Sandiwara

Sandiwara
Ep.41 - Ngidam


__ADS_3

Edelweis menggeliat, membuka matanya perlahan dan langsung menemukan sosok Jonathan didepan matanya. Seulas senyum tercetak di bibirnya melihat bagaimana tampannya sang suami yang kini tengah terlelap di atas sofa, sedangkan dirinya di ranjang milik pria itu.


Akhirnya, setelah segala paksaan Jonathan membiarkan Edelweis tidur di ranjangnya, sedangkan pria itu memilih tidur di sofa. Jonathan enggan tidur seranjang dengan Edelweis tentunya.


Edelweis beranjak turun dari ranjang, melangkah mendekat pada Jonathan dan duduk bersimpuh diatas karpet. Diperhatikan dengan lekat wajah tampan sang suami itu.


“Kenapa gue baru sadar, ya kalau lo tuh cakep banget, Jo. Selama ini gue kemana coba? Gak sadar ada orang cakep kayak lo. Gila... Gak kebayang nanti gimana visual anak kita. Lo yang ganteng, gue yang cantik, pasti... boom! banget anak kita, Jo.”


Edelweis tersenyum, membayangkan wajah anak mereka nantinya.


“Tapi, apa lo yakin kalau kita bakal ketemu dia?” tiba-tiba pertanyaan itu terlintas dibenak Edelweis, raut sedih seketika tercetak diwajahnya. “Kenapa justru gue berpikir kalau kita gak bakalan ketemu dia, ya?” Edelweis menghela napas kasar.


Tangan Edelweis terulur, menyentuh setiap jengkal di wajah Jonathan dengan pelan karena tak mau membuat pria itu merasa terganggu dalam tidurnya.


“Gue gak tahu, apa yang ada di diri cewek itu yang gak gua punya sampai-sampai lo bisa tergila-gila sama dia, sedangkan sama gue enggak. Tapi, gue gak peduli sama itu semua. Gue bakalan tetap lakuin apa yang emang harus gue lakuin, apapun caranya. Gue cuma gak mau kehilangan lagi, untuk kesekian kalinya. Gue gak akan biarin lo sama dia, Jo. Gakpapa lo anggap gue egois. Tapi, suatu saat nanti, lo akan bersyukur karena gue lakuin hal ini. Toh, demi kebaikan kita semua kan?”


Edelweis menatap perutnya yang sudah mulai terlihat baby bump, dia tersenyum tipis dan mengusapnya pelan. Dia berjanji, akan mempertahankan keutuhan keluarga kecilnya ini, apapun caranya.


***


“Jo... Bangun! Jonathan!”


Jonathan menggeliat, semakin mengeratkan pelukannya pada guling dan mencoba menepis seseorang yang mengganggu tidurnya. Namun, bukannya berhenti, justru tidurnya semakin diganggu, tubuhnya semakin diguncang hebat.


“Ih... Bangun!”


Dengan malas, Jonathan membuka setengah matanya, samar-samar menemukan Edelweis yang mengerucutkan bibirnya kesal. “Apasih, Del? Ganggu orang tidur aja.” dengus Jonathan, dia kembali memejamkan mata namun tubuhnya lagi-lagi di guncang. Sekarang bukan hanya guncangan, tapi juga pukulan.


“Sakit tahu!”


“Bangun makanya!”


Jonathan membuka sepenuhnya matanya, benar-benar kesal dengan Edelweis yang terus mengganggunya. “Apa sih? Ganggu banget jadi orang.”


Edelweis mengerucutkan bibirnya kesal, melayangkan kembali pukulan pada paha Jonathan yang membuat pria itu meringis kesakitan. “Sakit tahu!”


“Ya, makanya bangun. Tidur mulu sih jadi orang.” kesal Edelweis, dia mendengus.


“Tidur mulu lo bilang?” Jonathan ternganga, dia menarik wajah Edelweis dan memutarnya pelan agar menghadap ke arah dimana jam dinding berada. “Lihat! Lihat sekarang jam berapa? Lo bilang gue tidur mulu? Lah, ini jamnya tidur.”


