
“Mbak Edel!”
Edelweis menatap sinis Adinda yang datang menghampirinya sambil membawa kotak makan yang isinya Edelweis sudah tahu apa. “Apa?” tanya Edelweis malas.
Adinda mengerucutkan bibirnya, “Ih, mbak Edel masih marah sama aku? Gara-gara kemarin?” tanya Adinda sedih.
Edelweis mendongak angkuh, “Menurut lo?”
“Ya ampun, mbak... Masa iya cuma karena aku tolak permintaan mbak, mbak marah sama aku. Jangan lah, mbak.”
“Ya, suka-suka gue lah. Hak gue!”
“Tapi, kalau mbak marah. Aku gak mau lagi deh bawain mbak brownies ini minggu depan. Lagian, ngapain aku bawain ini, tapi mbaknya masih marah.”
Edelweis berdecak, dia memicingkan matanya tajam. “Oh... Jadi, ceritanya lo ancam gue nih? Oh, gitu. Cukup tahu gue.” ucap Edelweis, dia mengangguk-angguk.
“Ya abisnya mbak Edel marah sama aku.”
“Ya, harusnya lo tuh membujuk gue supaya gue gak marah sama lo. Bukannya malah ancam gue kayak gitu.”
“Aku harus bujuk kayak gimana lagi? Pasti mbak Edel tetap akan marah dan marahnya mbak itu akan hilang saat aku mau menuruti kemauan mbak. Iya kan?”
“Nah, lo tahu! Lagian, permintaan gue tuh gampang kali. Lo tinggal jadi mata-mata, udah gitu aja.”
Adinda menghela napas kasar, dia menatap bingung Edelweis. “Lagian mbak. Mbak itu kenapa sih kayak gak suka banget sama Mbak Retha. Padahal mbak Retha selalu baik loh sama mbak juga.”
“Bukan urusan lo. Lagian, gue cuma minta lo jadi mata-mata, cari tahu beberapa hal yang gue suruh. Udah, gampang. Dan, lo tenang aja. Gue gak akan nyuruh lo cuma-cuma, gue akan bayar jasa lo itu.”
“Mbak, tapi ini bukan cuma tentang bayaran.”
Edelweis berdecak, "Udah, deh. Terserah lo. Lagian, kalau pun lo gak mau, gue bisa suruh yang lainnya. Jadi, gak usah sok ceramahi gue. Ngerti!?”
***
Adinda dan Sinta saling tatap, mereka menatap Edelweis yang terbaring di ranjang ruang kesehatan kantor. Saat berdebat dengan Adinda tadi, tiba-tiba Edelweis jatuh pingsan begitu saja. Kebetulan saat hendak dibawa ke ruang kesehatan Adinda berpapasan dengan Sinta, alhasil dia meminta perempuan itu menemani nya. Dan, disinilah mereka kini.
Wajah tak percaya masih terlihat jelas di wajah mereka kala ingat apa yang baru saja dokter katakan.
“Mbak Edel belum nikah kan, ya? Kok bisa sih, Sin?”
Sinta menggeleng. “Kamu aja gak tau, apalagi aku Din.” ucap Sinta, otaknya jadi berpikir lain. “Apa jangan-jangan mbak Edel tipe perempuan yang...”
“Hush! Gak boleh ngomong gitu. Kita gak tahu yang sebenarnya itu apa. Siapa tahu, sebenarnya mbak Edel tuh emang udah nikah, tapi kita gak tahu aja. Mungkin aja pernikahannya gak di publish.”
Sinta mengangguk-angguk, dia benar-benar tak percaya. “Eh, tapi kalau ingat sikap mbak Edel sama Pak Jo. Gimana posesif nya Mbak Edel kalau pak Jo ketemu Mbak Retha. Apa jangan-jangan...” Sinta menatap lekat Adinda yang membulatkan matanya. Sepertinya, otak mereka memikirkan hal sama.
Ditengah pemikiran mereka, terdengar ada rintisan juga pergerakan dari Edelweis membuat mereka semakin cemas seketika.
“Mbak Edel, mbak udah sadar?”
