Sandiwara

Sandiwara
Ep. 12 - Baik, tapi nyebelin!


__ADS_3

Yang paling Edelweis tak suka adalah keheningan.


Dia bukan orang yang ekstrovert yang harus berinteraksi dengan banyak orang, namun dia juga bukan tipikal introvert yang memilih menghindar dari kerumunan. Namun, dia tipikal orang yang tak pernah mau keheningan apalagi kesepian. Lebih baik baginya mendengar berbagai kegiatan orang-orang yang tak dikenal, daripada harus seorang diri dalam keheningan. Dan, itu berlaku sejak dia memutuskan tinggal bersama Jonathan di apartemen.


Sejak awal, Jonathan benar-benar menghilang dari pandangan Edelweis. Pria itu datang dan pulang begitu saja tanpa bertatap muka dengannya, bahkan untuk membicarakan kembali isi dari perjanjian pernikahan yang ditawarkan pria itu, Edelweis belum sempat. Bahkan di kantor pun, dengan sengaja Jonathan membatasi interaksi dengannya. Sengaja memberikan pekerjaan yang cukup menguras waktu dan tenaganya. Sebenarnya, dia bisa saja menolak, namun terlalu sulit untuk saat ini, ditambah Jonathan yang sering sekali berada di luar kantor tanpa bicara.


“Pengen makan apa, ya?” tanya Edelweis pada dirinya sendiri, dia merebahkan tubuhnya di sofa depan televisi sambil melihat-lihat menu makanan yang ada di aplikasi online nya kini.


“Udah bosan, ya ini. Pengen makan yang pedas-pedas juga nih. Tapi, oke gak, ya? Malam-malam makan yang berminyak, micin banyak, porsinya juga lumayan ini, pedas lagi.” Edelweis selalu ragu jika harus makan yang seperti itu, takut terjadi sesuatu pada dirinya. “Sayang badan, tapi pengen. Udahlah, pesan aja gakpapa kali. Sesekali kan...”


Edelweis memutuskan memesan makanan yang dia mau. Sambil menunggu makanannya datang, dia berniat membersihkan diri terlebih dahulu. Tubuhnya sudah minta dibersihkan sejak tadi. Namun, baru saja dia beranjak hendak pergi ke kamar. Kedatangan Jonathan menghentikan langkahnya.


Edelweis menatap Jonathan yang baru saja masuk, dia tersenyum sinis. “Tumben.”


Jonathan mengerutkan keningnya mendengar celetukan Edelweis.


Edelweis mengedikkan bahunya, “Ya, biasanya lo pulang tengah malam, berangkat kerja juga pagi-pagi. Lo kayaknya menghindari gue deh. Iya, kan?” tudung Edelweis, dia memicingkan matanya.


“Buat apa gue menghindar? Gak ada gunanya juga.”


“Bohong! Terus maksudnya lo pulang malam, pergi pagi pakai banget. Itu maksudnya apa kalau bukan menghindari gue?”


“Pertanyaan gue satu, kalau gue pulang cepat, berangkat siang, apa urusannya sama lo?” Edelweis diam, tak tahu harus menjawab apa. “Gak ada kan. Jadi, yaudah lah. Lo juga udah baca surat perjanjian kita kan? Lo pasti ingat poin-poin nya. Apa harus gue ingetin?”


Edelweis tertawa dibuatnya, dia berdecak pinggang, di tatapnya Jonathan dengan lekat. “Apa lo juga gak ingat sama poin terakhir? Dimana di poin itu gue bisa menambahkan ataupun mengurangi isi dari perjanjian.” ucap Edelweis, dia tersenyum lebar lain halnya dengan Jonathan yang terlihat terkejut, mungkin pria itu lupa.


“Lo bahkan belum tahu kan apa isinya?” tanya Edelweis, dia menaikkan kedua alisnya. “Dan kalau lo tanya apa urusannya lo pulang cepat atau berangkat lebih dulu, maka jawaban gue adalah surat perjanjian itu. Lo harus baca lagi isinya dan gue yakin, lo pasti senang deh.”


“Del, jangan macam-macam lo.”


Edelweis menggeleng cepat, “No, gue gak macam-macam kok. Gue kan cuma mengingatkan aja.”


