Enggak, mbak. Ya ampun... Suudzon banget sih.”
“Udah, udah, sana-sana kerja lagi.”
Sinta memberenggut kesal, “Iya, iya, ini kerja lagi.” Sinta berjalan kembali ke mejanya, mengerucutkan bibir kesal karena sikap Edelweis.
Sedangkan, Edelweis duduk ditempatnya dengan wajah masak yang belum juga hilang. Dia jadi penasaran kemana perginya Jonathan. Namun, dia sudah bisa menebak sebenarnya kemana perginya pria itu.
***
“Sumpah, ya Din. Aku jadi makin yakin kalau mbak Edel sama Pak Jo tuh punya hubungan khusus deh. Kayak bukan sekedar teman atau rekan, saudara gitu deh. Tapi, lebih.”
Adinda yang tengah menikmati makan siangnya mengerutkan kening bingung. “Emangnya kenapa lagi, Sin? Kamu curiga sama satu hal gitu?” tanya Adinda.
Sinta mengangguk, “Iya. Tadi kan Pak Jo datang telat, ya. Terus aku kasih tahu lah alasannya apa. Dan, mbak Edel tiba-tiba bilang kalau Pak Jo tuh berangkat kayak biasanya, jam biasa gitu. Emang sih berita Pak Jo sama Mbak Edel yang tinggal satu rumah, udah jadi rahasia publik. Tapi, kan kita tahu Din kalau mbak Edel tuh tinggal di apartemen. Yang pas kita anterin itu loh.”
Adinda mengangguk-angguk, dia memicingkan matanya. “Mungkin emang iya kalau mbak Edel tuh punya hubungan sama Pak Jo, cuma kita gak tahu aja. Apa jangan-jangan, Pak Jo sama mbak Edel udah...”
Adinda menatap lekat Sinta yang mengerti dengan tatapannya, mereka saling angguk mengangguk.
“Married! Mereka udah married. Iya, apa mungkin mereka udah married?”
Adinda mengendikkan bahunya, “Mungkin aja. Apa jangan-jangan...”
Sinta menjentikkan jarinya, “Kita emang harus cari tahu, Din. Demi ketentraman kita semua!”
“Iya!”
***
Edelweis langsung beranjak berdiri saat melihat kedatangan Jonathan, dia menghalang jalan pria itu. “Jo, lo abis darimana sih? Jam segini baru sampai kantor.” ucap Edelweis, dia memberenggut kesal.
Jonathan menatap kesal Edelweis, “Apa sih? Bukan urusan lo kemana pun gue pergi. Lo ingat kan perjanjian kita?”
Edelweis mendengus kesal, “Ih, tapi kan gue tuh perlu tahu kemana perginya lo. Seenggaknya, gue—”
Edelweis mengikuti Jonathan, dia masuk begitu saja ke ruangan pria itu. Dia menarik tangan Jonathan, “Jo, gue tuh—”
“Del—hoek!”
“Jo!”
Edelweis tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, dia membulatkan matanya tak percaya. Begitupun dengan Jonathan yang juga sama terkejutnya.
“Sorry, Del. Gue—” Jonathan langsung berlari ke toilet saat rasa mual itu kembali dirasakannya. Sedangkan, Edelweis masih terdiam di tempat untuk beberapa saat sambil menatap muntahan Jonathan di pakaiannya. Namun, dia segera menyusul Jonathan, membantu pria itu yang masih muntah.
Edelweis memijat tekuk Jonathan, membantu pria itu yang tak berhenti juga memuntahkan sesuatu yang bahkan tak ada apa-apa. Jonathan hanya memuntahkan cairan putih saja.
Untuk beberapa saat Jonathan terus menerus muntah, hingga dia rasa mual itu perlahan menghilang. Jonathan bertumpu pada wastafel, menatap pantulan dirinya juga Edelweis lewat cermin didepan mereka.
“Udah mendingan?”
Jonathan mengangguk, dia menatap pakaian Edelweis yang kotor karena muntahannya tadi. “Del, baju lo—”
“Gakpapa kok, nanti gue bersihin.” Edelweis menggeleng, tak apa, seriusan. “Lo ada minyak angin gak? Biar lebih better.”
Jonathan menggeleng, tiba-tiba rasa mual itu kembali muncul. Melihat Jonathan yang sampai pucat karena muntahnya itu membuat Edelweis iba sendiri. “Bentar, ya Jo. Gue ambil minyak angin dulu.”
Edelweis pergi meninggalkan Jonathan, dia segera menuju mejanya dan mengambil minyak angin yang dia simpan di lacinya. Minyak angin ini memang dia persiapkan sebab membaca beberapa artikel mengenai ibu hamil yang akan sering merasa mual dan muntah, minyak angin jadi pilihan yang tepat untuk sedikit mengobati rasa mual itu. Tapi, sampai sekarang Edelweis tak muntah sama sekali, bahkan mual pun tak dia rasakan. Justru, Jonathan lah yang merasakan itu.
Edelweis mengambil minyak angin tersebut dan membawanya menuju Jonathan, dia melihat pria itu baru saja keluar dari toilet dengan lemas juga wajah pucat nya.
“Ayo, Jo gue bantuin.”
Tak ada penolakan karena Jonathan benar-benar merasa lemas, dia dipapah Edelweis untuk duduk di sofa.
__ADS_1
“Pelan-pelan, Jo.”
Jonathan duduk perlahan di sofa, dia menyandarkan punggungnya di sofa dengan mata memejam karena lemas.
