Sandiwara

Sandiwara
Ep. 15 - Keterlaluan


__ADS_3

“Yaudah Mam, Pap, kita berangkat kerja dulu, ya.”


“Iya, kalian hati-hati, ya. Ingat, kalian harus sering main ke sini. Mama gak mau tahu, pokoknya! Dan, buat kamu, Jo. Jangan buat putri Mama ini sedih, buat dia bahagia. Oke? Karena kalau sekali kamu buat Edel sedih, Mama gak segan-segan buat kasih kamu pelajaran.”


Edelweis tersenyum senang mendengarnya, lain halnya dengan Jonathan yang justru mendengus kesal.


“Iya, udah kan? Kita berangkat nih.”


“Iya... Hati-hati bawa mobilnya, gak perlu ngebut-ngebut.”


Jonathan hanya berdehem saja, dia segera melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumah menuju kantor. Tak ada obrolan apapun diantara mereka, hanya keheningan yang menemani.


“Lo gue turunin didepan, gue gak mau sampai orang-orang mikir yang enggak-enggak tentang kita.”


Edelweis menoleh, dia mengerutkan keningnya. “Mikir yang enggak-enggak? Lah, kan anak kantor juga tahunya gue tuh calon istri lo dari dulu.”


“Iya dan gue gak mau mereka tambah yakin sama apa yang lo gemborin itu.”


Edelweis berdecak dalam hati, padahal nyatanya mereka memang sudah menjadi suami istri. “Terserah.”


Mobil Jonathan pun berhenti di sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari kantor, dia akan menurunkan Edelweis disini.


“Ya ampun, Jo. Yang benar aja dong, masa gue dituruni disini sih? Masih jauh ini dari kantor.”


“Jauh darimananya sih?” kesal Jonathan, dia tak habis pikir dengan Edelweis


“Masih mending gue turunin lo disini, udah agak deketan ke kantor. Udah deh, buruan turun.”


Edelweis melipat tangan didepan dada. “Gak mau! Ini masih jauh, males gue.”


“Del, gak usah manja deh! Lo bisa naik taksi kalau menurut lo ini masih jauh. Udah, gue gak mau ribut pagi-pagi. Buruan, turun!”


“Enggak!”


Jonathan menghela napas kasar, dia lelah dengan sikap Edelweis ini. Tak mau ambil pusing, Jonathan kembali melajukan mobilnya dan berhenti di sebuah gedung yang tak jauh juga dari kantornya, lebih dekat dengan kantor dari posisi awal niatnya menurunkan Edel.


“Udah, turun!”


Edelweis mendengus kesal, dia memutar tubuhnya kesal menghadap Jonathan. “Kenapa gak sampai kantor aja sih? Kenapa lo harus turunin gue dipinggir jalan kayak gini?”


“Lo tahu jawabannya.”


“Tapi, Jo. Lo—”


“Buruan turun! Atau mau gue paksa? Gue bisa aja kasar loh.”


“Kalau lo turunin gue disini, gue bisa aja lapor sama Mama. Dan, lo tahu akibatnya apa.”


Jonathan tersenyum sinis, di liriknya Edelweis. “Udah gue tebak kalau lo bakal lakuin itu. Gak aneh sih sebenarnya, cewek kayak lo ini pasti pakai kekuasaan buat dapatin semuanya.”


Kembali, hinaan dilontarkan Jonathan pada Edelweis.


“Lo tuh kenapa sih? Selalu aja ngehina gue. Lo bahkan gak tahu apapun tentang gue, Jo. Tapi, bisa-bisanya lo ngejudge gue gitu aja.”


“Del, tanpa gue harus kenal lo, sikap lo ini udah menunjukkan siapa sebenarnya diri lo. Udah, buruan turun!”


Edelweis menggerakkan giginya kesal, “Enggak!”


Jonathan berdehem, dia melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil kemudian memutari nya dan berhenti disamping pintu dimana Edelweis berasa. Tanpa banyak bicara, Jonathan membuka pintunya, melepas selt belt Edelweis dan menarik perempuan itu keluar, tak peduli apapun penolakan yang dilakukan perempuan itu.


Setelahnya, Jonathan pun kembali masuk ke mobilnya, mengacuhkan Edelweis yang terus menerus menggedor kaca pintu mobilnya.


“Jo, bukain! Jo!”


Edelweis mendengus kesal saat mobil Jonathan melaju begitu saja meninggalkannya, meninggalkan dirinya dipinggir jalan layaknya dia tak punya arti apapun untuk seorang Jonathan. Memang sepertinya tidak punya.


“Jonathan sialan!”


