
Edelweis mencium wangi tak asing dan justru dia suka dengan wangi tersebut. Perlahan, matanya terbuka, melihat dada bidang didepan matanya. Dia mendongak, untuk melihat siapa orang yang menggendong nya. Seulas senyum pun tercetak di bibirnya saat dia melihat Jonathan lah pelakunya.
“Senang banget bisa digendong sama, Jo. Ternyata dia perhatian juga, ya sama gue.” batin Edelweis senang dengan fakta itu.
Edelweis buru-buru menutup matanya kembali saat melihat Jonathan menatapnya. Dia harus pura-pura tidur lagi untuk membuat Jonathan mau menggendongnya, karena dia nyakin kalau pria itu tahu dia sudah terbangun dari tidur, adegan menggendong ini pasti akan selesai saat itu juga.
“Udah, gak usah akting. Gue tahu kok, lo udah bangun kan.” ucap Jonathan, dia bisa melihat mata Edelweis yang terpejam itu bergerak.
“Mana ada sih, orang tidur tapi matanya gak mau diam gitu. Udah, buka mata lo deh cepat!” Jonathan menurunkan Edelweis perlahan.
Tak mungkin melanjutkan kebohongan, Edelweis pun terpaksa membuka matanya dan berdiri dengan tegak saat Jonathan menurunkannya dari gendongan pria itu.
“Ngapain sih pakai acara bohong segala?”
Edelweis mengerutkan keningnya, “Bohong apaan? Orang gue beneran tidur juga. Cuma, ya, baru kebangun sekarang. Gak ada yang bohong, ya!” ucap Edelweis apa adanya.
Jonathan memutar malas bola matanya, dia melangkah pergi meninggalkan Edelweis yang mengikuti langkahnya.
“Ih, Jo! Tungguin gue dong!” seru Edelweis, dia mempercepat langkahnya mengikuti Jonathan. Tak susah sama sekali meskipun dengan kaki yang berbalut high heels.
“Gue mau pulang,”
“Gue juga mau pulang. Lo pikir gue masih mau disini?”
“Sendiri.”
Edelweis mencebik, dia mengerucutkan bibirnya. “Jahat itu namanya! Masa gue ditinggal sendiri sih! Mana udah malam lagi.”
“Biasanya juga lo pulang sendiri,”
“Beda cerita lah! Gue pulang sendiri juga agak sorean, gak semalam ini. Dan, satu lagi. Posisi nya gue gak lagi hamil, sedangkan sekarang? Apa perlu gue perjelas lagi.”
Jonathan berdecak, memutar jengah bola matanya.
“Ayolah, Jo. Bolehin gue buat ikut pulang sama lo, ya? Please... Kali ini aja.”
“Enggak,”
“Jo... Kalau gue kenapa-napa di jalan, gimana? Ingat loh, gue ini lagi hamil, anak lo.”
Jonathan menghela napas kasar. Harus sekali Edelweis memperjelas status anak itu padanya. Dan, karena masih punya hati nurani, terpaksa Jonathan mengiyakan keinginan Edelweis satu ini.
Jonathan masuk ke mobilnya tanpa bicara apapun, membuat Edelweis mengerucutkan bibirnya karena kecewa.
“Masuk!”
Edelweis tersenyum lebar dibuatnya, tanpa membuang waktu dia segera masuk ke mobil Jonathan, duduk di samping pria itu yang kini sudah mulai melajukan mobilnya.
“Sabar, Jo. Gue belum pakai safety belt.” buru-buru Edelweis memakai seatbelt.
Diperjalanan pulang, tak ada obrolan apapun antara keduanya. Adapun Edelweis yang bicara panjang lebar hanya mendapat respon singkat dari Jonathan. Masih mending direspon, biasanya pria itu hanya berdehem dan bahkan meminta Edelweis untuk diam.
“Ya ampun, Jo!”
Jonathan berhenti mendadak saat Edelweis memekik keras, dia berbalik untuk memastikannya jika dibelakang mobil mereka tak ada kendaraan lain. Beruntungnya kosong, tak ada kendaraan. Jadi, kecelakaan pun bisa dihindari.
Dengan wajah kesal, Jonathan menatap Edelweis yang meringis pelan.
“Sorry...”
“Ngapain pakai teriak segala sih? Bahaya tahu! Beruntung di belakang gak ada kendaraan lain. Kalau ada, gimana? Bisa kecelakaan, Del.”