“Yaudah, mana suratnya?”


“Dikamar gue.”


“Ambil! Gue pengen tahu, poin apa yang lo tambahin.”


Edelweis berbalik, dia mengibaskan rambutnya. “Nanti deh, gue mau mandi dulu. Gerah!”


***


“Lo gila, ya?”


“Siapa yang gila? Enggak lah! Gue cuma menuliskan apa yang jadi keinginan gue, udah itu aja. Sensi banget sih.”


Jonathan menggeleng heran, tak percaya pada Edelweis. Dia membaca kembali surat perjanjian itu dengan seksama, memastikan jika dia tak salah membaca sebelum akhirnya dia menandatangani perjanjian itu.


7. Pihak pertama dilarang menjalin hubungan apapun dengan perempuan manapun, apalagi sampai berselingkuh. Jika hal tersebut terjadi, maka semua aset kekayaan yang dimiliki akan menjadi milik pihak kedua. Pun sebaliknya.


8. Pihak kedua menginginkan jumlah uang bulanan, dua kali lipat dari uang bulanan yang biasanya diberikan sebelumnya.


“Lo mau ngerampok gue, ya Del? Lo tuh, ya! Benar-benar otak lo tuh cuma duit, duit, duit aja!”


Edelweis menahan tawanya, dia menatap Jonathan. “Gue cuma realistis aja. Lagian semuanya pasti butuh duit kan. Dan, soal poin-poin yang gue kasih, gue cuma meminimalisir kemungkinan buruk yang akan terjadi. Kita gak tahu, kedepannya lo akan gimana. Gue cuma gak mau rugi aja, makanya gue tambahin tuh isinya.”


“Lo emang benar-benar manfaatin keadaan banget.”


“Bukan manfaatin, gue cuma main cantik aja.” jawab Edelweis. “Lagian lo kenapa sih? Lo keberatan sama poin yang udah gue kasih? Oh, atau lo emang berniat selingkuh, ya dari gue? Iya kan?”


Jonathan memang berniat kembali menjalin hubungan dengan Retha. “Del, gue gak masalah sama nominal uang bulanan yang lo mau. Tapi, lo tahu kan poin nomor 7 akan sangat merugikan buat kita? ”

__ADS_1


“Sorry, kita? Lo aja kali. Gue gak ada niatan buat selingkuh. Lagian, norak banget sih pakai selingkuh segala.”


“Iya, norak! Kalau posisinya hubungan itu dijalin karena cinta. Tapi, kita apa, Del? Lo sama gue, nikah karena perjodohan, terpaksa. Dan, seharusnya lo tuh bersyukur karena gue ngebebasin lo buat berhubungan sama siapapun setelah kita menikah.”


Edelweis mengerutkan keningnya bingung mendengar ungkapan Jonathan. “Bersyukur lo bilang? Gila, emang! Jangan samain gue sama lo juga cewek lo itu! Gue gak serendah kalian! Gue cewek berkelas yang gak akan pernah mengkhianati sebuah hubungan, terlepas hubungan itu terjadi karena paksaan ataupun enggak.”


“Jangan sok ceramahin gue. Lo gak akan tahu gimana rasanya harus hidup sama orang yang gak kita cinta. Lo gak akan tahu gimana rasanya berjuang mati-matian buat orang yang kita cinta. Lo gak akan tahu itu, Del. Karena lo sendiri gak punya hati buat ngerasain itu semua. Lo gak pernah tahu, apa itu cinta. Yang lo tahu adalah semuanya harus sejalan dengan apa mau lo, semuanya harus nurut sama lo, semuanya harus sekehendak lo.”


“Kok lo jadi hina gue sih?”


“Gue bukan menghina, gue cuma ngingetin lo. Lo akan tahu gimana rasanya jadi gue, saat lo juga ngerasain gimana berjuang dapatin cinta yang lo mau. Lo akan tahu itu.”


Jonathan segera mengambil pulpen dan membuka penutupnya. Dia mendongak menatap Edelweis yang terdiam. “Lo mau lo menang kan? Lo pengen gue kalah sebenarnya makanya lo bikin poin nomor 7 ini.” Jonathan tersenyum miris, “Lo salah, Del. Gue gak akan kalah. Gue gak masalah kehilangan semuanya asal gue bisa bahagia sama cewek yang gue cinta.”


