Sandiwara

Sandiwara
Ep.36 -


__ADS_3

“Serius, Din! Mata aku masih normal, ya. Gak mungkin lah aku salah lihat, sedangkan apa yang aku lihat ini bukan sekali dua kali. Kalau gak percaya, aku ada bukti!” Sinta segera menunjukkan potret Edelweis yang digendong Jonathan kemarin. Adinda yang melihatnya terkejut, berarti apa yang dikatakan Sinta kepadanya memang benar adanya.


Sinta tersenyum senang, “Untung banget kemarin aku ambil foto mereka.” ucap Sinta, dia menatap lekat potret itu di ponselnya.


Adinda terdiam, dia memang sudah menduga sebelumnya. Hanya saja memilih diam dan pura-pura tak tahu saja.


“Aku jadi berpikir, kalau ternyata sebenarnya pak Jo sama mbak Edel itu udah menikah. Dan, anak yang dikandung mbak Edel sekarang itu adalah anak pak Jo.” ucap Sinta, dia memang banyak menduga-duga tentang hubungan Jonathan dan Edelweis itu.


Sinta mendongak, menatap Adinda yang masih terdiam. “Kamu juga berpikir yang sama kan?” tanya Sinta yang diangguki Adinda.


“Apa kita cari tahu aja apa yang sebenarnya?”


“Ih, ngapain? Gak usah lah! Nanti kita dikira kepo lagi sama hubungan mereka. Lagian, kalaupun emang mereka punya hubungan, yaudah, biarin aja. Toh, bukan urusan kita ini.” ucap Adinda, dia memicingkan matanya. “Apa jangan-jangan kamu suka lagi sama pak Jo? Iya?”


“Dih, sembarangan! Aku tahu kalau pak Jo tuh ganteng, mana mapan lagi. Tapi, aku gak pernah, ya berpikir untuk suka sama dia. Lagian, aku sadar diri kali. Mana mungkin aku suka sama pak Jo yang level nya itu bukan aku. Gak, lah! Asal banget kamu ngomong.”


“Yaudah, berarti kita biarin aja. Kita do'ain aja yang terbaik buat mereka.”


Sinta kini menatap curiga Adinda, “Kok tumben sih kamu kayak gini? Biasanya juga kalau ada sesuatu yang mencurigakan, kamu yang paling gercep pengen tahu. Tapi, kali ini? Kamu seakan-akan gak mau ikut campur, kayak... kamu tuh udah tahu sesuatu sebenarnya. Iya, kan?”


Adinda terdiam kikuk, dia menyesap minumannya pelan kemudiannya kembali meletakkannya diatas meja. “Ih, apaan sih! Aku cuma mau memperbaiki diri aja, gak mau lagi kepo sama masalah orang. Lagipula, masalah aku aja banyak, belum selesai. Capek-capek pakai mikirin masalah orang.”


“Masa?”


“Ih, kok jadi kamu sih yang kepoan gini?”


“Aku bukan kepo, aku cuma aneh aja gitu sama perubahan sikap kamu. Ada apa sih?”


“Gak ada apa-apa kok. Udah, ah. Ayo lanjut makan, bentar lagi jam masuk kantor loh. Buruan!”


“Iya, iya.”


***


“Tumben sarapan di rumah, Jo.”


Edelweis menghampiri Jonathan yang tengah menikmati sarapan berupa roti selai dengan segelas susu putih. Pria itu menikmati sarapan ditemani ponsel di tangannya yang entah menunjukkan apa, Edelweis sendiri tak tahu.


“Masalah, gitu?”


Edelweis terkekeh, dia menggeleng dan duduk disamping Jonathan. “Gak juga sih, cuma aneh aja.” ucap Edelweis, dia tersenyum pada pria itu.


Jonathan acuh, dia memilih menikmati sarapannya ini. Mencoba acuh pada Edelweis, namun dia tak bisa. Tatapan perempuan itu padanya yang begitu lekat membuat dia kesal dibuatnya.


Dengan tajam, Jonathan menatap Edelweis yang tengah memangku wajah dengan sebelah tangan diatas meja. “Bisa gak usah lihatin gue kayak gitu? Risih tahu.” kesal Jonathan.


Edelweis menggeleng pelan, “Gak bisa. Pengennya lihatin lo kayak gini, soalnya gue suka.” jawab Edelweis.


Jonathan berdecak, dia segera meneguk susunya hingga tandas. Hal itu tak lepas dari Edelweis yang masih setia memperhatikannya.


“Jo, gue hari ini gak masuk kantor, ya. Masih lemas soalnya.”

__ADS_1


“Terserah. Toh, kehadiran lo juga gak berefek apapun.”


Edelweis tersenyum, “Iya, tahu kok. Tapi, gue tetap mau izin deh sama lo. Siapa tahu lo khawatir sama gue, sama kayak waktu itu.” balas Edelweis, dia mengingatkan Jonathan pada hari itu.


