Sandiwara

Sandiwara
Ep.11 - Sebuah Perjanjian Pernikahan


__ADS_3

“Yakin, tetep mau tinggal disini?”


Edelweis yang sejak tadi tengah memperhatikan semua ruangan di apartemen ini, menoleh pada Jonathan yang tiba-tiba ada dibelakangnya. “Ini, beneran apartemen lo? Lo tinggal disini?” tanya Edelweis tak percaya, terlihat sekali dia agak ragu.


Jonathan menaikkan sebelah alisnya, dia tersenyum miring. “Kenapa emangnya?” tanya Jonathan.


“Ya, ini apartemen kecil banget. Kok lo bisa gitu, betah tinggal di tempat sekecil ini, gak sesek gitu? Bahkan, ini gak ada setengahnya dari rumah, benar-benar kecil banget. Aneh deh lo.”


Jonathan sudah tahu akan ada respon demikian, sudah tak aneh jika Edelweis mengatakan itu. “Bukan gue yang aneh, tapi lo.” sudah jelas jika apartemen Jonathan ini luas. Jonathan lupa, luas yang dimaksudnya berbeda dengan luas yang dipikirkan Edelweis.


“Kok gue?”


“Ya, lo terlalu berekspektasi tinggi. Lagian seharusnya lo gak norak, lo tahu ini apartemen di daerah mana. Lagipula, kalau mau segede rumah gue, ya, berarti bukan apartemen namanya. Apa lo gak tahu bedanya? Apa perlu gue jelasin secara detail?”


Edelweis menatap tajam Jonathan, dia berdecak. “Gak perlu. Lagian maksud gue tuh, lo ngapain ambil apartemen sekecil ini, ya, ngambil yang agak gede gitu.”


“Gue tinggal sendiri, buat apa yang gede?”


“Iya sih tinggal sendiri. Tapi, seharusnya lo tuh memikirkan kedepannya, lo gak mungkin sendiri juga kali.”


“Jangan sok ngajarin gue. Jadinya gimana, lo masih mau disini atau mau balik ke rumah?”


“Terpaksa deh, gue ikut lo disini. Tapi, gue mau nanti mbak yang bantu-bantu datang setiap hari, gue—”


“Kata siapa bakalan ada mbak?”


Edelweis mengerutkan keningnya, “Jangan bilang kalau gak ada mbak?” tanya Edelweis cemas, dia takut jika tebakannya ini benar. Dan, ternyata benar.


“Tuh tahu.”


“Ih, Jo! Lo kok tega banget sih? Terus nanti yang beres-beres, bikinin makan, oke makan gampang tinggal order aja. Tapi, ini yang beres-beres nanti siapa? Yang—”


“Lo, lah! Lo kan istri sekarang.”


“What? Eh gue bukan babu lo, ya! Gue—”


“Udah, udah, gue malas ribut. Mending lo langsung ke kamar lo, beres-beres sana!”


“Ih, Jo! Tapi gue belum selesai, Jo! Jo!”


Edelweis menyusul langkah Jonathan, dia mengikuti pria itu yang hendak masuk ke kamar pria itu. “Jo, gue masih butuh kejelasan. Gue gak mau, ya ngerjain kerjaan kayak gitu. Gue—”


“Terserah lo lah! Kalau butuh mbak, ya lo cari sendiri. Gampang kan?”


Edelweis mendengus kesal saat Jonathan menutup begitu saja pintu kamarnya. Tangannya sudah terkepal, melayangkan pukulan pada angin berharap itu adalah Jonathan.


“Nyebelin banget sih tuh suami!”


Edelweis terdiam saat sadar akan sesuatu. “Suami?”


***


Edelweis masuk ke ruangan yang akan menjadi kamarnya. Senyumnya turun saat dia melihat kamarnya ini, kamar kecil yang bahkan tak seluas kamar di rumah sebelumnya.


“Not bad lah, seenggaknya ini gak sekecil yang gue kira. Masih lumayan luas, terang juga, gak bikin sesak untungnya.”


