
“Baru kali ini Mama ngerasa bahagia dengar gosip-gosip.”
Edelweis yang tengah menikmati steak nya mendongak, “Bahagia kenapa, Mam?” tanya Edelweis, dia tersenyum simpul. Dia jarang sekali melihat gosip-gosip, mungkin hanya segelintir berita yang terlintas di sosial medianya.
Emmeline meneguk minumannya, kemudian meletakkan kembali di atas meja. “Emangnya kamu gak tahu, berita apa yang lagi hangat akhir-akhir ini?” tanya Emmeline, dia menaikkan sebelah alisnya.
Edelweis menggeleng. “Gak tahu, Mam. Emangnya apa sih? Aku jadi penasaran, berita apa yang buat Mama jadi se exited ini.”
Tak langsung menjawab, Emmeline justru mengeluarkan ponselnya dan langsung menunjukkan sesuatu pada Edelweis yang seketika membulatkan mata melihat foto yang ditunjukkan mertuanya itu.
“Mam?”
“Sweet banget, gak sih?” Emmeline tersenyum lebar, dia gemas melihat foto di ponselnya itu. “Mama gak sangka, kalau Jo bisa se sweet ini sama kamu.”
Edelweis terdiam, jadi teringat kembali dengan insiden dirinya dan Jonathan terjebak di lift hari itu. Foto yang ditunjukkan Emmeline padanya menunjukkan beberapa potret dirinya juga Jonathan di sana.
“Tahu, gak sayang? Mama tuh hampir gila saat tahu kamu terjebak di lift pas pulang kerja. Rasanya pengen marah-marah sama Papa karena bisa-bisanya memperkerjakan orang untuk pasang lift yang bisa rusak gitu.” Namun, Emmeline tersenyum simpul setelahnya. “Tapi, saat tahu kalau ternyata kamu terjebak berdua dengan Jo di sana. Rasa khawatir itu langsung hilang gitu aja. Karena Mama yakin, seberapa buruknya hubungan kalian berdua, gak mungkin Jo akan biarin kamu kenapa-napa disaat darurat seperti itu. Dan, terbukti kan? Foto yang baru Mama tunjukkan aja udah jawab semuanya.”
Edelweis langsung terdiam seketika. Apa yang diucapkan ibu mertuanya memang benar adanya.
Edelweis dan Jonathan tak pernah akur, tak ada hari untuk mereka bisa bicara santai atau setidaknya tanpa nada sinis yang mereka keluarkan. Pokoknya, jika mereka disatukan tak akan ada itu kata damai. Tapi, kemarin, saat insiden di lift itu. Edelweis bisa merasakan sedikit kebaikan Jonathan, meskipun kebaikan itu harus dibarengi dengan sedikit gerutuan dari pria itu.
But, serius deh. Edelweis bisa merasakan kebaikan Jonathan itu.
Emmeline yang melihat Edelweis terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu pun tersenyum. Dalam hati dia berharap, semoga ada keajaiban di hubungan Edelweis dan Jonathan.
***
“Seriusan Mama gak mau masuk dulu?”
Emmeline menggeleng pelan, “Next time kali, ya sweety. Mama beneran ada janji setelah ini sama teman arisan Mama.”
Edelweis mengangguk-angguk, “Yaudah, kalau gitu Mama hati-hati, ya. Makasih udah anterin aku pulang. Kabarin kalau udah sampai.”
“Iya, sweety. Pulang dulu, ya... Bye...”
Setelah kepergian Emmeline, Edelweis bergegas pergi memasuki gedung apartemen. Dia segera menuju lift, menekan tombol untuk langsung sampai ke apartemen nya.
Di dalam apartemen hanya ada Edelweis seorang diri. Dan, melihat apartemen ini jadi mengingatkan nya pada insiden hari itu. Dia menatap ponselnya, melihat foto-foto yang terpampang di internet mengenai insiden hari itu. Bukannya mendapat kekhawatiran, justru banyak pujian yang dilontarkan untuknya juga Jonathan. Banyak sekali yang memuji bagaimana gentleman nya seorang Jonathan, cantiknya seorang Edelweis, manis dan mesranya interaksi antara mereka, bahkan banyak yang mendoakan mengenai hubungan mereka. Banyak orang yang berharap dirinya juga Jonathan mempunyai hubungan lebih.
Tak tahu saja warganet jika sebenarnya Edelweis dan Jonathan itu sepasang suami istri.
Tanpa sadar, Edelweis tersenyum simpul melihat potretnya dan Jonathan. Namun, senyuman itu segera dia hilangkan.
“Ih, ngapain senyam-senyum sih gue. Itu tuh insiden gila yang gak pernah gue harap akan terjadi. Tck, buat apa juga senyum.”
Edelweis melihat potret dimana Jonathan yang tengah membuka jasnya kemudian menyampirkan jas tersebut di atas pahanya. Kembali, dia tersenyum dibuatnya. “Ternyata, Jo ada sisi baiknya juga.” puji Edelweis, entah kenapa hatinya jadi berbunga-bunga seperti ini.
