
“Edel sayang, gimana keadaan kamu?”
Edelweis tersenyum hangat sambil menggenggam erat kedua jemari tangan ibu mertuanya. “Edel baik-baik aja kok, Mam.” Edelweis mencoba menenangkan mertuanya yang terlihat sangat khawatir itu. “Mama gak usah khawatir, ya.”
“Maafin mama, ya sayang. Mama gagal menjaga kamu, disaat kamu butuh mama, justru mama gak ada.”
Edelweis menggeleng cepat, “Enggak, mam, enggak. Mama selalu ada kok buat Edel, jadi jangan berpikir kayak gitu, ya.”
Emmeline tak berkata untuk beberapa saat, namun detik berikutnya dia memeluk Edelweis dan terisak pelan di pelukan menantunya itu. Edelweis yang mendengar isakan Emmeline dibuat terkejut, dia bingung kenapa ibu mertuanya ini menangis.
“Mam, mama kenapa nangis? Hei...”
“Maafin, mama Edel. Maafin, mama.”
Edelweis menggeleng kembali, “Mam, ada apa sih? Coba mama tenang dulu dan bilang sama aku, ada apa.” ucap Edelweis, dia melepaskan perlahan pelukan Emmeline.
“Mama pikir, hubungan kamu dan Jo akan membaik seiring berjalan nya waktu. Mungkin kalian akan menerima satu sama lain dan kamu akan bahagia dengan Jo. Tapi, ternyata mama salah selama ini. Kamu justru menderita sama Jo.”
Edelweis tak merasa demikian. “Maksud mama apa?”
“Edel, kasih tahu mama. Perlakuan Jo seperti apa yang menyakiti kamu? Biar mama tegur dia dan mama kasih tahu bagaimana nge-treat kamu seharusnya.”
“Mam, Jo gak pernah sama sekali menyakiti Edel kok. Jo baik sama Edel selama ini.” bela Edelweis, meskipun mungkin ada beberapa sikap Jonathan yang tak mengenakan bagi Edelweis. “Lagian, kenapa mama bisa tiba-tiba berpikir kayak gitu coba?” tanya Edelweis bingung, dia belum juga mendapatkan jawaban.
“Dan, pisah kamar setelah menikah menurut kamu itu gak menyakitkan? Begitu?”
Edelweis terkejut mendengarnya, raut wajahnya pun berubah seketika. “Mam—”
“Mama gak pernah mengajarkan Jo untuk berbuat kayak gitu. Tapi, kenapa bisa-bisanya dia berpikir untuk pisah kamar setelah menikah. Dan, mama yakin usulan itu berasal dari Jo, gak mungkin kamu.”
Memang benar, sejak awal pun Jonathan yang meminta kamar mereka berpisah, bahkan dengan sengaja pria itu membuat perjanjian pernikahan yang Edelweis sendiri tak pernah terpikir, terlepas dia cinta atau tidak pada Jonathan.
“Kalau tahu Jo gak akan merubah sikapnya sama kamu dan tetap menyakiti kamu, mama sama papa gak akan memaksa Jo untuk menikahi kamu, Edel. Mama minta maaf, sayang.”
Edelweis menghela napas kasar, dia menggeleng tiap kali mendengar Emmeline meminta maaf. “Mam, udah gak usah minta maaf.”
“Del, daripada kamu sengsara hidup sama Jo. Lebih baik kalian berpisah aja, mungkin dengan seperti itu akan membuat kamu bahagia. Kamu bisa menemukan pria yang bisa bahagiakan kamu.”
Jantung Edelweis rasanya bergetar tak karuan mendengar usulan yang dilontarkan Emmeline. Tak pernah terlintas dalam benaknya jika hal tersebut akan terucap.
“Enggak, mam. Aku gak mau.”
