Sandiwara

Sandiwara
Ep.40 -


__ADS_3

Edelweis berjalan lunglai memasuki apartemennya. Dia berjalan ke arah sofa dan duduk disana, menatap kantong plastik berwarna yang isinya adalah bakso yang dibelinya dari kedai tadi. Masih teringat jelas bagaimana Jonathan meninggalkannya seorang diri.


Semenjak kehamilannya, perasaannya jadi jauh lebih rapuh. Tak bisa tersakiti sedikit saja, pasti air mata langsung jatuh. Edelweis yang sombong dan angkuh seperti dulu, sudah hilang. Berganti dengan Edelweis yang rapuh. Atau, alih-alih menyalahkan kehamilannya. Apa mungkin jika sosok Edelweis yang sebenarnya memang lah rapuh?


Dering ponsel milik Edelweis mengalihkan atensi perempuan itu, dia menatap ponselnya yang ternyata ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal.


Edelweis mengerutkan keningnya, “Siapa nih?”


Edelweis menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel ke telinganya. “Hallo. Ini siapa, ya?”


“Del, lo dimana? Gue balik lagi ketempat tadi, lo udah gak ada.”


Edelweis membulatkan matanya mendengar suara yang amat sangat dikenalnya. Dia menatap layar ponselnya, memastikan jika dirinya tidak salah kali ini.


“Jo?”


Terdengar decakan dari seberang sana. “Iya, ini gue.”


Edelweis tersenyum senang mendengarnya. “Nomor lo ganti, ya? Perasaan nomor lo ada di kontak gue deh? Tapi, kenapa—”


“Pertanyaan gue satu, Del. Lo dimana sekarang? Gue di kedai bakso tadi. Lo udah gak ada disini.”


Edelweis mencebikkan pelan bibirnya, kesal mengingat Jonathan yang meninggalkannya seorang diri. “Jo, gue kesal banget lo tinggalin gue gitu aja. Gue—”


“Lo tinggal jawab dimana lo sekarang? Susah?”


Edelweis mendengus, “Apartemen.”


Tut. Seketika panggilan diputus begitu saja secara sepihak oleh Jonathan yang membuat Edelweis menatap kesal layar ponselnya yang kini sudah redup.


“Dih, ada, gak ada orangnya, nyebelinnya sama aja!”


***


Aaaa...


Edelweis menjerit histeris saat keluar dari toilet luar, justru menemukan Jonathan yang kebetulan baru saja masuk ke apartemen. Kebetulan, letak toilet luar sangat berdampingan dengan pintu masuk.


Jonathan dengan cepat menarik tubuh Edelweis yang hendak terpeleset, alhasil perempuan itu kini berada dalam dekapan nya. Untuk beberapa saat, Jonathan merasa ada yang berbeda, namun dengan cepat dia mengenyahkan itu semua. Dia menjauhkan tubuh Edelweis darinya, menatap kesal perempuan itu.


“Bisa, gak, enggak ceroboh? Kalau lo jatuh gimana? Lo pendarahan lagi, mau?” tukas Jonathan, dia menaikkan kedua alisnya.


“Ya, lo abisnya ngagetin gue aja! Masuk rumah kasih salam kek, apa kek. Ini tiba-tiba muncul gitu aja.”


“Lo nya aja yang budek.”


Jonathan melenggang pergi meninggalkan Edelweis yang membuntuti, dia duduk disofa dengan Edelweis yang duduk di sampingnya.


“Lo darimana sih, Jo? Jahat banget tadi tinggalin gue gitu aja.”


“Gue ada perlu,”


“Jadi, keperluan lo itu lebih penting daripada gue? Gila aja lo! Gue baru aja pulang dari rumah sakit dan lo tinggalin gitu aja?” Edelweis menggeleng tak percaya, “Parah!” tukas Edelweis.


“Kalau gue sampai kenapa-napa, gimana? Kalau gue—”


“Tapi, lo baik-baik aja kan?” potong Jonathan cepat, dia menaikkan sebelah alisnya dan menatap datar Edelweis yang langsung mencebik kesal.


“Ya, kan gue maunya—”


“Udah, udah, gue gak mau dengar ocehan lo. Berisik tahu gak sih!”