“Mbak ada yang sakit, gak?”
“Mbak Edel butuh apa? Mbak Edel mau minum atau aku panggil dokter lagi, ya.”
Edelweis mendengus kesal melihat bagaimana hectic nya mereka saat dia membuka mata, alhasil dia menahan tangan keduanya yang bersiap untuk pergi memanggil dokter.
Dengan wajah kesal, Edelweis menatap mereka. “Bisa tenang, gak? Kepala gue pusing nih!” kesal Edelweis, dia mendengus kesal.
Adinda dan Sinta meringis pelan, “Maaf, mbak.”
“Tapi, gak papa ya mbak aku panggil dokter lagi. Biar mbak di periksa lagi.”
“Gak usah!” tolak Edelweis, dia mencoba beranjak untuk duduk dan dengan cepat Adinda dan Sinta membantunya.
Edelweis terdiam sesaat, dia memastikan keadaan sekitar. Keningnya langsung mengerut bingung saat sadar dirinya tak ada di tempatnya. “Ini gue dimana?” tanya Edelweis bingung.
“Mbak di ruang kesehatan, mbak.”
“Ruang kesehatan? Kok gue bisa ada disini.”
“Mbak tadi pingsan. Makanya, mbak dibawa kesini.”
__ADS_1
Edelweis mengerutkan keningnya bingung, dia bahkan tak tahu kenapa bisa tiba-tiba pingsan. Dia merasa tak sakit apapun, meskipun kepalanya sedikit pusing tadi saat berdebat dengan Adinda.
“Mbak Edel, maaf banget, ya kalau kita lancang. Tapi, apa mbak tahu kondisi emang yang sebenarnya sekarang itu serius?” tanya Adinda, dia meringis pelan.
Edelweis bingung dengan Adinda yang tiba-tiba serius, pun begitu dengan Sinta. “Kalian ngomongin apa sih? Kondisi gue yang serius, maksudnya?” tanya Edelweis tak paham.
Adinda tak langsung menjawab, dia menatap Sinta dan meminta perempuan itu saja yang menjelaskannya. Namun, Sinta justru menggeleng, dia tak mau. Melihat keduanya yang sama-sama menolak menjelaskan membuat Edelweis kesal bukan main.
“Kalian kenapa sih?” kesal Edelweis. “Dokter bilang apa sama kalian tentang kondisi gue. Jangan buat gue takut deh!” Edelweis takut dia terserang penyakit serius dan mematikan, melihat bagaimana cemasnya Adinda juga Sinta.
“Sin, jelasin.”
“Kamu aja, Din!”
“Enggak, kamu aja.”
“Kamu.”
“Cukup!” Edelweis mendengus kesal, dia menatap tajam Adinda. “Din, jelasin sekarang!” paksa Edelweis.
“Mbak...”
Harap-harap cemas Edelweis menunggu apa yang akan dikatakan Adinda, dia berharap jika apa yang dia dengar bukan sesuatu yang mengecewakan nantinya.
“Iya, gue kenapa, Din?”
“Mbak Edel...”
Edelweis mengangguk-angguk, dia meminta Adinda cepat mengatakannya.
“Din, Sin.”
“Mbak Edel hamil.” ucap Adinda dalam satu helaan napas, dia menatap cemas Edelweis yang langsung berubah air mukanya.
“Mbak Edel, mbak baik-baik aja kan? Mbak!”
Adinda juga Sinta mencoba menyadarkan Edelweis yang langsung terdiam seketika mendengar fakta yang diucapkan Adinda.
“Mbak,”
“Mbak Edel,”
“Gu-gue hamil?” tanya Edelweis, dia menatap Adinda dan Sinta menyakinkan. Berharap jika apa yang dia dengar sebelumnya tidak benar adanya. Namun, anggukan dari mereka menghancurkan harapan Edelweis.
Edelweis langsung menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya hal itu membuat Adinda juga Sinta kasihan melihatnya sehingga usapan pelan pun mereka berikan di punggung juga lengan Edelweis.