__ADS_1
Edelweis mengerucutkan bibirnya, “Maaf, gak sengaja kok.”
Baru kali ini Jonathan melihat Edelweis yang langsung pasrah saat dimarahinya. Biasanya, perempuan itu akan memberikan alasan terlebih dahulu untuk membela diri, tapi kali ini berbeda. Bahkan, Edelweis langsung terdiam tertunduk seakan menahan tangis kini.
“Lo ngapain nangis coba?”
Edelweis terisak pelan, “Lo marahin gue.”
Jonathan ternganga, dia menghela napas kasar dan menggeleng tak percaya. “Ya ampun, Del... Sejak kapan sih lo cengeng kayak gini? Dimana lo yang selalu mendebat gue biasanya? Ini bukan lo banget!”
“Gak tahu, cuma gue sedih aja kalau lo marah sama gue tuh.”
“Gak usah lebay. Gak ada yang marah. Gue cuma kesal karena lo teriak gak jelas kayak gitu!”
Edelweis mendongak menatap Jonathan, “Bahkan, lo gak tanya kan kenapa gue teriak tadi?”
“Kenapa?”
“Tas gue ketinggalan di kantor,”
Jonathan mendesah pelan, tak habis pikir. Dia bersandar dengan lemas, menatap malas Edelweis. “Hal sepele kayak gitu, buat lo teriak?”
“Gak sepele, Jo. Tasnya itu isinya ada handphone, ada dompet, ada segala. Kok sepele sih!”
Jonathan cepat-cepat memutar tubuhnya menghadap Edelweis, “Del, lo gak lupa kan siapa lo?” tanya Jonathan, dia menaikkan kedua alisnya. “Lo adalah Edelweis yang bisa melakukan apapun. Lo yang gak pantang apapun buat nyuruh orang. Lo yang bisa lakuin apapun semau lo. Urusan tas, lo bisa nyuruh orang buat ambil kan? Apa susah nya sih!”
Edelweis terdiam, “Iya juga, ya.”
Jonathan membuang muka, dia mengusap kasar wajahnya.
“Tapi, Jo. Gue tuh pengen jajan sekarang, sedangkan gue gak ada duit cash. Gimana, dong? Emangnya lo mau bayarin makanan gue?”
“Makanan apa sih?”
“Yaudah, tinggal beli, apa susahnya.”
“Masalahnya, tempat jualnya tuh bukan disini. Tapi, putar arah lagi.”
Jonathan menghela napas kasar, “Gak, deh. Kita pulang, gue capek.” tolak Jonathan, dia menggeleng enggan dan mulai menyalakan kembali mesin mobilnya.
Edelweis mengerucutkan bibirnya, dia mengusap-usap perutnya. “Ya, ampun... Kasihan banget kamu. Padahal cuma pengen makan doang, tapi karena aku gak ada uang dan ayah kamu ini sangat pelit dan jahat, kita jadi kelaparan.” ucap Edelweis pilu, dia melirik Jonathan lewat ekor matanya. “Sabar, ya... Kamu jangan sedih di perut aku, kita pasti makan kok. Ya, walaupun nanti kamu mungkin ileran karena gak diturutin satu kemauan kamu ini. Sabar, ya...” pilu Edelweis, dia bersikap dramatis.
“Lebay tahu gak sih! Yaudah, buruan. Kasih tahu gue dimana tempat nya!”
Edelweis tersenyum lebar, dia hendak memeluk Jonathan namun pria itu dengan cepat menjauhkan tubuhnya dari Edelweis. Alhasil, Edelweis hanya mampu menyandarkan kepalanya pada Jonathan.
“Makasih, ayah Jo.”
“Apa, sih! Udah, buruan. Lepasin, ah!”
“Iya, iya, ayah...”
“Del!”
Edelweis tertawa, “Canda, Jo. Marah-marah mulu deh, heran. Yaudah, yuk buruan! Lapar nih.”
***
Jonathan memicingkan matanya menatap Edelweis yang tengah menikmati makan malamnya dengan tenang. Bahkan, perempuan yang tadi mual-mual saat mencium aroma makanan, kini justru begitu tenang menikmati pecel lele yang dipesan dari pedagang dipinggir jalan.
“Lo bilang, lo anti sama makanan pinggir jalan. Tapi, ini, apa?” tanya Jonathan, dia menggeleng tak percaya. “Lo makan pecel lele pinggir jalan, Del.”