Edelweis semakin mendengus kesal, dia melipat tangan didepan dada. Dia memutar tubuhnya membelakangi Jonathan yang justru hanya melirik sekilas padanya.

__ADS_1


“Udah, udah, gak usah banyak drama deh.”


“Ih, bukannya minta maaf malah ngejek gitu! Tambah bikin kesal aja!”


Jonathan menghela napas kasar, dia menatap bungkusan di atas meja. “Itu apaan?”


“Apa?”


“Itu diatas meja,”


Edelweis memutar tubuhnya, menatap bungkusan diatas meja. “Bakso.” jawab Edelweis ketus.


“Buat siapa?”


“Buat kita lah! Gue tadi udah keburu pesan baksonya, tapi lo malah keburu pergi, malah tinggalin gue.”


“Yaudah, ambil mangkuk sana. Kalau udah dingin gak enak baksonya, jadi buruan dimakan.”


Edelweis menggeleng cepat, “Enggak mau! Lo lah yang ambil, masa gue sih. Gue udah bawa tuh bakso ke sini, ditenteng-tenteng tuh kresek sampai sini. Dan, lo masih suruh gue buat ambil mangkuk juga? Parah banget!”


Jonathan memicingkan matanya, “Lebay!” Jonathan beranjak menuju dapur, mengambil dua mangkuk juga sendoknya. Dia malas untuk berdebat lebih jauh lagi dengan Edelweis yang ingin nya menang sendiri.


Edelweis sendiri tak menyangka jika Jonathan beranjak untuk mengambil mangkuk, dia diam memperhatikan pria itu yang kini tengah membuka bungkusan bakso tersebut kedalam mangkuk.


“Kok punya gue enggak juga sih?” tanya Edelweis, dia mengerutkan keningnya saat Jonathan hanya menyajikan bakso tersebut untuk dirinya sendiri.


“Masih mending gue ambilin mangkuk nya. Ya, lo tuangin sendiri lah.”


“Gak bisa,”


Jonathan mengendikkan bahunya, dia memilih menikmati baksonya sendiri. Edelweis mendengus kesal, dia berdecak dan mengambil bakso bagiannya. Dengan susah payah dia berusaha membuka bungkusan bakso tersebut, namun tak kunjung bisa dibuka.


“Serius lo gak bisa buka bungkusan bakso?”


“Lo pikir gue becanda?”


Jonathan merebut bungkusan bakso tersebut, dia hendak membukanya. Namun, Edelweis merebutnya kembali.


“Gak usah! Gue bukan anak manja, ya! Gue bisa buka bungkusan bakso ini.”


Jonathan menatap tak yakin Edelweis. “Masa?”


“Iya!”


Edelweis masih mencoba membukanya, berusaha sebisanya untuk membuka bungkusan bakso tersebut. Namun, berkali-kali dia coba pun tak kunjung bungkusan bakso itu bisa dibukanya. Hingga dia lelah sendiri dibuatnya.


“Gak bisa, Jo...”


Jonathan tersenyum sinis, “Udah, terima aja kalau lo tuh emang anak manja.”


Edelweis mencebik, “Iya, iya, terserah lo deh! Buruan, bukain!”


“Tuh kan, orang kata gue juga biar gue aja. Batu dasar!”


“Buruan... Gue lapar.”


Jonathan berdecak, dia segera menuangkan bakso dari bungkusannya ke dalam mangkuk. “Tuh, makan!”


“Makasih, sayang...”


“Apa sih? Jijik.”


“Iya, gue tahu lo juga sayang sama gue. Cuma gengsi aja ngomongnya.” Edelweis mengangguk-angguk, dia terlalu percaya diri. “Paham kok paham.”

__ADS_1


Jonathan memilih mengacuhkan Edelweis, sesekali matanya tak lepas menatap perempuan itu yang kini tengah memakan baksonya. Terlihat sekali jika perempuan itu amat sangat menikmatinya.


“Doyan apa lapar?”


Edelweis mendongak perlahan, menatap Jonathan. Pipinya mengembang karena ada bulatan bakso di mulutnya, cepat-cepat dia mengunyah makanan itu. “Kan gue udah bilang kalau gue lapar. Gimana sih.”