Edelweis dibuat tak percaya saat Jonathan membubuhkan tanda tangannya. Sebegitu besarkah rasa cinta Jonathan untuk Retha? Jadi, benar jika Jonathan dan Retha menjalin hubungan?


***


Edelweis terus mengerang kesakitan saat perutnya terasa dililit begitu keras. Berbagai posisi sudah dia lakukan untuk mencoba menghilangkan rasa sakit itu, namun rasanya masih sama, masih menyakitkan. Ditambah, tiba-tiba dia merasa gemetar, jantungnya berdetak tak karuan dan napasnya yang terasa sesak.


“Ya ampun... Nyesel banget gue makan pedas malam-malam.”


Edelweis yakin jika dia begini karena makan makanan pedas. Ternyata perut dan lambungnya selemah ini.


Edelweis beranjak duduk, mencoba bernapas dengan normal meskipun rasa sesak itu masih ada. Dia hendak minum, namun air di gelasnya kosong dan dia lupa untuk mengisi botol minumnya. Alhasil dia terpaksa pergi keluar untuk minum.


Diambilnya air hangat, sepertinya akan mengobati rasa sakitnya. Edelweis memilih duduk di kursi pantry, minum di sana.


Edelweis berharap rasa sakitnya segera hilang, dia tak kuasa menahannya lagi. Bahkan, dia sudah menangis karena rasa sakit ini, terutama rasa sesak yang dirasakannya.


“Sakit banget...” ringis Edelweis, dia menepuk-nepuk dadanya berharap oksigen bisa masuk dan dia bisa bernapas lega. Namun, usahanya sia-sia. Dia masih kesusahan untuk bernapas.


“Gak tahan banget ini,”


Edelweis terdiam menatap pintu kamar Jonathan. Hanya pria itu harapannya kini. Tak peduli akan bagaimana nantinya yang terpenting Edelweis harus meminta tolong pria itu.


“Jo! Jo! Buka!”


Edelweis menggedor-gedor pintu kamar Jonathan, dia juga terus memanggil nama pria itu berharap Jonathan cepat bangun dan membukakan pintu untuknya. Namun, berkali-kali di coba tak ada jawaban juga dari Jonathan hingga hanya untuk berdiri tegak saja Edelweis tak sanggup. Edelweis pun kini duduk bersimpuh didepan pintu kamar Jonathan masih dengan terus menggedor pintu dan menyebut nama Jonathan, meskipun perlahan suaranya semakin tak terdengar.


“Jo... Gue sesek banget.” Edelweis menangis, dia tersiksa sendiri karena ulahnya.


Jonathan yang sebenarnya tengah melakukan video call bersama Retha kini, melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.


“Yaudah, mas Jo. Aku matiin dulu, ya telponnya mau take lagi soalnya. Makasih loh udah mau nemenin aku, maaf ya mas jadi ngerepotin. Mana ini udah tengah malam lagi.”


Jonathan terkekeh, dia menggeleng. “Gaklah, gak merepotkan sama sekali. Justru aku senang ternyata kamu cari aku. Yaudah, kamu hati-hati ya shooting nya... Kabarin aku kalau besok pulang.”


“Iya, mas. Sekali lagi makasih ya... Kamu langsung tidur, ya. Jangan begadang lagi. Udah cukup begadang nya sampai jam segini karena nemenin aku.”


“Iya... Ini aku juga langsung tidur.”


“Yaudah, aku matiin ya, mas. Assalamualaikum...”


“Waalaikumsalam.”


Jonathan tak lepas menunjukkan senyum lebarnya saat panggilannya bersama Retha terputus. Entah ucapan syukur ke berapa kali yang terus dia panjatkan atas membaiknya hubungannya dengan Retha. Meskipun sampai sekarang, hubungan mereka ini tak ada status pasti. Bisa dibilang, mereka hanya dekat layaknya sepasang kekasih, namun tanpa status. Awalnya Jonathan ingin meresmikan hubungan mereka, dia juga ingin menunjukkan keseriusannya pada Retha. Namun, Retha sendiri menolak, perempuan itu belum mau menjalin hubungan serius. Alhasil, daripada Jonathan semakin jauh dengan Retha, maka hubungan seperti ini pun tak apa.


