
Ada yang bilang, kalau orang sudah jatuh cinta, apapun akan dilakukan. Kalau dulu orang itu bisa tak suka, bahkan benci pada satu hal, namun kemudian hal tersebut menjadi kegemaran dari orang yang dia suka, pasti rasa tak suka dan benci itu akan hilang, berubah menjadi sesuatu yang terlihat amat berharga di mata.
Hal itu juga berlaku untuk Edelweis.
Edelweis yang tadinya tak pernah mau, lebih tepatnya tak pernah diizinkan pergi ke dapur. Namun, demi Jonathan dia rela melakukan apa yang tidak biasa dia lakukan. Berawal dari bubur hingga sekarang, dia memberanikan diri untuk mencoba belajar beberapa resep masakan. Dia juga sudah bertekad akan ikut kelas masak, setidaknya seminggu dua kali.
Edelweis tersenyum lebar menatap hasil masakan didepan matanya, benar-benar tak menyangka dirinya bisa melakukan ini semua. Tak pernah terbayang di benaknya jika dia akan membuat hidangan ini. Namun, shirmp stir fry sudah tersaji diatas meja. Hasil melihat resep di internet, dia bisa membuat menu itu juga.
Edelweis menatap jemarinya yang terdapat beberapa plester, dia meringis pelan. “Gakpapa deh, luka dikit. Yang penting, gue bisa masak ini dan Jo pasti senang.” ucap Edelweis, dia percaya jika suaminya itu akan suka dengan masakannya.
“Sekarang, gue tinggal mandi, dandan dan tunggu Jo pulang.” ucap Edelweis, dia melepas apron dan menyimpannya di tempat semula. “Duh, gak sabar nunggu Jo pulang.”
Edelweis bergegas ke kamarnya, segera membersihkan diri dan menata penampilannya agar saat Jonathan pulang, pria itu senang melihatnya. Beberapa saat kemudian, Edelweis telah bersih, rapi dan wangi juga cantik. Dia menatap pantulan dirinya di cermin.
“Makasih, ya... Kamu udah baik sama aku, gak rewel, gak bikin aku mual-mual kayak kemarin. Terus, kayak gini, ya. Biar akunya senang. Kalau aku senang, bukannya kamu juga ikut senang, ya.”
Edelweis terkekeh, dia segera bergegas keluar dari kamarnya. Menunggu kedatangan Jonathan di ruang tamu. Tak henti, dia melirik jam, berharap Jonathan cepat pulang. Dan, tepat dua jam Edelweis menunggu, pria itu akhirnya datang juga membuat Edelweis bergegas cepat beranjak, berdiri menyambut Jonathan dengan senyuman lebar.
“Hi, Jo!”
Jonathan mengerutkan keningnya, menatap sesaat Edelweis yang menyambut kedatangannya. Edelweis memang tak main-main dengan ucapannya, perempuan itu memang benar-benar ingin merubah pernikahan ini seperti pernikahan sesungguhnya.
Jonathan tak membalas sapaan Edelweis, dia melenggang melewati Edelweis begitu saja, tak peduli dengan perempuan itu.
Edelweis mendengus kesal, dia segera menyusul langkah Jonathan dan menghalang langkah pria itu. “Jo, gue udah siapin makan malam buat lo. Jadi, lo bersih-bersih dulu, baru makan. Atau, lo mau makan dulu, terus bersih-bersih? Gakpapa, sih gue bisa siapin makan nya sekarang.”
Jonathan menahan lengan Edelweis saat perempuan itu hendak pergi, membuat Edelweis mengerutkan keningnya namun tetap tersenyum.
“Siapa yang bilang kalau gue mau makan?”
Edelweis tersenyum kikuk, “Gak ada yang bilang sih. Cuma, gue yakin kalau lo belum makan. Jadinya, gue inisiatif sendiri.” jawab Edelweis. “Gue siapin, ya!” ucap Edelweis, dia melepaskan tangan Jonathan dari lengannya, berniat pergi kembali. Namun, lagi-lagi Jonathan menahannya.
“Kenapa, Jo?”
“Gue gak lapar, gak mau makan, apalagi makan makanan yang udah lo siapin. Ngerti?” tanya Jonathan, dia menatap datar Edelweis.
Edelweis bukan tipe perempuan yang akan langsung mengiyakan begitu saja. Dia justru semakin melebarkan senyumnya, menggeleng cepat. “Enggak, gak ngerti! Gue ngerti nya itu kalau lo akan makan masakan gue. Itu aja.”
“Batu,” cibir Jonathan.
“Gak papa,” balas Edelweis, dia mengendikkan bahunya.
Jonathan memutar bola matanya jengah, dia berniat pergi dari Edelweis menuju kamarnya. Namun, kali ini perempuan itu menahannya.
“Makan dulu, deh! Baru abis itu lo boleh bersih-bersih.”
“Lo budek atau gimana sih? Gue gak mau! Gue gak lapar!”
“Tapi, seenggaknya lo hargain gue kek. Gue udah bikin makanan juga!”
__ADS_1
“Gak ada yang nyuruh.”
“Emang gak ada. Tapi,—”
Jonathan berdecak, dia melepaskan tangan Edelweis yang menahan lengannya. “Udah lah, gue capek! Lepasin!”
“Enggak, sebelum lo cobain masakan gue!” tolak Edelweis tegas, dia tak rela Jonathan pergi begitu saja, sedangkan masakannya tak di icip sama sekali. “Ayo!” Edelweis menarik Jonathan menuju meja makan.
