
“Padahal Mama cuma minta kalian buat nginep di sini, semalam doang. Tapi, ya ampun... Masa, minta yang begitu doang sampai harus butuh waktu seminggu buat kalian bisa datang kesini.”
Mereka saat ini tengah menikmati makan malam bersama. Hidangan pun tertata dengan apiknya diatas meja. Papa yang duduk di kursi tengah, Mama yang duduk di hadapan Edelweis sedangkan Edelweis duduk berdampingan dengan Jonathan.
Edelweis melirik Jonathan yang makan dengan tenang, “Jo nya tuh, Mam. Sok sibuk banget dia, gak pernah mau kalau diajak ke sini tuh.”
Seketika tatapan sinis langsung dilayangkan Jonathan pada Edelweis, “Kok jadi gue sih? Gue kan udah bilang, kalau lo mau nginep, ya, tinggal nginep gak usah berharap bareng sama gue. Lagian, gue juga emang sibuk akhir-akhir ini, banyak masalah di kantor. Dan, lo mau tau siapa penyebabnya?” Edelweis mengerutkan keningnya. “Lo, lo penyebab nya! Kerjaan lo gak ada yang benar satupun, semuanya gak ada yang selesai. Kerjaan Sinta yang seharusnya lebih ringan karena ada lo, justru tambah parah cuma karena kelalaian lo.”
“Kok lo jadi salah-salahin gue sih? Ya, mungkin Sinta nya aja yang gak kompeten. Masa iya, kerjaan yang biasanya dia kerjain sendiri dan ada gue yang bantu, bisa jadi amburadul gitu. Gak masuk akal lah alasan lo itu!”
“Iya, kalau lo emang beneran bantuin kerjain? Tapi, apa? Gak ada lo kerja! Benar-benar buang waktu gak guna!”
Edelweis siap untuk melayangkan protesnya kembali, namun Angga sudah lebih dulu melerai pertengkaran diantara mereka.
“Udah, udah. Papa udah cukup tenang selama ini gak melihat keributan kalian, jadi tolong jangan buat Papa sama Mama pusing lagi liat kelakuan kalian ini. Dan, juga Mama kalian tuh undang kalian kesini bukan buat ngeliat kalian ribut. Ngerti?”
“Jo tuh yang duluan, ngejelek-jelekin aku terus.”
“Lah, emang lo nya jelek.”
“Jo!”
Jonathan berdecak mendengar ucapan Papanya, sudah sering dia di anak tirikan.
***
“Jadi, gimana hubungan kalian itu?”
Edelweis dan Emmeline saat ini tengah berada di sebuah ruang, tengah menikmati pijitan pelan di kaki, tangan mereka oleh langganan pijat nya yang mereka panggil ke rumah. Enak, malam-malam tangan dan kaki yang rasanya lelah dan pegal karena seharian beraktifitas hilang seketika karena pijatan.
“Gak gimana, gimana. Masih sama aja.”
“Gak ada pendekatan gitu?”
“Enggak. Lagian, aku juga sebenarnya tahu kok, kalau Jo tuh suka sama perempuan lain.”
Emmeline terkejut mendengarnya, padahal dia sudah merahasiakan ini semua dari Edelweis, namun ternyata perempuan itu tetap tahu juga. Edelweis mengerutkan kening bingung melihat perubahan raut wajah Emmeline, dia rasa Emmeline tahu sesuatu dan menyembunyikan nya.
“Mama tahu dan rahasiakan itu dari aku? ”
Emmeline terdiam.
“Ya ampun, Mam...” Edelweis terkekeh. “Aku tahu, pasti karena Mama gak mau buat aku kecewa kan?” Emmeline mengangguk pelan.
“Mam, lagian aku tuh tahu udah lama, aku juga kenal sama perempuan itu.”
“Oh, ya?”
“Heem. Kami dulu satu sekolah. Dia adik kelas aku.”