Ting!
Pintu lift terbuka, Edelweis segera menempelkan kartu akses ke unit apartemen nya dan masuk. Suasana hening langsung menyambut nya saat dia memasuki unit tersebut.
Edelweis menjatuhkan bokongnya di sofa, bersandar sambil melihat langit-langit kamar. Kalau dipikir-pikir, pernikahan Edelweis dan Jonathan terhitung sudah hampir 3 bulan, namun belum ada tanda-tanda jika hubungan mereka akan membaik. Membaik bukan harus menjadi pasangan sungguhan, bukan seperti itu karena Edelweis sendiri yakin jika hal tersebut tak mungkin terjadi. Tapi, membaik dalam artian mereka seharusnya bisa menjadi teman.
Seharusnya sih bisa. Tapi, entah kenapa hubungan mereka justru masih sama seperti dulu. Masih jadi musuh yang tak pernah ada hentinya adu mulut setiap kali bertemu.
Edelweis seketika menoleh saat pintu apartemen terbuka, ada Jonathan yang baru saja sampai. Namun, kerutan di kening Edelweis langsung tercetak seketika saat dia melihat wajah pucat Jonathan. Refleks, dia beranjak menghampiri pria itu.
“Jo, lo sakit?”
Jonathan menepis tangan Edelweis yang hendak menyentuh keningnya, “Apaan sih lo, Del? Gak usah sok baik sama gue. Lagian, gue gak kenapa-napa.”
“Dih, siapa yang sok baik juga. Gue kan nanya emang karena gue care sama lo.”
Jonathan berdecak, “Lo mau sandiwara gimana lagi sih?”
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Ya, lo baik sama gue juga pasti ada sesuatu. Udahlah, gak usah akting gitu, selesaikan sandiwara lo ini.”
“Gak jelas lo.”
“Yaudah, mendingan lo minggir. Gue mau lewat.”
Edelweis mendengus kesal, “Yaudah sih, itu jalan juga masih luas. Biasa aja dong ngomongnya.” kesal Edelweis.
Jonathan berdecak, dia melenggang begitu saja melewati Edelweis dan pergi ke kamarnya.
***
Edelweis yang tengah menikmati siaran di televisi sambil menikmati makan malamnya, seketika tersentak saat ponselnya berdering. Dia segera mengangkat panggilan yang berasal dari ayah mertuanya itu.
“Halo, Pap. Ada apa? Tumben malam-malam telpon aku.”
“Del, kamu dimana sekarang?”
“Apartment. Emangnya, kenapa Pap?”
“Jo, dia dimana?”
“Jo juga sama, dia di kamarnya.”
“Kamarnya?”
Edelweis mendengus dalam hati, dia merutuki kebodohannya kali ini. “Maksudnya tuh, Jo ada di kamar sekarang sedangkan aku ada di ruang tv. Gitu.” beruntung Edelweis dengan cepat memberikan alasan yang benar, entah akan percaya atau tidak mertuanya ini.
“Oh, coba kamu kasih telponnya sama Jo. Ada yang mau Papa bicarakan sama dia. Ditelpon dari tadi gak diangkat-angkat.”
“Oh, oke Pap. Sebentar, ya.”
Edelweis beranjak, dia segera menuju kamar Jonathan. Namun, saat sampai di depan pintu kamar pria itu, langkahnya terhenti. “Hm, Pap. Telepon nya aku matiin, ya. Nanti aku telpon balik.”
“Gak papa. Oke? thank you Pap.”
Edelweis mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Dia tak mungkin menggedor-gedor kamar Jonathan masih dengan panggilan yang terhubung dengan mertuanya. Sudah pasti nantinya akan ada perdebatan dulu antara dia dan Jonathan, Edelweis tak mau hal itu sampai diketahui ayah mertuanya. Alhasil, lebih baik panggilan tersebut dimatikan.
Edelweis mengetuk pintu kamar Jonathan, namun tak ada jawaban dari dalam. Entah kenapa perasaan nya jadi tak enak saat mengingat bagaimana wajah pucat Jonathan saat pulang kerja tadi. Alhasil, tanpa menunggu jawaban dari dalam Edelweis mendorong pintu kamar pria itu. Abaikan saja jika nantinya Jonathan marah atau apa.
“Jo?”
Edelweis melangkah masuk, dia menyusuri kamar pria itu. Yang dilihatnya justru adalah Jonathan yang berselimut sambil menggigil hebat. Dengan cepat Edelweis menghampiri pria itu.
“Jo, lo kenapa?”
Jonathan tak menjawab, pria itu masih saja menggigil hebat.
Edelweis menempelkan telapak tangannya pada wajah Jonathan, dia membelalakkan matanya saat rasa panas menjalar ditangannya. “Ya ampun, Jo. Lo demam.”
“Gue harus ngapain ini?”
Ditengah kecemasan Edelweis, ponsel perempuan itu berdering karena ada panggilan dari ayah mertuanya.