“Percaya diri,” cibir Jonathan, dia beranjak dan bersiap pergi. Melenggang begitu saja melewati Edelweis. Namun, langkahnya harus terhenti saat Edelweis kembali memanggil namanya.


Edelweis beranjak, berjalan menghampiri Jonathan. “Lo tuh gimana sih, Jo. Masa pakai dasi, bisa gak rapih kayak gini.” ucap Edelweis, dia mendekat pada Jonathan tanpa memberi jarak pada pria itu. Sehingga, mata mereka bisa langsung bertemu saat mereka bertatapan.


Edelweis tersenyum, menatap Jonathan yang justru terdiam. Merasa tak mendapat penolakan, Edelweis melancarkan aksinya.


“Harus rapih dong, Jo. Lo kan atasan yang pastinya jadi panutan. Kalau lo nya gak rapi, apa kabar sama bawahan lo?” ucap Edelweis, dia terus merapikan dasi Jonathan yang memang menurutnya sedikit miring tadi.


Jonathan terdiam, menatap lekat Edelweis yang begitu dekat dengannya. Dia bahkan bisa merasakan hawa tubuh juga wangi perempuan itu.


“Gue belum mandi tahu, Jo. Tapi, gak bau kan?”


Tidak, sama sekali tidak. Bahkan, aroma tubuh Edelweis begitu mendamba, membuat Jonathan sebisa mungkin menahan sesuatu di dirinya. Baru kali ini dia merasakan hal demikian jika dekat dengan Edelweis. Ada apa dengan dirinya sebenarnya? Aneh dia rasakan.


“Udah, selesai. Udah rapih deh.” Edelweis menepuk-nepuk kedua bahu Jonathan, tersenyum senang melihat hasil kesempurnaan yang dia ciptakan di dasi Jonathan.


Ditatap nya kembali Jonathan yang ternyata terang-terangan menatapnya, “Gue tahu kok, gue ini cantik. Tapi, bisa kan natap gue nya biasa aja? Gak akan ada yang ngambil kok. Gue kan cuma milik lo, gue kan istri lo.” ucap Edelweis yang menyadarkan Jonathan.


Jonathan membuang muka, dia menghela napas kasar. Ditatap nya tajam kembali Edelweis, “Gak usah geer deh! Siapa juga yang terpesona sama lo. Mandi sana! Bau tahu!” ucap Jonathan kemudian berlalu pergi meninggalkan Edelweis yang mendengus kesal.


“Ih, nyebelin!” kesal Edelweis, dia mencium tubuhnya sendiri, memastikan apa yang dikatakan Jonathan itu tidak benar. “Orang gak bau juga! Orang wangi, ih! Nyebelin dasar punya suami tuh!” ucap Edelweis kesal, namun kekesalannya itu perlahan berganti dengan senyuman.


“Gue benar-benar berharap, kita bisa jadi pasangan yang beneran.”


Rasanya, ada sedikit penyesalan saat dia memutuskan untuk tak pergi ke kantor hari ini. Tapi, ada bersyukurnya juga sih. Jadinya, Edelweis bisa berkunjung ke rumah mertuanya. Dan sampai di rumah dia disambut oleh beberapa pekerja, juga Emmeline yang menghampiri nya.


“Udah lama, sayang?”


“Enggak kok, mam. Baru juga sampai.” jawab Edelweis, dia memeluk Emmeline. “Gimana kabarnya, mam? Udah lama gak ketemu, ya.”


“Mama baik-baik aja kok. Kamu sendiri, gimana kabarnya?”


“Yang kayak mama lihat, aku baik-baik aja.”


Emmeline tersenyum senang mendengarnya, dia memperhatikan seksama Edelweis yang dia rasa sedikit berbeda. “Kamu agak beda, ya, sayang?” tukas Emmeline.


Edelweis mengerutkan keningnya, dia menyentuh wajah juga tubuhnya. “Beda, gimana mam?” tanya Edelweis bingung, dia terkekeh.


“Ya, beda aja gitu. Kayak lebih bersinar gitu.”


“Ah, mama bisa aja. Mungkin karena efek perawatan kali, aku baru aja treatment sih beberapa hari yang lalu.” jawab Edelweis, dia berbohong. Berdasarkan artikel yang dibacanya, kebanyakan ibu hamil akan terlihat lebih bersinar aura nya karena kehamilannya itu. Mungkin, apa yang terjadi padanya adalah efek dari kehamilan Edelweis saat ini.


Jujur, Edelweis belum siap mengatakan tentang kehamilannya ini. Biarlah, biar hanya Tuhan, dirinya, Jonathan juga kedua temannya saja yang tahu. Yang lain, jangan dulu.