__ADS_1
Edelweis meringis pelan, dia menyocol ayam gorengnya ke sambal. “Iya, emang gue anti. Perut gue kan gak biasa makan, makanan pinggir jalan. Tapi, khusus pecel lele, eh pecel ayam? Gak tahu, ah! Pokoknya khusus penjual yang ini, perut gue baik-baik aja. Makanan mereka enak tahu, Jo. Gak pernah gagal. Dan, ini sambalnya... Ya, Tuhan... Bikin nagih gitu!”
Edelweis menggeleng tak habis pikir, bagaimana bis ada makanan seenak ini.
Jonathan hanya diam, memperhatikan Edelweis yang begitu lahapnya. “Makanya, jadi orang jangan sombong deh. Sok-sokan anti sama makanan pinggir jalan, sekarang apa? Sombong sih lo!”
“Ih, bukan sombong, Jo. Tapi, kan emang nyatanya gitu. Gue gak terbiasa makan makanan pinggir jalan, suka sakit perut gue. Ini aja awal-awal perut gue sakit, tapi karena udah beberapa kali makan, makanya perut gue udah mulai terbiasa. Tuh, lihat! Tempatnya juga gak kotor, kan? Penjual nya bersih. Makanya gue berani datang ke sini lagi.”
“Tahu darimana lo tempat ini?”
“Teman gue,”
Jonathan menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis. “Punya teman, emang?” ejek Jonathan, selama kenal Edelweis, dia tak pernah melihat perempuan itu berinteraksi atau menjalin hubungan dengan orang lain. Edelweis selalu saja sinis dan berprasangka buruk pada orang lain.
“Punya, lah! Masa iya gak punya, parah banget.”
“Syukur deh, ternyata ada juga, ya orang yang mau temenan sama lo.”
Edelweis memicingkan matanya tajam, dia menatap kesal Jonathan yang menunjukkan wajah datar. “Maksudnya apa, ya?”
“Gak maksud apa-apa.”
Edelweis mendengus, “Nyebelin!”
Edelweis kembali fokus pada makannya, dia tak peduli dengan Jonathan yang diam. Rasa makanan yang enak ini harus dia nikmati dengan hayat.
“Lo gak makan, Jo?”
“Mau, lah! Sayang banget gue datang kesini gak makan. Lagipula, gue juga lapar kali kayak lo.”
“Yaudah, tadi kenapa gak pesan sekalian sama gue. Bodoh itu!”
“Ini juga mau pesan.”
“Makannya di mobil aja, kayak gue. Di sana penuh.”
“Hm... ”
Melihat Jonathan yang akan keluar dari mobil, Edelweis kembali memanggil pria itu membuat Jonathan berhenti dan menoleh padanya.
“Kenapa?”
“Pengen ayamnya lagi, ya. Sama nasinya setengah.” ucap Edelweis, dia terkekeh.
“Masih lapar?”
“Kan, gue kasih makan juga buat anak yang di perut.”
***
Mereka telah sampai di apartemen. Jonathan sudah bersiap masuk ke kamarnya, begitupun Edelweis. Namun, Edelweis menghentikan pria itu yang membuat Jonathan kini berdiri didepan pintu kamarnya.
“Makasih, ya, Jo udah baik hari ini sama gue.”
Jonathan menatap lekat Edelweis, “Jangan berharap lebih.”
Edelweis menggeleng, “Enggak, kok. Gue gak berharap apapun. Cuma, gue senang aja karena ternyata lo bisa juga baik sama gue. Gue pikir, sampai kapanpun lo gak akan pernah baik sama gue, lo akan selalu jahat. Tapi, ternyata salah. Lo baik, Jo.”
“Gue gak sebaik yang lo kira,”
Edelweis mengangguk-angguk, “Iya, gue tahu kok.” balas Edelweis, dia tersenyum tipis dan melangkah mendekat pada Jonathan yang menatapnya bingung.
__ADS_1
Tanpa bicara apapun, Edelweis langsung memberikan kecupan di pipi Jonathan. “Good night.” ucap Edelweis, dia berbalik melangkah pergi memasuki kamarnya, meninggalkan Jonathan yang masih terdiam kaku ditempatnya.
Edelweis masuk ke kamarnya, menutup pintu kamar dan bersandar disana dengan senyuman yang tak pudar dari bibirnya. Dia menatap perutnya, mengusapnya lembut. “Makasih, ya.”