Jonathan melepaskan air pods dan meletakkannya kembali ditempatnya, pun begitu dengan ponselnya. Dia akan bersiap tidur sekarang. Namun, dahaga menyerangnya membuat dia mau tak mau dengan malas beranjak dari ranjang untuk mengambil air minum.


Betapa terkejutnya Jonathan saat dia membuka pintu justru yang ditemukan adalah Edelweis yang jatuh terkapar.

__ADS_1


“Edel.”


Jonathan segera bersimpuh, memangku Edelweis. Dia awalnya ragu dengan apa yang terjadi pada perempuan itu kini namun melihat wajah pucat itu membuat keraguannya lenyap seketika. “Lo kenapa, Del?” tanya Jonathan cemas, bagaimanapun dia masih ada sisi baiknya.


“Sesak banget, Jo. Perut gue juga sakit.”


“Bangun, bangun, ayo kita ke rumah sakit.”


“Gak mau, Jo... Gak mau ke rumah sakit.”


“Terus lo maunya gimana? Lo bilang sesak, perut sakit. Ya, kita harus ke rumah sakit.”


“Gak mau ke rumah sakit...” rengek Edelweis, dia menggeleng lemah.


Jonathan berdecak, dia segera membopong Edelweis dan merebahkan nya di sofa. “Tarik napas, buang. Tarik napas, buang.”


“Masih sesak, Jo...”


“Lo jangan nangis, Del! Malah bikin tambah nyesek! Stop nangisnya!”


Bukannya berhenti menangis, Edelweis justru semakin mengencangkan tangisnya membuat Jonathan frustasi dan kesal dibuatnya.


“Del! Jangan nangis!”


“Jangan marah-marah sama gue! Gue tuh lagi sakit tahu!”


“Ya, lo nya bikin gue emosi!” kesal Jonathan, “Jangan nangis!”


Edelweis mencoba untuk menghentikan tangisnya, dia juga mencoba mengatur napas sebaik mungkin agar napasnya kembali normal. Dibimbing oleh Jonathan sedikit membantunya.


“Oke tenang, lo harus tenang supaya napas lo teratur. Oke?”


Edelweis mengangguk, dia mencoba untuk tenang. “Tapi, perut gue masih sakit Jo!”


Jonathan kembali berdecak. Dia beranjak, namun segera dihentikan oleh Edelweis yang menarik tangannya.


“Lo mau kemana? Jangan pergi, gue masih kesakitan ini. Nanti gue kenapa-napa lagi!”


Jonathan menatap jengah Edelweis, “Gue ambil air hangat buat lo. Jadi, lepasin tangan gue.” Edelweis pun melepaskan tangan Jonathan.


Tak lama kemudian, Jonathan membawa air hangat dalam gelas juga botol. Dia membantu Edelweis duduk agar bisa minum air tersebut dengan mudah.


“Minum dulu,”


“Kepanasan tahu!”


“Ya, sorry...”


Edelweis menghela napas kasar, napasnya mulai sedikit teratur.


“Nih, buat perutnya.”


Edelweis menatap botol yang disodorkan Jonathan padanya, bergantian menatap pria itu.


“Taruh di perut lo, kayaknya lumayan buat ngilangin rasa sakitnya.” Edelweis menerimanya.


“Gue lihat sisa makanan di dapur, makanan pedas. Kayaknya karena itu lo jadi sakit perut sampai sesak napas gitu.” Edelweis terdiam, dia seperti baru saja tertangkap melakukan kesalahan. “Harusnya lo tuh pakai otak lo. Udah tahu lo tuh punya riwayat sakit lambung, malah makan pedas malam-malam. Seenggaknya kalau lo gak sayang sama diri lo, pikirin orang lain yang lo buat repot karena ulah lo. Nih, sekalian minum susunya!”


Setelah meletakkan kaleng susu murni ditangan Edelweis, Jonathan pergi meninggalkan perempuan itu yang masih diam.


“Baik, tapi nyebelin!” kesal Edelweis, dia menatap kaleng susu di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2