“Mbak yang tenang, ya. Mbak harus berpikir positif, jangan sampai mbak nekat melakukan hal-hal yang salah. Iya, mbak.”
Edelweis bingung sekarang, harus bagaimana dirinya.
Sedangkan, melihat respon Edelweis yang tak terlihat bahagia membuat Adinda juga Sinta yakin jika janin yang tengah dikandung Edelweis adalah hasil dari suatu kesalahan. Mungkin memang pikiran Sinta benar sebelumnya jika Edelweis adalah tipe perempuan yang melakukan *** before married.
“Gue harus gimana sekarang?” tanya Edelweis frustasi, dia benar-benar bingung harus melakukan apa.
“Mbak harus terima kandungan mbak. Gimana pun, dia anak mbak sendiri, terlepas adanya karena suatu kesalahan.”
Edelweis menghela napas kasar. Dia menatap lekat Adinda dan Sinta. “Kalian akan sebarin kehamilan gue ini ke semua anak kantor?” tanya Edelweis yang sudah pasti mendapat gelengan dari mereka.
“Enggak, mbak! Kita gak mungkin nyebarin hal ini. Mbak tenang aja. Lagipula, kita gak mau mbak semakin dinilai buruk sama orang-orang saat tahu ternyata mbak hamil sebelum menikah.” ucap Adinda, dia berucap begitu tulusnya.
“Iya, mbak. Mbak tenang aja, ya. Kita akan simpan rahasia ini. Kehamilan mbak ini cuma kita aja yang tahu, yang lain gak akan tahu. Percaya itu.” timpal Sinta, dia tersenyum simpul pada Edelweis.
“Makasih, ya. Gue harap kalian menepati apa yang kalian ucapin ini.”
Mereka mengangguk. Dan, Edelweis merasa tenang setidaknya kehamilannya jangan sampai ada yang tahu, terutama Jonathan. Terlepas dia sendiri entah menginginkan atau tidak janin ini. Namun, itu urusan lain. Yang terpenting saat ini, Edelweis harus membuat Jonathan jatuh cinta terlebih dahulu.
***
Edelweis berjalan lunglai melewati lorong rumah sakit, di tangannya sudah ada amplop yang isinya adalah surat yang menyatakan dirinya tengah mengandung kini. Dia menatap amplop tersebut dengan tatapan penuh arti, masih tak menyangka jika dirinya kini tengah mengandung.
“Kenapa kamu hadir sekarang? Kamu tahu kan, gimana keadaan orangtua kamu sebenarnya. Aku sama ayah kamu itu, kita sama-sama belum sepenuhnya bisa jadi orangtua. Bukan aku gak terima kehadiran kamu, cuma kamu datang di waktu yang gak tepat. Kamu hadir di waktu yang salah.”
__ADS_1
Edelweis mengulum bibirnya, hatinya benar-benar belum menerima sepenuhnya kenyataan ini. Namun, mau bagaimana lagi? Dia masih punya hati untuk tidak melenyapkan begitu saja janin yang ada di kandungannya kini. Kalaupun nantinya janin itu harus pergi, maka pergi dengan sendirinya, bukan karena ulahnya.
“Aduh.”
“Eh, maaf, maaf.”
Edelweis mendongak kesal saat seseorang menabrak nya, seketika kekesalannya semakin bertambah saat melihat siapa yang menabraknya.
“Mbak Edel,” Retha meringis pelan saat dia tak sengaja menabrak Edelweis. “Mbak Edel gak papa, kan? Ada yang luka atau—”
“Apaan sih lo!” Edelweis menyingkirkan tangan Retha yang memeriksa keadaannya, matanya memicing tajam. “Gak usah pegang-pegang gue!” kesal Edelweis.
Retha langsung terdiam, “Maafin aku, ya, mbak. Aku gak sengaja tadi, soalnya lagi buru-buru. Aku—”
Edelweis mendengus kesal, “Apa sih! Gue gak mau denger lo curhat, ya! Ogah banget!”
“Maaf, mbak.”
“Lagian, lo jalan tuh yang benar kek. Kalau gue kenapa-napa, gimana?”
“Iya, mbak, maaf.”