“Tapi, sayang... Jo memperlakukan kamu—”
“Mam, aku akan coba berusaha buat Jo merubah sikapnya sama aku.” Edelweis yakin dengan ucapannya. “Aku gak mau pisah sama Jo. Karena... Aku udah jatuh cinta sama Jonathan, mam. Dan, aku akan membuat dia membalas cinta aku.”
***
“Jo, Jo, bentar!”
“Apa sih Del!?”
Edelweis bukannya marah disentak oleh Jonathan, dia justru tersenyum lebar. Hal tersebut membuat Jonathan kesal.
“Gak usah senyum-senyum!”
Edelweis terkekeh, “Yaelah, senyum aja gue salah. Gimana sih lo. Huh!”
__ADS_1
“Udah, deh. Gak usah basa-basi. Ada apa?” tanya Jonathan jengah.
“Ini, gue hari ini izin gak masuk, ya. Soalnya udah jadwal gue buat perawatan. Jadi, gue gak masuk hari ini.”
“Terus, lo ngomong sama gue buat apa? Buat minta duitnya, gitu?” tanya Jonathan, dia menghela napas kasar dan mengeluarkan ponselnya kemudian mengetikkan jumlah nominal uang yang akan dia kirimkan pada Edelweis lewat m-banking.
“Udah, udah kan.” Jonathan menunjukkan bukti transaksi yang berhasil.
Edelweis menggeleng cepat, "Ih, bukan gitu maksud gue, Jo. Lagian, gue tuh gak minta duit juga. Orang duit kemarin dari lo aja masih utuh, ditambah gue sendiri juga punya penghasilan.” Edelweis mendengus, “Lo mah, ini kan tambah banyak saldo di rekening gue.”
“Ya, terus lo ngomong gitu sama gue tujuannya apa?”
“Ya, gak ada tujuan apa-apa. Gue cuma ngasih tahu lo, sekaligus minta izin. Lo kan suami gue, jadi lo harus tahu semua hal tentang gue.”
Jonathan berdecak, “Makin hari, sikap lo makin aneh.”
“Aneh apaan coba? Gue kan cuma melakukan apa yang seharusnya seorang istri lakukan, udah itu aja.”
Jonathan memutar malas bola matanya, “Tapi, lo lupa status kita tuh gimana. Mungkin iya kita suami istri, tapi sejak awal kita udah buat perjanjian. Kayaknya, lo harus baca lagi deh perjanjian itu, mungkin lo lupa.” ucap Jonathan yang membuat Edelweis terdiam. “Lagian, mau izin ataupun enggak, juga bukan urusan gue. Urusan lo, ya, urusan lo, bukan urusan gue.”
Edelweis mendengus, “Iya, iya, tahu. Tapi, apa harus gitu selalu diingetin sama perjanjian itu. Bisa aja loh, gue hapus itu perjanjian, gak penting banget.” kesal Edelweis. “Lagian, gue tuh kasih tahu lo takutnya lo cemas karena gue gak ada di kantor, gitu...”
“Imajinasi lo terlalu berlebihan, Del. Ngaco! Lagian, ada, gak adanya lo, gak berarti apapun di kantor ataupun di hidup gue. Ngerti?”
Edelweis mendengus kesal saat Jonathan berlalu begitu saja meninggalkannya, rasanya dia ingin menghajar wajah tampan Jonathan yang songong padanya, apalagi mulut pria itu yang selalu pedas terhadapnya.
“Kalau aja gue gak cinta sama lo, udah gue bongkar tuh hubungan lo sama si kampungan itu. Biar tahu rasa, lo! Biar miskin sekalian. Nyebelin banget sih punya suami!”
Edelweis berjalan kembali ke kamarnya dengan kesal. Hari ini dia memang tak berniat pergi ke kantor, alasannya bukan seperti yang dia ucapkan pada Jonathan. Namun, alasannya adalah...
