Sandiwara

Sandiwara
Ep. 9 - Fine, kita menikah.


__ADS_3

Edelweis menatap pantulan dirinya dengan gaun pernikahan yang kini melekat ditubuhnya. Dia memutar tubuh pelan, melihat dirinya dari beberapa sisi. Tak pernah ada yang kurang, semuanya terlihat sempurna jika dirinya yang mengenakan.


“Gimana, Del? Kamu suka?”


Edelweis mengangguk, “Lumayan, better dari yang sebelumnya.” jawab Edelweis acuh, dia mengedikkan bahunya.


“Syukurlah. Tapi, kamu ada request yang lain, mungkin?”


“Bagian depan ini, aku mau gak terlalu serendah ini, tolong agak sedikit keatasin. Tapi, gak terlalu atas juga.” ucap Edelweis, dia menunjuk yang dia maksud. “Dan, ini bagian lengannya masih terlalu besar, aku pengennya like body fit gitu.”


“Oke, request kamu bakal tante lakuin. Kita lihat, ya apa cocok sama kamu atau enggak, tapi tante rasa pasti bakal cocok. Body kayak kamu, cocok model apapun.”


Edelweis tersenyum lebar, sudah terlalu sering dia mendengar pujian demikian. “Thank you, aunty.”


“Oh, iya. Ini Jonathan kok gak ikut datang? Dia kemana?”


Edelweis tak mungkin menjawab yang sebenarnya. Harga dirinya sudah direndahkan karena ucapan juga sikap Jonathan sebelumnya, kalau fakta ini dia ucapkan maka akan semakin hancur harga dirinya.


Seorang Edelweis kalah dari perempuan kampungan, cih, menjijikkan.


“Dia ada meeting dadakan dan gak bisa di undur ataupun di handle sama yang lain. Makanya, dia yang harus langsung turun tangan.”


“Oh, gitu... Are you okay, tapi?”


Edelweis mengedikkan bahunya, dia mengangguk. “Ya. Apanya yang masalah buat aku? Gak ada.”


“Bagus deh. Jadinya, kamu yang mau menentukan jas seperti apa untuk Jo?”


Edelweis mengangguk, "Iya, tan. Nanti aku yang pilih model jas seperti apa yang cocok untuk Jo. Karena aku yang paling tahu dia.”


“Of course baby. Yaudah, yuk!”


“Yuk!”


Setelah selesai dengan urusannya, Edelweis berniat pergi.


“Tan, aku pulang duluan, ya?”


“Kamu pulang sendiri? Gak ada yang nganterin atau jemput gitu? Biar anak tante aja yang antar kamu, gimana?”


Edelweis menggeleng, “Gak usah, tan. Aku sendiri aja, gakpapa kok.”


“Really?”


Edelweis mengangguk yakin. “Yaudah, aku pulang dulu.”


“Oke, hati-hati, ya. Kabarin kalau udah sampai.”


“Oke.”


Edelweis masuk ke sebuah taksi, dia pun langsung menyebutkan alamatnya. Sambil menikmati perjalanan pulang yang sebenarnya lumayan memakan waktu, dirinya membuka ponsel sesaat, sesekali melihat jalanan yang tak terlalu padat malam ini. Hingga matanya menemukan sosok yang tak asing yang baru saja keluar dari mobil.


“Pak, kita belok ke restoran depan.”


***


“Silahkan...”


Retha tersenyum simpul, dia menatap senang Jonathan yang baru saja mempersilahkan nya duduk. Dia duduk di kursi yang sudah di tarik lebih dulu oleh Jonathan, pria itu memperlakukannya sangat istimewa sejak dijemput sampai mereka berada di restoran ini.


“Makasih, mas.”

__ADS_1


“Dengan senang hati.”


Jonathan menarik kursinya, duduk berhadapan dengan Retha di hadapannya. Senyuman tak lepas dia tunjukkan, menatap penuh cinta pada perempuan di hadapannya.


Retha tersenyum senang, dia menatap ke sekitar, benar-benar takjub dengan dekorasi yang disiapkan ini. Jonathan memesan ruang private untuk mereka, ini demi menjaga hubungan mereka dari media. Terlebih Jonathan merupakan pemilik suatu media televisi yang cukup ternama, ditambah lagi Retha merupakan aktris yang kini tengah naik daun. Pasti banyak paparazi yang mengikuti. Jadi, ruang private ini cocok untuk mereka.