“Mungkin kali, ya. Tapi, serius sayang... Kamu tambah cantik tahu,”


Edelweis tertawa kaku, “Tambah cantik. Tapi, aku belum juga bisa buat Jo jatuh cinta.” ucap Edelweis pilu, dia tersenyum miris.

__ADS_1


“Maafin, Jo, ya. Tapi, percaya sama Mama. Suatu hari nanti, akan ada waktu dimana Jo akan mengatakan sama kamu, kalau dia jatuh cinta sama kamu. Percaya itu.”


Edelweis tersenyum mendengar ucapan Emmeline yang mencoba menenangkan nya. “Makasih, ya, Mam. Semoga aja waktu itu datang dengan cepat. Aku udah gak sabar, dicintai.”


Emmeline tersenyum, dia mengangguk.


***


Sepulang dari kediaman orangtua Jonathan, Edelweis tak langsung pergi ke apartemen. Dia mampir terlebih dahulu ke supermarket yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Sebenarnya, di apartemen sendiri sudah ada mall khusus untuk semua penghuninya. Namun, karena Edelweis ingin mencari suasana baru, dia memutuskan mampir ke supermarket lain.


“Mama bilang, Jo suka banget sama sayuran. Jadi, sebisa mungkin gue harus bisa masak sesuatu yang ada sayurnya supaya Jo suka.”


“Masalahnya, sampai saat ini pun gue belum bisa masak apapun. Jangankan masak, bikin mie rebus saja gue gak bisa sama sekali. Eh, tapi kan gue pernah bikin bubur, bikin waffle dan semuanya berhasil. Jadi, gak menutup kemungkinan kalau gue belajar masak yang lain juga akan berhasil.”


Edelweis tersenyum senang. Dalam dirinya dia menyakinkan kalau dirinya mampu dan bisa, meskipun sebenarnya dia terlalu malas melakukannya. Namun, demi Jonathan dia rela melakukan semuanya.


Satu persatu bahan-bahan masakan, bumbu dan segala jenisnya sudah masuk ke shopping cart yang didorong Edelweis. Tak terlalu banyak, hanya bahan-bahan inti saja yang dia dapat resepnya dari internet.


“Udah, kali, ya. Eh, belum deh, tinggal minyak goreng. Lupa.”


Edelweis segera mendorong shopping cart nya menuju section minyak goreng, mencari-cari merek minyak goreng yang baik untuk masakan juga kesehatan.


“Pilih yang ini aja deh,”


Edelweis mencoba mengambil minyak goreng di etalase paling atas, entah kenapa dia memilih tempat itu padahal di hadapannya ada minyak goreng dengan merek yang sama pula. Akibat tempatnya yang tinggi, membuat Edelweis sedikit kesusahan. Kalau saja tidak ada orang yang membantunya, mungkin Edelweis tak akan mendapatkan minyak goreng yang dia inginkan.


“Ups, sorry, thank you.”


Edelweis memicingkan matanya, merasa tak asing dengan pria yang membantunya mengambil minyak goreng tersebut. “Lo... Bukannya dokter itu, ya?” tebak Edelweis dia mengerutkan keningnya. Tebakannya tak mungkin salah, dia punya saya ingat yang cukup kuat.


“Ternyata kamu masih ingat saya,”


“Bukannya apa-apa, ya. Cuma, ya gue punya daya ingat yang lumayan tinggi. Jadi, gue gak mungkin lupa. Apalagi, lo orang yang tolongin gue waktu itu.”


David, pria itu tersenyum senang mendengarnya. “Syukurlah kalau ternyata kamu sebaik itu. Gak melupakan kebaikan orang, meskipun sampai sekarang, saya masih belum dengar ucapan terimakasih dari kamu.”


“Lo tuh kenapa sih? Pengen banget gitu gue bilang makasih? Ya elah.” Edelweis memutar malas bola matanya. “Makasih, ya!” ucap Edelweis dengan terpaksa, terdengar jelas dari nada bicaranya juga terlihat dari raut wajahnya.


“Gak usah kalau gak ikhlas,”


“Dih, ribet! Udah, ah! Sana, minggir!”


Bukannya pergi, David justru menggeser tubuhnya untuk menghalangi jalan Edelweis, membuat perempuan itu kesal.


“Apa sih?”


“Gak ada ucapan terimakasih? Saya baru aja tolongin kamu loh, kalau kamu lupa.”


Edelweis memutar jengah bola matanya, dengan terpaksa dia berucap. “Makasih! Jadi, tolong minggir!”


David tersenyum, dia memberikan jalan untuk Edelweis. “Dengan senang hati.” balas David, membiarkan Edelweis pergi dengan langkah angkuh seperti biasa.

__ADS_1


“Masih sama ternyata.” gumam David, menatap kepergian Edelweis.


__ADS_2