
Bel pulang sekolah pun berbunyi,Rara pun keluar dari kelasnya dengan wajah yang ditekuk pasalnya hari ini kesabarannya sangat diuji, ditambah lagi ternyata Vina belum masuk sekolah,ia sangat kepikiran dengan Vina yang sampai sekarang belum mengabarinya.
"Eehh, Nabila masuk kelas berapa lo?" tanya Rara yang tak sengaja bertemu dengan Nabila di gerbang sekolah.
"Kelas XII IPA 3 gue,males banget gue kan pengen sekelas dengan lo," ujar Nabila.
"Ehh lo punya uang satu juta rupiah gak, gue minjam dong " ujar Nabila dengan santai nya.
"santai amat nyet lo minjam, lo kira satu juta rupiah tu seribu perak," Rara mengumpat kesal dalam hati.
"yaelah Ra cuman satu juta rupiah,lo kan anak sultan," ujar Nabila dengan entengnya.
"Lagi gak ada uang gue," ujar Rara.
"pelit lo," ujar Nabila.
"Gue serius ini aja gue mau jalan kaki." Rara lalu berjalan meninggalkan Nabila.
Sebenarnya Rara bukan lagi gak ada duit,tapi duitnya tertinggal dirumah.
Rara pun mulai berjalan,Rara memikirkan berapa lama ia akan sampai dirumahnya, sedang kan naik motor dengan kecepatan sedang saja 30 menit apalagi jalan kaki.
"emang tuh simonyet, minjam duit aja kerjaannya tapi gak dibalikin, sahabat apaan tuh," hujat Rara dalam hati sambil berjalan.
Tiba-tiba ada seorang yang mengendarai motor menghalangi jalan Rara.
"Tanggung jawab lo, tangan gue sakit banget karena lo," ujar orang itu.
"Salah lo sendiri nyet," tukas Rara.
"Lo harus tanggung jawab, ikut gue sekarang," kata orang itu yg tak lain adalah Angga, sambil menarik tangan Rara.
"Gue gak mau," ujar Rara sambil mencoba melepaskan tangannya Rara pun berhasil melepaskan genggaman nya dan berlari dari hadapan Angga.
Angga pun tersenyum picik karena melihat ada sebuah benda jatuh dari tas Rara.
••••
Rara pun sudah sampai di rumahnya, dengan keringat yang bercucuran dan nafas yang tak beraturan ia pun hendak mengambil kunci rumah dari dalam tasnya.
"Loh kunci rumah gue mana," panik Rara sambil mengeluarkan semua barang dari tasnya.
"Mati gue pasti jatuh nih," ujar Rara.
"Lagi nyari kunci ya neng," ucap seorang laki-laki sambil menunjukkan kunci rumah milik Rara.
"Itu kan kunci rumah gue nyet,maling lo ya," ucap Rara yang hendak mengambil kunci itu dari tangan Angga.
"enak aja lo ngomong tadi jatuh," ujar Angga.
"yaudah sini kunci gue nyet," ucap Rara kesal.
"enak aja minta nya begitu,bagus bagus dong," ujar Angga.
"Angga minta dong kunci rumah gue," ujar Rara, namun bukan dengan senyuman.
"Senyum atuh neng," ujar Angga.
"Angga minta dong kunci rumah Rara," ucap Rara dengan senyum yang manis dan menampakkan gigi gingsul nya.
"gitu dong, tapi gue males balikin ke lo," ujar Angga yg membuat Rara murka.
__ADS_1
brak
Rara memegang kerah baju Angga,lalu menjatuhkan Angga ke rerumputan didepan rumahnya membuat kunci ditangan Angga terlempar, lalu Rara mengambil kunci itu.
"Makanya jangan macam-macam lo sama gue nyet," ujar Rara lalu membuka pintu rumahnya, lalu menguncinya lagi.
"DASAR CEWEK ANEH!" Angga pun segera pergi mengendarai motornya.
••••
Kini Rara telah selesai merapikan rumah, dan memasak untuk dia sendiri,ya masih sendiri sudah 2 hari ini orang tuanya belum pulang juga, tak ada kabar,Rara selalu mencoba menghubungi Mamanya namun hasilnya sama saja.
Sekarang Rara sangat bosan dirumah, biasanya bila dia bosan dirumah ia akan pergi ke rumah Vina, namun ntah kemana Vina pergi sudah 2hari ia tidak masuk sekolah.
"enak nya kemana ya?bosan banget, motor gak ada," ucap Rara bermonolog.
Rara pun kembali mengingat motor ninjanya itu,andai saja ia tak bertemu dengan Angga pasti motor nya sekarang masih ada.
"ih bosan banget, apa gue buat akun medsos aja ya,kan kata Vina banyak foto alay,lumayan buat dihujat dalam hati." Rara bermonolog panjang lebar.