Edelweis berdecak kesal, dia menatap kepergian mobil Jonathan. Yang membuatnya sampai membelalakan mata adalah saat mobil Jonathan justru berputar balik, menyakinkan dirinya jika pria itu tak langsung pergi ke kantor.


“Lihat, mau kemana dia coba?”


Edelweis yang kesal, namun juga penasaran kemana perginya Jonathan bergegas mencari taksi untuk mengikuti kemana pria itu pergi. Namun, taksi tak kunjung dia dapatkan, yang ada justru Adinda yang berhenti di depannya dengan motor scoopy yang dikendarai perempuan itu.


“Mbak Edel, kok masih disini? Mau ke kantor kan?”

__ADS_1


Edelweis tak henti mengalihkan pandangannya dari mobil Jonathan. Tanpa membuang waktu, dia langsung naik ke motor Adinda. Dia tak mau kehilangan jejak.


“Buruan! Ikutin mobil itu, mobil Jo!”


Adinda yang terkejut dan tak siap dengan apa yang dikatakan Edelweis, gelagapan jadinya. Dia berniat menolak, namun Edelweis lebih dulu mengintrupsikan nya sambil terus menerus menepuk-nepuk pundaknya. “Iya, mbak, iya.”


Ini kali pertamanya seorang Edelweis naik kendaraan beroda dua, seumur hidup dia tak pernah naik motor. Kalau bukan karena keterpaksaan, mungkin Edelweis tak akan pernah naik motor selama hidupnya. Terlalu ekstreme menurutnya naik kendaraan beroda dua itu, bahkan dia mencengkram kuat kemeja yang dikenakan Adinda.


“Kenapa, berhenti?” tanya Edelweis cemas saat motor Adinda justru berhenti, dia tak mau kehilangan jejak Jonathan.


Bukannya langsung menjawab, Adinda justru mengambil helm yang dia sangkut kan di depan dan menyerahkannya pada Edelweis.


“Mbak Edel pakai dulu helm, biar aman, selamat. Aku gak mau terjadi apa-apa sama Mbak Edel karena gak pakai helm, sedangkan aku pakai.”


Untuk sepersekian detik, Edelweis terdiam merasakan sesuatu yang aneh yang seakan asing. Perhatian yang diberikan Adinda, terasa tulus dia rasakan.


“Mbak,”


Edelweis tersentak, “Gue gak bisa pakainya.”


Adinda terkejut, namun dia tak mau banyak bicara. Dia segera memakaikan helm pada Edelweis. “Udah, mbak. Pegangan, ya, mbak. Kita kejar lagi mobil pak Jo.”


“Iya, buruan. Gue gak mau kalau sampai kita kehilangan jejak. Buru!”


“Iya, mbak. Iya.”


Adinda melakukan apa yang perempuan itu ucapkan, dia benar-benar mengikuti mobil yang dikendarai Jonathan. Hingga akhirnya, mobil itu pun berhenti di suatu taman yang cukup sepi. Adinda pun menghentikan motornya, lumayan jauh dari tempat Jonathan saat ini, tujuannya agar mereka tak ketahuan.


“Mbak Edel, emangnya—”


“Jangan banyak omong, diam!”


Adinda langsung menutup mulutnya saat itu juga. Dia pun ikut memperhatikan mobil Jonathan, sama seperti apa yang dilakukan Edelweis saat ini. Hingga tak lama kemudian, seseorang datang menghampiri mobil Jonathan.


“Loh, itukan mbak Retha, mbak.” ucap Adinda saat dia melihat kedatangan Retha seorang diri, kemudian masuk ke mobil Jonathan.


Edelweis terdiam seketika, sudah dia duga. Jonathan menemui Retha.


“Tuh kan, mbak. Aku juga bilang apa. Kalau mas Jo sama mbak Retha tuh emang ada sesuatu, buktinya sekarang aja mereka ketemuan kan, diam-diam lagi. Kayaknya, gak mau sampai media tahu deh.”


Sudah, Edelweis cukup tahu saja jika dugaannya benar adanya. Seharusnya dia biasa saja, tapi kenapa juga dia merasa tak suka. Sepertinya, harga dirinya tercoreng karena tahu alasan Jonathan menurunkannya di pinggir jalan adalah si perempuan kampung itu.


“Mbak, pak Jo udah pergi lagi. Kita ikutin, gak?” tanya Adinda, dia melirik Edelweis lewat spion motornya.


“Gak usah.”


Edelweis turun dari motor Adinda, kebetulan ada sebuah taksi yang melintas, dengan cepat Edelweis menghentikannya. Di liriknya sekilas Adinda yang terlihat bingung menatapnya. “Balik kantor.” ucap Edelweis kemudian masuk ke taksi dan meninggalkan Adinda seorang diri yang masih melongo melihat kepergian Edelweis dengan taksi tersebut.