Disinilah Edelweis sekarang, di sebuah tempat dimana banyak orang yang menjadi bagian dari pembuatan sebuah film layar lebar. Dia mengenakan dress panjang, kaca mata juga kerudung yang dia ikat asal. Sebisa mungkin, dia menyembunyikan wajahnya, jangan sampai ketahuan. Apalagi sampai kedapatan oleh orang yang sedang dia mata-matai kali ini.
“Mana ada cewek baik-baik tapi centil ke cowok-cowok. Bisa-bisanya Jo suka cewek modelan kayak gini.” ucap Edelweis, dia tak habis pikir.
Edelweis fokus memperhatikan bagaimana seorang Retha memainkan peran. Tak bisa dipungkiri, Retha memang ahlinya bermain peran. Apa mungkin juga jika apa yang dilakukan Retha selama ini dihadapan semua orang adalah peran yang tengah dilakukan, karena Edelweis yakin jika sosok Retha tak sebaik itu.
“Dia yang suka main peran, tapi selalu gue yang Jo anggap bersandiwara.” kesal Edelweis.
Shooting berjalan lancar hingga akhirnya siang pun tiba, proses shooting pun ditunda sementara untuk memberikan waktu istirahat untuk semua orang-orang yang terlibat dalam proses produksi ini. Edelweis langsung menutup wajahnya menggunakan kerudung saat Retha berjalan melewatinya.
“Iya, aku salat dulu, ya.” Retha berbicara pada perempuan yang terus mengikutinya.
Edelweis jadi terdiam, dia jadi teringat dengan apa yang pernah diucapkan Adinda dan Sinta hari itu dimana katanya Retha itu taat akan ibadahnya. Edelweis mencebik, "Ah, paling tuh cuma omongan doang. Aslinya dia pasti gak ibadah sama sekali.”
Edelweis tak bisa memastikan lagi apa yang diucapkan Retha itu benar adanya atau tidak. Dia tak memiliki akses untuk masuk ke tempat istirahat perempuan itu. Sebenarnya bisa saja, tapi dia tak mau kalau sampai penyamarannya ketahuan. Alhasil, dia memilih menunggu saja.
“Iya, Tar. Tolong kamu bagi-bagiin ya ke yang lainnya. Pastiin semua kru disini kebagian. Kalau ada sisa, boleh penonton yang ada disini juga dikasih.”
Edelweis dengar bagaimana Retha memerintahkan dengan begitu sopannya. Tak ada nada bicara yang memaksa ataupun memerintah dengan arogannya. Hal tersebut membuat Edelweis semakin kesal dibuatnya.
Kenapa omongan semua orang tentang Retha, benar adanya. Orang-orang yang berpikir Retha itu baik hati, sepertinya memang benar. Tapi, Edelweis tak terima dengan fakta itu karena artinya kalau dibandingkan dengan sifat antara dia dan Retha, maka benar Retha yang menang.
“Mbak, ini buat mbak.”
Edelweis tersentak, dia segera menutup kembali mulutnya dengan kerudung tersebut saat Retha sendiri yang memberikan segelas minuman dingin padanya.
Edelweis menolak, dia menggeleng, tak berani bersuara karena takut Retha mengenali suaranya.
__ADS_1
“Gak papa kok, yang lain juga kebagian. Ayo, mbak diterima. Segar tahu, panas-panas minum es kopyor gini. Ayo, mbak!”
Edelweis terpaksa menerima minuman tersebut, setelahnya Retha pun pergi meninggalkan Edelweis kembali membagikan minuman yang tersisa kepada yang lainnya.
Retha baik, sungguh?
***
Edelweis menatap langit-langit kamar, masih memikirkan bagaimana sosok Retha yang dia lihat tadi. Hati kecilnya membenarkan jika Retha adalah sosok yang baik. Namun, dirinya enggan menerima fakta itu. Dia tak mau kalah dari sosok Retha.
“Apaan banget sih! Kesel banget ingat cewek kampungan itu!”