"eh ngak jadi deh, terus gue ngapain," monolog Rara.
"latihan boxing aja deh." Rara lalu pergi kekamar untuk bersiap-siap.
••••
Kini Rara telah sampai di tempat boxing,Rara pun terlebih dahulu membayar pada kasir untuk jangka waktu latihan sebulan,sebesar satu juta dua ratus ribu rupiah.
Seorang kasir itu tak percaya bila Rara ingin mendaftar boxing, karena wajah Rara yang sangat imut ditambah dengan gigi gingsul nya itu membuat kadar manis nya itu naik, kasir itu pun melamun melihat wajah cantik Rara.
"Eh bang kok melamun sih?" tanya Rara, yang membuat kasir itu sadar dari lamunannya.
"Yakinlah bang," ucap Rara menyakinkan.
Rara pun memulai latihan nya dengan semangat, tak lupa ia memakai sarung tangan tinju, dan mulai memukul samsak yang ada dihadapannya.
Sudah 2 jam lama nya Rara disini, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 18:00 ia pun memutuskan untuk pulang dan mencari taxi.
"***** mana nih taxi," ucap Rara yang emosi karena sedari tadi ia tak menemukan taxi.
Tiba-tiba ada seorang pria bertopeng yang keluar dari mobil dan datang menemui Rara, lalu menarik tangan Rara.
"Ikut Abang yok neng," ujar orang itu.
"Apaan sih, emang lo si..."
Belum sempat Rara protes mulutnya sudah di bungkam oleh Orang itu dengan sapu tangan lalu orang itu membawa Rara masuk kedalam mobilnya.
••••
"Enghh," lenguhan Rara yang tersadar dari pingsannya.
Ia pun mengedarkan pandangannya keseluruh arah penjuru,dia sedang berada di sebuah gudang yang minim pencahayaan,dan kedua tangannya diikat di kursi yang sedang ia duduki.
Tiba-tiba ada seorang lelaki bertopeng yang mendekat ke arah Rara yang membuat Rara ketakutan.
"siapa lo?" tanya Rara yang panik karena orang itu semakin mendekat.
"hari ini kamu bakal jadi milik saya," ucap lelaki itu semakin dekat.
"jangan macam-macam lo ya," ucap Rara yang ketakutan dan menutup matanya.
__ADS_1
Orang itu pun semakin mendekat dan memegangi kedua tangan Rara, membuat Rara semakin histeris.
"LEPAS!LEPASIN GUE!" teriak Rara, sambil mencoba melepaskan tangannya dari pria itu.
Rara pun membuka matanya, dan melihat pria itu memegang pisau, sudah bisa Rara pastikan pria itu akan membunuhnya.
"Gue gak mau mati, lepas gue," lirih Rara, lalu menutup matanya karena ketakutan.
"Pffrttt hahaha," tawa lelaki itu pecah,lalu laki-laki itu membuka topengnya.
Rara pun membuka matanya dan ternyata laki-laki yang dihadapannya adalah Angga.
"preman kok takut," ejek Angga yg masih belum berhenti tertawa.
"Hiks hiks." terdengar suara isakan tangis dari seseorang.
"Ra lo nangis? gak mau marah gitu sama gue?" tanya Angga.
"Lo jahat banget ya,hiks," tangis Rara semakin menjadi, Angga
pun membuka ikatan tali ditangan Rara.
Tanpa aba-aba Rara langsung memeluk Angga karena ketakutan.
"Ra maafin gue, gue cuma iseng," ucap Angga memohon namun Rara tidak merespon, Rara pun semakin mempererat pelukannya pada Angga,ia terlihat sangat ketakutan.
"Yaudah gue antar pulang yok," ujar Angga sambil menggenggam tangan Rara.
Sunyi satu kata yang dapat menggambarkan keadaan dimobil saat ini,tak berapa lama kemudian mereka telah sampai di depan rumah Rara.
"Ra maafin gue, gue gak bermaksud bikin lo takut Ra," ucap Angga kembali meminta maaf.
"Hm," balas Rara hanya dengan deheman.
"Ra?" tanya Angga lagi.
"Iya," ujar Rara singkat.
"Ra?" tanya Angga lagi dan lagi.
"IYA NYET!" teriak Rara yang emosi, sambil keluar dari mobil.
"Makasih," ucap Rara saat sudah diluar mobil.
"Sama-sama gebetan." Angga lalu ia pun melajukan mobilnya.
Rara pun diam ditempat, mencoba mendefinisikan kata gebetan yang Angga maksud,tak lama kemudian kedua sudut bibir Rara terangkat membentuk sebuah senyuman.
Sebenarnya apa yang dipikirkan Rara???.
📕📕📕📕
Hello kakak-kakak
Harap maklum ya semuanya
Salam
Lyra
Next....
__ADS_1