Edelweis membuka minyak angin tersebut, dia mengoleskan nya ke kening pria itu. “Nih, coba hirup Jo, siapa tahu enakan.” ucap Edelweis, dia mendekatkan minyak angin tersebut ke hidung Jonathan.
“Lo udah makan? Harusnya lo isi dulu perutnya, biar pas muntah tuh ada yang dikeluarin. Apa, gue pesenin lo makan aja, ya? Gue—” Edelweis sudah bersiap mengangkat ponselnya, dia akan menghubungi seseorang. Namun, Jonathan menahan nya.
“Gak usah, gue udah makan.”
Edelweis terdiam menatap tangan Jonathan yang memegang lengannya. Sungguh, hanya karena hal sederhana itu saja membuat Edelweis berdebar.
“Baju lo kotor, Del.”
Edelweis menatap pakaiannya yang kotor, dia mengangguk. “Iya, gakpapa. Nanti gue bisa ganti baju.”
“Lo bawa ganti?”
Edelweis menggeleng, “Tapi, tenang aja. Gue kan bisa minta orang buat bawain baju gue kesini.”
“Yang kotor baju lo. Gue ada kemeja, kalau lo mau.”
Edelweis tersenyum mendengarnya, “Kemeja punya lo?”
“Menurut, lo? Gimana, mau gak?” tanya Jonathan, dia merasa bersalah sebenarnya melihat pakaian Edelweis kotor karena nya. Jadi, dia bertanggungjawab.
Edelweis mengangguk cepat, “Mau lah!”
“Yaudah, lo ambil aja di kamar itu, di lemari. Lo bisa pilih yang menurut lo cocok aja.”
Edelweis mengangguk kembali, “Oke deh. Gue ambil, ya.” ucap Edelweis, dia bersemangat sekali. “Oh, iya. Ini minyak anginnya lo pegang, siapa tahu lo masih mual bisa dihirup-hirup minyak nya.”
Edelweis segera memasuki ruangan yang dimaksud Jonathan, ruangan yang sama saat dirinya bangun ketika setelah pengusiran itu. Dia berjalan ke arah lemari, menemukan banyak kemeja yang tergantung di sana.
“Jo kayaknya sering banget tidur disini. Apa dulu waktu Jo jarang pulang, dia tidur disini? Kemejanya banyak banget.”
Diantara banyaknya kemeja, pilihan Edelweis jatuh pada kemeja polos berwarna rubberband pink. “Gue kira, Jo gak punya baju berwarna, ternyata ada juga satu kemeja warnanya cantik.”
Edelweis pun segera mengganti pakaiannya. Kini, rok yang dia kenakan sudah dipadukan dengan kemeja milik Jonathan. Dia menatap lekat pantulan dirinya di cermin, tersenyum senang.
“Bagus banget.”
Edelweis segera keluar, menghampiri Jonathan kembali yang kini terlihat sudah mendingan dari sebelumnya.
“Jo, gue gak percaya lo punya kemeja warnanya cantik gini.” ucap Edelweis, dia tak bohong dengan ucapannya. “Bagus kan, ya kalau gue pakai. Bikin kulit gue jadi keliatan cerah kan.” Edelweis tersenyum lebar.
“Lo boleh keluar sekarang, Del. Gue udah baik-baik aja.”
Edelweis langsung terdiam. “Tapi, gue—”
“Del, gue gak punya cukup banyak tenaga buat ribut.” ucap Jonathan malas, dia memejamkan mata sesaat. “Makasih buat bantuan lo, lo bisa balik ke meja lo sekarang.”
Edelweis menghela napas kasar. “Yaudah, gue keluar deh. Tapi, kalau lo butuh apa-apa, lo mintanya ke gue, ya. Jangan ke Sinta!”
Jonathan diam, tak berminat mengiyakan.
“Jo... Kalau lo gak mengiyakan, gue gak akan keluar sekarang.”
Jonathan malas berdebat, jadi dia hanya menjawab seadanya. “Iya.” Edelweis tersenyum lebar karena nya.
“Yaudah, gue keluar. Nanti gue minta OB buat bawain lo air hangat, ya. Biar lo agak mendingan lagi. Juga, buat ngebersihin muntahan lo tadi.” ucap Edelweis, perhatian terus dia tunjukkan yang hanya mendapat deheman dari Jonathan.
Edelweis pun keluar dari ruangan Jonathan, dia kembali ke mejanya dan langsung menghubungi office boy untuk melakukan apa yang dia ucapkan pada Jonathan. Senyuman tak pernah lepas dari bibirnya, dia terus menerus menatap kemeja yang dikenakannya. Tak peduli dari brand apa, hanya karena ini milik Jonathan jadi rasanya benar-benar spesial.
Edelweis senang, sungguh.
__ADS_1
Tanpa disadari, ada Sinta yang baru saja selesai makan siang dan langsung bersembunyi saat melihat Edelweis. Dia membulatkan matanya saat melihat Edelweis keluar dari ruangan Jonathan dengan kemeja yang berbeda dari sebelumnya. Bergegas dia mengambil ponselnya, menghubungi Adinda.
“Benar, Din. Kayaknya mbak Edel sama pak Jo ada hubungan. Pak Jo tadi telpon gue kalau dia udah sampai kantor dan apa yang gue lihat sekarang? Kenapa bisa coba, mbak Edel keluar dari ruangan pak Jo tapi pakai kemeja yang beda. Ngapain coba? Mana, pas lagi jam makan siang, orang-orang gak ada. Ditambah, mbak Edel senyum-senyum gak jelas. Fix, baru aja terjadi sesuatu ini. Oh my god...”