Edelweis masuk ke kamar, melihat-lihat apa yang ada didalamnya. Hanya ranjang berukuran sedang, dua meja nakas di samping nya, lemari dan meja rias. Semuanya terlihat seperti di khususkan untuk perempuan. Apa Jonathan yang menyiapkan ini semua? Tanpa sadar Edelweis tersenyum tipis dibuatnya.


Edelweis mengecek ranjangnya, “Lumayan, empuk.” dia beranjak menuju lemari pakaian dan membukanya. “Kurang gede nih. Gakpapa deh, nanti gue bisa minta buat diganti sama yang lebih gede. Baju-baju gue kan banyak.” komentar Edelweis untuk lemari pakaian yang menurutnya kecil, padahal untuk ukuran orang normal itu sudah lah besar.


Edelweis kembali ke tempat tidur, menjatuhkan bokongnya di sana. Dia mengambil tas nya, mengeluarkan satu bingkai foto dimana ada seorang gadis cantik yang tengah tersenyum lebar saat kedua pipinya dicium bersamaan oleh dua orang tua. Foto tersebut tak lain dan tak bukan adalah potret dirinya bersama orangtuanya dulu sebelum kecelakaan itu terjadi.


Edelweis tersenyum haru. Setiap kali mengingat orangtuanya membuat dia tak bisa menahan kesedihan, otomatis matanya selalu berlinang.


“Sekarang aku tinggal di apartment, mom, dad. Ini apartemen Jo dan gak terlalu besar. Tapi, it's okay, aku coba terima karena tempatnya lumayan terang, gak gelap.”


Edelweis tersenyum tipis, “Mom sama Dad, pasti lihat dari sana kan kalau sekarang princess kalian ini udah jadi istri orang. Aku gak tahu, kalian di sana senang atau sedih lihatnya karena aku yakin kalian pasti tahu kebenarannya itu seperti apa.”


Pernikahan mereka yang terjadi hanya karena perjodohan paksa.


“Aku gak tahu akan seperti apa ini kedepannya, tapi aku berharap semoga semuanya baik-baik aja dan aku gak kecewa sedikitpun. Karena sejujurnya, aku gak mau kalah, Mom, aku gak mau kehilangan. Aku gak mau sendiri. Aku gak siap kalau harus kalah, kehilangan dan sendirian nantinya. Gak mau, Mom, dad.”

__ADS_1


Edelweis mengusap air mata di sudut matanya, dia tak boleh menangis dan terlihat lemah. Dia perempuan kuat, itu yang coba dia yakinkan pada dirinya. Edelweis menyimpan bingkai foto itu di atas nakas, tersenyum lebar menatap foto tersebut.


“Gue harus bersih-bersih nih sekarang, lapar juga ternyata.”


Edelweis segera membersihkan diri. Dia pun sudah mengganti pakaiannya menjadi gaun tidur. Dia pun mengenakan outer untuk menutupi gaun tidurnya yang hanya bertali spaghetti itu. Dia lapar, dia ingin makan. Beruntungnya Edelweis sudah memesan makanan terlebih dahulu sebelum membersihkan diri, alhasil saat dia selesai makanan pun sudah datang.


“Jadi, lo yang pesan ini semua?”


Edelweis mengangguk, “Iya, gue lapar. Makanya gue pesan makanan, toh gak ada makanan juga disini.” Edelweis menarik kursi, dia duduk dan tersenyum lebar menatap makanan yang dia pesan, terlihat menggiurkan. “Lo udah makan? Bareng aja, gue pesan banyak ini.” sisi baik Edelweis keluar.


Edelweis ini pada dasarnya baik pada Jonathan, namun pria itu saja yang selalu terlihat sinis dan mengganggap Edelweis lain.


“Gak, gue udah kenyang.”


“Emangnya udah makan?”


“Bukan urusan lo. Dan, kalau lo udah selesai makan telpon gue, ya. Ada yang mau gue omongin sama lo.”


“Soal?”


“Makan dulu aja.” setelahnya, Jonathan pergi meninggalkan Edelweis seorang diri di meja makan dengan makanan yang begitu banyak tersaji di atas meja.