“Lah, aku ditinggal?”


***


Edelweis menghentikan langkahnya melihat Adinda dari jauh tengah mendapat kemarahan dari atasan perempuan itu, dengan cepat dia bergegas menghampiri divisi Adinda itu.


“Kenapa diam? Kamu gak bisa kasih alasan kan? Udah jelas lah. Telat hampir dua jam, alasan apa yang bisa dikasih? Kesiangan? Gak mungkin!”


“Maaf, pak.”


“Kamu akan saya kasih SP atas keterlambatan kamu yang keterlaluan ini dan kalau nantinya kamu melakukan hal yang sama, saya gak segan-segan langsung—”


“Gak usah kasih SP.”


Seketika, semua mata tertuju pada Edelweis yang menghampiri divisi Adinda. Semuanya yang tadinya tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing, langsung teralihkan karena kedatangan Edelweis juga ucapan yang dilontarkan perempuan itu.


“Mbak Edel,” gumam Adinda.


“Maaf, bu?”


Edelweis menunjukkan wajah angkuhnya, “Gak usah kasih dia SP, dia telat juga karena saya.” ucap Edelweis, dia menunjuk Adinda dengan dagunya.


“Tapi, bu. Ketentuan di perusahaan kalau—”


“Kamu berani bantah saya?” potong Edelweis cepat, dia menaikkan sebelah alisnya dan menatap tajam atasan Adinda yang langsung menggeleng kikuk.


“Bukan begitu, bu maksudnya. Hanya saja—”

__ADS_1


“Kamu tahu siapa saya kan?” Edelweis mulai menunjukkan kekuasaannya. “Kalau sampai saya tahu, dia dapat SP atau hukuman dalam bentuk apapun itu karena kesalahannya hari ini. Saya gak akan tinggal diam, saya bisa lakuin apapun, termasuk memberikan hukuman yang sama untuk kamu. Ngerti?”


Tanpa mau menunggu, Edelweis langsung melenggang pergi begitu saja meninggalkan divisi Adinda. Semua yang ada disana melongo, kaget dengan apa yang baru saja dilakukan seorang Edelweis. Tak percaya jika seorang Edelweis akan melakukan hal demikian untuk seorang Adinda yang notabene nya hanya karyawan biasa.


Adinda tersenyum simpul menatap kepergian Edelweis, dia pun sama tak percaya nya seperti yang lain. Mengingat bagaimana sikap Edelweis padanya selama ini.


“Untuk kali ini, kamu aman karena ada bu Edelweis. Tapi, lain kali kalau kamu melakukan kesalahan yang sama, saya benar-benar gak akan tinggal diam. Ngerti?”


Adinda mengangguk cepat, "Iya, pak. Terima kasih, ya pak. Saya gak akan melakukan kesalahan yang sama. Sekali lagi, terima kasih, ya pak. Makasih... Banget.”


“Iya, iya, udah. Balik kerja sana!”


“Siap, bos!”


***


“Mbak Edel!”


Edelweis mengacuhkan Adinda yang memanggilnya, dia tetap melangkah tanpa peduli dengan Adinda yang bahkan kini sudah berlari mengejar langkahnya.


“Mbak Edel, tunggu sebentar.”


Edelweis berhenti di lobby untuk menunggu taksi online yang di pesannya tiba, saat itu juga Adinda berhasil mengejarnya dan berhenti disampingnya.


Adinda tersenyum lebar, “Mbak Edel, makasih ya tadi udah bantuin aku. Aku bersyukur banget tadi ada mbak, gak tahu lagi deh kalau ternyata aku dapat SP hari ini, bisa kacau hidup aku mbak.”


“Lebay,”


“Ih, enggak mbak. Seriusan, aku benar-benar berterima kasih sama mbak atas kebaikan mbak hari ini. Dan, sebagai ucapan terima kasih aku, ini ada brownies buat mbak. Kebetulan aku yang bikin ini sendiri.”


Edelweis acuh, dia tak peduli dengan brownies yang dimaksud Adinda. “Gak usah.”


“Gak papa, mbak. Aku ikhlas kok, kan mbak udah baik sama aku.”


Edelweis memutar bola matanya malas, dia menatap Adinda. “Seriusan lo menganggap apa yang gue lakuin itu kebaikan? Lo sadar kan, lo telat juga karena siapa. Gue cuma gak mau lo nantinya ember sama orang-orang karena apa yang kita liat tadi pagi.”