Edelweis memutar malas bola matanya.
“Mbak Edel kenapa ada di rumah sakit? Mbak gak kenapa-napa kan?”
Edelweis tak suka dengan Retha yang selalu peduli padanya. “Apa sih lo! Kepo banget sama urusan gue. Lagian kalau gue kenapa-napa juga bukan urusan lo. Gak usah sok peduli deh!”
“Aku cuma—”
Edelweis malas berhadapan dengan Retha. Tanpa permisi, dia melewati Retha begitu saja bahkan tanpa mau repot-repot mendengarkan apa yang akan dikatakan Retha padanya.
“Sok perhatian banget.” kesal Edelweis. Dia tak suka pada Retha sejak dulu, jadi sebaik apapun Retha padanya akan tetap buruk dimatanya.
Alasannya? Hanya Edelweis sendiri yang tahu.
***
“Darimana lo? Jam segini baru pulang.”
Edelweis membalikkan tubuhnya, bukannya marah karena ucapan Jonathan, dia justru tersenyum lebar. Diikutinya pria itu yang berjalan ke arah dapur. “Cie, perhatian nih ceritanya.” goda Edelweis, dia terkekeh.
Jonathan menuangkan bubuk kopi ke cangkir, dilanjut dengan menambahkan air panas dari dispenser. Dia memutar malas bola matanya, menyesal berucap demikian pada Edelweis. Perempuan itu berbesar hati jadinya.
Jonathan tak menjawab, dia melewati Edelweis begitu saja. Kemudian kembali ke ruang tengah, dimana dia tengah mengerjakan pekerjaan kantor yang sengaja dia bawa ke rumah.
Edelweis terkekeh melihat diamnya Jonathan, dia mengikuti pria itu kembali. “Kok bawa kerjaan ke rumah sih, Jo? Lo kan udah kerja di kantor, ngapain capek-capek kerja juga di rumah.”
Jonathan mengaduk kopinya, “Lo gak akan ngerti, lagian lo kan gak pernah kerja.” balas Jonathan, dia menyesap kopinya.
“Ih, kata siapa gue gak kerja? Gue kan kerja. Apa perlu gue ingatin kalau gue ini sekertaris lo?”
Jonathan tersenyum sinis, “Sekertaris gak guna iya.”
Edelweis mencebik, “Ih, meremehkan banget sih lo!” Edelweis merampas dokumen ditangan Jonathan. “Sini, biar gue bantuin. Gue bakal membuktikan kalau gue ini gak sebodoh yang lo kira, gue ini pintar dan berguna!”
Jonathan tak melarangnya, dia justru membiarkan Edelweis membantu pekerjaannya. Sejujurnya, dia membawa pekerjaan ke rumah karena akhir-akhir ini konsentrasinya terganggu akibat mual yang sering dirasakannya. Alhasil beberapa pekerjaan terpaksa dia bawa pulang.
“Udah, selesai.”
Beberapa saat kemudian, pekerjaan yang dilakukan Edelweis selesai. Perempuan itu menyerahkan kembali dokumen yang sudah dia pelajari juga kerjakan, dia tersenyum ponggah melihat bagaimana Jonathan meneliti nya dan pria itu seperti tak ada alasan untuk menyalahkan pekerjaan Edelweis.
“Gimana, gimana? Cerdas kan gue?”
Harus diakui, jika Edelweis bekerja dengan baik. Namun, bukan Jonathan namanya kalau langsung mengiyakan saja, dia tak mau membuat Edelweis semakin besar kepala.
“Ah, ini mah emang gampang. Sinta aja bisa langsung ngerjainnya, malah lebih cepat dari yang lo lakuin. Jadi, bukan sesuatu yang spesial sebenarnya.”
Edelweis mengerucutkan bibirnya kesal. “Dasar, gak pernah mau menghargai gue. Lo tuh bisanya cuma meremehkan aja! Nyebelin!”
“Emang.”
__ADS_1
“Ih...”
Edelweis tanpa sadar mengusap perutnya, dia juga bicara dengan janin nya dalam hati. “Ayah mu nyebelin!”