“Halo, Pap.”
“Del, gimana? Jo—”
“Pap, ini Jo ternyata sakit. Dia demam tinggi banget.”
“Apa? Jo, sakit?”
“Iya, Pap. Ini gimana, aku harus ngapain?”
__ADS_1
“Kamu tenang dulu. Papa akan telpon dokter untuk datang kesana. Nanti Papa sama Mama juga akan kesana. Oke?”
“Iya, Pap. Secepatnya, ya.”
Sambil menunggu dokter dan mertuanya datang, Edelweis mencari-cari cara agar sedikit membantu Jonathan yang sakit saat ini. Dia mencari informasi di internet mengenai tindakan apa yang harus dia lakukan jika ada yang demam. Segala informasi sudah dia dapatkan beberapa.
“Oke, air minum. Jo harus minum air putih.”
Edelweis menuangkan air ke gelas, dia duduk disamping Jonathan dan menepuk-nepuk pelan pipi pria. “Jo, bangun dulu. Lo minum, ya.” ucap Edelweis pelan. “Ayo, sini gue bantu.”
Edelweis membantu Jonathan yang masih setengah sadar untuk minum air.
“Lo pusing, Jo?” Jonathan mengangguk.
“Sabar, ya. Dokter bentar lagi datang, Mama, Papa juga.”
“Bentar, gue ambil air kompres dulu.”
Edelweis bergegas pergi ke dapur, dia mencari sesuatu untuk dijadikan wadah nantinya. Efek tak pernah ke dapur membuat Edelweis bingung sendiri di mana tempat menyimpan barang. Akhirnya setelah mencari ke berbagai tempat, Edelweis menemukan satu mangkuk berukuran sedang. Dia segera mengisinya dengan air.
Edelweis kembali ke kamar Jonathan, meletakkan mangkuk tersebut di atas nakas.
“Semoga demamnya turun, panas banget ini.” gumam Edelweis, dia meletakkan kain yang sudah dia celupkan ke air dingin itu di kening Jonathan.
Edelweis tak lepas menatap Jonathan, “Kalau sakit gini, muka Jo beda banget. Kasihan lihatnya.”
Jonathan masih menggigil hebat, pria itu mencengkram kuat selimut yang menutup tubuhnya. Edelweis yang hendak membenarkan letak selimut itu, justru tangannya ditarik Jonathan, digenggam erat oleh pria itu.
Sontak apa yang dilakukan Jonathan membuat Edelweis terdiam seketika. Seharusnya, Edelweis menarik tangannya itu, namun justru tidak. Dia justru diam dan membiarkan tangannya digenggam erat begitu saja oleh Jonathan.
Dan, anehnya, jantungnya justru berdetak tak karuan dibuatnya.
***
Dokter baru saja pergi setelah memeriksa keadaan Jonathan juga memberikan obat untuk dikonsumsi pria itu. Dan, sekarang hanya ada Edelweis seorang. Tak ada mertuanya yang katanya akan datang. Karena sejak tadi ditunggu, mertuanya tak kunjung datang juga. Hingga saat Edelweis hendak kembali masuk, ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk dari ibu mertuanya.
“Halo, Mam.”
“Del, gimana keadaan Jo?”
“Jo cuma demam aja, Mam. Tadi udah diperiksa juga sama dokter dan udah dikasih obat, cuma belum di minum karena Jo belum makan.”
“Syukurlah kalau cuma demam biasa,”
“Iya, Mam. Oh, iya. Mama sama Papa, jadi kesini kan?”
“Kayaknya enggak, ya, Del. Jo juga cuma sakit demam biasa. Kamu bisa kan kalau urus Jonathan sendiri?”
Edelweis mengejutkan keningnya, “Sendiri? Aku ngurusin Jo yang sakit, sendirian?”
“Iya, sayang. Bisa kan? Masalahnya, ini Mama sama Papa juga harus pergi ke luar kota tiba-tiba, ada urgent yang gak bisa di handle siapapun. Papa sendiri yang harus turun tangan dan Mama gak mungkin dong biarin Papa pergi sendiri. Jadi, Mama harus ikut. Kamu, bisa kan urus Jo?”
Edelweis tak menjawab, dia sendiri tak yakin dengan dirinya sendiri. Kalau boleh jujur, seumur hidupnya dia tak pernah mengurus orang, justru orang-orang lah yang mengurusnya.
“Del?”
“Bisa, Mam.” reflek, Edelweis menjawab demikian.
“Syukurlah kalau begitu, Mama percayakan Jo sama kamu, ya.”
“Iya, mam.”
“Yaudah, Mama tutup telponnya dulu, ya. Ini udah mau berangkat ke bandara. Mama titip Jo, ya.”
“Iya, Mam. Hati-hati, ya.”
__ADS_1
“Iya, sayang... Bye.”
Edelweis terdiam saat panggilan terputus. Jadi, dia harus mengurus Jonathan yang sakit saat ini?