Adinda menggeleng cepat, “Enggak kok, mbak. Aku gak berpikir begitu. Lagipula, aku bukan tipikal orang yang suka gosip, enggak kayak gitu. Apa yang kita liat tadi pagi, cukup aku, mbak sama Allah aja yang tahu. Aku gak akan kasih tahu siapapun tanpa izin dari mbak.”


“Terserah.”


Taksi pesanan Edelweis sampai, berhenti tepat didepan mereka. Edelweis melangkah, sudah hendak masuk namun Adinda kembali menghentikannya.


“Ini mbak bawa, terserah mau diapain. Tapi, aku berharap mbak makan brownies buatan aku ini. Sekali lagi, makasih ya mbak udah bantuin aku tadi. Aku pergi dulu.”


Edelweis terdiam, menatap kotak makan ditangannya yang berisikan brownies buatan Adinda dan si empunya yang kini sudah melenggang pergi meninggalkan Edelweis.


***


Edelweis menatap tajam Jonathan saat pria itu sampai di apartemen dan yang ditatap justru hanya menatap datar dan melenggang pergi begitu saja seakan keberadaan Edelweis itu tak telihat olehnya.


Edelweis beranjak, menarik cepat tangan Jonathan yang langsung menghempaskan tangannya.


“Apa sih lo?” kesal Jonathan.


“Berani-berani nya lo turunin gue dipinggir jalan cuma demi cewek kampungan itu! Lo pikir apa yang lo lakuin itu bagus? Iya? Enggak, Jo!”


“Tahu darimana lo?”


“Gak penting gue tahu darimana. Yang jelas, gue bakalan laporin ini semua sama Mama, Papa biar lo rasain akibatnya sendiri. Berani-berani nya lo turunin gue demi si kampungan itu! Apa bagus nya sih dia!” marah Edelweis.


Edelweis benar-benar merasa harga dirinya jatuh, dia merasa lebih rendah atas tindakan yang dilakukan Jonathan pagi tadi.


“Sekali lagi, lo tanya apa bagus nya Retha?”


“Dia, jauh lebih baik dari lo. Dia mandiri, dia pekerja kerasa, dia gak manja, dia gak sombong dan yang terpenting dia tahu apa itu tata krama. Dan kalau lo masih belum ngerti sama apa yang gue omongin, maka jawaban singkatnya adalah sikap dia seratus delapan puluh derajat jauh beda dari lo. Ngerti?”


Edelweis mencengkram kuat jemarinya, menahan amarah pada Jonathan.


“Gue salah apa sih sama lo? Kenapa lo tuh selalu aja ngebandingin gue sama cewek kampungan itu? Lo bahkan terus-terusan ngerendahin gue parahnya. Kasih tahu gue, salah gue apa sama lo!?”


“Lo sendiri yang tanya, makanya dengan senang hati gue jawab pertanyaan lo itu. Dan, kalau lo tanya apa kesalahan lo? Jawabannya simpel, lo hadir di kehidupan gue, itu kesalahan lo. Buat apa sih, lo harus ada di hidup gue? Datang ke keluarga gue, tinggal sama kita, ini itu, lo bahkan rebut semuanya dan selalu bersikap seakan lo adalah anak di rumah satu-satunya, seakan lo keluarga disitu. Tapi, nyatanya apa? Lo tuh orang asing sebenarnya. Lo parasit di kehidupan gue dan keluarga gue.”


Edelweis langsung terdiam seketika, ditatapnya tanpa ekspresi Jonathan kali ini. “Lo pikir, gue mau gitu aja masuk ke kehidupan lo. Lo pikir, gue sukarela saat tahu kalau gue harus tinggal sama lo dan keluarga lo itu? Lo pikir, gampang buat gue adaptasi sama kehidupan baru gue? Lo pikir gampang harus hidup tanpa orang tua, tanpa keluarga? Iya?”


“Jo! Bahkan gue gak pernah berharap apalagi pikir harus hidup sama lo dan keluarga lo. Semuanya tiba-tiba, Jo. Semuanya gitu aja terjadi. Dan, kalau boleh gue berharap,” Edelweis kembali merasakan sesak kala mengingat kejadian hari itu, sekuat tenaga dia menahan tangisnya. “Gue juga gak mau, hari itu terjadi.”

__ADS_1


Jonathan pun langsung terdiam karena ucapan Edelweis, otaknya kembali berputar pada hari itu.


Edelweis bergegas berbalik, melangkah pergi menuju kamarnya dengan air mata yang perlahan mulai menetes dari matanya. Ucapan Jonathan kali ini benar-benar melukainya, bukan hanya melukai tapi juga sekaligus membuka lembaran buruk untuk Edelweis atas kejadian naas yang menimpa keluarganya.


__ADS_2