“Tapi, gak usah buru-buru juga kali. Gak ada yang minta ini.”


Edelweis mengulum senyumnya mendengar ucapan Jonathan, sedangkan Jonathan mengerutkan keningnya melihat senyuman itu.


“Kenapa lo senyum-senyum?”


“Gue tahu kok, Jo. Sebenarnya dibalik kejutekan lo sama gue, lo tuh sebenarnya khawatir kan.”


“Hah?”


Edelweis mengangguk, “Iya, lo tuh khawatir sama gue. Lo bilang gak usah buru-buru makannya, gak akan ada yang minta. Gue tahu kok, kalimat aslinya tuh sebenarnya lo tuh gak mau gue keselek kan? Lo gak mau lihat gue kesakitan. Iya, kan?”


Jonathan terkejut mendengar pernyataan Edelweis.


Edelweis mengerjap-ngerjapkan matanya, dia langsung merentangkan tangannya dan tanpa bicara memeluk Jonathan. “Makasih, ya Jo... Udah perhatian sama gue. Benar kata lo, gue tuh gak punya siapa-siapa, cuma ada lo. Kalau bukan lo yang perhatian sama gue. Siapa lagi? Gak ada. Makasih, ya, sayangku... suamiku...”


Dan, seharusnya Jonathan segera melepaskan pelukan Edelweis, bukannya justru membiarkan perempuan itu memeluknya begitu erat.


***


“Jo, kok bisa-bisanya apartemen elite tapi AC nya rusak?”


Jonathan yang tengah fokus pada layar laptop, dimana dia sedang mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai, mendongak menatap Edelweis yang kini berdecak pinggang.


“Rusak apanya?”


“Itu gak dingin AC nya! Gue kegerahan, Jo. Susah tidur jadinya.”


“Gak mungkin rusak lah.”


Edelweis mendengus, “Gak rusak gimana? Udah jelas-jelas rusak, Jo. Gimana sih lo!” kesal Edelweis, dia berdecak. “Pokoknya gue gak mau tahu, gue mau tidur di kamar lo yang ada AC nya. Titik!”


Jonathan segera mencekal tangan Edelweis saat perempuan itu hendak beranjak ke kamarnya. Dia tentu saja tak akan mengizinkan perempuan itu masuk kembali ke kamarnya, apalagi sampai tidur disana.


“Gak usah ngada-ngada deh, Del. Mana ada lo tidur dikamar gue! Lagian gak mungkin juga AC kamar mati. Lo pikir ini apartemen sembarangan. Jangan ngaco deh!”


Edelweis semakin kesal saat Jonathan pikir dia me ngada-ngada, dia melepaskan dengan paksa tangan Jonathan yang mencekal nya. “Siapa juga yang ngada-ngada? Gak ada. Kalau lo gak percaya, cek aja sendiri!” kesal Edelweis, dia bergegas menuju kamar Jonathan, masuk begitu saja meskipun pria itu terus melarangnya.


“Del, gue gak izinin lo tidur dikamar gue.”


Edelweis mengendikkan bahunya, “Dan gue gak butuh izin lo buat tidur disini.” ucap Edelweis, dia duduk diatas ranjang Jonathan, bersiap untuk merebahkan tubuhnya namun justru Jonathan menahannya.


“Gak!”


“Lepasin!”


“Bangun!”


“Gak mau!”


“Del!”


“Enggak mau! Gue mau tidur disini, Jo...”


Mereka terus saling tarik menarik. Edelweis yang tetap memaksa untuk tidur di ranjang Jonathan dan pria itu yang terus menarik Edelweis untuk beranjak. Hingga tiba-tiba Jonathan hilang keseimbangan yang membuatnya jadi menimpa tubuh Edelweis.


“Jo!”

__ADS_1


Untuk sepersekian menit, waktu terasa berhenti dan semua atmosfir terpusat pada mereka. Mata yang saling bertatap, deru napas yang terasa jelas dan degup jantung yang hampir terdengar ada pada mereka.


“Gue jatuh cinta sama lo, Jo. Gue gak mau kehilangan lo. Jangan tinggalin gue, ya. Gue cuma punya lo.”


__ADS_2