“Kamu yang nyiapin ini semua?”


“Iya. Gimana, kamu suka?”


Retha mengangguk, “Suka. Aku gak nyangka, mas Jo bakalan siapin ini. Aku pikir, kita makan malam biasa aja gitu.”


“Mana mungkin aku siapin yang biasa untuk orang spesial seperti kamu. Apalagi pertemuan kita ini mau membahas sesuatu yang sangat spesial tentang kita kedepannya.”


“Mas Jo bilang gitu, seakan udah tahu aja jawabannya. Emangnya, Mas Jo gak takut kalau jawaban aku ini bakalan mengecewakan mas Jo?”


Jonathan menggeleng, dia yakin sekali jika jawaban Retha akan seperti harapannya. “Aku percaya kamu.”


“Tapi, mas. Sebelum aku jawab pertanyaan kamu itu. Aku mau memastikan satu hal lagi sama kamu.”


Jonathan mengerutkan keningnya bingung, “Tentang?”


“Kamu dan Mbak Edel. Kalian beneran gak punya hubungan apapun? Aku cuma gak mau, kalau aku harus jadi perusak hubungan orang.”


Jonathan menarik tipis sudut bibirnya, dia menarik tangan Retha dan menggenggamnya. “Percaya sama aku, kalau aku gak punya hubungan apapun sama dia. Bahkan, aku udah gak tinggal bareng, aku lebih memilih keluar dari rumah.”


“Tapi, soal ucapan mbak Edel itu? Yang dia bilang kalau dia calon istri kamu, itu gimana mas?”


“Sama seperti yang udah aku bilang sama kamu kemarin, dia itu cuma omong kosong. Aku sama dia, sama sekali gak punya hubungan apapun, Tha. Percaya sama aku!”


Jonathan bisa melihat masih ada keraguan dimata Retha.


Retha tersenyum tipis, dia mengangguk. Belum sempat dia kembali bicara, seorang waiters datang membawa pesanan mereka satu persatu.


“Yaudah, kita makan dulu aja. Kita obrolan itu selanjutnya, juga jawaban kamu atas pertanyaan aku kemarin.”


“Iya, mas.”


Mereka pun menikmati makan malam ini, ditemani lampu temaram dengan hiasan di seluruh ruangan juga dimanjakan oleh pemandangan lampu-lampu diluar gedung restoran, ditambah beberapa makanan yang memanjakan perut mereka.


“Jadi, gimana Tha sama pertanyaan aku kemarin? Jawaban kamu apa?”


Retha tersenyum malu, “Aku... Aku—”


Belum sempat Retha memberikan jawaban, pintu terbuka yang menampilkan Emmeline di sana dengan wajah marahnya. Sontak, kedatangan Emmeline ini membuat terkejut Jonathan juga Retha.


“Mama?”


Retha melepaskan tangan Jonathan yang menggenggam nya, dia beranjak berdiri seketika menatap Emmeline yang terlihat kesal sekaligus marah.


“Ma, kok mama bisa ada disini?” tanya Jonathan bingung.


Emmeline menarik sudut bibirnya, dia tersenyum sinis. “Pantas kamu gak ada di butik, gak ikut fitting baju pernikahan kamu. Ternyata kamu disini sama perempuan lain? Kamu ninggalin Edel gitu aja?”


“Ma, aku—”


“Dan, kamu!” Retha mendongak seketika, menatap cemas Emmeline. “Kamu tahu, sedang bersama siapa kamu sekarang? Dia itu calon suami perempuan lain. Seharusnya kamu sadar untuk gak dekat-dekat apalagi sampai menjalin hubungan dengan calon suami orang. Kamu masih punya harga diri bukan?”


Retha terkejut mendengarnya. Sedangkan Jonathan kesal mendengar Mamanya merendahkan Retha.


“Ma, ngomong apa sih? Mama—”

__ADS_1


“Udah, ya! Mama gak mau marah-marah disini, sekarang kamu pulang, ikut mama dan minta maaf sama Edel! Dan, kamu—” Retha hanya bisa diam menunduk. “Jaga sikap, jaga harga diri. Jangan mentang-mentang anak saya suka sama kamu, kamu jadi gak punya harga diri gini dengan merebut calon suami orang.”


Setelah mengucapkan itu, Emmeline segera pergi meninggalkan Jonathan dan Retha yang sudah menahan tangisnya kini.