Emmeline mengangguk-angguk.
“Mama sendiri, tahu darimana perempuan itu?”
“Sebenarnya Mama udah tahu dia sebelumnya, kebetulan kan dia akhir-akhir ini lagi naik di media. Tapi, Mama gak tahu awalnya kalau dia itu perempuan yang Jo suka.” Edelweis mengangguk-angguk, dia sedikit kesal sebenarnya tahu fakta jika Retha memang se terkenal itu kini.
“Jadinya?”
“Tante Syika bilang kalau kamu datang sendiri ke butik, Jo gak ikut datang karena ada meeting. Dan, Mama cari tahu dong sama Sinta tentang schedule Jo hari itu. Benar aja dong, Jo bohong. Dikiranya Mama bisa dikadalin kali, tapi kan enggak. Mama punya banyak orang diluaran, meskipun kalian mungkin gak kenal orangnya. Makanya, pas Mama tahu dimana keberadaan, Jo. Mama langsung aja samperin dia hari itu. Biar tahu rasa anak itu.”
Edelweis mengangguk-angguk, dia berohria. Otaknya kembali berputar pada hari itu, dimana dia dan Jonathan seharusnya melakukan fitting baju. Hari dimana Jonathan terlihat benar-benar murka dan frustasi. Dimana hari itu juga Jonathan menuduh Edelweis atas tuduhan yang sama sekali tak Edelweis lakukan. Dan, ternyata apa yang dituduhkan Jonathan itu karena apa yang dilakukan Emmeline. Mungkin, Jonathan berpikir jika Edelweis yang melaporkan itu semua, padahal sama sekali tidak. Emmeline tahu dengan sendirinya.
“Del, kenapa?”
Edelweis tersentak, dia tersenyum dan menggeleng. “Enggak, kok Mam. Aku gakpapa.” Edelweis terkekeh.
__ADS_1
“Del, ini serius, ya. Mama bukannya memaksa kamu atau memerintah. Mama cuma mau, kamu dan Jo itu bahagia, kalian jadi keluarga yang bahagia, harmonis, Mama maunya itu. Karena itu Mama mohon, coba lah perbaiki hubungan kalian itu. Siapa tahu kalau ada yang mau mengalah, akan ada jalan untuk kalian.”
“Emangnya, kamu gak ada rasa suka gitu sama, Jo? Sedikit... Aja.”
Edelweis langsung terdiam kikuk jadinya. “Gak tahu, Mam.”
“Masa gak tahu? Mama yakin, kamu tahu betul bagaimana perasaan kamu itu sebenarnya, hanya saja mungkin kamu gak mau bilang itu. Iya?”
Edelweis menggeleng, “Aku gak tahu, Mam. Asli. Lagian, sejak aku kehilangan Mami Papi, aku udah gak terlalu memikirkan cinta. Rasanya...” Edelweis mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa panas kini. Dia menunduk, menghapus cepat air matanya. “... Gak tahu, Mam. Aku gak tahu.”
“No... Sayang, jangan nangis. Maaf, ya buat kamu sedih.”
Emmeline langsung menarik Edelweis ke pelukannya, memberikan kekuatan untuk perempuan lemah itu. Emmeline tahu, sangat tahu bagaimana sosok Edelweis ini sebenarnya. Mungkin, untuk orang yang tak kenal betul, Edelweis ini adalah sosok yang kuat, angkuh dan mungkin terlihat manja. Namun, sejauh Emmeline tahu, Edelweis itu jauh berbeda dengan apa yang dia tunjukkan pada dunia. Edelweis itu lemah sebenarnya, perempuan itu rapuh sebenarnya, apalagi saat insiden maut yang merenggut kedua orangtuanya. Emmeline melihat dengan jelas, bagaimana rapuhnya sosok Edelweis itu.