Iya, Edelweis salah, dia tahu itu. Tapi, tak usah diperjelas juga bukan.


Edelweis mencebik, menepis tangan Jonathan dan kembali menatap pria itu. “Iya, tahu waktunya tidur. Tapi, harusnya lo tuh mikirin gue juga. Jangan enak-enak tidur sendiri, lah gue gak tidur.”


Jonathan berdecak kesal, dia merebahkan kembali tubuhnya dan memunggungi Edelweis. Namun, perempuan itu kembali memaksanya untuk bangun, Edelweis kembali mengganggu nya.


“Ya ampun, Del. Apaan sih!”


Edelweis langsung terdiam, dia mengerucutkan bibirnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. “Kok bentak-bentak sih?” tanya Edelweis dengan bibir bergetar menahan tangis, rasanya hatinya sakit mendengar bentakan Jonathan yang sebenarnya tidak seberapa.


Jonathan menghela napas kasar, dia menyugar kasar rambutnya. “Siapa yang bentak lo? Gak ada, ya.”


“Ada! Lo tadi bentak gue.”

__ADS_1


“Gue gak bentak lo. Gue cuma kesal karena lo ganggu tidur gue.”


“Sama aja. Lo bentak-bentak gue juga kan ujung-ujungnya. Ih, nyebelin!”


Edelweis langsung beranjak, dia melangkah dengan kesal kembali ke arah ranjang dan duduk membelakangi Jonathan yang memilih mengabaikan perempuan itu. Jonathan mencoba tak peduli, dia tak mau ambil pusing dan memilih merebahkan kembali tubuhnya, namun mendengar suara isakan yang tak kunjung berhenti membuat dia tak bisa untuk tinggal diam saja.


Dengan malas, Jonathan beranjak menghampiri Edelweis.


“Kenapa?”


Dengan mata yang masih tersisa banyak tangisan, Edelweis menatap tajam Jonathan. Dia tak menjawab dan justru membuang muka, menunjukkan kalau dirinya tengah merajuk pada pria itu.


“Kenapa, Del? Ngomong sekarang atau gue benar-benar gak akan peduli.”


“Minta maaf dulu,”


Jonathan mengerutkan keningnya, “Buat apa?”


“Udah bentak-bentak gue tadi.”


“Gue gak bentak lo, gue—”


“Minta maaf!”


Jonathan memutar jengah bola matanya, enggan melakukannya namun justru dia tetap melakukan hal itu. “Sorry.”


Edelweis menatap Jonathan, dia menghapus air matanya. “Gue pengen makan martabak, Jo...”


“Del? Lo?”


“Gue ngidam, Jo. Gue ngidam pengen makan martabak.”


“Martabak mana yang masih jualan jam segini, Del? Lihat, ini udah jam setengah dua pagi.”


Edelweis menggeleng, “Gak mau tahu, pengen martabak pokoknya.”


“Yaudah, lo tinggal pesan aja apa susahnya sih.”


“Kalau gampang, gak akan gue bangunin lo dari tadi. Masalahnya gue gak mau beli martabak lewat ojol. Gue maunya kita beli sendiri, terus makan di sana.”


Jonathan menggeleng, dia mengibaskan tangannya. “Gak ada. Udah, tidur.” ucap Jonathan, dia melangkah pergi, berlalu dari Edelweis. Namun, baru juga beberapa langkah suara tangisan perempuan itu yang amat mengganggu telinganya kembali terdengar.


Dengan helaan napas kasar, akhirnya Jonathan berucap dengan tidak ikhlas. “Ambil jaket, kita cari sekarang.”


***


“Jo, gak ada, ya yang jualan martabak jam segini?”


Jonathan memutar jengah bola matanya mendengar pertanyaan itu, dia tak menjawab dan memilih fokus pada jalanan didepannya yang begitu lenggang sambil sesekali melihat dan memastikan, apakah ada penjual martabak di dini hari seperti ini.