“Tha, aku—”


Retha menyambar tas nya di kursi, pergi meninggalkan Jonathan dengan segala kekecewaan yang dia rasakan kini. Dia pergi tanpa mau mendengarkan apapun ucapan Jonathan, bahkan permintaan maaf sekalipun.


***


“Dimana, lo?” Jonathan menatap datar lurus ke depan, ponselnya dia tempelkan di satu telinga saat panggilan baru saja terhubung di sana. “Keluar sekarang. Gue di luar.”


Tanpa menunggu jawaban apapun, Jonathan langsung mematikan panggilan tersebut. Dia melempar asal ponselnya, tak peduli jika benda itu rusak sekalipun. Dia hanya diam sambil menunggu kedatangan orang itu. Tak lama kemudian, orang yang ditunggu nya pun datang. Kaca mobil otomatis dibukanya.


Tanpa menoleh, Jonathan bicara. “Masuk.”


“Tapi, Jo. Lo kenapa—”


“Masuk, Del...”


Edelweis, tepat sekali. Orang itu dia.


Edelweis masuk ke mobil Jonathan, baru saja pintu mobil tertutup mobil langsung dilajukan begitu saja tanpa aba-aba. Edelweis yang tersentak kaget pun, langsung memasang sabuk pengaman.


“Jo, lo apaan sih? Woy, jangan ngebut!”


“Jo, lo mau buat kita mati?”


“Jo, jangan konyol! Gue gak mau mati sia-sia!”


“Jonathan!”


Jonathan jadi tuli, dia tak mendengar apapun yang dikatakan Edelweis. Dia tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, tak memperdulikan Edelweis disampingnya yang kini sudah ketakutan dibuatnya. Dia lakukan itu untuk sedikit meredam kemarahannya pada perempuan di sampingnya itu. Hingga, dia rasa sudah cukup untuk saat ini. Dia menghentikan mobilnya itu.


Edelweis tersentak saat Jonathan menghentikan mobilnya, pegangan erat di sabuk pengamannya belum dia lepaskan.


“Lo gila, ya?” Edelweis mengatur napasnya yang tak beraturan, debaran di jantungnya masih tersisa.


“Lo sengaja mau buat gue mati? Iya?” marah Edelweis, dia menyandarkan tubuhnya dengan keras pada sandaran kursi. “Lo gila, Jo... Gila!”


“Lebih gila lagi orang yang dengan sengaja manfaatin semua hal untuk sesuatu yang kotor. Orang yang sengaja coba buat hancurin orang lain.” Jonathan menoleh pada Edelweis yang mengerutkan kening bingung. “Lebih jahat siapa? Lo atau gue?”


Edelweis menggeleng pelan, dia memutar tubuhnya menghadap Jonathan. “Lo ngomong apa sih? Gue gak ngerti.”


Jonathan geram dengan sikap sok polos Edelweis, dia memukul keras stir mobil yang cukup menimbulkan bunyi yang membuat Edelweis tersentak kaget seketika. Ditatap nya tajam Edelweis, ada kemarahan juga kebencian yang tersirat jelas dari sorot matanya.


“Mau lo apa sih?”


“Maksud lo apa?”


“Maksud gue apa!? Maksud gue adalah kenapa lo bilang sama nyokap kalau gue gak datang buat fitting baju dan kasih tahu dimana posisi gue saat itu. Maksud lo apa!?” Jonathan berteriak marah pada Edelweis.


Edelweis menggeleng, dia tak merasa mengatakan apa yang dituduhkan Jonathan padanya. “Gue gak bilang apapun, Jo. Gue—”


“Fucking you! Stop lo bohong! Stop omong kosong! Sekarang kasih tahu gue, apa yang sebenarnya lo mau dari gue?” tanya Jonathan marah, dia mendekatkan diri pada Edelweis yang semakin memojokkan diri pada pintu juga kursi. “Lo mau pernikahan antara kita terjadi? Iya?”


Edelweis menggeleng, Jonathan di hadapannya terlihat menyeramkan.


“Fine, kita menikah!”


Entah kenapa, ucapan Jonathan ini seperti mengartikan sesuatu yang buruk di telinga Edelweis. Seolah Jonathan berkata jika dirinya akan mendapat hal buruk dari pernikahan ini.

__ADS_1


__ADS_2