“Makasih, ya, Mam... Makasih udah selalu ada buat, Edel. Aku gak tahu gimana hidup aku, kalau gak ada kalian. Aku gak tahu, apa aku masih bisa buat bertahan disaat semuanya ninggalin aku. Makasih banyak, Mam...”
“Iya sayang, iya. Mama akan selalu ada buat Edel, jadi jangan pernah kamu ngerasa sendiri disini. Oke?”
Edelweis mengangguk dalam pelukan Emmeline.
“Jangan nangis, Mama gak suka lihat putri Mama ini sedih.”
“Oke, thank you and sorry, Mam.”
***
“Jo, ternyata kamu gak mau dengar omongan Papa, ya.”
Jonathan yang tengah duduk menikmati malam di rooftop rumah, menoleh dan melihat Papanya berjalan menuju nya.
“Maksudnya, Pap?”
“Jo, jangan sok gak tahu gitulah. Papa gak suka lihatnya.”
Jonathan menghela napas kasar, dia memutar jengah bola matanya. “Aku harus ngapain lagi sih? Aku udah nurut lo sama apa yang Papa minta. Aku udah nikahin Edel. Kurang apa lagi coba?” tanya Jonathan, dia berdecak.
“Membahagiakan! Papa minta kamu membahagiakan Edel, bukan cuma menikahi dia. Kalau kamu hanya menikahi tanpa membahagiakan, percuma namanya!”
“Pap, aku bingung deh sama kalian.” Jonathan menggeleng heran. “Kalian sangat memprioritaskan kebahagiaan Edel, tapi kalian justru gak peduli sama kebahagiaan anak kalian sendiri. Mama, Papa mau Edel bahagia, tapi kenapa harus kebahagiaan aku yang direnggut coba?”
“Jo, Papa melakukan ini juga untuk kamu. Papa yakin, kamu dan Edel akan bahagia. Asal kamu mau terima Edel, coba perbaiki semuanya. Papa yakin itu, kalian akan bahagia.”
“Enggak, aku gak akan bahagia dengan Edel. Kebahagiaan aku itu buka sama dia.” Jonathan menggeleng, menepis ucapan Papanya itu. “Mungkin juga kebahagiaan Edel bukan sama aku, tapi orang lain.”
Angga berdecak, dia memutar bola matanya. “Jo, Papa jauh lebih dulu hidup, Papa lebih dulu merasakan pahitnya kehidupan. Papa juga udah sering banget lihat orang-orang munafik. Jadi, Papa lebih tahu semuanya daripada kamu. Dan, perempuan yang kamu cinta itu, dia gak sebaik yang kamu kira, Jo. Please lah, ngerti sama omongan Papa.”
“Gak sebaik apa sih, Pap? Jadi, menurut Papa yang baik itu yang seperti Edel? Yang manja, yang sombong, yang bisa memerintah, yang suka seenaknya, itu yang baik menurut Papa?”
“Kalau kamu menilai Edel seperti itu, artinya kamu belum tahu bagaimana Edel sebenarnya.”
Jonathan tersenyum miring. “Nyatanya, Retha emang jauh lebih baik daripada Edel.”
“Kamu akan menyesal kalau udah tahu yang sebenarnya, Jo. Dan sebelum penyesalan itu kamu rasakan, buruan perbaiki semuanya. Coba jalin hubungan sama Edel.”
***
Jonathan baru saja akan merebahkan tubuhnya, namun saat pintu kamarnya dibuka membuka dia mengurungkan niatnya. Ditatap nya datar perempuan yang masih berdiri diambang pintu itu.
“Baru berdiri sampai kapan? Gue mau tidur.”
Edelweis, perempuan itu dia.
Edelweis mendengus kesal, dia masuk ke kamar Jonathan. Ini kali pertamanya masuk ke kamar pria itu, wangi yang menyeruak adalah aroma dari Jonathan yang selama ini dia tahu. Dia masuk ke kamar Jonathan karena kamarnya kini sudah tidak ada. Bahkan barang-barang nya yang masih tertinggal disini pun sudah di pindahkan ke kamar pria itu.