“Apa sih, Del!”
“Cobain, dulu!”
“Enggak!”
“Harus!” Edelweis melepaskan cekalan tangannya, dia berbalik dan menatap tajam Jonathan. “Diam!”
Edelweis mengambil bowl yang isinya adalah masakan yang dia buat, mengambilnya menggunakan sendok dan menyodorkan nya pada Jonathan. “Ayo, cobain!”
Jonathan menjauh, dia menggeleng keras. “Gak mau!”
“Cobain, Jo!”
“Ogah!”
Jonathan justru berlalu begitu saja meninggalkan Edelweis yang masih setia membawa hasil masakannya itu mengikuti langkah Jonathan.
Jonathan acuh, dia tetap saja berjalan meninggalkan Edelweis yang mengejar langkahnya.
“Jo...”
Edelweis mempercepat langkahnya, dia berhasil menghalang langkah Jonathan. Disodorkan masakannya itu, “Cobain, buruan! Makan!”
“Gak mau! Maksa banget sih!”
“Jo, gue udah bikin ini, masa gak mau di cobain sih. Jahat banget!”
“Gak ada yang nyuruh gue bilang.”
“Iya, tapi seenggaknya lo hargai gue dong! Gak mau tahu, buruan di makan!”
“Enggak!”
“Jo...”
“Del!”
“Jo, buruan... —Ya, ampun!”
Jonathan memang tak mau mencicipi masakan Edelweis, namun bukan berarti dia akan menghancurkan makanan itu begitu saja. Dia tak berniat demikian saat tanpa sengaja, tangannya justru menepis tangan Edelweis yang masih berusaha memaksanya untuk mencicipi masakan perempuan itu. Alhasil, bowl di tangan Edelweis pun jatuh bersama semua isinya yang kini sudah berserakan di lantai, tercampur dengan pecahan bowl tersebut.
__ADS_1
Edelweis terkejut, pun begitu dengan Jonathan.
Dengan tatapan miris, Edelweis menatap masakannya yang berserakan begitu saja, bahkan tanpa tersentuh sedikitpun. “Ya ampun, Jo... Tega banget.”
Perasaan Edelweis tak karuan kini melihat itu semua, matanya bahkan sudah berkaca-kaca, menatap miris hasil masakannya yang terbuang sia-sia. Bukan hanya makanannya saja, tapi juga waktu dan kulitnya yang terluka hanya untuk membuat satu menu yang tak mau di cicipi itu.
“Gue tahu, lo gak mau. Tapi, gak harus kayak gini juga, Jo. Sayang banget kerja keras gue.”
Jonathan sebenarnya tak enak melihat wajah sedih Edelweis, apalagi saat dia melihat mata perempuan itu yang sudah berkaca-kaca, hidung Edelweis pun sudah memerah. Namun, dia tak mungkin mengatakan rasa kasihannya.
“Lo yang maksa gue, makanya—”
Edelweis berbalik, “Jahat!” potong Edelweis cepat, air mata menetes dari pelupuk matanya, dia membelakangi Jonathan sambil melipat tangan didepan dada.
“Gak usah drama deh, Del! Apaan sih. Orang gue juga gak sengaja. Lagian, gue udah bilang gak mau, tapi lo tetap maksa kan. Udahlah, masalah udang doang juga.”
Edelweis semakin sakit hati mendengar ucapan Jonathan, air mata semakin deras keluar membasahi pipinya.
“Tapi, kan—” Edelweis tak kuasa berbicara lagi saat perutnya terasa sakit. Dia meringis sambil menyentuh perutnya, merasakan sakit yang luar biasa.
Jonathan yang melihat Edelweis meringis kesakitan, memutar bola matanya malas. “Apa sih, Del? Sandiwara apa lagi sih, ini? Sumpah, gue gak ada waktu buat ladenin permainan lo ini. Gue—”
“Jo, perut gue sakit...” keluh Edelweis, dia mencoba mencari sesuatu untuk dia jadikan tumpuan sambil terus merasakan sakit di perutnya.
“Del, please lah...”
“Jo, ini sakit banget...”
Jonathan tak yakin dengan apa yang terjadi pada Edelweis, hingga matanya sendiri melihat darah yang mengalir di kaki perempuan itu membuatnya cemas yang tadinya tak ada, kini menghinggapi nya.
“Del, kaki lo.”
Edelweis menatap kakinya yang mengalirkan darah dari **** ********** nya. Dengan air mata yang masih mengalir di pipinya, dia menatap cemas Jonathan yang sudah bersimpuh di hadapannya. “Jo,—”
“Kita ke rumah sakit sekarang!”
“Enggak, gak mau!”
“Lo lagi hamil, lo pendarahan, Del!”
“Enggak, gak mau rumah sakit. Gue takut!”
Jonathan menggeleng, dia tak peduli dengan ketakutan Edelweis dengan rumah sakit. Keadaan perempuan itu mengharuskan dirinya membawa cepat perempuan itu ke rumah sakit.
“Gue gak mau, dia kenapa-napa.”
Ucapan Jonathan membuat Edelweis tersentak seketika, tak pernah menyangka jika Jonathan menaruh rasa simpati pada janin kandungannya.
Tanpa membuang waktu, Jonathan segera mengangkat Edelweis, membawa perempuan itu ke rumah sakit saat itu juga.
__ADS_1