Edelweis menatap Jonathan di sampingnya yang terus saja diam. “Kalau gak ikhlas, tadi harusnya gak usah pergi aja. Daripada diam-diam terus.” Edelweis mencebik, “Padahal kan gue mau martabak juga karena anak lo yang pengen.”


Jonathan masih juga diam.

__ADS_1


“Gue ngidam loh... Kalau gak dituruti, konon katanya anaknya bakal ileran. Lo mau anak lo ileran? Enggak kan? Jadi, lo harusnya mau menuhin ngidam gue ini.”


“Lo pikir, gue gak ada effort gitu?” Jonathan melirik Edelweis kesal, “Ini kan kita lagi cari tukang martabak, tapi emang belum ketemu aja.”


“Harus ikhlas tapi.”


“Ikhlas lahir batin ini.”


Edelweis terkekeh dibuatnya, “Gitu dong. Tapi, emang kayaknya gak ada deh orang yang jualan martabak jam segini? Kita udah keliling hampir sejam, tapi belum nemu juga.”


“Terus, lo maunya apa? Nanti gue bawa pulang, bilangnya gue gak nurutin ngidam lo lagi.”


Edelweis menggeleng, dia mengedikkan bahunya. “Gak tahu.”


“Dasar cewek.” gumam Jonathan yang masih bisa didengar Edelweis.


“Apa!?”


“Enggak.”


Edelweis mendengus, dia mengerucutkan bibirnya. “Yaudah lah, kita pulang aja. Lagian, gue juga pengen rebahan aja jadinya.”


“Syukur lah kalau gitu.”


“Eh, tapi kayaknya kita mampir dulu ke mini market deh. Ngebayangin makan onigiri sama sosis bakarnya, terus minum teh kotak sama es krim durian, kayaknya enak deh.” Edelweis tersenyum lebar, dia menatap Jonathan. “Iya kan, Jo?”


“Tahu,” Jonathan mengedikkan bahunya, namun tetap melajukan mobilnya menuju mini market ke arah jalan pulang.


Jonathan memarkirkan mobilnya setelah sampai di mini market, namun dirinya tak melihat ada tanda-tanda jika Edelweis akan keluar dari mobilnya. “Ngapain masih disini? Katanya mau beli onigiri di sana? Ini gue udah berhenti loh disini.”


“Yang mau beli siapa? Masa gue sih. Lo lah. Turun sana, beliin gue onigiri, sosis bakar, es teh sama es krim durian.”


“Loh, kok lo nyuruh-nyuruh sih?”


Edelweis menggeleng, “Gak nyuruh kok, anak lo yang minta.” ucap Edelweis sambil mengusap baby bump nya.


Jonathan hanya mampu menghela napas kasar, mencoba untuk menahan emosi dan kekesalan atas perbuatan menyebalkan Edelweis sejak tadi. Dengan terpaksa dan tanpa bicara, Jonathan keluar dari mobilnya dan masuk ke mini market tersebut untuk membeli apa yang Edelweis mau.


“Totalnya jadi 58 ribu, mas.”


Jonathan segera menyerahkan selembar uang seratus ribu rupiah untuk membayar belanjaannya. Kakinya kini melangkah dengan malas menuju mobilnya untuk kembali menemui Edelweis. Namun, keadaan perempuan itu seketika membuatnya ternganga.


“Del, lo tidur?”


Hanya gumaman yang terdengar dari Edelweis.


“Ini makannya gimana?”


“Besok aja, lo lama sih, gue jadi ngantuk.” ucap Edelweis dengan mata yang masih terpejam, dia semakin meringkuk kan tubuhnya.


Hendak protes kembali, namun acungan telunjuk dari Edelweis menghentikannya.


“Jangan marah-marah, gue malas dengarnya. Mau tidur aja sekarang. Ayo pulang!”

__ADS_1


__ADS_2