Edelweis masuk ke kamar mandi, membersihkan wajah tak lupa memakai skincare malam nya. Setelahnya, dia mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur.
__ADS_1
“Gue tidur dimana?”
“Terserah.”
“Yaudah.”
Edelweis langsung merebahkan tubuhnya disamping Jonathan, diantara mereka ada dua guling sebagai penghalang. Dia menarik selimut dan mengeratkannya pada tubuhnya.
“Jo, jangan dimatiin lampunya.” ucap Edelweis saat Jonathan mematikan lampu kamar dan hanya menyisakan lampu tidur yang bahkan penerangannya remang-remang, lebih ke gelap jadinya. “Gue gak bisa tidur kalau lampunya mati.”
“Gue juga gak bisa tidur kalau lampunya nyala.” Jonathan memutar tubuhnya membelakangi Edelweis. “Udah sih, kalau tidur juga matanya merem, sama-sama gelap. Udah, tidur.”
“Gue gak bisa kalau gelap. Nyalain lampunya!”
Edelweis berdecak saat tak ada pergerakan dari Jonathan, pria itu terlihat tak peduli dan memilih tidur saja.
“Jo, kok lo nyebelin sih sekarang.”
“Terus aja bilang gue nyebelin. Gue nurut disebut nyebelin, gue gak peduli juga disebut nyebelin. Serba salah. Oh, iya. Yang benar kan selalu lo.”
Edelweis mendengus kesal, dia beranjak untuk menyalakan lampu dan Jonathan pun langsung beranjak duduk.
“Gue gak suka gelap!” dengus Edelweis, dia berdecak pinggang dan menatap tajam Jonathan.
“Gue sukanya gelap!”
“Tapi, gue gak suka!”
“Gue gak peduli.”
“Jo!”
“Nyebelin tau gak sih lo!”
Akhirnya, Edelweis yang menang. Kamar pun dibiarkan terang seperti apa yang diinginkan Edelweis. Mereka pun akhirnya tidur dengan sama-sama saling memunggungi.
***
Jonathan terusik dalam tidurnya mendengar suara tangisan serta pergerakan di ranjangnya. Dia membuka matanya perlahan, menoleh pada Edelweis sambil beranjak bangun.
“Tolong, gelap.... Tolong...”
“Mami, Papi... Gelap, ini gelap...”
“Del...”
Jonathan segera menyalakan lampu, kamar yang tadinya gelap gulita kini terang benderang. Memang, tadinya lampu kamar dinyalakan, namun karena Jonathan tak bisa tidur, akhirnya saat Edelweis tertidur dia mematikan lampu tersebut.
“Del... Bangun, bangun.”
Jonathan mencoba membangunkan Edelweis dari tidurnya yang tak nyaman itu, dia mengguncangkan tubuh Edelweis pelan.
“Mami, Papi, gelap, gelap.”
“Del, gak gelap. Hei, bangun, bangun, sadar.”
Edelweis pun terbangun, dia langsung terdiam seketika. Napasnya memburu hebat, ditatap nya Jonathan yang juga tengah menatapnya bahkan dalam jarak sedekat ini. Sehingga dengan cepat, Edelweis mendorong Jonathan hingga pria itu menjauh darinya.
“Lo ngapain dekat-dekat gue?”
“Lo yang ngapain? Malam-malam nangis segala, ganggu tidur gue tahu.”
Edelweis terdiam, dia teringat kembali dengan mimpi buruk yang baru saja dia alami. Ditatap nya tajam Jonathan, dia merebahkan kembali tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi dadanya kemudian berbalik memunggungi Jonathan.
“Gue mohon sama lo. Jangan matiin lampunya kalau lo gak mau tidur lo ke ganggu.”
__ADS_1