Edelweis beranjak, dia segera membersihkan diri. Setelah itu dia keluar dari kamarnya, hendak menikmati makan malam yang sudah dia pesan sebelumnya. Sambil menikmati makan malamnya, Edelweis terus berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan hati Jonathan. Sepertinya kalau dilihat, Jonathan memang bukan pria yang punya kriteria cewek idaman berlebihan. Buktinya, Retha yang biasa saja mampu memikat hati Jonathan.
Sekarang pertanyaannya cuma satu. Apa kurangnya Edelweis yang sempurna ini sehingga Jonathan tak sedikitpun jatuh hati.
“Gue harus jadi Retha, gitu? Tapi, gimana caranya? Masa iya gue harus jadi artis dulu.”
Ditengah keributan otaknya memikirkan cara mendapatkan Jonathan, kedatangan pria yang tengah dia pikirkan langsung membuyarkan lamunannya. Kali ini yang membuat Edelweis salah fokus adalah Jonathan yang pucat. Dengan cepat, dia beranjak menghampiri pria itu.
“Jo, lo kenapa?” tanya Edelweis cemas.
“Gue gak papa.”
Edelweis jadi teringat hari itu, hari dimana Jonathan datang dengan wajah pucat. Pria itu berkata tak apa, namun saat tengah malam justru pria itu demam tinggi. Edelweis tak mau kalau Jonathan sakit kembali.
“Muka lo pucat gini. Bisa-bisanya lo bilang, gakpapa.” kesal Edelweis. “Lo kenapa?”
“Gue gak—”
Bukannya menjawab, Jonathan justru langsung berlari kearah wastafel dan muntah disana. Hal tersebut membuat Edelweis terkejut dan cemas jadinya.
“Ya ampun, Jo... Lo abis makan apa sampai muntah-muntah begini?” tanya Edelweis cemas, dia memijat pelan tekuk leher Jonathan.
Jonathan menyingkirkan tangan Edelweis, namun Edelweis menempelkan kembali tangannya dan memijat pelan tekuk leher Jonathan saat pria itu kembali muntah.
“Gue yakin, ini pasti karena bubur kemarin lo jadi muntah-muntah. Jo, lambung lo tuh gak cocok sama makanan gerobakan. Jadinya gini kan.”
Kalau saja rasa mual ini hilang, mungkin Jonathan akan marah-marah pada Edelweis karena kesal dengan ucapan perempuan itu. Sayangnya, rasa mual itu masih dia rasakan, entah apa sebabnya dia sendiri tak paham. Memang akhir-akhir dia sering merasa mual dan tak berselera makan, sekalinya makan dia langsung muntah dibuatnya.
“Udah, Del. Gue gakpapa.”
Jonathan telah membersihkan mulutnya, dia berdiri tegak dan melewati Edelweis begitu saja.
“Gue ambil air hangat dulu, ya. Lo tunggu bentar.”
Rasanya, untuk menolak saja Jonathan tak bisa, dia terlalu lemas. Alhasil, dia langsung menjatuhkan bokongnya di sofa sambil menunggu Edelweis datang kembali dengan air hangat yang akan dibawa perempuan itu.
“Nih, nih. Lo minum dulu.”
Jonathan menerima cangkir yang diberikan Edelweis, dia meminum air yang diberikan perempuan itu. Namun, langsung dia urungkan saat rasa panas dirasanya ketika bibir dan lidahnya menyentuh air itu.
“Lo mau bikin mulut gue melepuh! Panas banget ini air.”
Edelweis mengerjap-ngerjapkan matanya, “Ah, masa? Gue pikir tadi itu udah hangat.”
Jonathan berdecak, dia beranjak dari duduknya dengan lemas. “Gak becus banget sih lo, ambil air doang aja gak bisa. Gimana kerjaan cewek yang lainnya. Bisa kacau.” Jonathan berucap sambil berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Edelweis mengerucutkan bibirnya kesal, “Ih, enak aja. Gue buktiin nanti, kalau gue juga bisa ngerjain kerjaan cewek lainnya. Lihat aja nanti!”