Edelweis mengedikkan bahunya acuh. “Yaudah kalau gak mau makan, biar gue makan sendiri, gak masalah.”


Edelweis menikmati makanan itu seorang diri, ditemani tayangan film dari televisi. Sebuah film yang dibintangi oleh aktor dan aktris ternama. Dia sendiri menonton tayangan ini dikarenakan sering bermunculan terus di sosial media. Karena penasaran, akhirnya dia memutuskannya menontonnya.


“Del, lama banget sih lo makan.”


Edelweis menoleh, di tangannya masih ada paha ayam crispy yang belum selesai dia habiskan. “Kayak gak tahu gue aja. Lagian ada apa sih lo? Ngomong kek tinggal ngomong, ribet amat.”


“Lo makan junkfood?”


“Kenapa emangnya?”


Jonathan menarik sudut bibirnya, tersenyum miring. “Lo kan anti banget sama makanan kayak gitu. Tumben aja gitu.”


“Cie... Yang paling tahu gue.”


“Maksudnya apa ini?”


“Baca sendiri. Gue harap, lo terima dan jalanin isi dari surat itu.”


“Nanti deh gue lagi enak makan ini.”


“Yaudah, terserah lo.”


“Terus lo mau kemana sekarang?” tanya Edelweis melihat penampilan Jonathan yang begitu rapi.


“Bukan urusan lo.”


“Loh?”


“Gue cabut.”


Edelweis mendengus kesal, dia hanya menatap kepergian Jonathan begitu saja tanpa berkata apapun. Sekarang dia harus menyelesaikan makannya, dia terlalu penasaran dengan map yang diberikan Jonathan padanya.


***


Surat Perjanjian Pernikahan


Yang bertanda tangan dibawah ini:


Bumi Jonathan Woko yang merupakan CEO dari perusahaan Woko media corp. Untuk selanjutnya disebut sebagai pihak pertama.


Edelweis Nequila Puteri Badja untuk selanjutnya disebut sebagai pihak kedua.


Yang mana pihak pertama mengajukan sebuah perjanjian pernikahan diantara pihak pertama dan kedua. Adapun perjanjian yang dimaksud adalah sebagai berikut:


1. Pihak pertama dan pihak kedua bebas melakukan apapun. Hubungan pernikahan diantara mereka bukan berarti mereka dikekang.


2. Pihak pertama dan pihak kedua sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing.

__ADS_1


3. Pihak pertama dan pihak kedua akan tidur terpisah, tak ada kontak fisik ataupun lainnya.


4. Pihak pertama akan tetap memberikan nafkah untuk pihak kedua, namun tidak dengan nafkah batin. Adapun untuk nominal nafkah, bisa langsung dibicarakan kedua belah pihak.


5. Tidak ada kekerasan dalam rumah tangga.


6. Apabila pihak pertama melanggar akan ada sanksi yang diberikan, sanksi tersebut akan ditentukan oleh pihak kedua. Pun sebaliknya.


7. Jika ada penambahan ataupun pengurangan, bisa dibicarakan.


Demikian surat perjanjian ini dibuat dalam keadaan sadar, tanpa paksaan dari pihak manapun.


Jonathan Edelweis


pihak pertama pihak kedua


*


Edelweis mendengus kesal selesai membaca isi dari surat yang diberikan Jonathan padanya, dia melemparkan surat itu asal.


“Cih, dasar! Mentang-mentang dia punya hubungan sama si kampung itu, dia jadi kebawa kampungan juga. Dasar, norak! Lagian, punya ide dari mana juga niatan bikin yang beginian. Kita lihat aja nanti, apa iya dia bakalan ikut sama perjanjian ini setelah gue tambahin banyak hal.”


Edelweis tersenyum lebar, dia punya banyak rencana.


***


“Reth, ada yang mau ketemu lo?”


Retha yang tengah membaca naskah dari film terbarunya mendongak saat Betari— asisten nya datang menghampiri dan berbicara demikian. “Siapa? Perasaan aku gak ada janji sama siapapun hari ini? Kamu juga gak ngasih tahu ada ketemuan sama orang hari ini.”


Betari tersenyum kikuk, dia mengusap pelan tengkuknya. “Ya, emang gak ada seharusnya. Tapi, ini orang datang mendadak, Reth dan gue gak mungkin bisa tolak, soalnya orang penting.”


Retha semakin penasaran dengan orang yang dimaksud Betari. “Siapa sih?”


“Lo temuin langsung aja deh, pasti bakal tahu.”


Retha berdecak, dia tetap beranjak hendak menemui meskipun sebenarnya dia malas bertemu orang akhir-akhir ini apalagi setelah insiden beberapa bulan yang lalu yang masih meninggalkan luka. Tapi, berhubung Betari mengatakan jika orang yang menemuinya ini orang penting, maka dia sudah pasti harus menemui orang itu.


Dan, betapa terkejutnya dia saat menemukan keberadaan Jonathan di ruang tamu rumahnya. Hendak pergi kembali, namun pria itu lebih dulu melihat kedatangannya, alhasil terpaksa dia harus menemui pria itu.


“Reth,”


“Langsung to the point aja, ya mas. Aku gak mau basa-basi lagi.”


Rasa kecewa dan sakit hati atas penghinaan yang diberikan Mama Jonathan membuatnya jadi bersikap demikian. Dirasa memang benar, mereka harus menjaga jarak mengingat siapa sebenarnya Jonathan ini.


Jonathan tahu, jika Retha seperti ini karena ulah Mamanya. Maka dari itu, dia datang menemui perempuan itu saat ini setelah berbagai penolakan dia dapatkan sebelumnya.


“Aku minta maaf atas ucapan Mama aku yang nyakitin kamu. Aku gak nyangka Mama akan berucap demikian. Tapi, aku mohon, Tha. Jangan hanya karena hal itu, hubungan kita jadi kayak gini.”


Retha menatap lekat Jonathan, matanya memicing tajam. “Hanya? Kamu bilang hanya?” Retha menggeleng tak percaya. “Mas, Mama kamu itu menghina aku atas sesuatu yang bahkan aku gak merasa melakukan itu. Aku dekat dengan kamu, itu juga karena kamu. Kamu sendiri yang terus-terusan menyakinkan aku kalau kamu dan Mbak Edel itu gak punya hubungan apapun. Tapi, ternyata apa? Kalian itu berhubungan! Kalian mau menikah!”


“Tapi aku gak suka sama Edel, aku sukanya sama kamu! Aku udah bilang itu sejak awal!”


“Percuma, mas. Mau kamu suka sama aku, kita saling cinta, tapi kalau gak ada restu akan percuma!” Retha membuang muka, kemarahan dia rasakan kini kala mengingat penghinaan yang diberikan orang tua Jonathan padanya.


Jonathan menghela napas kasar, sebenarnya ada benarnya apa yang diucapkan Retha. Tapi, dia tak mau menyerah begitu saja. Dia beranjak, mendekat pada Retha dan bersimpuh sambil menggenggam kedua tangan perempuan itu. “Maafin aku, Tha. Aku mohon.”


“Mas...”


“Aku mohon jangan terus menghindar dari aku apalagi pergi dari aku. Aku gak sanggup, Tha. Aku gak bisa kalau tanpa kamu. Aku butuh kamu, aku mohon.”


Retha menggeleng pelan, dia hendak menarik tangannya yang digenggam Jonathan namun ditahan pria itu. “Jangan kayak gini, Mas Jo. Seharusnya sejak awal kita—”


“Tha, please...”


“Mas, aku mohon juga sama kamu. Buang perasaan kamu untuk aku itu, kita harus realistis sekarang. Kamu, kamu itu calon suaminya mbak Edel, terlepas kamu suka atau enggak sama dia. Dan, aku gak mau menjadi perusak hubungan siapapun. Tolong kamu ngerti itu.”


“Enggak, aku gak akan mengerti tentang hal itu. Yang aku tahu, aku cintanya sama kamu dan aku maunya kamu. Terserah, kamu mau menolak atau menghindar, tapi aku pastiin kalau kamu akan kembali sama aku.”


“Egois!”

__ADS_1


“Ya, karena kamu!”


__ADS_2